"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
"Selamat datang kembali dalam badai emosi yang semakin memuncak. Pernahkah kalian merasa bahwa seseorang telah pergi, namun jejaknya masih begitu kuat hingga membuat orang yang menggantikannya merasa terancam? Di episode ini, kita akan melihat bagaimana ketakutan Clarissa berubah menjadi tindakan yang keji. Sebuah benda kecil yang tak berharga bagi orang lain, namun merupakan satu-satunya bukti sejarah bagi Bima, akan menjadi sumbu ledak konflik yang luar biasa. Mari kita saksikan kehancuran dari dalam."
.
.
Jakarta disambut oleh hujan badai yang mencerminkan suasana di dalam apartemen mewah Bima. Clarissa berdiri di tengah ruang tamu, dikelilingi oleh tumpukan kotak-kotak kardus yang ia paksa keluar dari gudang belakang.
Napasnya memburu, matanya yang tajam menyisir setiap barang yang pernah menjadi bagian dari hidup Hana.
Sejak kepulangan Bima dari perjalanan bisnis di kota kecil itu, Clarissa merasakan perubahan pada pria itu. Bima menjadi lebih sering melamun, kurang bersemangat saat membahas detail pernikahan, dan yang paling membuatnya murka. Bima sering menatap kosong ke arah laci meja kerjanya.
"Aku tidak akan membiarkan hantu itu tetap tinggal di sini," desis Clarissa.
Ia mulai membongkar kotak-kotak itu dengan kasar. Pakaian lama Hana yang tidak sempat dibawa, buku-buku catatan resep, hingga sebuah syal rajutan yang masih menyisakan aroma parfum lembut Hana.
Clarissa melempar barang-barang itu ke lantai seolah-olah itu adalah sampah yang menjijikkan.
Di dasar salah satu kotak, Clarissa menemukan sebuah amplop putih yang agak kusam. Dengan rasa penasaran yang bercampur kebencian, ia membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah foto hitam putih kecil dengan butiran piksel yang belum jelas benar bentuknya.
Itu adalah foto hasil USG pertama anak Bima dan Hana. Di pojok atas tertulis nama - Hana Anindita.
Tangan Clarissa bergetar. Foto itu adalah bukti nyata bahwa Hana pernah memiliki sesuatu dari Bima yang tidak ia miliki, sebuah ikatan darah.
Baginya, foto itu bukan sekadar gambar janin, melainkan ejekan bahwa ia hanyalah orang kedua yang masuk setelah segalanya hancur.
"Berani-beraninya dia menyimpan ini!" Clarissa berteriak pada ruangan yang kosong.
Tanpa ragu, ia meremas foto itu. Ia hendak merobeknya, namun sebuah ide yang lebih licik muncul di kepalanya. Jika ia menghancurkannya sekarang, Bima mungkin akan marah.
Ia harus melenyapkannya sedemikian rupa sehingga seolah-olah barang itu hilang karena ketidaksengajaan atau memang harus dibuang.
Clarissa memanggil asisten rumah tangga yang sudah bekerja beberapa tahun, yang sangat tahu tentang sejarah rumah itu.
"Bik, bawa semua sampah ini ke tempat pembuangan di bawah. Sekarang! Jangan sampai ada satu pun kotak yang tersisa di gudang. Saya ingin gudang itu bersih untuk tempat koleksi tas-tas baru saya," perintah Clarissa dengan nada mutlak.
"Tapi Bu, ini bukannya barang-barang Ibu Hana?" tanya si Mbok ragu.
"Jangan sebut nama itu di depanku!" bentak Clarissa. "Buang sekarang, atau kamu saya pecat hari ini juga!"
~~
Satu jam kemudian, Bima pulang dalam keadaan basah kuyup karena hujan. Ia tampak lelah, namun matanya langsung tertuju pada gudang yang pintunya terbuka lebar dan terlihat kosong melompong.
"Clar? Kenapa gudang dikosongkan?" tanya Bima sambil meletakkan tas kerjanya.
Clarissa menghampiri Bima dengan senyum paling manis yang ia miliki, jenis senyum yang biasanya mampu meluluhkan amarah Bima. Ia memeluk lengan Bima, memberikan kehangatan palsu.
"Sayang, aku tadi bersih-bersih. Gudang itu sudah terlalu penuh dengan barang-barang lama yang berdebu. Itu tidak baik untuk kesehatanmu, apalagi kamu sering bersin kalau ada debu. Jadi, aku minta pembantu untuk membuang semuanya agar kita bisa mulai menata rumah ini untuk pernikahan kita nanti. Kita butuh ruang baru untuk masa depan kita, kan?"
Bima tertegun. "Dibuang? Semuanya?"
"Iya, lagipula itu hanya barang bekas yang tidak berguna, Bim. Untuk apa menyimpan kenangan dari orang yang sudah menghianatimu dengan menghilang begitu saja?" Clarissa mengusap pipi Bima dengan lembut.
