Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meeting Menegang
Cuaca dipagi hari ini memang terasa lebih dingin daripada cuaca beberapa hari yang telah berlalu.
Sherly yang duduk di deretan meja meeting sisi kiri, tenggorokannya terasa tercekat, pikirannya membara, dan posisinya terintimidasi. Semua mata terfokus pada dirinya, membuat Sherly merasa semakin tidak nyaman.
Agashtya menatap Sherly dengan tajam, "Sherly, kamu tahu apa yang sedang terjadi di sini?"
Sherly mencoba untuk menjawab, tapi suaranya hanya keluar lirih, "Saya...saya tidak tahu, pak..."
Agashtya tersenyum, "Tidak tahu? Baiklah, saya akan tunjukkan."
"Next..." Sahut Agashtya memberi perintah pada Dion
Dion menjalankan tayangan proyektor, dan bukti-bukti tindak kejahatan Sherly muncul di layar. Sherly merasa wajahnya kian memucat, keringat membasahi wajahnya, dan dia merasa ingin bersembunyi bahkan menghilang saat ini juga.
Suasana menjadi riuh dengan bisikan dan gunjingan para staff. Agashtya menatap Sherly dengan tajam, "Kamu tahu apa hukuman untuk tindakan seperti ini?"
Sherly menunduk, "Saya...saya tidak tahu, pak..."
Agashtya tersenyum, "Tidak tahu? Baiklah, saya akan tunjukkan. Alex, tolong baca keputusan HRD."
Alex berdiri, "Sherly, kamu telah terbukti melakukan penggelapan dana perusahaan. Keputusan HRD adalah..."
Sherly menutup mata, menunggu keputusan itu. Alex melanjutkan, "Kamu dipecat dari PT. Wijaya's New Era Group, efektif segera..."
Sherly merasa seperti dunia runtuh. Dia mencoba untuk berbicara, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Agashtya menatapnya dengan tajam, "Kamu harus bertanggung jawab atas tindakanmu, Sherly."
"Wah gak disangka ya bu Sherly selicik itu..." Cicit Anggia, salah satu staff di departemen keuangan, sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Gila sih...selain korup besar-besaran juga ngebet banget pengen jadi nyonya Wijaya..." Imbuh Fina, salah satu staff di departemen pemasaran produk, sambil menggelakkan kepala.
"Murahan banget triknya buat jebak pak Agashtya kayak gitu..." Cicit Tiara, salah satu staff administrasi, sambil mengangguk-angguk.
"Huuuuu...parah..." Sahut seluruh karyawan dan karyawati PT Wijaya's New Era Group, menyoraki Sherly yang tak bisa berkutik lagi.
Agashtya dan Alex hanya tersenyum seringai melihat Sherly menjadi bahan gunjingan para karyawan lainnya.
"Sudah cukup! Harap tenang semuanya. Untuk saat ini rapat kita hari ini sampai disini dulu..." Titah Agashtya, tegas.
"Untuk anda bu Sherly yang terhormat. Saya beri anda waktu selama 1 jam untuk mengemasi semua barang-barang Anda dari departemen pemasaran produk sekarang juga. Oh...iya satu lagi, jangan lupa untuk membayar uang ganti rugi senilai 1 milyar yang telah anda korup dari perusahaan saya ini. Apa bisa dimengerti?" Ucap Agashtya, lembut namun penuh penekanan, lebih terasa seperti sebuah ancaman, ditambah senyum seringai yang ia tampilkan saat ini.
Seluruh karyawan kembali pada posisi mereka semula. Agashtya membubarkan seluruhnya dari ruang rapat. Tentu masih ada rencana berikutnya yang disusun oleh Agashtya untuk Sherly.
Agashtya yang diikuti oleh Alex dan Kaniya itu pun keluar dari ruang meeting beserta para karyawan lainnya. Kini tinggal lah Sherly seorang diri di ruangan itu, melampiaskan amarahnya dengan cara menyerak tumpukan dokumen yang berada di mejanya.
"Argghh...sialan, lagi-lagi gue kalah. Awas aja loe Kaniya gue gak bakal nyerah gitu aja. Bakal gue bales loe nanti! Tunggu pembalasan gue!" Ucap Sherly, tidak terima dengan kenyataan yang ada, sambil menginjak-injak dokumen yang berserakan di lantai.
