NovelToon NovelToon
Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Selingkuh / Balas Dendam / Pelakor / Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"

Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".

Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.

Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.

"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."

Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: DINGINNYA TANAH PENGASINGAN

BAB 19: DINGINNYA TANAH PENGASINGAN

Suara deru mesin jet pribadi itu perlahan menghilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam saat pintu kabin terbuka. Alana melangkah keluar, dan seketika itu juga, udara musim dingin Jerman yang membeku menusuk kulitnya hingga ke tulang. Di hadapannya, terbentang sebuah kastil tua yang berdiri kokoh di atas perbukitan Bavaria, dikelilingi oleh hutan pinus yang tertutup salju tebal.

Ini adalah markas besar Keluarga Von Heist. Tempat yang seharusnya menjadi rumahnya, namun terasa lebih asing daripada sel penjara mana pun.

"Selamat datang di Kastil Schwarzrose, Nona Roseline," ucap Maximilian yang berjalan di sampingnya. Pria itu kini tidak lagi bersikap ramah seperti di rumah sakit; suaranya berubah menjadi instruksi yang kaku. "Mulai detik ini, nama Alana Adiwangsa sudah mati. Di sini, Anda hanya akan dipanggil sebagai pewaris Mawar Hitam."

Alana mengeratkan jubah bulunya, menoleh ke belakang sejenak, menatap langit malam yang gelap. Di sana, ribuan kilometer jauhnya, Kenzo mungkin sedang terbaring sendirian. Apakah dia sudah melewati masa kritisnya? Apakah dia mencariku saat membuka mata?

"Jangan menoleh ke belakang," tegur Maximilian dingin. "Di keluarga ini, kerinduan adalah kelemahan, dan kelemahan adalah hukuman mati."

Alana tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kastil yang interiornya didominasi oleh batu hitam dan kayu ek tua. Di aula utama, seorang pria tua dengan wajah yang dipenuhi bekas luka duduk di kursi kebesaran. Itulah Baron Friedrich von Heist, kakek kandungnya.

Mata sang Baron yang berwarna abu-abu pucat menatap Alana dengan penuh penilaian. "Kau terlihat seperti ibumu. Cantik, tapi matamu terlalu lembut. Kau membawa aroma pria dari timur itu bersamamu."

Alana berdiri tegak, meski kakinya gemetar karena kelelahan fisik dan mental. "Aku datang ke sini karena sebuah perjanjian, bukan untuk dikomentari. Selamatkan Kenzo, dan aku akan melakukan apa pun yang kau mau."

Baron Friedrich tertawa, suara tanyanya terdengar seperti gesekan amplas. "Kau berani bernegosiasi denganku? Bagus. Tapi di sini, kau harus membuktikan bahwa kau layak menyandang nama Von Heist. Besok pagi, pelatihanmu dimulai. Jika kau gagal, jangan harap pria itu akan mendapatkan satu dosis obat pun dari laboratoriumku."

Alana mengepalkan tangannya di balik saku jubah. Ia tahu, mulai malam ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri. Ia telah menjual jiwanya kepada iblis demi nyawa Kenzo.

Di Jakarta, Rumah Sakit Pusat – 48 Jam Setelah Kepergian Alana.

Bau antiseptik menyambut Elvan saat ia memasuki ruang VIP tempat Kenzo dirawat. Di sana, Tuan Besar Dirgantara duduk dengan punggung membungkuk, menatap monitor jantung putranya yang masih menunjukkan garis-garis fluktuatif.

Tiba-tiba, suara erangan rendah terdengar dari arah ranjang. Jari-jari Kenzo bergerak, mencengkeram sprei putih dengan kuat.

"Kenzo? Nak, kau mendengarku?" Tuan Dirgantara berdiri dengan tergesa-gesa.

Kenzo perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, kepalanya terasa seperti dipukul oleh godam besar. Ia mencoba memfokuskan matanya pada langit-langit ruangan, lalu pada wajah ayahnya.