Bima terdiam. Jantungnya mendadak terasa kosong. Pikirannya langsung tertuju pada amplop putih di laci meja gudang yang selama ini ia sembunyikan. Foto USG itu. Satu-satunya bukti visual bahwa ia pernah hampir menjadi seorang ayah.
Bima melepaskan tangan Clarissa dan berlari menuju tempat sampah besar di lorong apartemen. Namun, petugas kebersihan baru saja membawa semua sampah dari lantai itu menuju mesin penghancur di lantai bawah.
"Pak! Tunggu!" teriak Bima, namun pintu lift sudah tertutup.
Bima berdiri mematung di depan lift. Ia merasa seolah-olah separuh dari jiwanya baru saja dipaksa hilang. Ia memang membenci Hana, ia memang ingin Hana menderita, tapi ia tidak pernah benar-benar ingin menghapus keberadaan darah dagingnya sendiri dari sejarah hidupnya.
Bima kembali ke dalam apartemen dengan wajah yang sangat pucat. Clarissa menunggunya di sofa sambil menyesap wine.
"Kenapa, Bim? Kamu marah karena aku membuang sampah-sampah itu?" tanya Clarissa, suaranya kini mulai bernada menantang.
"Ada foto USG di sana, Clarissa! Itu satu-satunya foto anakku!" suara Bima meninggi, bergema di seluruh ruangan.
Clarissa berdiri, meletakkan gelasnya dengan dentuman keras. "Anakmu? Anak yang mana, Bima? Anak dari wanita yang bahkan tidak memberitahumu di mana dia berada? Anak yang mungkin saja bukan anakmu karena dia pergi begitu saja? Kamu lebih peduli pada selembar kertas daripada perasaanku yang harus melihat barang-barang istrimu setiap hari?"
"Itu berbeda, Clarissa! Itu darah dagingku!"
"Darah daging yang mana? Dia sudah mati bagi kita, Bima! Kamu yang bilang sendiri kalau Hana itu sampah! Kenapa sekarang kamu jadi melankolis begini?" Clarissa mendekati Bima, matanya berkilat penuh manipulasi. "Atau jangan-jangan, kamu memang ingin kembali padanya? Kamu ingin mencari dia di kota kecil itu lagi? Katakan saja kalau kamu memang tidak mencintaiku!"
Clarissa mulai menangis, tangisan buaya yang sudah ia latih berkali-kali. Ia tahu kelemahan Bima adalah rasa bersalah.
"Aku melakukan ini demi kita, Bim. Aku ingin kita bersih dari masa lalu. Aku tidak tahan hidup dalam bayang-bayang Hana. Kalau kamu masih menyimpan fotonya, itu artinya kamu masih memberi ruang untuk dia di antara kita."
Bima menatap Clarissa. Ia merasa bingung. Di satu sisi, ia merasa kehilangan yang sangat dalam. Di sisi lain, logika manipulatif Clarissa mulai meracuni pikirannya kembali. Ia merasa terpojok.
"Maafkan aku, Sayang... aku hanya ingin kita bahagia," isak Clarissa sambil memeluk Bima erat-erat.
Bima tidak membalas pelukan itu dengan hangat. Ia hanya berdiri diam. Namun di dalam kepalanya, ia membayangkan sosok wanita di pasar tempo hari. Wanita yang tersenyum tulus tanpa perlu memanipulasi siapa pun.
~~
Malam itu, saat Bima mencoba tidur, ia tidak bisa berhenti memikirkan foto yang sudah hancur itu. Ia merasa dunianya di Jakarta semakin hari semakin terasa palsu.
Sementara itu, di Sukamaju, Hana sedang menyalakan lilin karena listrik di desa sedang padam. Ia menggendong Aditya Saka yang sedang tertawa kecil.
Di atas meja kayu, tersimpan rapi foto USG yang sama dengan yang dibuang Clarissa, Hana menyimpannya dalam bingkai kayu sederhana.
"Lihat, Saka. Ayahmu mungkin sudah menghapus kita dari dunianya, tapi Ibu akan selalu menjaga setiap inci kenangan tentang kehadiranmu," bisik Hana.
Hana tidak tahu bahwa di Jakarta, Bima baru saja kehilangan satu-satunya jembatan emosional yang menghubungkannya dengan putranya.
Dan Clarissa, dengan senyum kemenangannya di kegelapan kamar, tidak menyadari bahwa dengan membuang foto itu, ia justru telah memicu rasa penasaran dan penyesalan Bima yang jauh lebih besar.
Manipulasi Clarissa berhasil untuk malam ini, namun ia baru saja menanam duri di dalam hati Bima yang sewaktu-waktu akan menusuknya kembali.
Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya?
Jangan lewatkan di Up episode selanjutnya yaaa....
...----------------...
**To Be Continue** ....