Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 - All of Me ++
Aku masih duduk diam di sofa, memandangi bayangan lampu yang menari di permukaan meja. Suara detik jam terasa lebih nyaring dari biasanya. Satu-satunya yang terdengar hanyalah napasku sendiri—pelan, berat, dan sesekali tersengal karena sisa tangis.
Henry berdiri di dekat dapur, punggungnya menghadapku. Aku bisa mendengar suara air mengalir, gelas bersentuhan dengan meja, dan langkah kakinya yang tenang kembali mendekat.
“Aku ambilin minum, ya." katanya tadi.
Sekarang, ia duduk di sampingku sambil menyodorkan segelas air putih.
“Minumlah.”
Aku menerima gelas itu, menatap beningnya air seolah sedang melihat seluruh isi hatiku sendiri. Air itu tak mengobati perihku, tapi sedikit menenangkan tenggorokan yang kering karena terlalu lama menangis.
Henry tidak bicara. Ia hanya menatapku, tatapannya lembut tapi juga menyimpan kegelisahan. Dan entah kenapa, perhatian sekecil itu justru membuat dadaku semakin sesak. Aku ingin berhenti menahan semuanya.
Aku ingin berhenti berpura-pura bahwa hubungan kami bisa bertahan di balik dinding rahasia yang rapuh.
Aku meletakkan gelas di meja, lalu berbalik menghadapnya. “Kak…” panggilku pelan.
Ia menatapku, seolah menunggu. Aku tidak tahu dari mana datangnya keberanian itu—tapi aku tiba-tiba melingkarkan tangan ke lehernya.
“Lili, apa yang kamu lakukan?” suaranya bergetar, namun tidak menolak.
Aku tidak menjawab. Aku langsung menutup jarak di antara kami dan mencium bibirnya. Ciuman itu cepat, dalam, dan penuh rasa takut kehilangan. Seolah kalau aku berhenti, Henry akan hilang lagi dari hidupku.
Untuk sesaat, Henry terdiam. Tapi kemudian aku merasakan tangannya menyentuh punggungku—hangat dan ragu. Ia membalas ciumanku, perlahan namun pasti.
Waktu seperti berhenti. Yang tersisa hanya dua manusia yang tersesat di antara perasaan dan larangan.
Aku menariknya, dan kami terjatuh di sofa. Nafas kami terengah, tapi mata kami tetap saling terpaut.
Ciuman itu berhenti, digantikan hening yang menggantung di udara.
“Lili…” katanya pelan, nyaris seperti bisikan.
Aku menatapnya. “Kak, ayo kita lakukan lebih dari ini.”
Henry mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Lebih dari sekadar ciuman. Aku ingin kamu jadi milikku, Kak.”
Ia terdiam. Suaranya meninggi sedikit, bukan karena marah, tapi karena kaget. “Lili, aku nggak bisa ngelakuin itu.”
Aku duduk perlahan, menatapnya dengan mata yang mulai panas. “Kenapa, Kak?”
Henry menunduk. “Kita bukan suami istri. Aku nggak mau merusakmu.”
Aku menggenggam tangannya. “Nggak, Kak. Ini keinginanku sendiri. Aku ingin kamu jadi milikku. Aku ingin aku yang memilikimu lebih dulu sebelum Kak Ana.”
“Lili, tapi—”
“Kak,” potongku lirih. “Katanya Kamu mencintaiku.”
Hening. Hanya suara hujan di luar jendela yang menemaniku menunggu jawabannya. Air mata menetes tanpa suara, jatuh di punggung tangannya yang masih kugenggam.
“Aku cuma takut kehilanganmu,” bisikku nyaris tak terdengar. “Kalau besok aku bangun dan kamu nggak di sini lagi, aku nggak tahu harus gimana.”
Henry menatapku lama, lama sekali—seolah sedang membaca ketakutanku satu per satu. Lalu tangannya terangkat, mengusap pipiku perlahan. Sentuhan itu lembut, seperti angin yang menenangkan luka lama di dalam dada.
“Aku akan ada di sisimu sampai matahari terbit.” katanya pelan.
