Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban Telak
Pada kenyataannya Zavian akhirnya pergi ke rumah Ayra sendirian dengan alamat yang dikasih oleh ibunya.
Ya, Euginia tak jadi ikut karena mendadak ada pertemuan dengan teman-temannya. Sementara Kenzie kedatangan adik dari almarhumah ibunya, Marissa. Tante yang paling dekat dengannya. Jadilah Zavian mengemudikan mobilnya sendirian menuju rumah Ayra.
Tapi saat dia akan sampai di depan rumah Ayra, ada mobil lain yang masuk ke halaman rumah itu.
"Apa itu mobil suaminya? Mungkin benar kata Mama, kalau suami Ayra kerja di luar kota."
Zavian memperlambat laju mobilnya. Melewati rumah Ayra dan memperhatikan keadaan rumah itu. Terlihat sepi, hanya mobil tadi yang terparkir di depan teras rumah.
Zavian memutuskan untuk menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah Ayra. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang. Apalagi ia merasa penasaran dengan cerita ibunya kalau Ayra sudah tidak hamil lagi. Ia sudah keguguran.
"Itu pasti karena terjadi apa-apa hingga Ayra harus kehilangan janinnya."
***
Sementara itu di dalam rumah, memang benar dugaan Zavian kalau yang datang adalah suami Ayra. Tapi yang Zavian tidak tahu, kalau suami Ayra itu adalah pegawainya di ADW Group yang sekarang di bawah kepemimpinannya.
Ayra menerima kedatangan Rayyan dengan sikap yang sangat formal. Seakan Rayyan sudah bukan suaminya lagi.
"Aku datang ke sini untuk mengatakan kalau perceraian kita akan segera aku urus. Dan ini..." Rayyan meletakkan sebuah map di hadapan Ayra di atas meja.
"Kamu tanda tangani itu."
Sejenak Ayra menatap benda di hadapannya. Lalu meraih dan membaca isinya dengan teliti. Meski ia dianggap oleh keluarga Rayyan wanita tidak berpendidikan, tapi yang sebenarnya ia adalah calon sarjana hukum. Namun sekarang ia masih menjalani cuti kuliah.
"Kenapa di sini tercantum aku tidak menuntut harta gono-gini?" Tanya Ayra, tanpa mengangkat kepala karena masih fokus pada isi dari dokumen itu.
"Ya iya lah, orang kita menikah juga masih seumur jagung." Jawab Rayyan santai. Ia pikir Ayra tak akan mengerti dengan poin-poin yang sudah ia tulis di berkas perceraian itu.
"Maaf ya Mas Rayyan, setahu aku lama tidaknya sebuah pernikahan tidak membatasi akan mendapat harta gono-gini atau tidak. Selama harta itu dihasilkan di dalam pernikahan kita, maka aku berhak mendapatkan itu." Tegas Ayra tanpa ragu.
Rayyan menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada dengan raut wajah meremehkan. Ia mencoba menekan Ayra secara psikologis, berharap istrinya itu akan merasa kecil hati dan menyerah.
"Ayra, sadar diri sedikit. Selama ini siapa yang banting tulang? Aku yang kerja dari pagi sampai malam, sementara kamu cuma di rumah saja. Tidak menghasilkan satu rupiah pun," ujar Rayyan dengan nada dingin yang menghina.
"Logikanya, apa yang aku beli dari uang hasil keringatku sendiri, ya itu milikku. Kamu tidak punya hak atas aset yang aku hasilkan sendiri."
Ayra menutup map tersebut dengan perlahan. Ia menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke mata pria yang dulu pernah ia coba untuk mencintainya. Tidak ada ketakutan di sana, ysng ada hanya sorot mata tajam seorang calon praktisi hukum yang sedang menguji lawannya.
"Itu logika kamu, Mas. Tapi bukan logika hukum," sahut Ayra tenang.
"Dalam aturan perkawinan, ditegaskan bahwa harta benda yang diperoleh selama pernikahan menjadi harta bersama. Hukum tidak pernah membedakan siapa yang bekerja di luar atau siapa yang mengurus rumah tangga. Kontribusi istri dalam mengelola rumah dianggap sebanding dengan nilai nafkah yang dicari suami."
Wajah Rayyan sedikit berubah. Ia tidak menyangka Ayra bisa menjawab dengan argumen yang begitu tertata.
"Jangan sok tahu. Kamu tahu apa soal ini?" cibir Rayyan, mencoba menutupi kegugupannya.
