NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Labirin Kaca dan Beton

Jakarta di pagi buta terasa seperti monster logam yang baru saja terbangun dari tidurnya. Bau solar, aspal basah, dan aroma nasi uduk dari pinggir jalan menyapa indra penciuman Gia saat ia melangkah keluar dari Stasiun Gambir. Namun, keindahan fajar di ibu kota kali ini terasa mencekam. Setiap pasang mata yang menatap ke arah mereka, setiap mobil hitam yang melambat di lampu merah, terasa seperti ancaman yang nyata.

Rian menarik tudung jaket flanelnya lebih rendah. Wajahnya yang penuh memar dan luka gores membuatnya tampak seperti gelandangan kelas atas, namun sorot matanya tetap setajam silet. Ia menuntun Gia menuju deretan taksi yang mengantre, tapi ia tidak memilih taksi di barisan depan. Ia berjalan lebih jauh ke arah pangkalan ojek pangkalan yang tersembunyi di balik pilar jembatan penyeberangan.

"Ingat pesan aku, Gia," bisik Rian sambil memberikan sebuah kertas kecil yang sudah diremas. "Kamu ke apartemen di daerah Tebet. Pakai nama samaran 'Santi'. Kuncinya ada di bawah pot bunga plastik warna biru di lantai lima. Jangan keluar sampai aku datang atau aku kirim kode 'kopi manis' lewat akun media sosial anonim kita."

Gia memegang kertas itu erat-erat. Jantungnya berdegup kencang. Perpisahan ini terasa jauh lebih menakutkan daripada menghadapi pembunuh bayaran di jembatan kayu semalam. "Rian... kamu harus hati-hati. Jakarta ini kandang mereka."

Rian memberikan senyum miring yang paling menenangkan yang bisa ia usahakan dalam kondisi babak belur. "Justru karena ini kandang mereka, aku tahu di mana letak lubang tikusnya. Pergilah."

Gia naik ke atas motor ojek yang sudah dibayar lunas oleh Rian. Saat motor itu melaju membelah kemacetan pagi, Gia menoleh ke belakang sekali lagi. Ia melihat Rian berjalan santai ke arah kerumunan, menghilang di antara para pekerja kantoran yang mulai memadati trotoar. Seolah-olah pria itu adalah hantu yang memang seharusnya ada di sana.

Gia sampai di apartemen tua di kawasan Tebet itu satu jam kemudian. Bangunannya tampak kusam, dengan cat yang terkelupas dan jemuran yang bergantungan di balkon-balkon sempit. Ini sangat kontras dengan apartemen mewah yang dulu pernah ia huni saat masih menjadi manajer pemasaran. Namun, di tempat inilah keamanan sesungguhnya berada—tempat yang terlalu remang-remang untuk diperhatikan oleh radar Mahendra.

Ia menemukan kunci di bawah pot biru yang dimaksud. Begitu pintu apartemen nomor 504 itu terbuka, bau debu dan kertas lama langsung menyergap. Apartemen ini milik Danu, namun sepertinya sudah berbulan-bulan tidak dihuni.

Gia segera menutup gorden rapat-rapat. Ia duduk di lantai beralaskan karpet tua yang berdebu, mencoba mengatur napasnya. Di atas meja kerja, ia melihat deretan monitor komputer yang tertutup kain penutup. Ini adalah "ruang mesin" Rian. Gia merasa seolah ia sedang berada di dalam rahim rahasia sang Arsitek.

Tiba-tiba, ponsel cadangan yang diberikan Rian bergetar. Sebuah notifikasi berita muncul:

"Ledakan Kecil di Kawasan Sudirman, Diduga Percobaan Penangkapan Buronan Mahendra Group."

Gia membekap mulutnya. Sudirman? Itu arah tujuan Rian. Pria itu benar-benar menjadikan dirinya umpan untuk mengalihkan perhatian tim keamanan Mahendra dari keberadaan Gia.

"Rian, kamu benar-benar nekat," gumam Gia dengan air mata yang menggenang. Namun, ia tahu ia tidak boleh hanya menangis. Ia mulai membuka kain penutup monitor dan menyalakan unit pusat data di bawah meja. Ia harus belajar menggunakan alat ini jika ingin membantu Rian dari balik layar.

