NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pintu baja laboratorium bawah tanah berderit pelan saat digeser ke samping. Deru mesin filtrasi udara menjadi satu-satunya irama, mengiringi setiap langkah Samuel saat melangkah turun dari lorong yang hanya diterangi lampu darurat berwarna oranye. Dua kotak besar berisi peralatan distilasi molekuler terbaru terasa lebih berat dari biasanya di tangannya, disertai beberapa botol reagen yang dibungkus dengan kain busa untuk menghindari benturan—semua barang sulit didapatkan dari distributor khusus di Hamburg, yang membutuhkan izin khusus hanya untuk proses pemesanan.

Ia mendapati Axel sedang duduk membeku di depan rangkaian monitor yang berjajar rapi di atas meja kerja utama. Cahaya dari layar memantul wajahnya yang tampak lebih kurus dari seminggu yang lalu, mata merah dan cekung seperti tidak pernah tidur sama sekali. Tangan pria itu terentang di atas meja, jari-jari mengunci erat pada mouse optik.

"Lihat apa yang kubawa, Axel. Mainan baru dari distributor di Jerman."

Samuel mencoba membuat suaranya terdengar rileks seperti biasa, meskipun dada nya terasa sesak melihat kondisi sahabatnya. Ia meletakkan kotak-kotak itu di sudut meja lab.

"Kalau alat ini tidak bisa memisahkan rantai polimer anomali di darah Lusy, aku akan mengundurkan diri dari profesi dokter dan beralih jadi penjual jus mangga pinggir jalan. Bisa jadi aku akan lebih sukses, kau tahu kan bagaimana selera orang pada jus segar di musim panas."

Samuel terkekeh pelan pada leluconnya sendiri, biasanya bisa membuat Axel mengeritiknya dengan nada penuh dengan sindiran. Kali ini, upaya itu terasa menyedihkan. Tidak ada respons dari arah monitor. Axel bahkan tidak berkedip, matanya tetap terpaku pada grafik mutasi seluler yang terus berfluktuasi naik turun, pola garisnya seperti detak jantung monster yang tidak pernah puas akan apa yang dapatkannya.

"Ayolah, Dokter Bahng. Jangan terlalu tegang saja." Samuel mendekat perlahan, menepuk bahu Axel.

"Kalau kamu terus-terusan memasang muka seperti pasien terminal yang sudah tidak ada harapan, Lusy akan ketakutan saat dia bangun nanti. Setidaknya beri aku senyum sedikit saja. Kamu tahu kan, menurut jurnal medis terbaru dari New England Journal of Medicine, tertawa bisa meningkatkan kadar hormon endorfin dan meningkatkan imunitas? Siapa tahu aja imunitasmu yang kuat itu bisa menular ke dia lewat udara."

Axel perlahan-lahan menoleh. Tatapannya kosong, seolah jiwanya sudah lama meninggalkan raga itu dan tersesat di labirin keputusasaan yang tak berujung. Bibirnya sedikit bergerak, suara yang keluar terdengar seperti angin yang menerobos celah-celah batu. "Imunitas tidak akan berguna bagi sesuatu yang sudah bukan lagi manusia, Sam."

Samuel terdiam sejenak, tawa paksa di wajahnya memudar perlahan hingga hilang sama sekali. Ia mulai memperhatikan meja kerja Axel yang tampak lebih kacau dari biasanya—buku catatan riset tergeletak terbalik, tabung reagen kosong berserakan di mana-mana, dan di antara tumpukan kertas yang penuh dengan rumus kimia yang rumit, terdapat sebuah spuit plastik yang sudah terisi cairan berwarna keruh kekuningan.

Samuel mengenali warna itu dengan jelas: formula penawar X-15 yang kemarin sore mereka nyatakan gagal total setelah mengakibatkan lisis sel yang fatal pada seluruh subjek tikus percobaan. Beberapa ekor bahkan mengalami mutasi yang lebih parah sebelum akhirnya tidak bisa bertahan hidup.

