"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Predator
Sudah jelas Rini yang bersalah, bagaimana bisa Dilan berpihak padanya. Rasa sakit masih menjalar di telapak tangannya.
Janji manis adalah dusta, cinta dihati bagaikan kusta, berbalut intrik perbedaan kasta.
Teganya engkau menyakitiku yang selalu bersedia mengalah setelah mendapatkan Gucci dan Chanel. Padahal aku sudah melepaskan banyak om-om mapan demimu.
Yah...kurang lebih begitulah curahan hati Silvia. Tentu saja Lily yang menduga-duganya mengingat keadaan Silvia saat ini.
"I...ini semua adalah tipu daya Rini. Kamu harus percaya padaku." Ucap Silvia tertunduk dalam tangisannya.
"Dilan, kasihan Silvia. Dia seorang diri di kota ini. Mungkin sebenarnya dia berniat baik. Atau mungkin terpengaruh oleh sesuatu, misal, ada orang yang membayarnya untuk merusak pernikahanmu?" Rini menutup mulutnya dengan kedua tangannya sendiri. Seolah-olah sudah salah bicara.
Dilan menarik rambut Silvia. Bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang paling kamu cintai dan percayai? Pasti menyakitkan. Dengan mudah pria ini terhasut."Kamu! Berapa Rio membayarmu! Kamu berselingkuh dengannya kan!?" Pemuda yang mengucapkan asumsinya semata. Tanpa bukti yang jelas, bentakan yang terdengar jelas.
"A...aku tidak! Dilan tidak mungkin aku." Kalimat Silvia terhenti berganti dengan pekikan, mengingat wanita itu didorong hingga kepalanya membentur sudut meja.
Lily mengingat segalanya. Pernikahannya dan Dilan seharusnya terjadi satu tahun dari sekarang. Tapi karena dirinya mengajukan pembatalan pertunangan kali ini, karena itu pernikahannya dipercepat.
Sebelum waktu terulang, Silvia selalu menggunakan trik ini padanya. Membuatnya mengalami penganiyaan yang dilakukan Dilan.
Dilan tempramental sejatinya, tapi sebelum waktu terulang dirinya bertahan karena Sari dan Rianto yang memintanya. Percaya dengan kata-kata kedua orang tuanya dan hasutan Rini.
Dirinya bagaikan rela menjadi sasaran kemarahan Dilan, akibat hasutan Silvia.
Tapi sekarang keadaan berbalik, apa ini karma? Lily seperti melihat hal yang dulu dialaminya kini terjadi pada Silvia.
"Kamu kasihan?" Tanya Neiji.
Lily menggeleng."Kenapa aku harus kasihan? Itu adalah pilihan mereka. Setan seperti kita hanya berbisik. Tergantung pilihan manusia yang menentukan jalan hidupnya sendiri."
"Kamu menyamakan kita dengan setan?" Tanya Neiji tertawa kecil.
Lily hanya tersenyum. Di kehidupannya kali ini, dirinya tidak akan salah menentukan jalan. Mungkin... pemuda ini adalah jalannya untuk bahagia? Entahlah.
"Tidak, aku revisi...kita pasangan yang tidak terpisahkan." Lily mengedipkan sebelah matanya.
Membuat Neiji menelan ludah, apa pemuda ini tegang? Malu? Entahlah...sulit untuk menebak apa yang ada dalam pikiran Neiji.
"Silvia!" Lily melangkah mendekat, membantu Silvia bangkit."Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya pura-pura perhatian.
Tapi, Silvia menepis tangannya."Aku tidak apa-apa." Pandangan matanya kembali tertuju pada Dilan.
"Kamu tidak percaya padaku? Berapa tahun kita menjalani hubungan. Aku tetap diam, walaupun Lily dijodohkan denganmu. Aku tidak apa-apa menyandang status sebagai wanita simpanan! Tapi kemudian dia." Tangan Silvia kali ini tertuju pada Rini."Dia! Wanita penggoda ini muncul! Dia berada diantara kita! Dia yang menghasutmu untuk membenciku. Dia ular beracun."
"A...aku tidak tau, aku ada diantara kalian." Rini menunduk, air matanya mengalir."Aku sudah mengalah, sungguh aku bermaksud mengalah. Bahkan malam itu aku menolak Dilan. Tapi tenaganya terlalu besar, aku tidak tau apa-apa. A...aku..."
Jelas saja, semua bukti sebelumnya tertuju pada Silvia. Rini diam-diam menyeringai dalam tangisannya.
Kala.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Silvia. Dilan yang melakukannya.
"Minta maaf pada Rini! Berlutut sekarang di hadapannya!" Bentak Dilan.