Sementara itu, di sebuah gang sempit di daerah Karet, Rian sedang bersandar di dinding tembok yang dingin. Darah segar merembes dari luka di lengannya yang kembali terbuka akibat aksi kejar-kejaran tadi. Ia baru saja meledakkan sebuah trafo listrik kecil menggunakan sirkuit pendek untuk menciptakan kekacauan di jalan protokol. Tim pengejar Mahendra—tiga mobil SUV hitam—sekarang sedang sibuk berurusan dengan kemacetan total dan polisi lalu lintas.

Rian merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kartu memori kecil yang ia ambil dari pria di jembatan semalam. Ia memasukkannya ke dalam pembaca kartu portabel yang terhubung ke ponselnya.

Data yang muncul membuatnya terperangah.

Itu bukan sekadar instruksi pembunuhan. Itu adalah daftar aset bayangan Tuan Mahendra yang selama ini disembunyikan di bawah nama yayasan amal fiktif. Dan yang lebih mengejutkan, ada nama pejabat tinggi kepolisian kabupaten mereka yang menerima setoran rutin untuk memuluskan proyek vila di Sukamaju.

"Pantas saja Pak Jaya gampang banget dijebak," desis Rian. "Semuanya sudah dibeli."

Rian tahu ia tidak bisa langsung ke kantor polisi di Jakarta. Ia harus masuk ke sistem perbankan pusat untuk membekukan dana operasional itu sebelum Mahendra menyadari datanya bocor. Dan untuk itu, ia butuh akses dari server di apartemen Danu.

Rian mulai berjalan kembali, kali ini ia masuk ke dalam gedung mal yang ramai untuk menghilangkan jejak. Di dalam mal, ia masuk ke sebuah toko pakaian murah, membeli kaus baru dan topi, lalu membuang jaket flanelnya yang sudah penuh darah dan lumpur ke tempat sampah. Saat ia keluar dari toko, ia tampak seperti pengunjung mal biasa.

Di apartemen, Gia berhasil menyalakan sistem. Layar monitor menampilkan ribuan baris kode yang membingungkan. Namun, Rian sudah menyiapkan instruksi sederhana dengan ikon-ikon yang sudah ia modifikasi.

Klik Ikon Merah untuk 'Distruksi'—Klik Ikon Hijau untuk 'Proteksi'.

Gia memilih ikon hijau. Seketika, layar menampilkan rekaman CCTV dari beberapa sudut jalan di sekitar apartemen. Rian ternyata sudah meretas kamera keamanan gedung dan jalanan sekitar untuk memastikan jalur masuknya aman.

Gia terpaku pada salah satu layar. Ia melihat sebuah mobil hitam yang mencurigakan terparkir di seberang gerbang apartemen. Dua orang pria bertubuh tegap, mengenakan kacamata hitam meskipun hari masih mendung, tampak sedang mengamati setiap orang yang keluar masuk.

"Mereka sudah di sini?" Gia panik. Bagaimana mereka tahu tempat ini?

Ia segera mencoba mengirim pesan ke Rian, namun koneksinya terhambat. Ia menyadari bahwa orang-orang itu menggunakan pengacak sinyal (jammer) di sekitar gedung. Gia harus berbuat sesuatu. Ia bukan lagi sekadar penonton.

Gia melihat ke sekeliling ruangan. Ia menemukan sebuah botol parfum lama milik Danu dan pemantik api. Ingatannya kembali ke desa—keberanian yang muncul saat ia menyemprotkan cat perak ke mata pembunuh itu.

"Kali ini bukan cat, tapi api," bisik Gia pada dirinya sendiri.

Ia keluar dari apartemen lewat jalur tangga darurat, menghindari lift yang mungkin sudah diawasi. Ia menuju balkon lantai tiga yang menghadap langsung ke arah mobil hitam itu. Dengan tangan gemetar, ia merobek secarik kain dari gorden apartemen, membasahinya dengan parfum yang mengandung alkohol tinggi, lalu melilitkannya pada sebuah botol saus kosong yang ia temukan di tempat sampah tangga.

