NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta di Atas Sarang Ular

Gemuruh petir semalam telah berganti menjadi langit Jakarta yang mendung dan gerah, seolah-olah atmosfer itu sendiri sedang menahan napas menanti ledakan besar. Di dalam kamar utama mansion Arkananta, Alana berdiri diam saat seorang pelayan mengencangkan korset gaun malamnya. Gaun itu adalah karya seni yang mematikan; berwarna hitam pekat dengan potongan mermaid yang menonjolkan lekuk tubuhnya, namun memiliki detail renda transparan di bagian punggung yang memberikan kesan rapuh sekaligus berbahaya.

Di cermin, Alana tidak lagi melihat gadis sekretaris yang sederhana. Ia melihat seorang wanita yang siap masuk ke medan perang. Arkan berdiri di ambang pintu, memperhatikan setiap gerakannya. Ekspresi pria itu sulit dibaca, namun ada ketegangan pada rahangnya yang tidak bisa disembunyikan.

"Ingat," Arkan melangkah mendekat, suaranya rendah dan tajam. "Kau hanya punya waktu sepuluh menit saat aku mengalihkan perhatian Bianca dengan draf merger di balkon lantai dua. Kunci ruang kerjanya ada di balik lukisan potret kakek buyutnya di lorong timur. Masuk, ambil map merah berlabel 'Alpen 2016', dan segera keluar."

Alana mengangguk, jantungnya berpacu. "Bagaimana jika Bianca memasang kamera tersembunyi?"

Arkan menyentuh anting mutiara yang dikenakan Alana. "Anting itu bukan sekadar perhiasan. Di dalamnya ada alat pengacak sinyal kamera dalam radius dua meter. Selama kau memakainya, rekaman di ruangan itu akan menjadi gangguan statis."

Ia menatap mata Alana dalam-dalam. "Aku tidak pernah meminta hal seberbahaya ini pada siapa pun sebelumnya, Alana. Tapi Bianca memegang kunci yang bisa memusnahkan sejarah Arkananta. Jika kau tertangkap..."

"Saya tidak akan tertangkap," potong Alana dengan keteguhan yang mengejutkan dirinya sendiri. "Saya akan melakukannya untuk kita."

Kata 'kita' menggantung di udara, memberikan beban emosional yang jauh lebih berat daripada kontrak triliunan rupiah mana pun.

Kediaman keluarga Adiwangsa adalah sebuah istana modern yang terbuat dari kaca dan baja, berdiri angkuh di kawasan elit Menteng. Cahaya lampu kristal memantul di kolam renang yang luas, sementara musik jazz mengalun lembut, bercampur dengan tawa para diplomat dan konglomerat yang memegang gelas kristal mereka.

Bianca Adiwangsa tampil memukau dalam gaun perak yang berkilauan di bawah lampu. Ia menyambut kedatangan Arkan dan Alana dengan senyum yang mengingatkan Alana pada seekor kobra yang siap mematuk.

"Ah, pasangan yang paling dibicarakan seantero negeri," sapa Bianca, suaranya merdu namun berbisa. Ia mengecup pipi Arkan dengan akrab, sengaja membiarkan matanya melirik ke arah Alana untuk mencari celah kegugupan. "Arkan, draf yang kau kirim sore tadi sangat... ambisius. Kakekku ingin mendiskusikan beberapa poin di lantai atas. Dan Elena... kau tampak sangat cantik malam ini. Hitam benar-benar warna kesedihan yang kau pakai dengan sangat elegan."

Alana tersenyum tipis, meniru gaya bicara Elena yang angkuh. "Hitam adalah warna kekuasaan, Bianca. Sesuatu yang kurasa sedang kita bicarakan malam ini, bukan?"

Arkan memberi isyarat mata yang halus pada Alana sebelum mengikuti Bianca dan beberapa staf ahli menuju lantai atas. Inilah saatnya. Alana segera memisahkan diri dari kerumunan, berpura-pura mencari kamar mandi.

Penyusupan di Lorong Timur

Lantai dua kediaman Adiwangsa terasa jauh lebih sunyi. Alana berjalan dengan langkah yang diredam oleh karpet mahal. Setiap kali ia mendengar langkah kaki pelayan, ia segera bersembunyi di balik pilar atau bayangan lukisan. Adrenalinnya melonjak; ia merasa seolah-olah ia sedang berakting dalam film mata-mata, namun dengan taruhan nyawa yang sangat nyata.