...****************...
Kaniya duduk di kursi kerjanya, membuka ponselnya dan melihat notifikasi pesan whatsapp yang sudah menumpuk. Dia mulai membaca pesan-pesan itu, dan wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir.
"[Kemana aja loe kak? Semalem papa sama mama panik tau...]" Pesan whatsapp dari Shanaya.
"[Kan loe kemana aja? Papa sama mama panik gara-gara loe tau gak! Pulang sekarang juga, siapa sih atasan loe itu kok sampe nyuruh lembur gitu?]" Pesan whatsapp dari Tristan.
Belum sempat Kaniya membalas, ponselnya berdering. Shanaya memanggil.
"Iya halo,...." Jawab Kaniya, dengan nada lembut.
"Semalem kakak kemana? Kok gak balik kerumah? Kami khawatir tahu gak sih, takut kalau kakak diculik atau gimana gitu deh..." Sahut Shanaya, dengan nada kekhawatiran.
Kaniya tersenyum, "Gue nginep di apartement Karina dia demam jadi gue panik apalagi dia kan jauh dari nyokap bokapnya..."
"Oh gitu tapi beneran kan. Ah...loe sukanya bikin panik orang aja tahu gak sih minimal kasih kabar kek jangan asal ngilang gitu aja..." Sahut Shanaya, dengan nada protes.
Kaniya tertawa, "Iya sorry kalo gue bikin khawatir semua orang. Gimana mau ngabarin orang udah keburu panik juga..."
Agashtya yang baru saja ingin memasuki ruangan Kaniya, mendengar percakapan itu dan menjadi salah paham. Ia mengira bahwa Kaniya sudah memiliki kekasih.
"Ok deh. Ya udah see you gue mau masuk kelas dulu byeee...emmuachh..." Ucap Shanaya, sebelum mengakhiri panggilan telepon.
"Ok, see you. Emuach loph you full baby..." Balas Kaniya, dengan ekspresi lebih heboh.
Agashtya yang berdiri di depan pintu, merasa sedikit tidak nyaman. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Eheeem..." Agashtya berdeham saat memasuki ruangan Kaniya, membuat Kaniya yang masih tersenyum setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Shanaya, langsung menoleh ke arahnya.
"Eh...pak Agash, kenapa bapak ke ruangan saya pak? Apa ada yang bisa saya bantu?" Sahut Kaniya, sigap dan sedikit curiga.
Agashtya memegang sebuah obat antibiotik dan salep, "Gak ada yang perlu dibantu. Saya cuma mau kasih ini ke kamu, bisa kan pake sendiri? Apa perlu saya yang_____aa...maaf...maaf...ini salepnya bisa kan cara pakenya?"
Kaniya merasa sedikit salah tingkah, "Aa...iya Pak, gak usah repot-repot saya bisa sendiri ehehehe...terimakasih banyak sudah merepotkan Anda..."
Agashtya tersenyum, tapi Kaniya bisa melihat ada sedikit keanehan di balik senyumannya.
"Ok kalau begitu saya kembali ke ruangan saya dulu. Maaf jika saya mengganggu kemesraan kamu dengan pacar kamu yang sedang telepon saat ini. Permisi..."
Kaniya terbengong, "Pacar? Pacar dari hongkong kali ya...ihhh...ngeselin banget sih dia, kenapa sih dia sebenernya aneh..."
Kaniya menggelakkan kepala, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Agashtya.
"Dia salah paham kali ya, au ahh...bodoamat..."
Kaniya kembali ke pekerjaannya, masih tersenyum dan sedikit gembira karena Agashtya salah paham, tapi juga sedikit aneh dengan sikap Agashtya yang tidak biasa.
...****************...
Sementara itu ditempat lain. Lebih tepatnya ditempat keberadaan Bintang saat ini. Pemuda itu tampak serius menyusun semua peralatan medisnya ke dalam mobilnya.
Ya, hari ini tugas dinasnya telah usai setelah selama 3 hari lamanya dia berada di desa Lenggahsari. Kini sudah tiba saatnya ia kembali ke Jakarta.