"Kenapa aku harus minta maaf padanya!?" Silvia sama sekali tidak terima.
"Dilan... tidak usah. Jika Silvia tidak ingin, aku juga tidak apa-apa. Aku sudah memaafkannya..." Rini sungguh pintar berpura-pura. Wanita yang menang paling akhir sebelum waktu terulang.
Tapi sekarang? Entahlah yang mana yang akan menang.
"Aku tidak mau...!" Bentak Silvia.
Tapi dengan cepat Dilan menendang tulang keringnya, berusaha membuatnya berlutut."Minta maaf!"
"Tidak! Aku tidak salah, aku kemari hanya ingin kita kembali seperti dulu. Ingin menjelaskan tentang wanita yang mengadu domba kita!" Silvia memelas, ingin pemuda ini mempercayainya."Dilan kamu tau benar sifatku kan? Aku tidak pernah mengecewakanmu."
"Dilan, sebaiknya dengarkan keterangan kedua belah pihak." Saran yang diucapkan oleh Neiji.
Seorang kakak yang benar-benar mengetahui sifat adiknya.
Sedangkan Lily menatap ke arah Neiji tidak mengerti. Jika Silvia dapat menjelaskan sebelum pernikahan, bukankah rencana mereka akan hancur?
Tapi, mungkin Lily tidak menyadari sesuatu. Ego dari seorang Dilan adalah melanggar perintah kakaknya.
Kenapa Neiji memberikan saran yang baik pada adiknya? Tentu saja agar Dilan, mampus!
"Aku tidak sudi! Sudah jelas-jelas ini adalah kesalahan dari Silvia..." Dilan menatap nyalang ke arah kakaknya.
"Ini bukan salahku! Dilan! Percayalah! Aku mencintaimu! Tidak mungkin aku berniat menghancurkanmu. Hari-hari yang kita jalani---"
Brak!
Lagi-lagi Silvia didorong hingga jatuh tersungkur. Air mata wanita itu mengalir, rasa cinta yang ada akan berganti dendam bukan? Bahkan jika ada atau tidaknya rasa cinta itu.
"Aku tidak percaya pada wanita pencemburu sepertimu!" Tegasnya.
"Security! Bawa dia!" Lanjut Dilan, pada akhirnya memanggil security. Bagaikan tidak peduli pada kepala Silvia yang terluka, tidak peduli pada tangan mantan kekasihnya yang membiru. Tapi, apa benar tidak peduli? Rasa itu masih ada, hanya saja tertutup ego pengkhianatan.
"Dilan! Silvia...dia mungkin cuma salah tuduh." Nasehat dari Lily bagaikan hanya figuran yang numpang lewat di drama besar ini.
"Jelek! Kamu jangan asal bicara!" Bentak Dilan pada Lily.
Tapi, entah bagaimana Neiji tiba-tiba berdiri di antara mereka."Dilan, Lily adalah kakak iparmu saat ini. Bukan bagian dari Haremmu. Setidaknya kamu harus menghormatinya." Pemuda yang masih dapat tersenyum.
"Tapi dia terlalu banyak bicara---" Kalimat Dilan disela.
"Kamu yang terlalu banyak mendengar. Bukan dia yang terlalu banyak bicara." Neiji masih tersenyum, benar-benar masih tersenyum tenang. Tapi, aura membunuh yang menyengat.
Yang ada di otaknya? Mungkin membuat Dilan tidak dapat mendengar suara lagi lebih baik. Pria ini selalu menganggapnya sebagai anj*ing peliharaan bukan?
"Kamu berani melawanku!? Aku akan mengadukan ini pada ibu!" Dilan memberikan peringatan.
"Adukan saja, bayi kesayangan ibu..." Gumam Neiji menyeringai.
Bug!
Dilan benar-benar memukul kakaknya sendiri. Hingga darah terlihat di sudut bibir Neiji. Tapi itulah inti dari segalanya.
Pemuda yang tersenyum menggunakan ibu jarinya mengusap darah di sudut bibirnya.
Tiba-tiba saja benda dingin terasa di leher Dilan. Gerakannya begitu cepat, hingga dirinya hampir tidak dapat merasakannya.
Benda dingin di leher, seperti besi? Apa pisau?
Tapi wajah sang kakak di hadapannya terlihat menyeringai mengerikan. Dirinya sama sekali tidak berani bergerak. Mengingat benda di lehernya.
Neiji mendekat, berbisik di telinganya."Kamu tau kenapa kamu masih hidup...itu karena aku belum mencabut nyawamu."
Seringai mengerikan bagaimana seekor predator.
Tidak salah! Inilah sosok ayah yang baik bagi putranya...Meiji. Harus kejam dan brutal pada orang yang menggangu keluarganya...