"Harta apa yang mau kamu tuntut? Semua yang aku punya itu hasil jerih payahku sendiri."
Ayra tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat harga diri Rayyan terus terusik. "Apapun asetnya, selama dibayar menggunakan pendapatan yang kamu peroleh saat kita masih terikat pernikahan, aku punya hak di sana. Jika kamu mencoba memanipulasi daftar harta untuk kepentingan sepihak, itu justru akan memperburuk posisi kamu di pengadilan nanti."
Ayra menggeser kembali map tersebut ke arah Rayyan dengan gerakan tegas.
"Perbaiki draf ini. Masukkan semua daftar aset yang muncul selama pernikahan kita, atau aku yang akan mengajukan gugatan balik dan meminta pengadilan melakukan sita marital atas semua aset yang kamu sembunyikan."
Rayyan terdiam seribu bahasa. Ia merasa seolah sedang berhadapan dengan orang asing yang sangat tangguh, bukan lagi Ayra yang ia kenal setahun terakhir ini. Ia tidak menyangka wanita yang ia anggap tidak berdaya ini ternyata menyimpan kekuatan yang tidak pernah ia duga.
Rayyan menyambar map di atas meja dengan kasar. Wajahnya merah padam, menahan malu sekaligus amarah karena rencana manipulasinya dipatahkan dengan telak. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah lebar meninggalkan rumah, membanting pintu depan hingga menimbulkan suara dentuman keras.
Dari dalam mobil ysng kacanya terbuka, Zavian tersentak melihat pintu rumah itu tertutup kasar. Ia melihat seorang pria masuk ke dalam mobil yang terparkir di teras, namun karena posisi mobil itu membelakanginya dan kaca film yang sangat gelap, Zavian sama sekali tidak sempat melihat wajah pria itu. Pria itu langsung memacu kendaraannya pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang beterbangan di halaman.
Zavian menghela napas, rasa tidak tenangnya semakin menjadi. Ia segera turun dari mobil dan melangkah mantap melintasi jalan setapak, menuju rumah Ayra.
Sesampainya di depan pintu, Zavian ragu sejenak. Ia merapikan pakaiannya, lalu mengetuk pintu yang baru saja tertutup keras itu.
"Ayra?" panggilnya pelan.
Di dalam rumah, Ayra masih berdiri mematung di samping meja. Napasnya masih sedikit memburu, tangannya gemetar karena baru saja mengeluarkan keberanian yang selama ini ia pendam demi mempertahankan haknya. Mendengar suara yang madih asing memanggil namanya, Ayra tersentak.
Dengan perlahan, Ayra melangkah menuju pintu. Saat daun pintu terbuka, ia mendapati Zavian berdiri di sana dengan tatapan yang penuh kekhawatiran.
"Pak Zavian? Sedang apa anda di sini?" tanya Ayra. Suaranya terdengar datar namun ada nada keterkejutan di sana. Ia menjaga jaraknya, tetap berdiri di ambang pintu tanpa mempersilakan Zavian masuk.
Zavian menatap mata Ayra, mencoba membaca apa yang baru saja terjadi di dalam rumah itu.
"Tadi saya melihat ada mobil yang keluar dengan sangat terburu-buru. Saya mengira sepertinya ada kejadian yang tidak baik. Saya hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja."
Zavian diam sejenak, lalu bertanya lagi dengan nada hati-hati,
"Apa Pria tadi itu... dia suami kamu?"
Ayra mengangguk dan membalas tatapan Zavian dengan tegas, meski hatinya sedang berkecamuk. Ia tidak ingin urusan rumah tangganya menjadi konsumsi orang luar, termasuk Zavian.
"Itu urusan pribadi saya, Pak Zavian. Sebaiknya anda tidak perlu ikut campur," jawab Ayra dengan tenang dan tetap menjaga wibawanya.
Zavian menghembuskan napasnya kasar.
"Tapi saya sudah terlanjur tahu keadaan rumah tangga kamu."
"Dan saya tidak berniat mencari dukungan atau pembelaan dari siapapun. Saya harap anda bisa menghormati keputusan saya. Terimakasih atas perhatian anda, Pak. Tapi tolong anda pergi dari sini, karena saya tidak ingin ada fitnah. Biar bagaimanapun saya masih berstatus seorang istri dari pria lain." Ucapan Ayra tegas tapi diucapkan dengan sesopan mungkin. Membuat Zavian menganggukkan lepalanya dan akhirnya pergi dari sana.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"