NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu susu / Mantan
Popularitas:66.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Antara Rindu Dan Luka

     ​Malam semakin larut dan sunyi. Saliha baru saja selesai menidurkan Kaffara, ia menepuk lembut paha Kaffara, memastikan bayi itu benar-benar tenggelam dalam mimpi di kamarnya.

     Suasana remang-remang kamar Daviko selalu memberikan aura yang berbeda, aroma maskulin sang pemilik rumah dan kehangatan bayi yang menenangkan, berbaur.

     ​Saliha bangkit dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Namun, saat ia baru saja membalikkan badan hendak menuju pintu, sebuah lengan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari arah belakang.

     ​Saliha tersentak hebat. Jantungnya serasa terlepas dari tempatnya.

​"Pak... lepas," bisik Saliha dengan suara gemetar, matanya melirik cemas ke arah Kaffara yang baru saja terlelap. "Nanti Kaffara terbangun."

     ​Daviko tidak bergeming. Ia justru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Saliha yang jenjang, menghirup aroma tubuh wanita itu yang selalu membuatnya candu. Pelukan itu begitu posesif, seolah-olah Daviko sedang berusaha menyatukan kembali kepingan-kepingan jiwanya yang hilang melalui tubuh Saliha.

     ​"Sebentar saja, Saliha... Biarkan seperti ini," gumam Daviko dengan suara yang begitu parau.

​Tanpa memberikan kesempatan bagi Saliha untuk memprotes, Daviko memutar tubuh wanita itu. Dengan gerakan yang cepat dan penuh dominasi, ia kembali menyeret Saliha ke sudut dinding kamar, mengurungnya dalam dekapan yang membuat Saliha tidak bisa bernapas lega.

     ​Tatapan mata Daviko malam ini terasa berbeda, lebih gelap, lebih menuntut, dan penuh dengan hasrat untuk memiliki kembali apa yang pernah ia buang. Daviko perlahan mendekatkan wajahnya. Jarak di antara mereka terkikis habis hingga ujung hidung mereka bersentuhan.

     Saat Daviko hendak mendaratkan ciuman yang sarat akan kerinduan itu, Saliha secara refleks memejamkan mata erat-erat. Bulu matanya yang lentik basah oleh air mata yang tiba-tiba mengalir deras.

     ​Melihat air mata itu, Daviko seolah tersengat listrik. Ia tertegun. Penolakan Saliha bukan berupa kata-kata kasar, melainkan melalui tangis yang begitu menyayat hati.

     Daviko perlahan melepaskan cengkeramannya, merasa sangat bersalah karena telah melampaui batas kewarasan.

     ​"Maaf...." bisik Daviko, suaranya bergetar karena rasa sesal yang teramat dalam.

     ​Saliha segera menghapus air matanya dan melangkah cepat hendak keluar dari kamar itu. Ia ingin lari sejauh mungkin dari rasa sesak ini. Namun, baru dua langkah ia menjauh, Daviko kembali bergerak secepat kilat. Ia meraih pinggang Saliha dari belakang dan memeluknya lebih erat dari sebelumnya.

     ​"Jangan menolak, aku mohon... Jangan berontak," rintih Daviko di balik punggung Saliha. "Aku hanya ingin melepas semua beban ini dengan memelukmu. Hanya ini, Saliha."

     ​Saliha terdiam. Perlawanannya seolah menguap begitu saja saat merasakan tubuh Daviko yang gemetar hebat di belakangnya. Di bawah cahaya lampu tidur yang kekuningan, dinding-dinding kamar itu seolah menghilang, menyisakan mereka berdua dalam dimensi waktu yang berbeda.

     ​Tanpa sadar, tangan Saliha yang tadinya mencoba melepaskan diri, perlahan bergerak menyentuh lengan Daviko yang melingkar di perutnya. Ia berbalik dalam pelukan itu, dan entah kekuatan apa yang merasuki jiwanya, Saliha membalas pelukan Daviko dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu, mendengarkan detak jantung Daviko yang berpacu kencang, sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.

