Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Kepanikan Keluarga.
"Nanti kau akan bertemu dengan beberapa orang, jadi aku membelinya untuk persiapan."
Rania tersentak, dengan cepat dia menghampiri Kenzo dan duduk tepat di samping laki-laki itu dengan jarak yang sangat dekat. "Si-siapa?" tanyanya penasaran sekaligus takut.
Kenzo diam sejenak, memperhatikan wajah Rania yang berada tepat di depan wajahnya. Dia lalu berdecih saat merasakan gejolak aneh dalam dadanya, sebuah perasaan yang selama ini tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Orang-orang yang akan membantu kasusmu," jawabnya datar.
Rania terdiam, mencoba untuk menerka siapa kira-kira orang-orang yang akan dia temui, tanpa sadar jika saat ini dia berada sangat dekat dengan Kenzo, bahkan bahu mereka tampak saling menempel.
"Ta-tapi bukan orang-orang yang semalam, 'kan?" tanya Rania kembali, dia bahkan memajukan wajahnya dengan tangan berpangku pada paha Kenzo.
Kenzo menegang, paha yang terkena tangan Rania terasa panas. Dia bahkan sudah merasa sangat gerah sekarang. "Tidak." jawabnya cepat.
Rania mengangguk-anggukkan kepalanya sembari bernapas lega. Terserahlah dia harus bertemu dengan siapa, yang pasti bukan orang-orang berbahaya seperti semalam.
Damian dan Andre yang sudah selesai menyusun bahan makanan ke dalam kulkas segera kembali ke tempat di mana Kenzo berada. Langkah Damian terhenti saat melihat pemandangan yang ada di depan matanya membuat Andre juga ikut berhenti di belakang.
"Kenapa?" tanya Andre bingung, dia lalu memajukan kepalanya dan seketika kedua matanya membulat sempurna saat melihat posisi sang tuan bersama dengan Rania. Di mana Kenzo bersandar pada sofa, kemudian Rania duduk menempel di sampingnya dengan tangan berada di paha Kenzo.
Sebenarnya itu adalah posisi yang biasa saja, tapi karena yang saat ini berada dalam posisi itu adalah Kenzo, maka mau tidak mau Damian dan Andre pasti merasa sangat terkejut dan bingung.
Pasalnya selama ini Kenzo sangat susah sekali didekati, apalagi yang mendekatinya adalah seorang wanita. Mereka berdua saja butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk dekat dengan laki-laki itu, bahkan sampai sekarang tidak ada satu wanita pun yang berhasil mendekatinya.
Namun, berbeda dengan Rania. Entah kenapa Kenzo tampak sangat tertarik sekali dengan wanita itu. Bukan hanya sekedar tertarik, Kenzo bahkan sampai ikut campur dengan masalah yang sedang Rania alami. Padahal wanita itu tidak terlalu cantik, tubuhnya bahkan terbilang pendek jika dibandingkan dengan wanita-wanita lain, lalu kenapa Kenzo bisa sampai seperti itu?
"Ekhem!"
Damian dan Andre terlonjak kaget saat mendengar suara deheman Kenzo, dengan cepat mereka mendekati laki-laki itu dengan raut wajah pias karena mendapat tatapan tajam dari sang tuan.
"Ma-maafkan kami, Tuan," ucap Andre, dia melirik ke arah Damian yang tampak tenang, ingin sekali dia memukul wajah temannya itu sekarang.
Damian lalu menyuruh Rania untuk bersiap-siap karena akan ada beberapa orang yang datang untuk meminta keterangan darinya, tentu saja hal itu membuat Rania segera berlari masuk ke dalam kamar sambil membawa barang-barang pemberian dari Kenzo.
Tidak berselang lama, Rania kembali lagi ke tempat semula setelah selesai bersiap-siap, bersamaan dengan kedatangan 4 orang lelaki yang langsung berjalan cepat untuk masuk ke dalam apartemen.
"Selamat siang, Tuan muda," sapa keempat lelaki itu saat sudah berada di hadapan Kenzo.
Kenzo mengangguk. "Duduklah." katanya sambil melirik ke arah sofa yang ada di sana.
Keempat lelaki itu mengangguk patuh dan segera mengucapkan terima kasih sembari duduk di sana. Mereka lalu melirik ke arah seorang wanita yang sedang mendekat, sepertinya wanita itulah yang membawa mereka datang ke tempat ini.
