NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nana's father

Prosesi pemakaman Mama Inggita sudah selesai sejak semalam. Kini, rumah tua yang dulu sepi itu kembali menjadi saksi bisu duka yang mendalam.

Nana duduk di ruang tamu dengan bahu yang merosot, menatap kosong ke arah foto ibunya yang terbingkai rapi.

Namun, ketenangannya terusik karena pria bernama Kaito Kojima itu ayah kandung yang tidak pernah dianggapnya tetap bertahan di sana. Pria Jepang itu duduk di sudut ruangan. Nana sampai jengkel melihatnya.

"Kenapa Anda belum pergi juga?" tanya Nana tanpa menoleh.

Kaito berdehem pelan. Tatapannya tampak sendu. "Nana, biarkan Papa memberikan penghormatan terakhir untuk Inggita. Papa hanya ingin menemani..."

"Menemani?" Nana tertawa sinis.

"Di mana Anda saat Ibu harus berjuang sendirian ? Di mana Anda saat saya harus banting tulang di Jakarta hanya untuk biaya obat-obatannya? Menghormati, Anda bilang?"

"Untuk apa Anda baru muncul sekarang? Saat mama sudah tidak bisa lagi melihat permintaan maaf Anda? Anda pikir dengan datang ke sini dan memasang wajah sedih, semua luka belasan tahun ini akan sembuh?".

"Papa tahu Papa salah, Nana. Tapi Papa punya alasan kenapa dulu..."

"Saya tidak butuh alasan anda" bentak Nana, air matanya kembali mengalir.

 "Simpan alasan Anda untuk diri Anda sendiri. Saya sudah biasa hidup tanpa seorang ayah, dan saya akan tetap baik-baik saja tanpa Anda. Pergi dari rumah ini sekarang juga!"

Nana menunjuk ke arah pintu depan dengan tangan yang gemetar. Ia merasa sesak berada di ruangan yang sama dengan pria yang telah membuang keluarganya sendiri.

"Pergi!" suara Nana naik satu oktav, bergema di seluruh ruangan rumah yang kini terasa sempit.

Karena Kaito tak kunjung beranjak dan hanya menatapnya dengan pandangan memelas, Nana kehilangan kesabaran. Ia melangkah ke arah pintu depan dan berteriak pada dua pria berbadan tegap yang berjaga di dekat mobil mewah di halaman.

"Kalian! Bawa dia pergi dari sini!" tunjuk Nana pada Kaito.

"Bawa tuan kalian keluar dari rumah ini sekarang juga atau saya panggil warga untuk mengusir kalian secara paksa!"

Dua bodyguard itu saling lirik, lalu dengan ragu masuk ke dalam. Mereka mendekati bos besar mereka dengan sopan, memberi isyarat bahwa suasana sudah terlalu memanas.

Kaito hanya pasrah. Sebelum benar-benar melangkah melewati ambang pintu, Kaito berhenti sebentar dan menoleh ke arah Nana.

"Nana... Papa tahu kata-kata tidak akan pernah cukup," ucap Kaito.

"Tapi ketahuilah, Papa sangat menyayangimu. Papa akan datang kembali saat kamu sudah siap. Papa tidak akan memaksamu sekarang."

Nana hanya memalingkan wajah, enggan menatap pria itu lebih lama lagi.

Suara mesin mobil mewah itu perlahan menjauh, meninggalkan kesunyian yang kembali mencekam di rumah tua tersebut. Nana jatuh terduduk di lantai, menangkup wajahnya dengan kedua tangan.

......................

Abian benar-benar sedang dalam mode emosi. Sejak pagi, tidak ada satu pun pekerjaan yang terasa benar di matanya.

Juan, asisten pengganti sementara yang menggantikan posisi Nana, menjadi orang yang paling malang hari ini. Ia berdiri mematung di depan meja Abian dengan tubuh gemetar, memegang setumpuk dokumen yang baru saja dilempar kembali oleh bosnya.

"Juan! Saya tanya sekali lagi, di mana laporan audit bulanan yang seharusnya sudah ada di meja saya jam delapan tadi?!" bentak Abian dengan suara menggelegar.

"M-maaf, Pak Abian... saya masih mencarinya di folder Nana, tapi sepertinya belum dipindahkan ke folder umum," jawab Juan terbata-bata.

"Cari! Jangan cuma bilang masih mencari!" Abian memukul meja kerjanya dengan keras hingga pulpen di atasnya meloncat.

"Nana tidak pernah membiarkan saya menunggu lebih dari lima menit untuk satu dokumen! Kamu ini kerjanya apa saja?!"

Juan menelan ludah dengan susah payah. "Tapi Pak, saya baru dua jam di sini..."

"Tidak ada tapi-tapi! Kalau tidak bisa kerja secepat Nana, jangan berani-berani duduk di kursi itu!" potong Abian telak. Wajahnya merah padam, bukan hanya karena laporan yang telat, tapi karena rasa frustrasinya yang tidak bisa menghubungi Nana kini ia tumpahkan seluruhnya pada Juan.

Abian menyambar cangkir kopinya, menyesapnya sekali, lalu langsung menyemburkannya kembali ke dalam cangkir.

"Kopi macam apa ini?! Terlalu manis! Kamu mau membuat saya kena diabetes?!" Abian membanting cangkir itu ke meja hingga isinya menciprat ke mana-mana.

"Pergi kamu! Buatkan yang baru atau saya pecat kamu sekarang juga!"

Juan langsung lari tunggang langgang keluar ruangan sebelum amukan bosnya semakin menjadi-jadi. Di luar, rekan kerja lainnya hanya bisa menatap iba.

Pintu ruangan Abian terbuka kasar Bimo dan Naufal. Keduanya masuk dengan gaya santai.

"Wuih, ada yang lagi mengamuk ternyata," celetuk Bimo sambil bersedekap, menatap tumpukan kertas yang berserakan di lantai.

Naufal terkekeh, ia berjalan mendekati meja Abian tanpa rasa takut. "Dengar sampai lobi lho, Bi. Kasihan si Juan, mukanya sudah kayak mau nangis"

Melihat kehadiran mereka, Abian malah semakin marah. Ia berdiri dari kursi kebesarannya, menunjuk ke arah pintu dengan tatapan tajam.

"Ngapain kalian ke sini?! Kalau cuma mau mengganggu, keluar! Saya nggak punya waktu buat bercanda!" bentak Abian dengan suara yang masih meninggi.

Naufal mengangkat kedua tangannya ke udara, memberi isyarat menyerah yang jenaka. "Santai, Bro. Calm down. Jangan galak-galak, nanti cepat tua."

1
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
wayuluhhhhh keder dah si abi...pantes Nana fasih bhs jepang, lah bapaknya org jepang taunya.

author... author...up lagi bisa ta..🤭
penasaran 😄❤️
Ani: jangan jangan investornya bapaknya Nana..🤔🤔🤔🤔
total 1 replies
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!