     ​Masa lalu seolah ditarik kembali ke permukaan. Kenangan saat mereka masih saling memuji di bawah langit sore, saat Daviko berjanji akan menjadi garda terdepan pelindungnya, mendadak terasa begitu nyata.

     Saliha bisa merasakan kehangatan yang sama, aroma yang sama, dan rasa aman yang sama yang pernah ia rindukan selama empat tahun ini.

     ​"Aku mencintaimu, Saliha... Aku masih sangat mencintaimu," bisik Daviko tepat di telinga Saliha. "Maafkan aku atas segala sumpah serapahku dulu. Maafkan kebodohanku yang membiarkan amarah menghancurkan kita. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu menderita."

     ​Saliha terbuai. Ia terhanyut dalam kata-kata manis yang selama ini ingin ia dengar. Namun, sekelebat bayangan tentang penghinaan Bu Ratna dan bagaimana Daviko membiarkannya pergi dulu tiba-tiba menyambar pikirannya seperti petir.

     ​Saliha tersadar. Ia tiba-tiba berontak dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Lepas, Pak! Ini salah!"

     ​"Tidak, Saliha! Tidak ada yang salah dengan mencintai milik kita sendiri!" Daviko menolak melepaskan, ia justru memperkuat pelukannya, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, Saliha akan menghilang selamanya.

     ​"LEPASKAN SAYA, PAK!" jerit Saliha tertahan.

​Suara pekikan Saliha yang penuh emosi itu seketika memecah kesunyian. Dan benar saja, di atas ranjang bayinya, Kaffara tersentak bangun. Tangisan bayi itu pecah, melengking keras karena kaget mendengar keributan di sekitarnya.

     ​Daviko seketika melepaskan pelukannya. Saliha dengan napas tersenggal-senggal segera berlari menuju ranjang bayi. Ia menggendong Kaffara, mencoba menenangkannya dengan mendekapnya erat.

     ​"Sudah, Sayang... Ibu di sini," bisik Saliha dengan air mata yang masih mengalir. Ia kemudian menoleh ke arah Daviko dengan tatapan kecewa. "Saya akan membawa Kaffara ke bawah. Dia tidak akan tenang di sini."

     ​Saliha hendak melangkah keluar, namun suara Daviko terdengar sangat tegas dan dingin, menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu.

     ​"Jangan pergi! Susui Kaffara di sini!" titah Daviko.

     ​"Tapi, Pak...."

​"Tidak ada bantahan, Saliha! Baringlah di ranjang ini. Tidurkan Kaffara di sini. Aku tidak mau kamu turun-naik tangga malam-malam begini dalam keadaan emosi. Berbahaya untukmu dan Kaffara," tekan Daviko dengan nada perwira yang tak bisa diganggu gugat.

     ​Saliha terpaku. Ia melihat ketegasan di mata Daviko yang tidak memberikan ruang untuk tawar-menawar. Dengan tangan gemetar, Saliha akhirnya melangkah menuju ranjang besar milik Daviko. Ia merebahkan dirinya di sisi kiri, menyusui Kaffara yang masih sesenggukan.

     ​Daviko menghela napas panjang, ia memutari ranjang dan merebahkan tubuhnya di sisi kanan. Di tengah mereka, ada Kaffara yang perlahan mulai tenang karena asupan ASI dari ibunya.

     ​Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan itu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka tidur di atas ranjang yang sama. Hanya ada jarak sejengkal di antara mereka, dipisahkan oleh malaikat kecil yang kini sudah kembali terlelap.

     ​Saliha memunggungi Daviko, setelah ia menyusui Kaffara dan bayi itu tidur. Matanya menatap kosong ke arah kegelapan kamar, sementara hatinya masih berperang hebat. Ia merasa berdosa sekaligus merasa... utuh.

     Berada di dekat Daviko memberikan rasa hangat yang tidak bisa ia pungkiri, namun ia juga merasa takut bahwa semua ini hanyalah jebakan rasa bersalah Daviko semata.

     ​Tanpa ia sadari, rasa lelah yang luar biasa setelah gejolak emosi tadi mulai menjemput kesadarannya. Saliha perlahan menutup mata.

