Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9. Pembicaraan
Arthur menunjuk gulungan kedua.
“Dan masalah kedua?”
Sebastian mengambil gulungan itu. Wajahnya yang semula tenang berubah serius.
“Wilayah selatan kita—Distrik Thornhaven. Situasinya sudah mendekati kritis.”
Arthur menerima gulungan itu dan membukanya perlahan. Matanya menelusuri setiap baris laporan.
“Thornhaven District,” lanjut Sebastian dengan suara tertahan. “Populasi 1,2 juta jiwa, mayoritas petani. Hasil panen musim ini turun 42% dari proyeksi normal. Penyebabnya kekeringan berkepanjangan dan serangan hama belalang. Cadangan pangan… hanya cukup untuk enam minggu. Jika tidak segera ditangani, kelaparan massal akan terjadi dalam dua bulan.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Arthur tetap membaca, namun pikirannya sudah bergerak cepat, menghitung kemungkinan. Biaya impor besar-besaran, subsidi distribusi, logistik, pengamanan jalur perdagangan—semuanya akan menelan lebih dari lima ratus ribu koin emas. Jumlah yang sangat besar.
Archduchy memiliki dana sebanyak itu. Bahkan jauh lebih dari itu. Namun mengeluarkannya sekarang berarti menunda—bahkan membatalkan—sejumlah proyek besar tahun depan: pembangunan pelabuhan, reformasi irigasi utara, dan modernisasi garnisun perbatasan.
Keputusan ini bukan soal mampu atau tidak. Ini soal prioritas.
Tapi apa ada pilihan lain? Membiarkan 1,2 juta orang kelaparan? Tidak. Tidak akan pernah.
“Sebastian,” ujar Arthur pelan sambil meletakkan laporan itu di atas meja. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengimpor gandum dalam jumlah besar dari Eastern Merchant Guild?”
Sebastian berpikir sejenak. “Dengan kontrak darurat… pengiriman pertama bisa tiba dalam tiga minggu. Tapi harganya akan melonjak. Mereka tahu kita sedang terdesak.”
“Tepat sekali.”
Arthur berdiri—gerakannya pelan, namun stabil—lalu berjalan menuju jendela tinggi di sisi ruangan. Ia menatap jauh ke arah selatan, ke hamparan wilayah yang kini terancam bencana.
“Kita tidak akan mengimpor,” kata Arthur tiba-tiba.
Sebastian tersentak. “Yang Mulia?”
“Kita tidak akan mengimpor dari Eastern Merchant Guild,” ulang Arthur sambil berbalik menghadapnya. Tatapannya tajam, penuh perhitungan. “Atau setidaknya, tidak hanya itu.”
Ia kembali ke meja, menarik selembar kertas kosong dan mengambil pena. Goresannya cepat, terstruktur, seolah setiap angka sudah tersusun di kepalanya sejak tadi.
“Solusi jangka pendek—ya, kita tetap mengimpor gandum untuk bantuan segera. Tapi kita tidak akan membayar harga premium yang mereka minta.” Ujung penanya bergerak lincah, menuliskan angka-angka, estimasi volume, biaya logistik, dan margin keuntungan para pedagang.
“Kita akan membuka tender terbuka,” lanjutnya tanpa mengangkat kepala. “Undang lima guild besar: Eastern, Western, Southern Coastal, Northern Trade Federation, dan Free Merchants Association. Biarkan mereka bersaing mendapatkan kontrak darurat ini. Siapa yang mampu mengirim paling banyak dengan harga terbaik dalam tiga minggu, dia yang menang.”
Sebastian mulai memahami arah pemikiran itu. Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Kompetisi akan menurunkan harga…”
“Hingga tiga puluh sampai empat puluh persen,” potong Arthur tegas. “Mereka mungkin tahu kita terdesak, tapi mereka juga tahu kontrak Archduchy bernilai besar dan berkelanjutan. Tak satu pun ingin kehilangan peluang jangka panjang.”