"Perkenalkan, nona Rania. Mereka adalah petugas dari Komnas perempuan dan Komisi Perlindungan Anak," ucap Damian sembari menunjuk ke arah keempat lelaki yang baru saja tiba.
Rania mengangguk sambil tersenyum ramah. "Saya Rania Felisya." katanya memperkenalkan diri.
Keempat lelaki itu juga ikut memperkenalkan diri mereka masing-masing pada Rania, kemudian salah satu dari mereka langsung menanyakan perihal masalah yang sedang wanita itu alami setelah mendapat anggukan dari Damian.
"Baiklah, kami sudah mencatat semuanya dan akan langsung memproses masalah Anda," ucap salah satu dari mereka setelah Rania selesai menceritakan semua masalahnya. "Anda tidak perlu khawatir, kami akan menyelesaikannya secepat mungkin agar Anda bisa berkumpul dengan anak Anda lagi." tambahnya.
Rania tersenyum dengan mata berkaca-kaca penuh haru. "Terima kasih, terima kasih banyak." Kepalanya tertunduk dengan suara gemetar.
keempat lelaki itu lalu segera pamit agar bisa langsung menyelesaikan masalah Rania, tidak lupa mereka juga menyatakan jika akan bekerja sama dengan pihak kepolisian guna untuk perkembangan lebih lanjut.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Rangga dan kedua orangtuanya saling bersitegang karena mendapat kabar dari salah satu petugas kepolisian yang dekat dengan mereka, dia mengatakan jika ada laporan masuk dari Rania, dan baru mengetahui tentang laporan itu hari ini.
"Brengs*ek!" umpat Rangga seraya menjambak rambutnya penuh frustasi, dia tidak menyangka jika Rania akan melaporkannya pada polisi, bahkan sampai sekarang dia juga sama sekali tidak tahu tentang keberadaan wanita itu. "S*ialan!" Dia melempar vas bunga yang ada di atas meja hingga berserakan di lantai.
Beni yang juga berada di tempat itu menghela napas panjang seraya memijat kepalanya yang berdenyut sakit, sementara Martha tampak berjalan mondar-mandir karena merasa gelisah dan tak tahu harus melakukan apa.
"Beraninya wanita kampung itu melaporkan anakku!" ucap Martha dengan kedua mata berkilat penuh kemarahan. "Sudah bagus selama ini aku baik padanya, tapi dia malah berniat untuk menghancurkan keluargaku!" katanya lagi dengan tajam.
"Semua ini gara-gara kau, Rangga! Dasar anak tidak berguna!" teriak Beni dengan kekesalan yang memuncak. Dia beranjak dari kursi dan berjalan ke arah Rangga membuat Martha seketika panik.
"Sa-sayang, dengarkan aku dulu," pinta Martha seraya mencekal tangan suaminya, tapi Beni langsung menghempaskan tangannya sampai tubuhnya terhuyung ke belakang dan nyaris membentur sudut meja.
Beni berjalan cepat menghampiri Rangga, dia menarik bahu putranya sampai Rangga menghadap ke arahnya, lalu melayangkan sebuah pukulan tepat di pipi Rangga hingga membuat tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai.
"Rangga!" Martha berteriak dengan histeris saat melihat Rangga terkapar di atas lantai, sementara Rangga sendiri tampak meringis kesakitan atas pukulan ayahnya hingga membuat sudut bibirnya berdarah.
"Dasar anak s*ialan!" maki Beni dengan napas tersengal.
Rangga mendongakkan kepala dan menatap ayahnya dengan nyalang. "Aku tidak tau kalau Rania akan melakukan hal seperti ini."
"Tutup mulutmu!" bentak Beni, dia yang akan kembali menarik Rangga langsung dihalangi oleh Martha.
"Hentikan, Sayang! Jangan pukul Rangga lagi!" teriak Martha dengan terisak, mencoba untuk melindungi putranya dari amukan sang suami.
"Ibu dan anak sama saja, sama-sama tidak berguna!" seru Beni.
Rangga memegangi sudut bibirnya yang berdarah sembari berusaha untuk berdiri, dia menatap ayahnya dengan tajam dan rahang yang mengeras.
"Aku akan segera menemukan Rania, aku akan menyelesaikan semuanya!" ucap Rangga dengan penuh penekanan, wajahnya merah padam terbakar amarah.
"Cepat temukan wanita itu! Kalau tidak, aku sendiri yang akan membunuhmu!"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda