Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Dirawat
Jauh dari lokasi Gerard, seorang pria setengah baya duduk terpaku, wajahnya pucat. Tangannya gemetar ringan saat ia menurunkannya perlahan ke atas meja kayu yang kokoh. Di sampingnya, Andy berdiri dengan sikap tegang, menunggu penjelasan yang tak kunjung datang.
Pria itu akhirnya menoleh, sorot matanya yang biasanya tajam kini dipenuhi kegelisahan. “Putriku… masuk rumah sakit,” ucapnya dengan suara bergetar, hampir tak terdengar. Ia lalu bangkit dari kursinya, mendekati Andy, dan menepuk bahunya dengan berat. “Aku tak bisa menghadiri rapat ini. Tolong sampaikan permohonan maafku pada mereka—kau yang akan menggantikan posisiku hari ini.”
Tanpa menunggu respons, pria itu berbalik dan bergegas keluar ruangan, langkahnya cepat dan tergesa. Andy terdiam sejenak, wajahnya memancarkan campuran rasa khawatir dan tekad yang tiba-tiba menyala. Di dalam hati, ia berdoa singkat: Semoga putrimu baik-baik saja, Pak. Aku tak akan mengecewakan kepercayaanmu—kerja sama ini akan kuwujudkan.
Matanya berbinar dengan tekad yang membara, siap menghadapi tugas yang kini sepenuhnya berada di pundaknya.
...*•*•*...
Pergi ke rumah sakit, di sebuah ruangan serba putih, seorang wanita duduk di atas ranjang dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Ekspresinya rumit—tercampur antara rasa syukur, kebingungan, dan bayang-bayang trauma yang masih mengambang.
Kenapa? Hanya kata itu yang terus bergema di kepalanya, menguliti kembali rangkaian kejadian mengerikan yang baru saja dialaminya.
Semuanya berlangsung begitu cepat. Di tengah keramaian, saat ia sedang asyik menghabiskan waktu sendirian, tiba-tiba sebuah tangan kasar menariknya dengan paksa, dan telapak lain menutup mulutnya begitu erat. Ia tak sempat melawan, tak sempat berteriak—dunia gelap seketika menyergapnya.
Saat sadar kembali, ia sudah terbaring di dalam sebuah van, dikelilingi tiga pria asing yang wajahnya tak ia kenal. Jantungnya berdegup liar, panik dan takut bercampur jadi satu, memicu naluri bertahan yang mendadak menyala. Ia mencoba memberontak, mendorong pintu van, berharap bisa melarikan diri.
Sayangnya, gagal. Dua pria itu langsung menghimpitnya, tangan mereka mencengkeram kuat. Sentuhan yang tak diinginkan, ancaman yang tak terucap, dan ketidakpastian akan tujuan—semua itu membuat pikirannya nyaris tak bisa berpikir jernih. Hanya satu keinginan: kabur.
Ketegangan memuncak saat pengemudi van mulai mengumpat. Seseorang sedang mengejar mereka. Para penculik itu tampak gelisah, tetapi bagi wanita itu, itu adalah secercah harapan. Ia terus memberontak, menciptakan konflik kecil di dalam van, sambil berharap orang asing yang mengejar itu bisa menghentikan laju kendaraan.
Dan benar—mobil itu mendekat, mendesak, akhirnya memaksa van berhenti di pinggir jalan sepi. Saat itulah peluang datang, meski harus dibayar dengan luka dan ketakutan yang lebih dalam.
Ia melompat dari van begitu pintunya terbuka, meski mendarat dengan kasar di aspal. Tapi ternyata, pelariannya belum berakhir—seorang penculik sudah melompat keluar, siap menariknya kembali. Tubuhnya membeku, dilumpuhkan oleh rasa takut dan sakit yang menyergap sekaligus.
Saat keputusasaan hampir menjeratnya lagi, tiba-tiba—pria yang hendak menangkapnya itu terhempas ke samping setelah ditendang keras. Di sana, muncul seorang pria lain: tinggi, dengan wajah tegang yang memancarkan kekhawatiran mendalam. "LARI!" teriaknya, suaranya nyaris sama panik seperti yang ia rasakan.
Sayangnya, kakinya tak bisa bergerak. Tubuh bagai membatu. Dan justru karena ketidakmampuannya itulah, pria asing yang datang menolong—Gerard—harus menerima pukulan dan serangan beruntun, terluka parah demi melindunginya.
Lalu, pembalasan itu datang. Pria yang tangannya pernah ia gigit kini mencekik lehernya dengan kekuatan penuh kebencian. Sesak, sakit, dunia seperti mengerut ke dalam kegelapan. Ia yakin inilah akhir—akhir dari hidupnya yang tadinya tenang dan biasa saja.
