NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Belas

Malam itu, pelataran kantor PT Arthemis sudah sangat sunyi. Felicia melangkah keluar dengan bahu yang terasa pegal, namun langkahnya terhenti saat melihat sosok jangkung dengan ransel besar sedang berdiri di depan mess yang tak jauh dari lobi utama.

Cahaya lampu jalan yang remang-remang membuat bayangan Pak Han tampak lebih panjang. Felicia mendekat, menyadari bahwa ojek online-nya masih terjebak di gang sempit beberapa kilometer lagi.

"Bapak mau berangkat sekarang?" tanya Felicia pelan, memecah keheningan malam.

Pak Han menoleh, tampak sedikit terkejut namun matanya melembut. "Iya. Kamu baru pulang?"

"Iya, Pak. Tadi selesaikan laporan dulu biar besok nggak terlalu menumpuk pas Bapak nggak ada," jawab Felicia sambil tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa lelahnya.

"Hati-hati di jalan ya, Pak. Semarang jauh, Bapak harus istirahat di kereta atau pesawat nanti," lanjut Felicia tulus.

Pak Han diam sejenak. Ada pergulatan batin yang sangat jelas di wajahnya yang biasanya kaku itu. Ia menatap Felicia—gadis yang sejak kemarin ia marahi, ia beri tugas berat, namun tetap berdiri di sana memberikan perhatian padanya.

Setelah dilema panjang yang membuat suasana mendadak terasa sangat intim, Pak Han akhirnya memberanikan diri. Tangannya terangkat, mendarat dengan mantap namun lembut di pundak Felicia.

"Terima kasih, Felicia. Kamu juga, hati-hati bekerja di sini. Maaf... saya bikin kerjaan kamu jadi ganda belakangan ini," ucapnya dengan nada suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan.

Felicia tertegun. Sentuhan itu terasa sangat hangat di balik blus navy-nya. "Nggak masalah, Pak. Sudah tugas saya."

Sebuah taksi masuk ke area parkir, lampu kuningnya menyilaukan mata sejenak. "Itu taksi saya datang. Saya jalan ya, Fel," pamit Pak Han.

"Iya, Pak. Silakan. Selamat menikmati perjalanan," ujar Felicia, mencoba terdengar ceria meski ada rasa kehilangan yang tiba-tiba menyelinap di hatinya.

Pak Han berbalik, sudah membuka pintu taksi dan hendak masuk. Namun, tiba-tiba dia berhenti. Seperti ada sesuatu yang tertinggal, ia mundur lagi mendekati Felicia. Tanpa diduga, ia mengusap lengan atas Felicia dua kali—sebuah gerakan afeksi yang sangat tidak "manajer" sekali.

Ia mengangguk sekali lagi, memberikan tatapan yang seolah berkata 'Saya akan merindukanmu', lalu benar-benar masuk ke dalam taksi.

Felicia berdiri terpaku di pinggir jalan, memandangi lampu belakang taksi yang perlahan menjauh dan menghilang di belokan. Ia menyentuh lengannya yang baru saja diusap Pak Han, merasakan sisa hangat di sana.

Hari pertama tanpa Pak Han ternyata jauh dari kata "santai". Felicia merasa seperti sedang bermain game simulasi manajemen tingkat dewa. Telepon di mejanya tidak berhenti berdering—mulai dari Manajer Produksi yang menanyakan stok kain, sampai tim Pemasaran yang meributkan revisi desain.

"Iya, Pak, saya tahu. Tapi Pak Han pesannya begitu... Iya, nanti saya sampaikan," ucap Felicia sambil menjepit telepon di antara bahu dan telinganya, sementara tangannya sibuk memindai berkas.

Seharian itu, Felicia mengirimkan puluhan pesan WhatsApp dan email berisi berkas-berkas mendesak yang butuh persetujuan cepat. Namun, status WhatsApp Pak Han hanya "Centang Dua" tanpa pernah berubah menjadi biru. Pria itu seolah hilang ditelan bumi Semarang.

"Mbak Maria, Pak Han emang kalau dinas luar suka menghilang begini ya?" tanya Felicia saat Maria mampir ke mejanya sore itu.

