*merried for revenge
bukan ajang perlombaan ini hanya sekedar balas dendam , balas dendam antar saudara yang tak kunjung padam.
liyan menatap nanar HP yang baru saja di banting hingga berserakan di lantai. emosi nya memuncak dan tak terkendali karena sang kekasih meninggalkan liyan demi memilih bertunangan dengan musuh bebuyutannya.
"5 tahun kita pacaran kau malah memilih laki laki sialan itu karena dia di pewaris. " umpat nya tertahan di antara rahang yang sudah mengeras
"brengsek!! "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
...
...
" Hallo,,"
"Hemm,. Iya pa"
"Kamu lagi sibuk?"
"Iya nih, lagi di kantor bentar lagi ada meeting… papa apa kabar?"
" Kabar papa baik baik aja nak,! Kamu gimana?"
"Alhamdulillah, baik juga pa,! Ada apa pa tumben papa nelpon"
"Oh ya yan, papa mau ngomong sama kamu,
Besok ada rapat pemegang saham HG Company , Kamu datang ya.!" Titah papa nya liyan, selama ini liyan tidak peduli urusan HG company perusahaan raksasa yang mencakup segala bidang.
"Huhh, gimana ya pa liyan sibuk." Ya begitu lah liyan, dia sangat malas berurusan dengan apapun yang berhubungan dengan Leon,
Papa nya mengerti kenapa anak nya tidak pernah ikut campur urusan perusahaan itu meski dia memiliki saham yang lumayan besar disana. Yang selama ini hanya papanya lah Yang terus mengurus segalanya.
"Tolong lah nak, kali ini papa sibuk, papa ga bisa ke Indonesia sekarang. Papa ga mau tau ya yan, apapun alasannya kamu harus datang.!! Papa ga peduli!! Meski kamu punya sendiri, masa iya kamu mau lepas begitu saja!
Kamu tau? Kakek kamu ngancam papa, kalau kamu ga dateng terus hak waris kamu bakal di cabut. Huhh...." ucap papa liyan yang ga habis pikir dengan pikiran anak nya ini. Bagaimana mungkin anak nya tak dapat apa apa padahal mereka dari darah yang sama.
"Maaf pa, bilang pada tua bangka itu Aku tidak peduli!!" Tolak Liyan, dia benci kakek nya itu yang selalu tidak adil.
Apa lagi mengingat kejadian waktu itu, padahal itu salah Leon dan Leon lah yang memulai permasalahan itu, tapi Alhasil dia yang di usir dari rumah utama dan di ancam di coret dari keluarga huang. Mengingat kejadian itu saja membuat nya tak Sudi berhubungan dengan keluarga itu, kakek nya yang terlalu otoriter yang selalu menuntut banyak hal membuat nya muak, jika bukan karena orang tua nya mungkin dengan suka rela ia keluar dari keluarga itu.
"Loh ga bisa gitu yan..! Papa selama ini ga pernah nuntut kamu banyak hal, untuk kali ini dengerin papa,. Kamu pikirin baik baik! Itu hak kamu masa iya dengan suka rela nya kamu kasih ke Leon?
Leon akan merasa menang dan makin keras kepala, paling tidak nya kamu tidak berbaik hati memberikan hak mu padanya!!" Ucap papa nya mempengaruhi anak nya yang keras kepala itu.
Bukan bearti papanya membenci Leon, laki laki paru baya itu juga menyayangi keponakan nya itu.
"Hemm.. akan aku pertimbangkan." Ucap nya membenarkan apa yang di ucap kan papa nya itu
"Good boy..!" Ucap papanya yang legah, lalu mematikan sambungan telepon itu.
Liyan POV
Benci? Entah lah, mungkin!! Bohong rasanya jika tidak ada rasa benci di hatiku, seingat ku dari kecil tua bangka itu tak pernah mengapresiasi ku sama sekali, laki laki tua itu selalu memuji Leon Leon dan Leon hanya karena dia lebih penurut pada nya.
Jangan tanya apa penyebab nya hingga membuat ku sangat muak, jika ku ceritakan mungkin tak habis habis sampai kiamat..!