Ia berhenti sejenak, lalu menuliskan angka baru di sudut kertas.
“Selisih dana dari hasil tender itu kita alokasikan untuk fase dua.”
“Fase dua, Yang Mulia?” tanya Sebastian sambil mulai mencatat dengan cepat.
“Solusi jangka panjang.” Arthur mengangkat pandangan. “Thornhaven gagal panen karena dua hal: kekeringan dan hama. Kekeringan kita atasi dengan sistem irigasi permanen. Bangun kanal dari Sungai Silverrun di timur distrik.”
Penanya kembali bergerak.
“Estimasi investasi awal dua ratus ribu koin emas untuk konstruksi utama. Mahal, ya. Tapi setelah selesai, hasil panen bisa meningkat hingga lima puluh persen. Itu bukan hanya pemulihan—itu peningkatan kapasitas produksi.”
Sebastian menulis tanpa henti, napasnya sedikit lebih cepat karena antusias.
“Dan untuk hama?” tanyanya.
Arthur menyandarkan pena sejenak.
“Kita bentuk unit agronomi distrik. Rekrut ahli pertanian dari Akademi Ilyrion. Riset pola migrasi belalang, kembangkan metode pengendalian terpadu—pembakaran terkendali, predator alami, dan rotasi tanam.”
Ia menatap peta Thornhaven yang terbentang di meja.
“Kita tidak sekadar menyelamatkan mereka dari kelaparan,” katanya pelan namun pasti. “Kita memastikan ini tidak pernah terjadi lagi.”
“Ditambah lagi, kita akan merekrut para penyihir muda dari akademi sebagai Agricultural Corps,” lanjut Arthur tenang. “Mereka mendapat pengalaman lapangan, para petani mendapat bantuan sihir tanpa biaya. Sama-sama diuntungkan.”
Sebastian menatap catatannya dengan mata membulat.
“Yang Mulia… ini… ini luar biasa. Solusi berlapis yang menangani krisis sekarang sekaligus mencegahnya terulang.”
“Presiden yang baik harus berpikir jau—,” jawab Arthur refleks—lalu terdiam sepersekian detik, menyadari hampir saja ia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.
Namun Sebastian tidak menangkap keganjilan itu. Ia terlalu fokus pada rencana yang terbentang di hadapannya.
“Dan soal pajak?” tanyanya kemudian. “Para petani meminta pembebasan pajak untuk musim ini.”
“Disetujui,” kata Arthur tanpa ragu. “Tambahan—berikan mereka pinjaman berbunga rendah untuk membeli benih dan peralatan. Pengembalian dalam tiga tahun, tanpa bunga pada tahun pertama. Itu akan mempercepat pemulihan mereka.”
Ia meletakkan pena perlahan.
“Total biaya seluruh inisiatif ini sekitar enam ratus ribu koin emas. Lebih besar dari permintaan awal. Tapi keuntungan jangka panjangnya jauh lebih tinggi—baik secara ekonomi maupun stabilitas sosial.”
Sebastian mengangguk pelan.
“Perbendaharaan Archduchy memiliki dana sebesar itu, namun tahun depan akan terasa ketat…”
“Gunakan dari cadangan pribadiku,” potong Arthur.
Ruangan mendadak hening.
Sebastian menatapnya seakan baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
“Yang Mulia… cadangan pribadi Anda?”
“Ya.” Tatapan Arthur tetap tenang. “Aku memiliki lebih dari cukup. Rakyat kita lebih penting daripada emas yang hanya tersimpan dan tidak digunakan.”
Untuk beberapa detik, tak ada suara selain hembusan napas.
Lalu Sebastian berdiri dan membungkuk dalam—lebih dalam dari sebelumnya, bukan sekadar formalitas, melainkan penghormatan yang tulus.
“Yang Mulia, ini… ini akan mengubah segalanya. Thornhaven akan mengingat kebaikan ini selama beberapa generasi.”