Ponselnya yang baru saja mendapatkan sinyal bergetar di dalam saku bajunya. Ia pun tampak berkernyit saat membaca notif pesan whatsapp dari Alex dan juga notif panggilan masuk sebanyak 10 kali dari Alex.
"[Mas Bintang urgent, bisa gak mas Bintang datang sekarang juga ke apartemennya mas Agashtya? Ini urgent banget pokoknya...]" Isi pesan whatsapp dari Alex
"Alex? Kenapa dia nelpon sebanyak ini? Ada apa dengan kakak? Dia nelpon tepat pukul 22.45 berarti tadi malam? Aku harus secepatnya sampai ke kota..." Gumam Bintang
Dengan gerakan yang dipercepat dirinya pun segera menancap pedal gas mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Tujuannya tentu saja ingin agar cepat sampai ke kota.
Ditengah perjalanan dirinya pun memasang earphonenya kemudian ia menelepon Alex. Sementara Alex yang tengah menyeduh kopi di pantri langsung saja menjawab panggilan telepon dari Bintang.
"Halo Lex...Ada apa kamu nelepon semalam?" Tanya Bintang dari seberang telepon
"Halo mas Bintang. Ah...sudah telat mas Bintang semuanya udah terjadi baru mas Bintang ada respon..." Jawab Alex yang tidak langsung pada inti permasalahannya
"Apanya yang terjadi? Coba jelaskan lebih detail. Kak Agashtya gak kenapa-kenapa kan? Sekarang kalian posisi dimana?" Sahut Bintang panik
"Tenang mas Bintang sekarang semua udah clear jadi mas Bintang gak perlu khawatir lagi ok, kami sekarang di kantor..." Jawab Alex berusaha menenangkan tuan muda keduanya
"Ok kalau begitu. Saya langsung ke lokasi nanti. Saya baru selesai dinas di desa Lenggahsari. Ok thanks infonya..." Sahut Bintang dari seberang telepon
Alex menjawab, "Ok mas Bintang hati-hati dijalan jangan ngebut-ngebut..."
Bintang tersenyum, "Ok aman..." sebelum mengakhiri panggilan telepon dengan Alex.
...****************...
Sementara itu disisi lain Agashtya duduk di kursi kebesarannya, termenung gundah dengan perasaannya sendiri.
Dia tidak percaya apa yang telah ia lakukan pada Kaniya. Dia mencoba untuk mengecek CCTV yang terpasang di kamarnya, dan betapa terperanjatnya dirinya saat menyaksikan tayangan itu.
"Astaga itu gue? Semenjijikan itu gue sumpah..." Gumamnya, dengan nada yang penuh dengan rasa malu dan penyesalan.
Agashtya menutup wajahnya dengan tangan, merasa seperti dia telah melakukan sesuatu yang sangat salah.
"Gila loe Gas, anak orang loe rusak akkhh...sial joni joni kenapa loe murahan banget sih gak bisa kontrol diri gara-gara loe sekarang gue bingung harus gimana apalagi sikap Kaniya yang seolah jaga jarak banget..."
Agashtya memijit pelan-pelan pelipisnya, memejamkan matanya sesaat. Dia bingung dan dalam benaknya diselimuti oleh rasa bersalah yang begitu besar saat ini.
"Apa yang harus gue lakukan sekarang? Gimana gue harus ngelihat dia lagi? Apa gue harus minta maaf? Tapi gimana caranya gue minta maaf kalo gue sendiri yang gak tau apa yang harus gue katakan..." Agashtya terus berbicara pada dirinya sendiri, mencari jawaban yang tidak ada.
Bersamboo....
Hai guys...jangan lupa tinggalkan jejak ya kalo suka dan mohon krisannya di kolom komentar ya guys. Aku juga ada novel lainnya ya guys jangan lupa mampir ke novel aku yang berjudul "Ketidaksengajaan Cinta", " Tuhan Biarkan Cintaku Tetap Hidup", "Reinkarnasi Kekasih Masa Lalu" dan masih banyak lainnya.
Makasih banyak sebelumnya, emuach... Love love pokoknya sama kalian semua yang sudah mampir dan follow akun aku pasti langsung aku follback yah...
Visualnya Sherly Agatha Pratama ya guys yah...