Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Arabelle."
Suaranya tidak masuk langsung. Arabelle masih setengah tenggelam dalam pikirannya sendiri, tentang apa, ia tidak ingat, sampai namanya diulang lebih keras.
"Arabelle!"
Ia tersentak. "Apa? Ada apa?"
Lorenzo meliriknya sebentar dari balik setir. "Aku sudah panggil tiga kali."
"Maaf, aku tidak dengar." Arabelle menegakkan punggungnya. "Kenapa?"
Ia menghela napas, bukan karena kesal, tapi seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu sebelum mengucapkannya.
"Malam ini ada operasi. Cukup berbahaya." Matanya tetap ke jalan. "Kalau aku tidak angkat telepon, jangan khawatir."
Arabelle memandanginya.
Operasi berbahaya.
"Kamu bisa mati?" Kalimat itu keluar sebelum ia sempat menyaringnya.
Lorenzo diam sebentar. "Ada kemungkinan."
"Lorenzo--"
"Aku tidak mau kamu khawatir. Aku sudah melakukan ini berkali-kali."
"Itu bukan jawaban yang membuatku tidak khawatir."
Ia menoleh sekilas. "Aku akan menghubungimu setelah selesai. Aku janji."
Arabelle menatapnya, profil wajahnya yang keras di bawah cahaya sore, tangan yang tenang di setir dan tidak tahu harus berkata apa yang tidak akan terdengar seperti ketakutan yang ia tidak mau akui.
"Kamu janji?" ulangnya pelan.
"Janji."
Air matanya jatuh sebelum ia sempat menahan. Lorenzo mengusapnya dengan ibu jari tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, lalu mencium pipinya sekali.
**
Mereka tiba di depan rumahnya dalam diam.
"Aku mencintaimu," kata Lorenzo sebelum Arabelle turun.
"Aku juga." Ia menutup pintu mobil dengan hati-hati, seperti kalau ia melakukannya terlalu keras sesuatu akan pecah.
Ia menunggu sampai Lamborghini itu menghilang di ujung jalan, lalu masuk ke rumah.
**
Arabelle mengganti pakaian, membuat popcorn mentega, dan membungkus dirinya dengan selimut di sofa. Ia menyalakan Stranger Things karena setidaknya kalau ada yang menakutkan di layar, pikirannya tidak punya terlalu banyak ruang untuk menciptakan yang menakutkannya sendiri.
Beberapa episode berlalu. Lalu terasa membosankan. Ia beralih ke berita.
Harga-harga. Politik. Angka-angka yang tidak ada hubungannya dengan hidupnya.
Matanya mulai berat.
**
Ketika ia membuka mata, layar TV masih menyala, tapi bukan lagi tentang harga atau kebijakan.
Ada nama yang ia kenal di running text di bawah layar.
Ia duduk tegak.
Lorenzo Devereaux dikabarkan mengalami luka serius dalam operasi penumpasan Geng Falco. Saat ini sedang mendapat perawatan intensif di Ospedale Hospital.
Arabelle berdiri. Rambutnya diurai asal, sepatu diambil dari dekat pintu, ponsel digenggam. Ia memesan taksi sambil berlari kecil ke luar, mengunci pintu belakangnya, dan berdiri di trotoar dengan jantung yang berdegup terlalu keras.
Taksi datang dalam tiga menit yang terasa seperti tiga puluh.
"Ospedale Hospital. Cepat."
**
Resepsionis di lantai dasar, perempuan paruh baya dengan ekspresi profesional mengarahkannya ke lantai tujuh, kamar 309.
Lift terasa terlalu lambat.
Di depan kamar itu, dua penjaga berdiri di sisi kanan dan kiri pintu. Mereka mengenali Arabelle dan membuka jalan tanpa pertanyaan.
Pintu terbuka.
Arabelle berdiri di ambang.
Lorenzo berbaring di kasur rumah sakit dengan infus di tangannya, monitor di sampingnya, dan bagian atas tubuhnya terbuka, perban menutupi beberapa bagian, tapi tidak semua luka tertutup. Ada memar, ada goresan panjang, ada tanda dari sesuatu yang ia tidak mau terlalu lama dibayangkannya.
Ia melangkah masuk dan duduk di kursi di sisi kasurnya. Tangannya bergerak ke tangan Lorenzo yang terbaring di atas selimut, dingin, diam.
"Kamu janji," bisiknya.
Air mata jatuh begitu saja. Ia tidak mengusapnya.
"Bangun. Tolong bangun." Tangannya menggenggam lebih erat. "Aku mencintaimu. Bangun."
Monitor di sisinya mulai berbunyi berbeda.
