NovelToon NovelToon
Karma Suami Durhaka

Karma Suami Durhaka

Status: tamat
Genre:Pelakor / Keluarga & Kasih Sayang / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.6
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."

​Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.

Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.

Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.

​Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?

Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?

Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

"Penyesalan adalah api yang membakar jiwa tanpa menyisakan abu. Di episode ini, sebuah berita besar meledak di tengah kehampaan hidup Bima, meruntuhkan sisa-sisa harapannya hingga tak bersisa. Saat sang ibu pulang dengan membawa kabar tentang pernikahan Hana, Bima menyadari bahwa pintu maaf telah tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Mari saksikan bagaimana dunia sang tuan angkuh ini benar-benar runtuh berkeping-keping."

.

.

Malam di Jakarta terasa lebih pekat dari biasanya. Di dalam rumah mewah keluarga Erlangga, keheningan menyelimuti setiap sudut ruangan, hanya menyisakan suara jam dinding yang berdetak seolah menghitung mundur kehancuran sang pemilik rumah.

Bima duduk di ruang kerjanya, menatap kosong ke arah dokumen-dokumen perusahaan yang sudah tidak lagi ia pedulikan. Pikirannya tersangkut di Sukamaju, pada bayangan Hana yang ia lihat dari kejauhan tempo hari.

Tiba-tiba, suara dentuman pintu utama yang dibuka dengan kasar memecah kesunyian. Disusul oleh lengkingan suara yang penuh dengan kepedihan dan kemarahan.

"BIMA ...! KELUAR KAMU, BIMA ...!"

Bima tersentak. Itu suara mamanya. Suara yang biasanya tenang dan berwibawa kini terdengar pecah oleh isak tangis yang tertahan. Bima segera bangkit, jantungnya berdegup kencang.

Apakah terjadi sesuatu?

Bima berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Di bawah, ia melihat Bu Sarah berdiri mematung di tengah ruang tamu.

Tas mahalnya tergeletak sembarangan di lantai, riasannya sedikit luntur oleh air mata, dan dadanya naik turun mengatur napas yang sesak.

"Mama? Mama sudah pulang?" Bima menghampiri dengan wajah panik. "Kenapa Mama menangis? Apa yang terjadi ..."

**PLAK** !!!

Belum sempat Bima menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Kepala Bima terlempar ke kiri. Rasa panas menjalar seketika, namun rasa heran di benaknya jauh lebih besar.

"Mama... kenapa Mama menamparku?" bisik Bima shock.

**PLAK** !!!

Sekali lagi, tamparan yang lebih keras mendarat di pipi kanannya. Bima terhuyung mundur, memegangi wajahnya yang kini berdenyut nyeri.

Ia menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya. Sepanjang hidupnya, Bu Sarah tidak pernah sekasar ini.

"Kenapa?!" Bu Sarah berteriak, air matanya kini tumpah tak terbendung. "Satu tamparan tidak cukup untuk membayar kebodohanmu! Seribu tamparan pun tidak akan bisa mengembalikan menantu kesayangan Mama yang sudah kau buang bagai sampah!"

Bima gemetar. "Ma, aku tahu aku salah. Aku sudah menyesal! Aku akan menjemput Hana, aku akan memohon padanya ..."

"Menjemput siapa, Bima?! Menjemput istri orang lain?!" Bu Sarah memegang kerah kemeja Bima, mengguncang tubuh anaknya dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Hana akan menikah, Bima! Bulan depan! Dia akan menikah dengan pria lain!"

**Duar** !!!

Dunia seolah berhenti berputar bagi Bima. Pendengarannya mendadak berdenging. Kalimat itu terasa lebih tajam dari sembilu, merobek jantungnya hingga hancur berkeping-keping.

"Mama... Mama bercanda, kan?" Bima tertawa getir, tawa yang terdengar seperti rintihan. "Hana tidak mungkin melakukan itu. Dia mencintaiku. Dia hanya ingin menghukumku, Ma. Dia tidak mungkin secepat itu..."

"Cinta?!" Bu Sarah mendorong Bima hingga pria itu jatuh terduduk di sofa. "Cinta macam apa yang kau berikan padanya? Kau mengusirnya saat dia mengandung! Kau menukar dia dengan iblis seperti Clarissa! Kau pikir hati Hana adalah batu yang tidak bisa hancur?"

Bu Sarah melempar ponselnya ke pangkuan Bima. Di sana, sebelum Bu Sarah kembali, Bu Sarah meminta foto Hana berdiri berdampingan dengan dr. Adrian di depan ruko, dengan tangan Adrian yang merangkul bahu Hana seolah menegaskan bahwa wanita itu adalah miliknya.

"Pria itu namanya Adrian. Seorang dokter. Dia yang memungut Hana saat kau membuangnya. Dia yang membasuh air mata Hana saat kau tertawa bersama Clarissa. Dan bulan depan, dia yang akan mengucapkan ijab kabul untuk mengambil alih posisi yang dengan bodohnya kau tinggalkan!"

Bima menatap layar ponsel itu dengan mata yang memanas. Ia melihat senyum Hana. Senyum yang begitu damai, senyum yang menunjukkan bahwa wanita itu telah menemukan rumah yang sebenarnya.

Bukan rumah mewah yang penuh kepalsuan seperti ini, melainkan hati seorang pria yang menghargainya.

