Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pulang ke Desa dan Aroma Nasi Jagung
Kehampaan telah larut, dan bersamaan dengan itu, beban ribuan tahun yang membebani pundak Sang Hyang Wira Candra seolah ikut menguap terbawa angin pegunungan Benua Barat.
Danau Kedamaian kini benar-benar sesuai dengan namanya; permukaannya tenang bak cermin yang memantulkan langit biru tanpa noda.
Ranu berdiri di tepian, menatap bayangan dirinya di air. Rambut peraknya perlahan berubah kembali menjadi hitam pekat, dan aura agung yang tadinya membuat alam semesta bergetar kini surut, menyisakan seorang pemuda biasa dengan jubah yang sudah compang-camping.
"Bintang-bintang itu... mereka benar-benar pergi?" tanya Pangeran Lingga sambil mendekat, menyarungkan pedang Candra Kirana yang kini telah kembali menjadi pedang pusaka manusia biasa, tanpa kilatan otoritas dewa lagi.
Ranu mengangguk sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Mereka kembali ke tempat seharusnya, Lingga. Tugas mereka menjagaku sudah selesai karena sekarang aku sudah punya kalian untuk menjagaku. Lagipula, menjadi dewa itu membuat punggungku pegal. Aku lebih suka menjadi Ranu yang bisa merasa lelah dan butuh tidur siang."
Nara berjalan mendekat, ia memungut syal biru tua milik Ranu yang sempat terjatuh di rerumputan dan menyerahkannya kembali.
"Lalu, apa rencana pemenang perang jagat raya ini selanjutnya? Kembali ke langit untuk menata ulang birokrasi bidadari?"
Ranu tertawa renyah, suara tawa yang kini terdengar sepenuhnya manusiawi.
"Birokrasi langit itu membosankan, Nara. Aku sudah mengajukan surat 'pensiun dini' lewat aksara tinta tadi. Rencanaku saat ini sangat mendesak dan sangat penting: aku ingin pulang. Aku rindu bau tanah basah di Desa Durja dan aku rindu suara omelan ibuku karena aku jarang mandi."
Ki Sastro, yang sejak tadi sibuk memeriksa sisa-sisa di dalam tas perbekalannya, tiba-tiba bersorak kecil.
"Den Ranu! Hamba menemukan satu bungkus kerupuk udang yang masih utuh! Ini adalah tanda alam bahwa perjalanan pulang kita akan diberkati oleh keberuntungan kuliner!"
Perjalanan pulang melintasi benua tidak lagi dilakukan dengan terbang di atas awan atau membelah dimensi. Mereka memilih untuk menempuh jalur darat secara perlahan, menikmati dunia yang kini mulai bernapas lega.
Di setiap desa yang mereka lalui, mereka melihat orang-orang mulai membangun kembali rumah mereka. Tidak ada yang tahu bahwa pemuda berbaju lusuh yang berjalan bersama seorang pangeran, seorang gadis pemanah, dan pelayan cerewet itu adalah penyelamat dunia. Dan Ranu menyukai hal itu.
Setelah berminggu-minggu perjalanan, aroma khas yang sangat dikenal Ranu mulai tercium di udara. Bau asap kayu bakar, wangi tanaman padi yang mulai menguning, dan aroma khas hutan jati. Mereka telah sampai di perbatasan Desa Durja.
Dari kejauhan, sebuah gubuk sederhana dengan pagar bambu yang baru diperbaiki tampak berdiri kokoh. Di depannya, seorang pria tua sedang memahat kayu dan seorang wanita sedang menjemur jagung di atas tampah besar.
"Bapak! Ibu!" teriak Ranu sambil berlari sekuat tenaga, mengabaikan martabatnya sebagai mantan penguasa langit.
Ki Garna dan Nyai Sumi mendongak. Begitu melihat sosok pemuda itu, Nyai Sumi menjatuhkan tampahnya, membiarkan butiran jagung berhamburan di tanah. Ia berlari menyongsong anaknya dengan air mata yang mengalir deras.
"Ranu! Cah bagus! Kau benar-benar pulang!" isak Nyai Sumi sambil memeluk Ranu erat-erat, seolah takut anaknya akan menghilang lagi menjadi butiran cahaya.
Ki Garna menyusul, menepuk-nepuk bahu Ranu dengan tangan yang kasar namun penuh kehangatan.
"Kau terlihat lebih kurus, tapi matamu lebih hidup, Nak. Terima kasih sudah pulang dengan selamat."
Ranu melepaskan pelukannya dan memperkenalkan teman-temannya yang berdiri agak canggung di belakangnya.
"Ibu, Bapak, ini Lingga, Nara, dan tentu saja Sastro. Tanpa mereka, Ranu mungkin sudah jadi pajangan di gunung orang."
Nyai Sumi segera mengusap air matanya dan tersenyum lebar.
"Ayo masuk! Semuanya masuk! Ibu baru saja menanak nasi jagung dan membuat sambal terasi kesukaan Ranu. Ada ikan asin juga yang baru digoreng!"
Malam itu, di dalam gubuk yang sempit namun terasa sangat luas karena dipenuhi tawa, mereka duduk melingkar di atas tikar pandan. Aroma nasi jagung yang mengepul hangat memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang lebih suci daripada kuil mana pun di Sembilan Langit.
Pangeran Lingga, yang biasanya makan dengan tata krama istana yang kaku, kini tampak lahap menyantap ikan asin dengan tangan kosong. Nara pun tampak lebih santai, sesekali tersenyum saat Sastro menceritakan kembali betapa "heroik"-nya dia saat membawa botol tinta di tengah badai.
Ranu menyuap nasi jagungnya perlahan, meresapi setiap butir dan rasa pedas sambalnya. Ia menatap satu per satu wajah orang-orang di sekelilingnya. Ia menyadari bahwa kekuasaan absolut di langit tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehangatan sebuah keluarga kecil ini.
"Ranu," panggil Ki Garna di tengah makan malam. "Setelah ini, apakah kau akan tetap di sini? Atau akan ada 'panggilan' lain dari tempat tinggi itu?"
Ranu meletakkan tangannya di atas tangan bapaknya.
"Tempat tinggiku ada di sini, Pak. Di dunia yang punya rasa, punya sedih, dan punya nasi jagung. Aku sudah menutup pintunya. Sekarang, aku hanya ingin belajar bagaimana menjadi anak yang baik, membantu Bapak di sawah, dan mungkin..."
Ranu melirik Nara yang sedang menunduk malu. "...mungkin belajar bagaimana caranya membangun masa depan di bumi."
Sastro tiba-tiba mengangkat gelas teh hangatnya.
"Untuk Den Ranu! Penguasa langit yang paling sukses menjadi manusia!"
Semuanya tertawa dan denting gelas bambu mereka mengakhiri malam yang panjang itu. Di luar, bintang-bintang di langit bersinar dengan sangat terang, namun kali ini mereka tidak lagi memberikan perintah atau takdir. Mereka hanya menjadi saksi bisu atas sebuah kedamaian yang diperjuangkan dengan cinta.
Ranu berjalan keluar sejenak, berdiri di bawah pohon jati besar di samping rumahnya. Ia melihat ke arah langit, lalu berbisik pelan.
"Terima kasih sudah membiarkanku jatuh ke tempat yang tepat."
Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga melati dan janji tentang hari esok yang sederhana namun berharga. Wira Candra mungkin telah hilang dari sejarah dewa, namun Ranu Wara baru saja menuliskan bab pertama dari kehidupannya yang paling indah.
......................