Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-28
Mobilpun berhenti tepat di depan sebuah gedung hotel yang tergolong cukup mewah. Hajeera melangkah keluar mobil, matanya menangkap sesosok pria yang akan ditemui nya juga sama sama baru sampai ke lokasi.
"Demian!" teriak Hajeera memanggil nama pria yang dipanggil nya, ia melangkah menghampiri Demian dengan wajah tersenyum sumringah.
Pak Darso menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya di luar jendela mobil, sebuah pemandangan yang sangat mustahil terjadi, namun kini pemandangan itu nyata di depan matanya yang disaksikan mata kepalanya sekaligus.
Hajeera menyapa Aaron, dan Aaron yang menyambut Hajeera dengan wajah ceria sumringah, berbeda dari pertemuan mereka di rumah yang saling menghindar dan mengumpat dari belakang.
"Mungkin mereka sedang merencanakan sesuatu..." ucap pak Darso tersenyum bangga.
Ia berpikir jika Hajeera dan Aaron sengaja bersikap pura pura saling bermusuhan di rumah demi menyusun sebuah rencana. Namun yang tidak pak Darso ketahui adalah hubungan mereka yang sangat sulit dijelaskan bahkan mereka bersatu tanpa tahu akar mereka di mana.
"Apakah kamu menunggu lama?" tanya Demian menatap Hadriana dengan tatapan kekaguman.
"Tidak, seperti yang kamu lihat Dem! Aku juga baru datang..." jawab Hadriana tersenyum lebar mengangkat kedua tangannya memperlihatkan kedatangan nya yang baru saja sampai.
"Ayok masuk, aku sudah memesan ruangan privat, apakah kamu menginginkan ruangan yang lain?" Demian bertanya seraya mempersilahkan Hadriana untuk masuk ke dalam hotel terlebih dahulu.
"No, I like private room..." jawab Hadriana santai berjalan perlahan ke dalam terlebih dahulu.
"Jika kita tidak memesan private room kita bisa jadi gunjingan orang orang, masa Iyah anak secantik aku harus check in sama orang tua kayak kamu..." ledek Hadriana dengan nada datar namun wajahnya sedikit tersenyum.
Demian terkejut mendengar penuturan Hadriana, ia tersenyum seraya sedikit tertawa mengangguk setuju dengan ucapan Hadriana.
Merekapun masuk ke sebuah lift, dan lift berhenti dilantai paling atas gedung ini, sebuah restoran mewah yang biasa dipakai makan oleh orang orang yang tengah berbulan madu di hotel ini.
Tinggg...
Pintu lift terbuka, mereka berjalan bersamaan menghampiri kasir dan meminta di antar ke ruangan yang telah dipesan nya terlebih dahulu dahulu.
Seorang pelayan pun berjalan menghampiri mereka, menjadi pemandu mereka ke sebuah ruangan yang lebih privat dari area luar.
"Silahkan tuan, nona..." ucap sang pelayan mempersilahkan Demian serta Hadriana masuk ke dalam ruangan.
Demian menarik sebuah kursi, menyuruh Hadriana untuk duduk di kursi tersebut, tindakan kecilnya semakin merubah sudut pandang Hadriana terhadap Demian.
"Thanks..." ucap Hadriana, mendudukkan bokong di atas kursi dengan gerakan yang anggun.
"its okey.. Mau pesan apa?" tanya Demian membuka memilih menu makan mereka yang akan mereka makan malam ini.
"Heirloom tomato salad, Wagyu beef Wellington, tiramisu, minumannya strawberry
Basil refresher...." ucap Hadriana membuka beberapa menu lalu memesannya.
"Kalo tuan?" tanya sang pelayan pada Demian, seraya mencatat pesanan Hadriana.
"Samakan saja, hanya saja minumannya aku minta wiskey sour..." jawabnya, sang pelayan pun mengangguk lalu pamit undur diri untuk membuat pesanan mereka.
Pemandangan di dalam ruangan yang di pesan Demian begitu indah, gunung tinggi yang menjulang dengan hamparan lampu di bawah sana yang terlihat bersinar.
"Pemandangan nya indah..." ucap Hadriana, memandang ke arah luar ruangan, ruangan yang memekak kaca hampir seluruhnya di bagian depan membuatnya tampak lebih mudah melihat keindahan malam kota ini.
"Ekhemm- kamu mengajakku bertemu ada apa?" tanya Demian mulai membuka obrolan mereka.
"Hmm... Aku hanya ingin berterimakasih karena kamu telah menyelamatkan nyawaku.." jawab Hadriana tulus, tapi Demian mengernyit bingung
"Nyawa? Aku pernah menyelamatkan nyawanya di mana?" tanya Demian bingung namun penasaran.
"Emmhh.. dengan kamu melenyapkan vidio Tari striptis ku yang kemarin itu sama dengan menyelamatkan nyawaku bersama wajah wajahnya..." ucap Hadriana
"owhh.. Aku pikir karena apa?" Demian membuang nafasnya dengan lesu lalu kembali berbicara.
"Jika boleh tahu, apakah ada hubungan nya antara nyawamu dan vidio itu?"
"Mungkin kamu tidak tahu, meskipun aku keluar masuk klub namun aku tetap ingin terlihat baik di mata kakak priaku yang tidak pernah melihatku dengan prasangka baik..."
"Jika dia tahu aku sering ke club malam, apalagi tahu jika aku suka menari striptis, mungkin dia akan semakin membenciku, tidak ada alasan untuk membenciku pun dia sudah membenciku lebih dulu..."
"Karena itu, aku sangat berterimakasih padamu karena menyelamatkan ku dari gunjingan kakak kakak ku .." ucap Hadriana panjang lebar namun membuat Demian mati kutu.