"Tidak... tidak mungkin..." Bima meremas ponsel itu, lalu tiba-tiba ia bangkit dan meraih kunci mobilnya di meja. "Aku harus ke sana! Aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi! Anak itu anakku! Hana itu milikku!"

"Berhenti, Bima!" teriak Bu Sarah.

Bima tidak peduli. Ia berlari menuju pintu, namun langkahnya terhenti saat Bu Sarah berkata dengan suara dingin dan tajam.

"Jika kau pergi ke sana hanya untuk membuat kekacauan, kau hanya akan membuat Hana semakin membencimu. Kau ingin mengambil Saka? Pria itu, Adrian, sudah dianggap ayah oleh cucuku sendiri! Kau hanya orang asing yang memberikan luka, Bima. Kau tidak punya hak!"

Bima jatuh berlutut di depan pintu utama. Ia meraung, memukul-mukul lantai marmer yang dingin hingga tangannya lecet. "AKU YANG SALAH! AKU YANG BODOH! HANA, MAAFKAN AKU!"

Suara raungan Bima menggema di rumah yang besar itu, namun tidak ada siapa pun yang datang menghibur. Bu Sarah hanya menatap anaknya dengan tatapan kasihan sekaligus muak.

"Mama ingin kau menderita, Bima. Rasakan apa yang Hana rasakan dulu," ucap Bu Sarah sambil berjalan melewati Bima menuju kamarnya. "Satu hal lagi... Adrian sudah melamar Hana secara resmi. Mama melihat sendiri bagaimana pria itu melindungi Hana. Dia jauh lebih layak disebut pria daripada kamu."

~~

Malam itu, Bima tidak tidur. Ia duduk di lantai ruang tamu yang gelap, ditemani sebotol minuman keras yang ia ambil dari mini bar, bukan untuk berpesta, tapi untuk mematikan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.

Ia membuka kembali ingatannya, saat pertengkarannya dengan Hana di malam pengusiran itu.

Bima melempar botol minumannya ke arah dinding hingga pecah berkeping-keping. "Bodoh... kau benar-benar bodoh, Bima!"

Kini, kepingan hidupnya persis seperti botol itu. Tidak bisa disatukan lagi. Hana akan menikah. Nama 'Erlangga' akan benar-benar terhapus dari hidup Hana. Dan yang paling menyakitkan, anaknya akan memanggil pria lain dengan sebutan 'Ayah'.

Bima menatap ke luar jendela, ke arah langit malam yang tanpa bintang. Penyesalan itu kini bukan lagi tamu, melainkan penghuni tetap di hatinya.

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Ely
Halo. aku mampir di novel mu. thanks novel nya. Tokoh kali ini Bima dan Hana. semangat 😍
Ferly Kriss
terus pengacara Bima saja bisa tau tempat tinggal Hana di desa .. masak gak di ingat
aneh aneh
benang ruwet
Ferly Kriss
ya ampun gimana to cerita nya ini .. sudah dua Minggu melahirkan
pas Bima telpon ibu tirinya nya jawab nya baru seminggu yang lalu di usir
Ferly Kriss
gimana to cerita nya ini ..
orang Hana belum sampe ke rumah bidan .. kok bidan nya sudah telpon Bima
aneh
yang di bab atas juga gitu .. jare kartu SIM nya sudah di patahkan
kok bisa masuk saat dr Ardyan chat
hadeh ..
neng ade
semoga aja lelaki baik yang menolong Hana
neng ade
semoga Hana ga kenapa Napa di perjalanan
neng ade
dasar gila itu si Bima
Sgl Ry
penulisnya mabok lem
alur ga jelas
kebanyakan pembuka dan penutup ga bermutu
tolol
Lesmana
wooww ternyt hana tau loh bidan telp bima...bukannya udah mutus tuntas hub sama bima ?? bahkan mutus hub anak & ayah sjk tnd tgn surat cerai..
Lesmana
lagian bidan nya lancang bnr , maen telp bima sinting tnp ijin dr hana..
noreen1709
jgn kau sombong Bima..rezeki bukan dari mu tapi di Allah ...ulat dlm batu aja sudah allah tentukan rezeki nya...anak di dalam rahim hana pun sudah di atur rezeki nya selepas roh di tiup ...selagi ada usaha insyallah hana gak kelaparan... rezeki mu juga bisa di cabut tanpa kamu sedari dgn senang oleh yg maha pemilik alam semesta
noreen1709
boleh aja talak ketika sedang hamil cuma masa iddah nya habis selepas melahirkan
Setiawan
bnr bngt.. kalo manusia hilang rasa cinta , minimal msh ada rasa kasihan.. si dajjal bima hilang rasa sdh smua nya , pdhl hana lg ngandung anaknya.. /Angry//Angry/
Setiawan
nih modelan laki2 dajjal asli... dia yg ceraiin , malah dia ky org yg pny dendam sama hana..
Nella Rihi
di kartu nama nya msh ada nmr hp nya tapi bukan kah SIM-card nya sdh dipatahkan?kenapa bisa dokter Adrian kontak Hana ke nmr lama?
Diny Julianti (Dy)
emang udah nikah sama Clarisa? trus bukanny tinggal di apartemen ya
sri wahyuni
harus sering di edukasi para lelaki jagan sembarangan ngomong talak dan ngga ngerti maknanya.......tolong ya thor semoga hana meneukan kebahagiaannya.
v_cupid
🙏
Fisee
🐽🐽🐽🐽🖕🖕🖕🖕🖕
Fisee
🐽🐽🐽🐽
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!