     Sementara Daviko, menatap punggung Saliha dengan tatapan sendu. Ia mengulurkan tangannya, mengelus rambut Kaffara sebentar, lalu dengan sangat pelan ia menyentuh ujung rambut Saliha.

     ​"Aku akan menjagamu kali ini, Saliha. Dengan nyawaku sekalipun," batin Daviko.

     ​Malam itu, di bawah rembulan yang mengintip dari balik tirai, mereka akhirnya tertidur bersama. Sebuah pemandangan yang layaknya sepasang keluarga bahagia, meski di dalamnya tersimpan luka dan rahasia yang masih harus diselesaikan.

     Saliha tertidur dalam pelukan dingin sebuah kenyataan, sementara Daviko tertidur dalam janji yang ia buat untuk menebus dosanya di masa lalu.

1
cecla9
sukaaa
Nasir: Mksh banyak Kak.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Berbahagialah Saliha..❤️
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Nasir: Nanti agak siang ya Kak. Kmrn bentrok sama kesibukan di rumah. Maaf ya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Anonymous
greget dengan alur yang mendayu-dayu..... bagus bgttttt.....lain dari yang lain.semangat thorrrr..... sekuelnya sampai Kafarra married ya
Nasir: Iya Insya Allah ya Kak... doakan idenya lancar..... 😄😄🙏🙏
total 1 replies
Eva Tigan
Habis ini Kapten Daviko pasti candu sama tubuh istrinya..ternyata Pak Kapten yg bekas..kal9 Saliha masih perawan..menang banyak kan Pak Kapten😄
Nasir: Banyak bgt dia Kak. Belum lagi pernah berpikir hasutan Huda. Dia memang kayak dpt durian runtuh dpt Saliha.
total 1 replies
Ai Oncom
jangan tamat dulu ya kak.. ceritanya lanjut sampe Saliha punya anak..🙏🤭
Nasir: Wkwkwkw.... takut bosan. Doakan sy idenya byk ya... 🙏🙏
total 3 replies
Eva Tigan
Eeehhh...malah tidur..aku kira ada malam pertama yg indah dan berbunga bunga🥰
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Eva Tigan: okey👍🙏
total 2 replies
Arin
Akhirnya sah......
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭
cecla9: mantan mertua Dan mantan ipar Di undang Kan ...wajib biar pingsan wkwkwkwkw
total 3 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah..❤️
Siti Maimunah
yaa sakit hati lah,di sumpahin emg lw.siapa viko???!!! TUHAN??!!!
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Arin
Sebelum sampai hari H.... perlu diamankan dulu tuh mantan mertua sama mantan adik ipar biar tak mengacaukan pernikahan
Ariany Sudjana
memang seperti itu peraturan menikah dengan anggota TNI, saya tahu, karena saya juga anak anggota TNI
Nasir: Iya Kak.... 🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Farid Atallah
doubel up dong Thor 😥
Ariany Sudjana
dasar jalang murahan ga tau diri kalian berdua itu, harus dibinasakan
Nasir: Setuju Kak...
total 1 replies
Arin
Kan mana pernah jera mereka..... Sebelum mereka mendapat kan apa yang mereka ingin kan. Yaitu Tari harus bersanding dengan Daviko. Menggantikan Amara sebagai ibu sambung Kaffara
Eva Tigan
saatnya berbahagia..sudah cukup drama sedih dan luka nya selama ini
Nur Haswina
penantian 2 bulan serasa 2 tahun lama dan pasti banyak rintangannya, semoga saja mbak author tdk kasih rintangan yg menguras tenaga
Nur Haswina: masih slalu menunggu bab selanjutnya thor
total 2 replies
Arin
Jangan sampai menjelang pernikahan ada gangguan dari si Nenek Sihir dengan anaknya datang mengacau. Karena kurang setuju Daviko menikahi Saliha. Karena yang merasa berhak bersanding dan pantas adalah adik dari Amara
Arin: Soalnya yang bikin rumah Daviko rame selain tangisan Kaffara, ya itu si Ibu Ratna😁😁😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!