"Axel." Suara Samuel berubah menjadi sangat serius namun penuh dengan kekhawatiran. Matanya tertuju pada lengan kiri Axel yang lengan kemejanya tersingkap hingga siku, menampakkan bekas tusukan jarum yang masih baru dan membengkak sedikit di sekitarnya. "Apa yang kamu lakukan?"

Axel tidak menjawab, ia hanya mencoba menarik lengannya perlahan menjauh dari pandangan Samuel. Namun Samuel sudah lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Axel dengan erat, menariknya perlahan ke bawah lampu meja yang menyala terang dengan fokus yang tinggi. Di sana, bukan hanya satu bekas tusukan yang terlihat—melainkan ada tiga lubang kecil yang membiru dan sedikit berdarah kering di bagian atas lengan bawahnya, menyebar sejajar di sepanjang urat cubiti yang menonjol.

"Kau gila?!"

"Kau menyuntikkan formula gagal itu ke tubuhmu sendiri? Apa yang kau coba lakukan, hah? Menjadi martir yang sia-sia? Atau kau sudah tidak sabar ingin berubah jadi monster juga supaya bisa menemani dia di dalam sana?"

"Aku hanya ingin tahu kenapa dia merasa sakit, Sam!" Axel menjerit balik dengan suara pecah, air mata yang sudah lama tertahan tumpah deras dari matanya, meluncur melewati pipinya yang kering.

Ia berdiri dengan cepat, menjatuhkan kursinya hingga terdengar bunyi denting keras di lantai. "Aku tidak bisa merasakannya dari balik kaca isolasi! Aku tidak bisa tahu apa yang zat itu lakukan pada sarafnya, bagaimana rasanya ketika setiap sel di dalam tubuhmu seperti sedang terbakar dan berubah bentuk tanpa izinmu! Kalau aku tidak merasakannya sendiri, aku tidak akan pernah bisa menemukan cara untuk memberinya relaksasi, apalagi menemukan penawarnya!"

"Itu bukan sains, Axel! Itu bunuh diri yang kau lakukan dengan cara yang paling bodoh!" Samuel mendorong Axel kembali ke kursinya dengan tegas, tangannya tetap berada di bahu sahabatnya untuk menjaganya agar tidak jatuh.

Ia merampas spuit berisi formula gagal itu dari atas meja dengan cepat, lalu membantingnya ke dalam tempat sampah medis khusus yang sudah diberi label berbahaya. Plastik spuit hancur dengan suara kecil, cairan keruh menyebar di dalam wadah kedap udara.

"Dengarkan aku, Axel! Jika kau mati atau kehilangan kewarasan karena hal yang kamu lakukan sendiri, tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan Lusy. Ayahmu hanya ahli di bidang biologi molekuler struktural, dia tidak mengerti sama sekali tentang kimia organik yang kompleks seperti ini. Ana hanya seorang perawat yang cakap, tapi dia tidak bisa membuat formula baru dari nol. Dan aku... aku tidak akan sanggup melakukan semua ini sendirian tanpa otak jeniusmu yang sombong dan selalu berpikir dua langkah lebih maju dari orang lain!"

Axel menangkup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang keluar dengan suara pecah. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi setelah bertahan selama berhari-hari melihat Lusy terbaring di dalam ruang isolasi, tubuhnya terus mengalami perubahan yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu medis mana pun. Tangisan itu terdengar seperti suara binatang yang terluka di dalam ruang bawah tanah yang tertutup rapat, membuat Samuel merasa sakit di bagian terdalam hatinya.

Samuel berdiri di sana, menatap sahabatnya dengan kemarahan yang masih belum surut dan rasa kasihan. Ia menyadari bahwa Axel sudah berada tepat di tepi jurang kegilaan. Cinta yang sudah tumbuh selama bertahun-tahun antara Axel dan Lusy telah bermutasi, sama seperti zat anomali di dalam darah Lusy yang mengubah segala sesuatu yang terkena paparannya. Cinta itu kini menjadi sesuatu yang menggerogoti sanitas Axel dari dalam, membuatnya rela melakukan apa saja tanpa memikirkan konsekuensinya.

"Jangan lakukan lagi." Samuel bisik bergetar. Ia menempatkan tangannya pada bahu Axel, memberikan dukungan yang bisa ia berikan.

