Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Tiba Di Rumah
Hari sudah beranjak malam. Keadaan hutan jadi gelap gulita. Hanya ada lampu truk kecil yang jadi satu-satunya penerangan saat itu.
Telinga Arisa tiba-tiba mendengar suara aneh yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Kuuu... Kuuu... Kuuu..."
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Benarkah? Tapi kok suaranya serem," tanggap Arisa. Kali ini dia meremas lengan jaket Ogi.
"Nanti juga terbiasa atuh, Neng..." ujar Ogi.
"Ieu mah kakara sora manuk bueuk atuh, Neng. Can deui mun ngadéngé sora careuh. Beuuh! Sorana siga kuntianak ceurik. (Ini baru suara burung hantu atuh, Neng. Belum lagi kalau dengar suara musang. Beuuh! Suaranya mirip kayak kuntilanak menangis.)" imbuh Abdi sambil fokus menyetir. Namun dia langsung mendapat tepukan di pundak dari Ogi.
“Geus, Kang! Ulah nyingsieunan manéhna. Engké manéhna teu betah cicing di lembur urang. (Udah, Kang! Jangan nakut-nakutin dia. Nanti dia nggak betah tinggal di desa kita.)" tegur Ogi.
"Kenapa, Kang? Kang Abdi ngomong apa?" tanya Arisa.
"Anu katanya suara burung hantu itu udah biasa di sini. Kau akan terbiasa nanti," jawab Ogi berkilah.
"Kang Abdi, tolong ya kalau ngomong sama aku pakai Bahasa Indonesia aja gitu. Aku kan nggak ngerti," ungkap Arisa. "Kang Abdi bisa kan Bahasa Indonesia?" sambungnya.
"Bisa atuh, Neng. Tapi nggak terbiasa gitu. Ya sudah, Akang akan bicara pakai Bahasa Indonesia kalau ngomong sama Neng Arisa, istrinya juragan kerupuk desa Cikawening!" balas Abdi antusias.
Arisa tersenyum hambar. Dia tentu merasa asing disebut sebagai seorang istri. Apalagi istri seorang juragan kerupuk. Terdengar agak kampungan baginya.
'Ini keputusan benar atau nggak ya aku nikah sama murid kesayangannya Papa? Aku kira desanya nggak sepedalaman gini,' batin Arisa seraya melihat keluar jendela. Namun dia tak bisa melihat apa-apa selain gelapnya malam.
Gelapnya jalanan membuat kebosanan Arisa menggunung. Dia lantas kembali tertidur karena sudah tak bisa menanggung lelahnya.
Setengah jam setelah Arisa tertidur, truk kecil telah memasuki desa Cikawening. Desa yang hanya di isi oleh seratus sepuluh kepala keluarga. Truk kecil berhenti tepat di depan salah satu rumah paling besar di desa itu.
"Masih tidur dia?" tanya Abdi dengan nada pelan.
Ogi mengangguk. "Tolong bukakan pintu rumah ya, Kang. Aku akan langsung bawa ke kamar. Aku nggak tega banguninnya. Kayaknya kecapekan sekali," tuturnya.
"Sayang sekali, kayanya malam pertamanya harus diskip dulu," komentar Abdi.
Ogi hanya memutar bola mata jengah. Ketika pintu rumah dibukakan oleh Abdi, dia gendong Arisa dengan gaya bridal.
Ogi baringkan Arisa di kamarnya. Tak lama seorang wanita tua muncul dari balik pintu. Dia menatap Arisa sembari tersenyum lebar.
Wanita tua itu tidak lain adalah neneknya Ogi. Dia sering dipanggil Eyang Imas oleh Ogi. Eyang Imas sangat menyukai segala hal berbau mistis, dia bahkan katanya punya pegangan. Meskipun begitu, Eyang Imas terbilang orang tua yang punya pikiran yang terbuka. Ogi sering menganggapnya sebagai nenek klasik setengah modern.
Kebetulan Eyang Imas sudah mendapat kabar pernikahan Ogi lewat Pak RT. Bisa dibilang kabar pernikahannya sudah tersebar luas di telinga warga desa Cikawening.
“Pamajikan anjeun geulis pisan! (Istrimu cantik sekali!)" ujar Eyang Imas.