Aku mengangkat wajahku, menatapnya dengan mata yang masih basah. “Kak…”
Ia mendekat. Tatapan itu tak lagi ragu, hanya tersisa kasih yang menenangkan dan keputusan yang tak bisa dihindari.
Lalu bibirnya kembali menyentuh bibirku—kali ini lembut, lama, dan hangat. Di ruang tengah itu, waktu seolah berhenti. Ciuman kami semakin dalam, melenyapkan semua keraguan dan ketakutan yang selama ini menghantui. Aku merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku, membuatku lupa akan segala masalah dan kekhawatiran.
Tanpa melepaskan ciuman, Henry mengangkat tubuhku dengan hati-hati. Aku melingkarkan tanganku di lehernya, membalas ciumannya dengan penuh gairah. Pelukannya kuat namun lembut, seolah aku adalah sesuatu yang rapuh dan berharga—sesuatu yang harus dilindungi. Ia berjalan menuju kamar, langkahnya pelan, nyaris tanpa suara. Setiap langkahnya terasa begitu hati-hati, seolah takut merusak momen yang sedang kami bangun.
Dengan gerakan selembut sentuhannya, Henry membuka pintu kamar menggunakan kakinya, lalu menutupnya kembali di belakang kami. Suara pintu yang tertutup terasa seperti penanda—bahwa untuk sementara, dunia di luar tak lagi punya hak masuk ke ruang ini.
Cahaya samar dari ruang tengah menyelinap masuk, menciptakan bayangan di dinding. Bayangan itu bergerak pelan, seolah ikut menyaksikan kehangatan dan kegelisahan yang membara di antara kami. Masih dalam ciuman yang hangat dan mendesak, Henry membawaku ke tempat tidur. Detak jantungnya terasa cepat di dadaku, seirama dengan detak jantungku sendiri.
Ia merebahkanku di atas kasur dengan hati-hati, seolah aku adalah sesuatu yang rapuh, yang tak ingin ia sakiti. Ciuman kami terhenti, menyisakan napas yang memburu dan tatapan yang sarat perasaan. Henry menatapku lama—terlalu lama—seakan mencari kepastian terakhir.
“Lili… kamu yakin?” Suaranya pelan, hampir berbisik. Ada kekhawatiran tulus di sana.
Aku menarik napas dalam-dalam. Di matanya kulihat cinta, hasrat, dan ketakutan yang saling berkelindan.
“Iya,” jawabku mantap. “Aku mau kamu.”
Hening menyelimuti kami. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang penuh keputusan.
Henry membuka pakaiannya perlahan, memberi waktu agar aku benar-benar siap. Aku melakukan hal yang sama. Setiap helai kain yang terlepas terasa seperti melepas sisa-sisa keraguan.
Dalam cahaya remang, kami saling menatap—tanpa malu, tanpa topeng.
Ia mendekat, menyisakan ruang sejenak, memberiku pilihan. Dan aku memilih tetap di sana.
Bibirnya kembali menyentuh bibirku, lembut di awal lalu semakin dalam ketika aku membalasnya. Tanganku melingkar di lehernya, menariknya lebih dekat. Napas kami berbaur.
Ciumannya turun perlahan—ke rahangku, ke leherku—lalu semakin rendah. Saat bibirnya menyentuh puncak dadaku dengan lembut, tubuhku refleks melengkung tipis.
“Aah… Kak…” lirihku.
Sentuhannya tak tergesa. Ia seolah memastikan aku merasakan setiap gerakan, setiap jeda. Tangannya menyusuri sisi tubuhku dengan hati-hati, menenangkan sekaligus membangkitkan getaran yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Ketika akhirnya ia menyatukan kami, waktu terasa melambat.
“Aah…” suaraku terlepas, kali ini lebih berat.
Rasa asing itu datang tiba-tiba—perih yang tajam dan mengejutkan. Dahiku berkerut, jari-jariku mencengkeram sprei tanpa sadar.
“Ah!"
Henry langsung berhenti. Sepenuhnya. Seolah ia lebih memilih kehilangan momen ini daripada menyakitiku.
Wajahnya mendekat, matanya penuh cemas.