"Jangan biarkan aku kehilangan sahabatku yang satu-satunya demi eksperimen bodoh yang tidak ada jaminan suksesnya. Kita akan temukan caranya untuk menyembuhkannya, oke? Kita akan bekerja sama seperti dulu, seperti ketika kita menyelesaikan proyek skripsi kita yang dianggap mustahil oleh semua profesor. Tapi kamu harus tetaplah menjadi manusia, Axel. Jangan ikut menyerahkan dirimu pada kegelapan itu yang sudah merenggut Lusy dari kita."

Axel hanya bisa mengangguk, masih belum bisa berbicara karena tangisan yang masih terus menerus keluar dari dalam dadanya. Samuel meraih gelas plastik yang berisi air mineral di dekat meja, memberikannya pada Axel yang menerima dengan tangan gemetar. Ia menonton sahabatnya meneguk air dengan tergesa-gesa, air mengalir ke dagunya karena ia tidak bisa mengontrol gerakan bibirnya dengan baik.

Di sudut ruangan yang jauh, di balik lapisan kaca isolasi yang tebal dan sistem filtrasi udara yang bekerja terus-menerus, Lusy yang sedang tertidur di atas ranjang khusus tampak bergerak sedikit. Badannya bergoyang perlahan, tangannya yang terikat ringan pada sisi ranjang menggenggam seprai putih dengan erat. Ia tidak bisa bangun atau berbicara, namun seolah merasakan getaran emosional dari pria yang sedang hancur di luar sana karena mencintainya dengan cara yang terlalu dalam dan menyakitkan. Bibirnya sedikit bergerak, seolah ingin mengucapkan nama Axel, namun tidak ada suara yang keluar selain napasnya yang terengah-engah dan tidak teratur.

Samuel menoleh ke arah ruang isolasi, melihat bagaimana mesin monitor tanda vital Lusy menunjukkan lonjakan kecil pada denyut jantungnya. Ia tahu bahwa hubungan antara Axel dan Lusy bukan hanya hubungan emosional semata—setelah zat anomali memasuki tubuh Lusy, ada sesuatu yang lebih dalam yang mengikat mereka berdua, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki saat ini. Dan itu adalah hal terbesar yang membuatnya takut: bahwa untuk menyelamatkan Lusy, mereka mungkin harus mengorbankan sesuatu yang jauh lebih berharga dari hidup mereka sendiri.

Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai membongkar kotak-kotak peralatan baru yang dibawanya dari Jerman. Ada pekerjaan yang harus mereka lakukan, dan ia tidak bisa membiarkan diri terjebak dalam emosi yang hanya akan menghambat kemajuan mereka. Axel mungkin sedang dalam kondisi yang sangat buruk, namun Samuel harus tetap menjadi pijakan yang kokoh untuk sahabatnya dan untuk Lusy yang sedang bergantung padanya.

"Kita akan mulai dengan kalibrasi alat ini besok pagi sekali." Ia mengambil buku catatan baru dari laci meja, menuliskan beberapa catatan tentang langkah-langkah yang akan mereka lakukan. "Sekarang kamu istirahat dulu. Setidaknya dua jam saja. Kalau kamu tidak mau tidur, setidaknya tutup mata dan dengarkan musik atau apa saja yang bisa membuatmu rileks. Aku akan merawat Lusy sebentar dan memeriksa kembali data hasil tes kemarin."

Axel hanya mengangguk lagi, masih belum bisa berbicara namun ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia mendengar dan memahami apa yang dikatakan Samuel. Ia mulai merapikan meja kerjanya, menyusun kembali buku-buku dan kertas-kertas riset yang berserakan.

Samuel melihatnya sebentar sebelum berjalan menuju ruang isolasi, hatinya penuh dengan harapan bahwa mereka masih punya waktu untuk menemukan jalan keluar dari kegelapan yang mengelilingi mereka semua.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
Phida Lee
Ajukan kontrak dan jangan lupa rajin promosi juga bang..
massie-masbro
mantap bang🔥 btw tutor novel bisa rame gimana bng aku masih pemula, ajukan kontrak kah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!