"A-ayah..." suaranya sangat serak, hampir tidak terdengar.

"Ya, ini Ayah. Kau aman sekarang, Nak. Kau sudah melewati operasi."

Kenzo terdiam sejenak, mencoba memproses memori terakhir yang ia miliki. Bayangan kaca pecah, suara ledakan, dan... seorang wanita. Seorang wanita yang menangis sambil memeluknya.

"Alana..." gumam Kenzo tiba-tiba. Ia mencoba bangkit, namun rasa sakit yang luar biasa di kepalanya memaksanya kembali berbaring. "Di mana Alana? Ayah, mana dia?!"

Wajah Tuan Dirgantara seketika berubah kaku. Ia melirik Elvan yang berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh rasa bersalah.

"Dia... dia pergi, Kenzo," jawab Tuan Dirgantara pelan. "Dia pergi untuk kebaikannya sendiri. Dan kebaikanmu."

Kenzo menggelengkan kepalanya dengan emosi yang mulai meluap. "Pergi? Tidak mungkin! Dia berjanji padaku... dia tidak akan meninggalkanku! Elvan! Katakan padaku, di mana adikmu?!"

Elvan melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca. "Alana dibawa oleh keluarga aslinya ke Eropa, Kenzo. Dia terpaksa pergi untuk melindungi kita semua dari kejaran musuh yang jauh lebih besar. Dia meninggalkan ini untukmu."

Elvan memberikan sebuah surat kecil yang sudah lusuh karena sempat digenggam Alana dengan erat sebelum ia pergi. Dengan tangan gemetar, Kenzo membuka surat itu. Isinya hanya satu kalimat yang ditulis dengan tinta yang sedikit luntur oleh bekas air mata:

"Hiduplah untukku, sampai aku kembali menjadi perisaimu. Jangan mencariku, karena namaku kini adalah bahaya bagimu."

Kenzo meremas kertas itu hingga hancur. Rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat daripada luka di kepalanya. "Bahaya? Aku tidak peduli dengan bahaya! Dia pikir dia bisa memutuskan ini sendirian?!"

Kenzo mencoba mencabut selang infus di tangannya, membuat alarm medis berbunyi nyaring. Para perawat berlarian masuk, mencoba menenangkan pria yang sedang dilanda keputusasaan itu.

"Alana! Kembali!" teriak Kenzo di tengah kekacauan itu. "Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia! Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini!"

Satu Minggu Kemudian – Hutan Hitam, Jerman.

BUM!

Tubuh Alana terlempar ke atas salju yang dingin setelah sebuah pukulan mendarat telak di perutnya. Ia terbatuk, mengeluarkan sedikit darah. Di depannya berdiri seorang pelatih wanita bertubuh kekar yang tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun.

"Bangkit, Nona Roseline!" teriak pelatih itu. "Jika musuhmu adalah seorang pembunuh profesional, dia tidak akan menunggumu mengeluh tentang rasa sakit!"

Alana mencoba berdiri, meski kakinya terasa seperti lumpuh. Di balkon kastil, Baron Friedrich mengawasi dengan dingin, memegang jam saku emasnya.

"Waktumu tinggal tiga puluh detik untuk menjatuhkan lawanmu, atau jatah obat untuk kekasihmu di Jakarta akan dihentikan hari ini," suara Baron menggema lewat pengeras suara.

Mendengar nama Kenzo disebut, sesuatu di dalam diri Alana meledak. Ia tidak lagi melihat pelatih di depannya sebagai manusia, melainkan sebagai penghalang yang memisahkannya dari Kenzo. Dengan teriakan yang penuh dengan rasa sakit dan amarah, Alana menerjang maju.

Ia tidak menggunakan teknik yang elegan. Ia bertarung dengan insting bertahan hidup yang liar. Ia menggigit, menyikut, dan akhirnya berhasil menjatuhkan pelatih itu dengan kuncian leher yang mematikan.

"Cukup!" teriak Maximilian.

