Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE DUA PULUH ENAM
Mobil yang dikemudikan Darian berhenti di sebuah bangunan tua di pinggir kawasan industri. Lampu luar terlihat redup, hanya menyisakan bayangan panjang di lantai beton yang dingin.
Darian turun lebih dulu, membuka pintu untuk Bastian.
"Tuan, mereka sudah menunggu di dalam." Ucap Darian
Bastian keluar perlahan. Kali ini ia tidak lagi menyembunyikan rasa sakitnya, namun langkahnya tetap mantap. Setiap pijakan sepatu terdengar berat dan tegas, menggema di keheningan malam.
Pintu besi besar terbuka perlahan ketika Darian memberi isyarat.
Di dalam ruangan itu terlihat seorang pria terikat kuat dikursi kayu. Wajahnya sudah babak belur dan napasnya tersengal. Dua anak buah Bastian berdiri di sisi kanan kiri, menjaga tanpa bicara.
Begitu melihat Bastian masuk, pria itu langsung menegang.
Bastian berhenti beberapa langkah di depannya. Tatapannya turun perlahan pada pria yang menjadi tawanannya itu, mengamati tanpa emosi.
Sunyi.
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada bentakan.
Justru itulah yang membuat suasana terasa lebih menekan.
"Dia yang menusuk anda Tuan," lapor salah satu anak buah nya.
Bastian mengangguk kecil.
"Lepaskan penutup mulutnya."
Perintah itu segera dilakukan. Pria yang menjadi tawanan tersebut langsung menarik napas panjang, panik.
"Tuan tolong lepaskan saya!! saya tidak tau apa-apa. Saya hanya disuruh!". Mohon pria itu dengan ekspresi wajah memelas begitu penutup mulutnya dibuka.
Bastian tetap diam. Ia mengambil kursi lain, menariknya pelan, lalu duduk tepat di depan pria itu.
Gerakannya tenang. Terlalu tenang.
"Kau tahu kesalahan terbesarmu apa?" Bastian akhirnya buka suara. Nada bicara nya terdengar rendah namun sorot mata nya penuh intimidasi.
Pria itu menggeleng cepat.
"Kau memilih target yang salah."
Tanpa aba-aba, Bastian langsung meraih pisau kecil dari meja logam di sampingnya dan menancapkannya tepat di sandaran kursi, hanya beberapa sentimeter dari tangan pria itu.
BRAKK!
Pria itu menjerit ketakutan, tubuhnya gemetar bahkan hampir mengompol.
"Aku tidak marah karena kau menyerangku," lanjutnya pelan. "Tubuh ini sudah terlalu sering dilukai."
Ia condongkan sedikit tubuhnya kedepan. Sorot matanya berubah gelap.
"Tapi kau menyentuh seseorang yang tidak seharusnya masuk ke dalam urusan ini."
Brakk!!!
Begitu saja kaki Bastian langsung menendang kursi pria itu duduknya sampai jatuh kebelakang.
"T-tuan ampuni saya.. Saya mohon, lepaskan saya!!!" Pinta nya memohon ketakutan.
Bastian hanya diam, tapi ia memberikan isyarat pada anak buahnya untuk menegakkan kembali kursi pria itu.
Kursi itu kembali ditegakkan dengan kasar. Pria tersebut terbatuk keras, napasnya tersengal sementara tubuhnya gemetar hebat.
Bastian berdiri perlahan. Ia memberikan pisau kecil itu pada Darian seolah baru saja tidak terjadi apa-apa.
Darian menerima pisau itu, lalu melipat ujungnya yang tajam kemudian menyimpannya kedalam saku jas yang ia kenakan.
Tatapan Bastian turun lagi, tajam dan tanpa belas kasihan menatap pria yang menjadi tawanannya itu.
"Aku akan bertanya satu kali saja," ucap Bastian dengan tenang. "Dan kau akan menjawab dengan jujur."
Pria itu mengangguk cepat, wajahnya sudah pucat pasi.
"Siapa yang memerintahkanmu?"
Hening.
Sebenarnya tanpa Bastian bertanya dia sudah tau jawabannya. Ia hanya ingin menguji pria itu.