Gia menyulut api. Botol itu berkobar. Dengan segenap kekuatan dan akurasi yang ia pelajari dari melempar kantong kopi ke atas truk di desa, ia melemparkan botol api itu tepat ke kap mesin mobil hitam tersebut.

PYARRRR! BOOM!

Kap mesin mobil itu langsung terbakar. Kedua pria di dalamnya berhamburan keluar dengan panik. Klakson mobil itu berbunyi nyaring terus-menerus, menarik perhatian warga sekitar dan pedagang kaki lima.

"KEBAKARAN! MOBIL MELEDAK!" teriak Gia dari lantai tiga sebelum ia kembali berlari masuk ke dalam gedung.

Kekacauan itu berhasil. Kerumunan orang mulai mendekati mobil yang terbakar, membuat kedua agen Mahendra itu tidak bisa melakukan tugas pengintaian mereka dengan tenang. Di tengah kegaduhan itu, Gia melihat sosok yang ia tunggu-tunggu. Rian muncul dari arah gang belakang, menyelinap di antara kerumunan orang yang sedang menonton kebakaran.

Rian masuk ke apartemen dengan napas tersengal-sengal. Begitu pintu tertutup, ia langsung disambut oleh Gia yang hampir saja menabraknya dengan pelukan.

"Kamu gila, Gia! Kamu yang ledakin mobil itu?" tanya Rian antara kaget dan tidak percaya.

"Mereka mengawasimu, Rian. Aku harus mengalihkan perhatian mereka," sahut Gia sambil menyeka keringat di dahinya. "Kamu nggak apa-apa?"

Rian menunjukkan luka di lengannya, tapi ia tersenyum. "Cuma lecet. Tapi ide kamu barusan... itu murni kejeniusan lapangan. Manajer pemasaran memang tahu cara bikin 'promo' yang meledak."

Rian segera duduk di kursi kerja dan mulai mengetik dengan kecepatan gila. "Dengar, Gia. Kita punya waktu kurang dari sepuluh menit sebelum mereka dapat bala bantuan. Aku akan membekukan rekening Mahendra dan mengirimkan semua bukti suap polisi kabupaten ke Mabes Polri lewat jalur enkripsi Danu. Begitu selesai, kita harus pergi lewat atap."

"Lewat atap? Tapi kita mau ke mana lagi?"

"Kita akan kembali ke Sukamaju," jawab Rian sambil menatap layar monitor yang menunjukkan proses pengunggahan data mencapai 90%. "Tapi bukan sebagai buronan. Kita kembali sebagai pemilik sah lahan vila itu. Karena di dalam data Danu, ternyata tanah itu dibeli pakai dana pencucian uang yang secara hukum bisa disita negara dan dikembalikan fungsinya sebagai hutan lindung."

Gia tertegun. Jadi ini akhir permainannya? Mengembalikan tanah itu menjadi milik desa?

"Selesai!" Rian mencabut semua kabel dengan sekali sentak. "Ayo! Mahendra baru saja kehilangan lima ratus miliar rupiah dalam satu menit. Dia akan sangat marah."

Mereka berlari menaiki tangga menuju atap apartemen. Di belakang mereka, suara pintu depan gedung yang didobrak paksa terdengar menggema. Di atas atap, angin Jakarta yang kencang menyambut mereka. Rian menunjuk ke arah sebuah derek konstruksi (crane) yang kebetulan sedang mengerjakan gedung di sebelah apartemen.

"Kita akan menyeberang lewat sana," ujar Rian.

Gia menatap ketinggian lantai lima ke bawah. Rasanya jantungnya mau copot. Namun, ia menatap Rian yang mengulurkan tangannya.

"Pegang tanganku, Neng. Kita nggak akan jatuh. Kita arsitek dan barista paling nekat di dunia, ingat?"

Gia tersenyum, menggenggam tangan Rian erat. Mereka melangkah ke besi derek yang sempit, meninggalkan bayang-bayang kegelapan Mahendra di bawah sana. Di ufuk timur, matahari mulai meninggi, menyinari Jakarta yang kini mulai menyadari bahwa naga tua yang selama ini menguasai mereka telah kehilangan taringnya.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!