Alana melepaskan kunciannya, terengah-engah di atas salju. Wajahnya pucat, namun matanya berkilat seperti serigala.

"Aku sudah melakukannya," bisik Alana, menatap ke arah balkon. "Sekarang, berikan laporannya. Bagaimana kondisi Kenzo?"

Maximilian turun dan memberikan sebuah tablet. Di sana, terdapat rekaman CCTV rahasia dari ruang rawat Kenzo. Alana melihat Kenzo yang sudah bisa duduk di kursi roda, namun wajah pria itu tampak sangat dingin dan kosong. Ia melihat Kenzo menghancurkan gelas minumannya saat perawat menyebut nama Alana.

Alana menyentuh layar tablet itu, air matanya jatuh dan membeku seketika di atas permukaan kaca. "Maafkan aku, Kenzo. Bencilah aku sesukamu, asal kau tetap hidup."

"Dia mulai mengonsolidasikan kekuatannya untuk mencarimu, Nona," ujar Maximilian. "Dia menjual beberapa aset besarnya untuk menyewa tentara bayaran guna melacak jet pribadi kita. Pria itu sudah gila."

"Dia bukan gila, Maximilian," sahut Alana sambil berdiri dengan tegak, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Dia adalah Kenzo Dirgantara. Dan itulah sebabnya aku harus menjadi lebih kuat darinya. Aku harus menghancurkan setiap musuh Von Heist secepat mungkin, agar aku bisa kembali padanya sebagai seorang ratu, bukan sebagai beban."

Alana berbalik menuju kastil. Ia tidak lagi butuh diseret. Ia berjalan sendiri dengan langkah yang pasti.

Di Sisi Lain – Penjara Cipinang, Jakarta.

Raka Ardiansyah duduk di sudut selnya yang sempit dan bau. Wajahnya yang dulu tampan kini dipenuhi bopeng dan terlihat sangat tua. Ia sedang memegang sebuah foto Alana yang ia potong dari koran lama.

"Kau pikir kau sudah menang, Alana?" gumam Raka dengan tawa yang menyerupai rintihan. "Kau pergi ke Eropa untuk mencari perlindungan? Kau tidak tahu bahwa di sana, ada seseorang yang sudah menunggumu. Seseorang yang jauh lebih membencimu daripada aku."

Pintu sel terbuka, dan seorang petugas penjara masuk, memberikan sebuah amplop cokelat kepada Raka. Di dalamnya terdapat sebuah kartu nama hitam dengan logo mawar hitam yang disilang dengan garis merah.

"Pesanan Anda sudah sampai, Tuan Ardiansyah," bisik petugas itu yang ternyata sudah disuap.

Raka tersenyum lebar, menunjukkan giginya yang menguning. "Bagus. Katakan pada mereka, eksekusi dilakukan saat dia dinobatkan. Aku ingin dia jatuh dari titik tertingginya."

Ternyata, meskipun berada di balik jeruji besi, Raka masih memiliki akses ke faksi pemberontak di dalam keluarga Von Heist—paman-paman Alana yang tidak rela takhta jatuh ke tangan seorang wanita "haram" dari timur.

1
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya, aku suka🤗🤗😘😘😍
falea sezi
ngapain ngemis ma kenzo kayak janda gk laku aja masih banyak. laki laki Alana hadeh g usa merendahkan harga diri klo lu di buang ma kenzo ywda
merry
cinta mrkk sdg di uji sm dengan masa lalu dua klurga,, ternyta raka dam klurga semua nya penjahat pengen raka tu menyesel Dan bucin sm Alana tp gk bs milikin lgg,, sebgai pria gk pyn hati us bpk y pembunuh mm culik alna skrg raka selingkh Dan mau Alana hncur
Sari Supriyanti
Up..up...uuuup.thooor....😍👍💪💪💪
Ariany Sudjana
wah seru ini novelnya 🙏
Marsya
waduh siapa lagi nhe,bnyak x identitasnya🤔🤔🤔
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!