Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di balik pintu jati
Malam semakin larut, namun pekerjaan Syra belum selesai. Tangannya sudah keriput dan berbau sabun cuci piring murah. Ia berjongkok di dekat tempat pencucian piring di belakang dhalem, menggosok ratusan piring di bawah lampu neon yang berkedip-kedip. Perasaan sedih dan lelah mulai menggerogoti pertahanannya. Air matanya hampir jatuh, bukan karena sedih, tapi karena ia merasa sangat asing dan tidak berguna di tempat ini.
Tiba-tiba, suara gesekan kain halus terdengar. Sabrina Dhikra Alya berdiri di sana. Ia tampak sangat sempurna dalam balutan gamis pastel dan kerudung sutra yang tertata rapi. Ia membawa nampan berisi segelas susu jahe hangat dan sebuah bungkusan mukena sutra putih yang tampak sangat mahal.
"Mbak Syra, ini diminum dulu supaya badannya hangat," ucap Sabrina dengan suara yang sangat lembut, namun di telinga Syra terdengar seperti suara malaikat yang sedang menyindir setan. "Kasihan Mbak Syra, pasti belum pernah kerja kasar seperti ini ya di Jakarta?"
Syra hanya melirik sekilas, tidak menjawab.
"Oh iya, ini ada mukena dari Umi," Sabrina meletakkan bungkusan itu di meja kayu yang bersih. "Umi bilang, kalau Mbak Syra mau ikut pengajian subuh besok, pakailah ini. Biar lebih pantas dilihat para jamaah dan tamu Kyai. Kami hanya ingin Mbak Syra tidak menjadi bahan pembicaraan karena... gaya pakaian Mbak."
Syra berhenti menggosok piring. Ia menatap Sabrina dengan mata merah. "Pantas? Jadi menurut lo, gue ini aib yang harus ditutupin pake sutra?"
Sabrina tersenyum tipis—tipe senyum yang sering digunakan para ning-ning untuk menunjukkan kelas mereka. "Bukan begitu. Hanya saja... Gus Arkan itu matahari bagi kami di sini. Kami hanya ingin cahayanya tidak tertutup oleh debu yang dibawa angin dari luar. Permisi, Mbak Syra."
"Debu?" Syra mengepalkan tangannya yang masih berbusa. "Gue dikatain debu?"
Amarah Syra meledak. Ia melempar spon cuci piringnya dan berdiri. Ia butuh keluar dari atmosfer mencekik ini. Ia butuh motornya. Ia yakin kunci motornya disita Arkan di ruang kerjanya. Syra menyelinap masuk ke dalam dhalem, menghindari pengawasan santri jaga. Saat melewati koridor belakang yang jarang dilalui, ia melihat sebuah pintu kayu jati tua yang sedikit terbuka.
Bukan ruang kerja Arkan, tapi rasa penasaran Syra lebih besar. Ia mendorong pintu itu perlahan, mengira akan menemukan gudang kitab kuno yang berdebu.
Tapi matanya hampir keluar dari kelopaknya.
Ruangan itu sangat luas dan sangat bersih. Di tengahnya, terparkir sebuah motor klasik BMW R25 tahun 1950-an yang dipoles hingga mengkilap seperti baru keluar dari pabrik. Di dindingnya tidak ada kaligrafi, melainkan deretan piala balap motor tua yang sudah agak kusam namun terawat. Dan yang paling mengejutkan, ada sebuah jaket kulit hitam yang digantung di manekin.
Syra mendekati jaket itu. Ia mengenali logonya. The Black Hawk. Itu geng motor legendaris yang dulu sangat ditakuti di Jawa Timur sebelum menghilang sepuluh tahun lalu.
"Suka dengan apa yang kamu temukan, Mbak Syra?"
Syra meloncat kaget, hampir menabrak motor BMW itu. Arkanza berdiri di ambang pintu. Ia masih memakai sarung, tapi kancing atas bajunya terbuka, dan di tangannya ia memegang sebuah kunci pas dan kain lap yang terkena noda oli.
"Lo... Arkanza Farras Zavian... lo mantan anggota Black Hawk?" Syra menunjuk jaket itu dengan tangan gemetar. "Piala-piala ini... lo pembalap?"
Arkan menutup pintu jati itu dengan tenang, menguncinya dari dalam. Ia berjalan mendekati Syra, membuat ruangan itu terasa semakin sempit. Bau oli dan parfum kayu cendana dari tubuh Arkan bercampur, menciptakan aroma yang memabukkan sekaligus berbahaya.
"Ada alasan kenapa saya selalu menyuruh Anda diam di pesantren ini, Syra," bisik Arkan, suaranya kini terdengar lebih maskulin dan dalam. "Setiap orang punya masa lalu yang ingin mereka kubur dalam-dalam di bawah tumpukan kitab. Di luar sana, saya adalah Gus. Di sini... saya hanyalah seorang pria yang merindukan aspal."
Syra menatap Arkan dengan pandangan baru. "Jadi lo bukan ustadz kaku yang cuma tau dalil? Lo... lo juga 'barbar'?"
Arkan tersenyum miring—sebuah senyum yang sangat jauh dari kesan saleh, senyum yang menunjukkan sisi gelap yang selama ini ia sembunyikan dengan rapi. "Dunia tidak akan pernah siap melihat ustadznya balapan di lintasan, Syra. Sama seperti mereka tidak akan siap melihat seorang gadis seperti Anda menjadi istri saya... kecuali jika saya sendiri yang melatih Anda untuk bertahan."
Syra terpaku. Untuk pertama kalinya, ia merasa Arkan tidak lagi berada di planet yang berbeda darinya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...