Pria tersebut menelan ludahnya kasar. Tatapannya gelisah berpindah dari wajah Bastian ke lantai beton yang dingin.
"S-saya…" suaranya bergetar. "Saya hanya orang bayaran, Tuan. Saya tidak tahu banyak."
Bastian tidak menyela.
Ia hanya menatap membiarkan pria itu menjawab.
Namun, diamnya Bastian justru terasa seperti tekanan yang perlahan mencekik.
Beberapa detik berlalu.
Cukup lama hingga pria itu mulai panik sendiri.
"Tolong percaya saya! Saya hanya menerima perintah lewat perantara—"
Bastian menghela napas pelan, lalu menegakkan tubuhnya.
"Kau diberi kesempatan untuk jujur, dan kau memilih membuangnya." Ucapnya dingin
Ia lalu menoleh sedikit ke arah Darian seolah memberi isyarat pada asisten nya itu.
"Darian."
"Ya, Tuan."
Tanpa aba-aba, Darian melangkah maju dan menghantam lutut pria itu dengan tendangan keras.
KRAK!
"Aaakkhh!!!"
Jeritan yang terdengar menyakitkan menggema di ruangan kosong itu.
Tubuh pria tawanan itu langsung menggeliat kesakitan, napasnya kacau.
Bastian tetap berdiri tenang, bahkan ekspresinya tidak berubah sedikit pun.
"Aku tidak suka mengulang pertanyaan," Ujar Bastian. "Ini melelahkan."
Pria itu mulai menangis.
"Nyonya Delta! Dia yang menyuruh! S-saya bersumpah! Saya hanya diperintah mengawasi gadis itu, bukan membunuh!"
Mendengar itu, Bastian berdecih seraya menyunggingkan senyum tipis menyeringai. Senyum yang terlihat menyeramkan.
Ia berjalan perlahan mengitari kursi itu, langkah kakinya bergema pelan.
"Kau tahu, aku masih memberinya ruang untuk berhenti." Ucap Bastian dingin
Ia berhenti tepat di depan pria itu lagi.
Tatapannya kini benar-benar tanpa emosi. Tapi, justru itulah aura dominasi begitu menekan.
"Tapi dia justru memilih menyentuh wilayah yang bukan miliknya."
Bastian mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat.
Salah satu anak buahnya maju, menyerahkan sebuah ponsel berisi video rekaman kejadian tadi siang, momen saat Siena hampir keluar dari mobil ketika penyerangan itu berlangsung.
Mata tawanan itu sontak membulat sempurna.
"Saya tidak menyentuh dia, Tuan! Saya bersumpah!"
"Itulah alasan kau masih ku biarkan hidup," jawab Bastian tenang.
Ia lalu berbalik badan, berjalan menuju pintu dengan langkah yang tenang dan tegas.
"Darian."
"Ya Tuan?"
"Pastikan dia tetap bernapas." Titahnya tanpa menoleh ataupun berbalik badan.
Darian mengangguk paham. "Baik tuan".
Bastian berhenti sesaat di ambang pintu, bahunya tampak tegang menahan nyeri, namun suaranya tetap stabil.
"Kirim pesan pada Nyonya Delta."
Bastian memang sengaja menyebut istri daddy angkat nya itu dengan panggilan formal. Sebab, bagi Bastian wanita itu tak lebih dari orang asing yang berani membuat kekacuan dalam hidupnya.
"Apa yang harus saya sampaikan, Tuan?" Ujar Darian
Bastian menoleh setengah, sorot matanya tetap dingin.
"Katakan padanya…" ia menjeda ucapannya, menarik nafas pelan. "...kesabaranku sudah selesai, jika berani hadapi aku langsung dan jangan bersembunyi dibelakang layar.
"Baik tuan".
Setelah mengatakan itu, Bastian kembali melanjutkan langkah kakinya dan menutup pintu besi besar itu dengan gerakan kasar.
Dan sejak detik itu, ini bukan lagi sekadar peringatan.
Ini awal pembalasan.
.
.
.
Bersambung.... Dont forget support me🫶🏻♥️
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut