Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Inkubasi kehampaan.
Setelah dentuman pintu apartemen itu menghilang, keheningan yang menyulut telinga mulai merayap di setiap sudut ruangan. Nana masih di sana, bersimpuh di atas karpet dengan telapak tangan yang memerah. Darah yang mengering di antara pecahan ruby itu mulai terasa kaku, namun Nana tidak bergerak sedikit pun. Ia menatap nanar ke arah pintu, berharap mungkin untuk terakhir kalinya bahwa Tris akan berbalik, mendobrak pintu itu, dan bersujud meminta maaf karena telah menghancurkan satu-satunya harta berharganya.
Namun, hingga jarum jam berdetak melewati angka dua belas malam, hanya suara detak mekanik itu yang menemani kesendiriannya. Tris tidak kembali. Tidak malam itu.
Nana bangkit dengan gerakan patah-patah. Ia membawa serpihan ruby itu ke dalam sebuah kotak kayu kecil, menguncinya, lalu menyimpannya di laci paling bawah. Sejak saat itu, sesuatu dalam diri Nana ikut terkunci.
Nana memutuskan untuk memutuskan sambungan dengan dunia luar. Ia mematikan ponsel barunya, ponsel pemberian Aska yang awalnya ia harapkan akan dipenuhi oleh pesan penyesalan dari Tris. Ia menarik gorden apartemennya rapat-rapat, membiarkan cahaya matahari hanya masuk melalui celah-celah tipis yang tidak sengaja terbuka.
Di dalam keremangan itu, Nana merenung. Ia duduk di sofa, menatap dinding kosong berjam-jam tanpa melakukan apa pun. Perutnya lapar, namun ia hanya mengisi dengan air putih atau sisa biskuit. Berat badannya menyusut, wajahnya yang biasanya ceria kini pucat pasi, dengan kantung mata yang menghitam.
Ia tidak lagi memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang dari ayahnya, atau bagaimana cara memangkas uang belanja ibu tirinya. Dendam yang biasanya membakar semangatnya kini mendingin menjadi abu. Baginya, dunia di luar sana sudah tidak relevan. Jika Tris bisa dengan mudah menyebut peninggalan ibunya sebagai "barang lama yang pantas dibuang", maka Nana merasa dirinya pun hanyalah barang usang di mata pria itu.
***
Di kantor hukumnya yang mewah, Aska duduk di balik meja kerja mahoni yang besar. Ia menatap layar ponselnya. Tidak ada notifikasi dari nomor Nana. Biasanya, minimal dua kali sehari, gadis bodoh itu akan mengirimkan pesan sampah; entah itu mengeluh tentang perlakuan Tris, menanyakan resep masakan Ibu, atau sekadar mengirimkan foto cosplay konyolnya.
"Satu minggu," gumam Aska pelan.
Ia sempat berpikir mungkin Nana akhirnya sadar dan sedang meratap di kamarnya. Aska sempat ingin menelepon, namun egonya mencegahnya. Kenapa aku harus peduli? Dia hanya beban yang tidak sengaja kupungut di jalan, pikirnya sinis. Ia membuang jauh-jauh pikiran tentang Nana dan kembali fokus pada berkas kasus korupsi yang sedang ia tangani. Baginya, jika Nana berhenti mengeluh, itu artinya beban hidupnya berkurang.
Sementara itu, Tris sama sekali tidak merasa perlu mencari Nana. Di pikirannya, Nana hanya sedang melakukan aksi mogok bicara. "Nanti juga dia bakal mengemis perhatian lagi," ucap Tris pada Elli saat mereka makan siang bersama. Tris merasa menang; ia merasa telah memberi "pelajaran" pada Nana agar tidak bersikap posesif terhadap barang-barang lama yang menurutnya tidak berharga. Bagi Tris, diamnya Nana adalah sebuah ketenangan.
Tiga Minggu kemudian.
Apartemen Nana mulai berdebu. Nana sendiri sudah tidak lagi peduli pada kebersihan yang biasanya ia agungkan. Ia menghabiskan waktu dengan tidur atau sekadar berbaring menatap langit-langit kamar. Setiap kali ingatannya kembali pada momen Tris menarik paksa tangannya, dadanya akan terasa sesak secara fisik, namun ia tidak lagi bisa mengeluarkan air mata. Air matanya sudah kering bersama darah di telapak tangannya.
Ia mulai membayangkan hidup tanpa Tris. Selama ini, hidup Nana berputar di sekitar pria itu. Segala usahanya untuk tidak bekerja, usahanya untuk tetap cantik, semuanya demi Tris. Kini, setelah poros itu patah, Nana merasa seperti planet yang terlempar keluar dari orbit, melayang di ruang hampa yang dingin.
"Ibu," bisik Nana di tengah kegelapan malam. "Apa aku memang tidak pantas dicintai?"
Ia ingat ibunya pernah berkata bahwa cinta adalah pengabdian. Namun, kenapa pengabdiannya hanya dibalas dengan penghinaan? Perlahan, rasa cinta yang selama ini ia puja mulai membusuk. Rasa itu berubah menjadi kebencian yang dingin dan membeku. Nama Tris kini ia simpan di bagian paling gelap di hatinya, tidak untuk dikenang, melainkan untuk dikubur.
Memasuki minggu keempat, kegelisahan Aska sudah tidak bisa dibendung oleh logika hukumnya yang kaku. Satu bulan penuh tanpa kabar dari Nana adalah sesuatu yang mustahil. Bahkan jika Nana mati sekalipun, harusnya bau busuknya sudah sampai ke apartemen sebelah.
Aska mencoba menghubungi nomor Nana. Nomor yang Anda tuju tidak aktif.
Ia mencoba menelepon Tris.
"Halo, Tris. Nana bersamamu?" tanya Aska tanpa basa-basi saat panggilan diangkat.
"Hah? Nana? Tidak, Bang. Sudah sebulan ini dia tidak menghubungiku. Syukurlah, aku jadi bisa fokus kerja tanpa gangguan rengekannya," jawab Tris dengan nada santai, bahkan terdengar ada suara tawa Elli di latar belakang.
Rahang Aska mengeras. "Kau tidak mencarinya? Satu bulan dia menghilang, Tris!"
"Paling dia cuma cari perhatian, Bang. Nanti kalau sudah sadar kalau ngambeknya itu percuma, dia juga bakal muncul di rumah Ibu. Jangan terlalu memanjakan dia, Bang, nanti dia makin tuman."
Aska langsung mematikan telepon. Amarahnya memuncak. Bukan hanya pada Tris, tapi juga pada dirinya sendiri yang membiarkan waktu satu bulan berlalu tanpa memastikan keadaan gadis itu. Ia menyambar kunci mobilnya, membatalkan rapat sore itu, dan melesat menuju apartemen Nana.
Aska tiba di depan pintu apartemen Nana. Ia mengetuk keras, namun tidak ada jawaban. Ia mencoba memutar kenop pintu, terkunci dari dalam.
"Nana! Buka pintunya!" teriak Aska.
Tidak ada suara. Hening yang keluar dari dalam apartemen itu terasa mencekam, seolah-olah ruangan di dalam sana adalah sebuah makam. Tanpa pikir panjang, Aska mundur selangkah dan menendang pintu itu dengan sekuat tenaga. Pengacara yang biasanya selalu bermain dengan kata-kata itu kini menggunakan ototnya.
Dua kali tendangan, pintu itu terbuka paksa.
Aroma udara yang apek dan pengap langsung menyerbu indra penciuman Aska. Ruangan itu gelap gulita. Aska menyalakan lampu ruang tamu, dan pemandangan di depannya membuatnya terpaku.
Nana sedang duduk di lantai di pojok ruangan, memeluk lututnya. Ia masih mengenakan pakaian yang sama dengan sebulan yang lalu—pakaian yang kini tampak kedodoran di tubuhnya yang kurus. Rambutnya kusam dan berantakan. Saat lampu menyala, Nana tidak silau, ia bahkan tidak berkedip. Matanya yang kosong menatap lurus ke arah dinding.
"Nana?" Aska mendekat dengan ragu, suaranya yang biasanya keras kini melunak.
Gadis itu tidak bereaksi. Ia seperti raga yang ditinggalkan jiwanya. Aska berlutut di depannya, menyentuh bahu Nana yang terasa hanya tulang. Kulitnya dingin.
"Nana, ini aku. Aska."
Nana perlahan menggerakkan lehernya, menatap Aska. Butuh waktu beberapa detik bagi pupil matanya untuk fokus. Saat ia mengenali wajah Aska, tidak ada tangisan, tidak ada keluhan. Hanya sebuah senyum tipis yang sangat mengerikan karena tidak mengandung emosi apa pun.
"Bang Aska..." suara Nana serak, nyaris hilang. "Tris tidak datang, ya?"
Aska merasa hatinya diremas. Ia ingin memaki Tris, ia ingin memaki dunia, tapi yang ia lakukan justru menarik tubuh kurus Nana ke dalam pelukannya. "Jangan sebut nama bajingan itu lagi. Dia tidak berhak ada di mulutmu."
Nana menyandarkan kepalanya di bahu Aska. Di dalam pelukan yang hangat itu, untuk pertama kalinya setelah satu bulan, Nana merasakan detak jantung manusia. Detak jantung yang berbeda dari miliknya yang sudah mati.
Bersambung....