Maria yang sedang asyik mengunyah kerupuk (dietnya jebol di hari kedua) hanya mengedikkan bahu. "Wah, kalau di Holding Pusat sih biasanya dia digebukin rapat maraton, Fel. Bisa dari subuh ketemu subuh lagi. Sabar ya, penguasa kantor."

Pukul 23.45 WIB

Felicia baru saja selesai mandi dan merebahkan tubuhnya yang remuk di kasur. Ia menatap layar ponselnya dengan nanar. Semua laporannya hanya dibaca (Read) tanpa balasan sejak tadi siang.

"Minimal tanya kek gue udah makan apa belum, atau tanya kabar kantor gitu. Ini beneran kayak robot dicabut baterainya," gumam Felicia kesal. Ia melempar ponselnya ke samping bantal dan mencoba memejamkan mata.

Baru saja ia hampir terlelap, ponselnya bergetar beruntun.

Dengan mata menyipit karena silau, Felicia mengecek notifikasi. Harapannya untuk mendapatkan kalimat puitis atau curhatan lelah dari Pak Han langsung pupus seketika.

Pak Han:

Berkas vendor. Acc.

Pak Han:

Jadwal Cipta hari Kamis. Ok.

Pak Han:

Laporan mingguan. Iya, lanjutkan.

Felicia terduduk di kasurnya, menatap layar itu dengan dahi berkerut. "Hah? Gini doang? 'Ok', 'Iya', 'Acc'?"

Ia mengetik dengan cepat, rasa kesalnya mengalahkan rasa kantuknya.

Felicia:

Bapak baru bangun atau baru selesai rapat? Semuanya aman di sana? Di sini kantor hampir rubuh saya handle sendirian, Pak.

Sepuluh menit berlalu. Hanya centang biru. Tidak ada balasan.

Felicia mendengus keras, kembali berbaring dan menarik selimut sampai ke leher. "Emang beneran robot. Nggak punya perasaan. Tahu gitu tadi gue nggak usah nungguin balesan sampai jam segini!"

Malam ke sembilan. Suasana kamar Felicia hening, hanya terdengar suara kipas angin kecil yang berputar konsisten. Felicia sudah terkapar di balik selimut, ponselnya tergeletak pasrah di atas bantal, masih menampilkan layar dashboard laporan yang belum sempat ia tutup. Matanya sudah menyerah sejak lima menit yang lalu akibat dihajar tumpukan dokumen revisi dari divisi produksi.

Di Semarang, Pak Han baru saja keluar dari ruang konferensi yang dingin. Ia duduk di kursi lobi hotel yang sepi, menatap layar ponselnya. Ia menggulir percakapan mereka selama sembilan hari terakhir.

Ok.

Iya.

Acc.

Ia meringis pelan. "Kaku sekali kamu, Han," gumamnya pada diri sendiri.

Rasa lelah, rindu yang tertahan, dan suasana kota orang yang asing mendadak membuat pertahanannya runtuh. Jemarinya yang biasanya hanya mengetik instruksi tegas, kini menari ragu di atas layar. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi, sampai akhirnya pesan itu terkirim.

Pak Han:

Kamu apa kabar, Fel? Saya agak kesepian sih, kerja sendiri gini.

Han menatap layar itu dengan jantung berdebar. Satu menit. Dua menit. Masih centang dua abu-abu. Ia menunggu sambil sesekali membenarkan letak kacamatanya, berharap ada tulisan 'typing...' di sana.

Namun, di seberang sana, Felicia sudah menjelajah ke alam mimpi. Ia bahkan tidak merasakan getaran halus dari ponselnya. Gadis itu tidur dengan napas teratur, benar-benar tidak tahu bahwa bos "robot"-nya baru saja melempar kode paling manusiawi selama mereka saling kenal.

Han akhirnya menghela napas panjang saat menyadari pesan itu tidak kunjung dibaca. Ia menyandarkan kepala ke kursi, menatap langit-langit hotel dengan senyum miris.

"Mungkin dia sudah tidur. Atau mungkin... dia memang tidak sepi seperti saya karena ada si mekanik itu," bisiknya pahit.

Tanpa sadar, Pak Han kembali menjadi sosok manajer yang kaku. Ia mematikan ponselnya, masuk ke kamar, dan mencoba tidur dengan perasaan gelisah yang makin menumpuk.

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!