"Dokter!" Arabelle berlari ke pintu. "Tolong, ada dokter?"
Lorong bergerak cepat. Beberapa orang berlari masuk ke dalam kamar, Arabelle mundur ke sudut, menonton dengan tangan menutupi mulutnya sementara mereka bekerja, memasukkan sesuatu ke selang infus, menyesuaikan alat, berbicara dalam kode yang tidak ia mengerti.
Lalu semuanya melambat.
"Keadaannya kritis tapi stabil," kata salah satu dokter sebelum mereka keluar. "Tadi sangat mepet."
Arabelle kembali ke kursinya. Ia duduk, menarik napas panjang yang gemetar, dan menatap tangan Lorenzo di atas selimutnya.
Lalu jari-jarinya bergerak.
Sangat pelan. Hampir tidak terlihat.
"Lorenzo?"
Kelopak matanya terbuka, lambat, berat, seperti sesuatu yang butuh usaha besar dan matanya mencari sebelum menemukan wajah Arabelle.
"Aku minta maaf," kata Lorenzo. Suaranya serak dan tipis.
"Tidak apa-apa." Arabelle mengusap matanya sendiri dengan punggung tangan. "Bagaimana kamu bisa ke sini? Aku lihat di berita."
"Berita cepat sekali." Ia mengedipkan mata pelan. "Pulang saja. Aku tidak mau kamu melihat aku seperti ini."
"Tidak."
"Arabelle--"
"Tidak." Ia memandanginya langsung. "Tidak ada siapapun di sini selain aku. Aku tidak akan pergi."
Lorenzo menatapnya beberapa saat dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca.
"Aku tidak butuh bantuan siapapun."
Sesuatu di dada Arabelle retak dengan cara yang hangat dan menyakitkan sekaligus. Ia berdiri.
"Aku datang ke sini karena aku mengkhawatirkanmu. Karena aku mencintaimu." Suaranya stabil meski matanya tidak. "Dan ini yang kamu katakan kepadaku? Kalau kamu memang mau aku pergi, aku pergi."
Ia berbalik ke arah pintu.
"Arabelle."
Ia berhenti.
"Aku minta maaf." Suaranya lebih lunak. "Jangan pergi."
Arabelle berbalik. Lorenzo mengulurkan tangannya, bukan gerakan besar, hanya tangannya terangkat sedikit dari kasur, tapi cukup.
Ia melangkah kembali ke sisinya.
Lorenzo menariknya duduk di tepi kasur, tangannya mengangkat wajahnya, dan bibirnya menemukan bibirnya, tidak dalam, tidak lama, tapi nyata.
"Aku minta maaf," ulangnya ketika mereka terpisah. "Aku terkadang tidak tahu cara menghargai apa yang ada di tanganku. Kamu datang ke sini untukku dan aku malah--" Ia berhenti. "Aku mencintaimu, Arabelle."
"Aku tahu." Arabelle menggenggam tangannya. "Aku juga."
"Tinggal di sini malam ini."
Arabelle mengangguk.
**
Ia mengambil kursi dan mendorongnya ke sisi kasur, tapi Lorenzo menggeser dirinya perlahan, dengan ekspresi yang menunjukkan itu menyakitkan walau tidak ia akui dan membuat ruang.
"Di sini."
"Lorenzo, kamu luka--"
"Di sini."
Arabelle naik ke kasur dengan hati-hati, berbaring di sisinya, berusaha tidak menyentuh bagian mana pun yang diperban. Lorenzo melingkarkan tangannya di bahunya dengan pelan.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Arabelle setelah keheningan yang cukup panjang.
"Moreno. John Moreno, pemimpin geng lain." Suaranya berat. "Kami masuk ke markas Geng Falco malam ini. Sudah kami rencanakan dengan baik. Tapi mereka lebih siap dari yang kami kira. Semua orang lain hanya luka ringan. Aku yang paling parah."
"Kenapa kamu?"
Ia tidak menjawab langsung. "Karena aku yang masuk paling dalam."
Arabelle menutup matanya.
*Karena itu yang selalu ia lakukan.*
"Istirahat," katanya akhirnya. "Kita bicara lagi nanti."
Lorenzo mengangguk. Tangannya bergerak sedikit di bahunya, menggenggam, bukan memeluk, karena tubuhnya tidak mengizinkan lebih dari itu malam ini.
Tapi cukup.
Arabelle memejamkan matanya, mendengarkan bunyi monitor yang teratur, dan membiarkan ritme itu menjadi semacam bukti, bahwa ia masih di sini, masih bernafas, masih ada.
Dan itu, untuk malam ini, sudah lebih dari cukup.