Ia menemukan lorong timur. Di sana, sebuah lukisan minyak besar menggambarkan seorang pria tua dengan seragam militer—kakek buyut Bianca. Alana meraba bingkai lukisan itu, jantungnya berdentum keras hingga ia bisa mendengarnya di telinga sendiri. Klik. Sebuah panel rahasia terbuka, memperlihatkan sebuah kunci perak kecil.

Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu ruang kerja Bianca. Ruangan itu sangat maskulin, dipenuhi dengan rak buku kayu gelap dan meja kerja yang rapi. Alana segera menuju brankas di sudut ruangan. Berkat informasi yang Arkan dapatkan dari mata-matanya, Alana memasukkan kombinasi angka—tanggal kematian Adrian di Danau Jenewa.

Bip. Brankas terbuka.

Di dalamnya, ia menemukan map merah itu. Namun, saat ia membukanya, tangannya membeku. Di dalam map itu bukan hanya ada catatan medis dari klinik di Alpen, tapi juga foto-foto terbaru—foto seseorang yang sangat mirip dengan Arkan, namun dengan bekas luka panjang di pipinya, sedang duduk di sebuah taman di Swiss. Foto itu bertanggal bulan lalu.

"Adrian... dia masih hidup?" bisik Alana ngeri.

Tiba-tiba, suara pintu yang terbuka membuat Alana tersentak. Ia tidak punya waktu untuk mengembalikan map itu. Dengan cepat, ia menyelipkan dokumen tersebut ke dalam celah korset gaunnya, tepat di bawah rendanya.

"Sedang mencari sesuatu, Elena?"

Alana berbalik. Bianca berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu dengan tangan bersedekap. Di belakangnya, Arkan muncul dengan wajah yang pucat pasi.

"Bianca, aku bisa menjelaskan—" Arkan mencoba masuk, namun Bianca mengangkat tangannya, menghentikan langkah Arkan.

"Kau pikir aku sebodoh itu, Arkan?" Bianca melangkah masuk, suaranya kini penuh dengan kebencian yang meledak-ledak. "Aku tahu kau akan mencoba mencuri dokumen ini. Dan istrimu ini... dia benar-benar pion yang berani. Tapi kau melakukan kesalahan besar, Arkan. Kau mengirimkan seseorang yang tidak tahu bahwa aku memiliki detektor sensor logam di setiap pintu ruangan ini."

Bianca menunjuk ke arah lampu kecil di atas pintu yang kini berkedip merah—menanggapi pengacak sinyal di anting Alana yang dideteksi sebagai anomali frekuensi.

"Elena, berikan map itu padaku," perintah Bianca dingin. "Atau aku akan memanggil keamanan sekarang juga dan melaporkanmu atas pencurian intelektual dan pembobolan properti pribadi."

Konfrontasi dan Pertaruhan Nyawa

Alana menatap Arkan. Di mata pria itu, Alana melihat ketakutan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bukan takut akan posisinya yang hilang, tapi takut akan keselamatan Alana.

"Berikan padanya, Alana," bisik Arkan.

Alana mengeluarkan map itu, namun sebelum ia menyerahkannya pada Bianca, ia menatap Bianca dengan berani. "Kau ingin menghancurkan Arkan dengan rahasia ini, Bianca? Tapi kau lupa satu hal. Jika dunia tahu Adrian masih hidup, maka merger ini akan batal karena kepemilikan saham Arkananta akan menjadi sengketa hukum yang panjang. Kau akan kehilangan triliunan rupiah hanya demi sebuah balas dendam pribadi."

Bianca tertegun sejenak. Alana menekan lebih jauh, menggunakan semua pengetahuan bisnis yang ia pelajari dari Arkan. "Kau mencintai kekuasaan lebih dari kau membenci Arkan. Jika kau menghancurkannya sekarang, kau menghancurkan investasimu sendiri."

Hening yang panjang menyelimuti ruangan. Bianca menatap map merah itu, lalu menatap Arkan. "Kau menemukan pengganti yang sangat cerdas, Arkan. Terlalu cerdas untuk ukuran Elena yang asli."

Bianca menyambar map itu, namun ia tidak memanggil keamanan. "Pergilah. Sekarang. Tapi draf merger ini berubah. Aku ingin lima puluh satu persen saham di anak perusahaan properti Arkananta. Itu harga untuk diamnya aku malam ini."

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!