Arthur mengangkat tangan, menghentikannya dengan halus.
“Aku tidak melakukan ini untuk dikenang. Aku melakukannya karena ini tugas kita. Mereka rakyat kita. Kita melindungi mereka.”
Sebastian tersenyum—senyum tulus yang memperdalam garis-garis usia di wajahnya. Ada kebanggaan di sana, dan rasa lega.
“Saya akan segera melaksanakannya. Tender dibuka hari ini. Tim konstruksi kanal akan dimobilisasi minggu depan.”
“Bagus.” Arthur mengangguk singkat.
“Koordinasikan dengan Valerine juga. Dia lebih piawai dalam negosiasi dengan guild pedagang. Biarkan dia menangani detail kontraknya.”
“Akan saya lakukan, Yang Mulia.”
Sebastian mulai mengumpulkan perkamen-perkamen di atas meja. Namun sebelum benar-benar berbalik, ia menatap Arthur dengan ekspresi yang sulit diartikan—seolah ada sesuatu yang ingin diucapkannya.
Namun pada akhirnya, ia memilih diam.
Sebastian membungkuk sekali lagi.
“Saya akan melaksanakan instruksi Anda segera. Dengan izin, Yang Mulia.”
“Silakan.”
Langkah Sebastian pelan saat menuju pintu. Tangannya menyentuh gagang, lalu ia berhenti sejenak dan melirik dari balik bahu.
“Dan, Yang Mulia… tolong jaga kesehatan Anda. Kekaisaran masih membutuhkan The Crimson Aegis. Namun lebih dari itu… wilayah kita membutuhkan Anda.”
Pintu tertutup dengan lembut.
Keheningan kembali mengisi ruangan.
DING.
╔══════════════════════════════════╗
║ 【SIDE QUEST COMPLETE】 ║
╚══════════════════════════════════╝
Misi: Menyelesaikan Krisis Thornhaven
Hadiah:
+30 RP (solusi strategis)
+3% Perkembangan Wilayah
+2% Reputasi (kabar akan menyebar)
+5% Hubungan dengan Sebastian Thorne (kepercayaan terbentuk)
RP Saat Ini: 77
【NOTIFIKASI】
Sebastian Thorne kini sepenuhnya mendukung Anda.
Tingkat Loyalitas: 95%
...----------------...
“RP ? Apa itu?” tanya Arthur pelan.
[Reputasi Poin akan bisa digunakan setelah Toko Sistem terbuka. Toko akan terbuka saat kekuatan Anda telah pulih 50%.]
Arthur mengangguk mengerti, lalu jendela cahaya itu memudar.
Ruangan kembali sunyi.
Ia berjalan ke tengah ruangan, menatap ruang kosong di depannya.
Sekarang—aku perlu tahu seberapa parah kondisiku sebenarnya.
Sistem bisa memberikan statistik kondisinya sekarang.Tapi tubuh tidak bisa dibohongi. Ia harus merasakan sendiri batasnya.
“Baik…” gumamnya pelan.
“Kita coba.”
Ia menarik napas dalam, menutup mata, lalu memperbaiki posturnya—punggung tegak, bahu terbuka, dagu terangkat. Postur seorang pemimpin. Seorang perisai.
Beberapa detik pertama… stabil.
Lalu ia turun ke lantai dan mulai melakukan push-up. Satu. Dua. Tiga. Ototnya bergetar, tapi masih terkendali. Nyeri ada—tajam dan menusuk—namun belum melumpuhkan.
“Belum separah itu,” bisiknya.
Namun itu hanya kekuatan fisik dasar.
Pandangan Arthur beralih ke dinding—ke pedang yang tergantung anggun di atas dudukan hitam.
Blood Demon.
Bilah merah gelap itu seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Aura beratnya terasa bahkan dari kejauhan.
Arthur berjalan mendekat. Tangannya meraih gagang.
Begitu terangkat—
Tubuhnya langsung tertarik ke bawah.