Pandangannya mulai kabur, tapi tiba-tiba ia merasa tubuhnya terhempas ke samping. Samar-samar, ia melihat sosok Gerard bergerak lagi—dengan cara yang hampir tak dikenali—melancarkan serangan balasan yang singkat namun mematikan. Hanya beberapa pukulan, tapi efeknya menghantam seperti kekuatan yang tertahan lama.
Wanita itu tak sanggup bangkit. Tubuhnya lemas, nyaris tak bisa bergerak. Namun, di tengah keputusasaan, ada rasa percaya yang aneh menyelinap—percaya bahwa Gerard akan menyelesaikan ini. Tanpa sadar, matanya terpejam, dan saat terbuka kembali, yang ia lihat sudah bukan jalanan lagi, melainkan langit-langit putih rumah sakit, dan selimut bersih yang menyelimuti tubuhnya.
Saat mengingat kembali momen-momen itu, dadanya terasa sesak. Hampir saja hidupnya berubah menjadi mimpi buruk yang tak berakhir—tapi untunglah, nasib masih memberinya kesempatan. Dan dalam kesempatan itu, ada Gerard, pria yang bahkan belum sempat ia ucapkan terima kasih.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk dengan wajah lembut nan khawatir. “Melinda…” panggilnya lirih, lalu duduk di kursi samping ranjang. “Papa bilang dia akan segera ke sini. Kamu yakin baik-baik saja? Kita bisa laporkan kasus ini sepenuhnya.”
Melinda—itulah namanya—menatap ibunya, lalu menggeleng pelan. Tangannya digenggam dengan lembut. “Nanti saja, Bunda…” jawabnya dengan suara serius. “Biar nanti. Aku… masih sulit memberi kesaksian detail. Dan aku tidak ingin menyusahkan penyelamatku lebih dari ini.”
Menurut informasi yang berhasil didapatkan Melinda, Gerard jatuh pingsan setelah mengantarnya ke rumah sakit, dan hingga kini belum juga sadarkan diri. Sebelum itu, pria itu sempat membopong tubuhnya dengan panik, berteriak pada perawat untuk segera menolong Melinda—padahal tubuhnya sendiri masih berlumuran darah dan lukanya hanya dibalut seadanya.
Dan setelah Melinda dibawa masuk, Gerard tiba-tiba ambruk. Ia kehilangan kesadaran di lobi rumah sakit, dengan luka dalam yang ternyata jauh lebih serius dari yang terlihat.
Melinda merasa sesak—campuran rasa prihatin, bersalah, dan haru. Di tengah semua itu, yang ia inginkan hanyalah satu: Gerard pulih terlebih dahulu. Urusan kesaksian, pelaporan, atau hal lain bisa menunggu sampai mereka berdua pulih, baik secara fisik maupun jiwa.
Mendengar jawaban putrinya, wanita di sampingnya hanya bisa mengangguk pasrah. Dengan lembut, ia mulai menyuapi Melinda potongan buah yang telah disiapkannya. Hati sang ibu ikut remuk melihat perubahan pada putrinya—wajah yang biasanya cerah dan hangat kini terasa datar, kosong, dan beberapa kali ia melihat Melinda hampir menangis tanpa alasan yang terucap.
...*•*•*...
Di lobi rumah sakit, seorang pria paruh baya dengan rambut mulai memutih berjalan cepat didampingi seorang pria lain yang sudah menunggunya di pintu masuk. Pria pendamping itu terus menjelaskan kondisi Melinda—anak semata wayangnya—yang kini sedang dalam masa pemulihan. Secara fisik lukanya tidak berat, namun trauma psikis yang dideritanya dalam.
Mendengar penjelasan itu, langkah pria paruh baya itu terhenti mendadak. Wajahnya mengeras saat ia menoleh. "Kau sudah tahu siapa yang berani menyakiti putriku?" tanyanya dengan suara terukur, meski emosi di baliknya nyaris meledak.
Pria pendamping menggeleng pelan. "Kami masih dalam proses penyelidikan. Namun, penyelamat Nyonya Melinda sempat memberikan laporan ke polisi sebelum pingsan. Dua pelaku kini sedang dirawat di ruang intensif. Masih ada satu orang lagi—sopir van—yang berhasil kabur. Dialah kunci informasi saat ini."
Pria paruh baya itu mendengus keras, pandangannya menerawang ke kejauhan dengan sorot mata tajam penuh amarah. Saat ia berbicara lagi, suaranya berat dan penuh tekad balas dendam. "Temukan tikus itu! Bawa ke hadapanku—dengan satu kakinya patah, tapi jangan biarkan dia pingsan. Aku akan mengorek setiap informasi dari mulutnya… tanpa ampun."
Bawahannya mengangguk singkat, sikapnya tetap profesional dan tenang. "Siap." Jawabnya lantas berbalik, sambil menghubungi timnya melalui telepon untuk segera menjalankan perintah.