Sebenarnya nya aku dan Leon dulu nya sangat dekat, bahkan sedikit pun tak ada rasa cemburu ku untuk nya meski tidak adil bagiku. Kami berjuang bersama, belajar bersama, bahkan kami tumbuh di tempat yang sama. Papa mama ku menganggap nya seperti nak kandung sendiri, begitupun tante dan om yang selalu baik pada ku. Tapi semenjak hari itu semuanya berubah! Orang tua nya memaki ku, begitu juga kakek yang sebelum nya aku maklumi saja sifat tak adil nya itu, aku tak pernah membenci nya sedikit pun hingga ucapan nya yang menyakitiku
Laki laki tua itu menampar ku, menyumpahi ku dengan sumpah sarapa yang tidak pernah terpikir oleh ku akan keluar dari mulut nya. Bahkan dia tidak peduli jika cucu kesayangannya yang memulai masalah ini.
Aku tidak lupa bagaimana dia mengusirku dari rumah utama itu, aku tidak lupa bagaimana dia melarang ku untuk tidak menginjakan kaki di istananya yang mega itu. Tau kah kalian? Itu sebuah penghinaan bagi ku.
Waktu itu umur ku masih 20 tahun, dan aku punya beberapa bisnis yang tidak di ketahuinya, Meski tergolong kecil aku sangat suka bermain saham. Aku muak pada tua bangka yang mengatai ku "Aku telah beruntung lahir dari keluarga nya itu"
Mama memeluk ku dan minta ampun pada nya, mama menangis di depan ku meminta maaf atas kesalahan yang sepenuh nya bukan salah ku, aku benci itu.
Flasback on
Liyan pov
"Anak tak tau di untung..!"
"Tidak tahu terima kasih.."
Prakk.. Tamparan keras terdengar dari tangan kakek yang sangat ku sayangi itu, air mata ku berlinang bukan karena sakit, melain kan sakit hati yang susah tak terbendung..
"Kenapa Liyan?? Kamu perlakuin adik mu kaya gini..!!" Teriak tante Lilia ibunya Leon
Sedangkan ayah nya Leon, zimo huang hanya diam dan tak mengatakan apapun tapi dapat ku lihat kilat amarah nya menatap ku.
Aku akui aku salah, tapi tidak kah mereka bertanya dulu pada ku? Apa duduk permasalahannya!
"Apakah seperti ini didikan ibu mu..!" Ucap kakek
"Apakah ini ajaran ayah mu?" Tunjuk nya di depan ku, Aku hanya diam tidak menjawab satu pun perkataan mereka,
"Lihat itu adik mu!! Lihat Liyan!! Kamu memukuli adik mu sampai tak berdaya?" Tunjuk nya pada kamar Leon yang sedang di tangani dokter
Ingin rasanya teriak juga, aku juga sakit!! Aku juga terluka! Lihat sendiri muka ku ini juga sama babak belur dengan nya..! Kenapa mereka tidak tanya siapa yang memukuli ku? Meski aku lebih tua 3 bulan dari nya aku tetap lah cucunya juga kan?
"Sekarang pergi dari rumah ini!! Jangan pernah injakan kaki mu itu selangkah pun dari rumah ku... Enyah lah dari pandangan ku sebelum aku hapus dari keluarga ini.."
Tunjuk nya ke arah pintu keluar, namun dengan bodoh nya aku tak bergeming mencerna apa yang dia katakan
Mamaku semakin menangis memeluk ku, sedang kan papa berusaha untuk membujuk kakek
"Pa, udah lah pa! Liyan juga terluka, alangkah baik nya reda kan emosi papa dulu, liyan juga butuh di obati..! Ujar papa pada kakek namun kakek tampak tak peduli
"Kamu beruntung lahir dari keluarga ini, kalau bukan jadi apa kamu??" Tunjuk nya di muka ku
Dia meremeh kan ku? Sungguh dari kecil aku tak suka diremehkan, tidak ada yang pernah meremehkan ku meski aku tak dianggap sekalipun.