Pedang itu jauh lebih berat dari yang diingatnya.
Napasnya tersengal. Keringat dingin langsung membasahi dahi.
“Sial… pedang macam apa yang seberat ini…”
Tangannya gemetar. Otot lengannya menegang tidak wajar. Lututnya hampir menyentuh lantai.
Ia memaksa diri berdiri lagi.
“Lagi,” desisnya pada diri sendiri.
Dengan rahang terkatup, ia mengangkat pedang itu sekali lagi. Kali ini, ia mencoba sesuatu yang lebih berbahaya.
Mana.
Perlahan… sangat hati-hati… ia mencoba menarik aliran mana dari inti dirinya.
Seketika—
CRACK.
Bukan suara di ruangan.
Itu terasa dari dalam.
Bukan nyeri biasa—melainkan seperti ribuan jarum menusuk dari dalam dada. Seperti api hitam menjalar melalui pembuluh darahnya. Seolah tulang rusuknya diremukkan dari dalam oleh tekanan tak terlihat.
“ARGH!”
Pedang terlepas dari genggamannya dan menghantam lantai marmer dengan dentuman berat.
Arthur jatuh berlutut. Satu tangan mencengkeram dada, jari-jarinya menekan keras seolah ingin menghentikan sesuatu yang pecah di dalam. Tangan lainnya menahan tubuhnya agar tidak ambruk sepenuhnya.
Napasnya terputus-putus.
Lalu ia merasakan sesuatu.
Hangat.
Basah.
Ia menyentuh hidungnya.
Darah.
Darah mengalir dari hidung, turun ke bibir, menetes ke lantai marmer.
"Fuck..." erangannya dengan suara serak.
“Sistem, pedang macam apa ini? Kenapa berat sekali?”
[Pedang katana — Blood Demon. Tingkat Divine tingkat tinggi. Berat fisik: 100 kilogram.]
“Seratus kilogram?!” Arthur menatap pedang itu tidak percaya. “Itu jelas membuatku kesulitan mengangkatnya. Berdiri tegak saja masih terasa berat, apalagi mengangkat benda seberat itu.”
Ia mengusap sisa darah di bawah hidungnya, napasnya masih belum sepenuhnya stabil.
“Tapi bukankah senjata atau artefak yang sudah mencapai tingkat Sovereign biasanya memiliki kesadaran? Pedang ini bahkan sudah di tingkat Divine tinggi. Kenapa tidak ada tanda-tanda keberadaannya?”
[Karena Arthur lama menganggap kesadaran pedang tersebut terlalu cerewet. Jadi dia langsung menyerap kesadarannya.]
Arthur terdiam.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
“Gila…”
Ia menggeleng pelan. Arthur lama jelas bukan orang yang sabar. Menyerap kesadaran artefak tingkat Divine hanya karena merasa terganggu… itu bukan keputusan yang bisa disebut normal.
Namun keterkejutan itu tidak bertahan lama.
“Tidak ada waktu untuk kaget melihat betapa ekstremnya diriku dulu,” gumamnya. “Lebih baik aku mengurus diriku yang sekarang—yang bahkan lebih lemah daripada kakek-kakek tua yang sakit-sakitan.”
Dulu, saat masih menjadi Thomas Watson di usianya yang ke 50 tahun, ia masih mampu berlari sembilan kilometer setiap pagi.
Sekarang?
Baru menarik mana sedikit saja, dadanya terasa seperti retak dari dalam.
Ia memejamkan mata.
Tidak. Berhenti mengasihani diri sendiri.
Kau punya enam hari untuk persiapan. Kau punya Valerine, Sebastian, resources unlimited, dan otak yang masih berfungsi sempurna.
Ia menarik nafas dalam-dalam.
Kau tidak perlu kuat secara fisik untuk menang di arena politik. Kau hanya perlu kuat secara strategi.
Perlahan, napasnya mulai teratur kembali.
Dan strategi… adalah keahlianmu.
🤭🤭