“Lili… haruskah aku berhenti?”
Aku menarik napas dalam-dalam. Rasa perih itu masih ada, tapi perlahan berubah menjadi kehangatan yang tak sepenuhnya ingin kuhindari. Aku membuka mata, menatapnya, lalu menggeleng pelan.
“Nggak,” bisikku. “Lanjutin aja. Aku cuma… butuh waktu.”
Ia mengangguk, menunggu. Memberiku kendali, memberiku rasa aman. Perlahan, ketegangan itu mereda. Rasa perih berganti menjadi sensasi lain—asing, tapi tidak sepenuhnya buruk. Aku meraih bahunya, memberi isyarat kecil bahwa aku siap melanjutkan.
Tanganku sedikit bergetar, tapi aku tidak menariknya kembali.
Aku memejamkan mata, mencoba mengatur napas. Di kepalaku, potongan adegan film yang pernah kutonton tiba-tiba muncul—adegan yang dulu hanya kulihat dari layar, tanpa pernah benar-benar kubayangkan akan kualami sendiri.
Bedanya, ini bukan film.
Ini nyata.
Dan aku ada di dalamnya.
Jadi begini rasanya, pikirku.
Bukan hanya tentang sentuhan, tapi tentang keberanian menyerahkan diri. Tentang rasa takut yang berjalan beriringan dengan keinginan untuk tidak mundur. Tubuhku masih menegang sesekali, ingin menutup diri, tapi kehangatan itu terus menyusup, membuatku bertahan.
Aku menggenggam bahunya—bukan untuk menghentikan, melainkan untuk meyakinkan diriku sendiri. Bahwa aku masih di sini. Bahwa ini pilihanku. Bahwa aku tidak sedang dipaksa oleh siapa pun, bahkan oleh perasaanku sendiri.
Di sela rasa yang masih terasa asing, ada kenikmatan yang pelan-pelan tumbuh. Belum sepenuhnya kupahami, tapi tidak ingin kutolak. Aku membiarkan tubuhku belajar, membiarkan diriku menerima pengalaman yang selama ini hanya berani kutonton dari balik layar.
Malam itu, kami melewati batas yang selama ini terasa mustahil. Kami menyatu dalam kehangatan dan keintiman, melupakan dunia luar yang mungkin menolak kami. Segalanya terasa lembut dan hati-hati, seolah kami sedang mengenal satu sama lain dengan cara yang sama sekali baru—lebih jujur, lebih dalam.
Waktu seperti berhenti. Aku tak tahu sudah jam berapa, dan aku tak peduli. Aku hanya ingin berhenti berpikir, berhenti takut, dan membiarkan diriku tenggelam dalam perasaan yang selama ini kutahan. Aku ingin percaya bahwa, meski dunia menentang kami, malam ini sepenuhnya milik kami.
Saat keheningan akhirnya kembali, rasa hangat yang tertinggal di dadaku terasa menenangkan. Aku merasa lebih dekat dengan Henry daripada sebelumnya. Ia menggenggam tanganku erat, seolah menyampaikan janji tanpa kata.
“Jangan pergi.” bisikku.
“Aku di sini.” jawabnya lembut.
“Kak… apakah untuk ini aku pertama buat kamu?” tanyaku pelan.
Henry menatapku lama, lalu tersenyum tipis. “Ya, kamu yang pertama.”
Senyumku mengembang, dan aku merasakan damai yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
“Akhirnya…” ucapku.
“Kenapa akhirnya?” tanya Henry.
“Karena akhirnya ada juga aku yang pertama buat kamu.”
Henry menarik napas panjang, menatapku penuh arti. “Sebelum ini pun, kamu udah pertama buat aku.”
Aku menatapnya, heran. “Dalam hal apa?”
“Cinta.” jawabnya mantap.
Aku menelan ludah, jantungku berdebar. “Cinta?”
“Iya. Kamu tahu kan aku waktu SMA nggak pernah pacaran?”
Aku mengangguk perlahan.
“Selain karena fokus belajar, nggak ada cewek yang menarik perhatianku. Begitu juga saat kuliah. Tapi begitu kembali ke sini, kamu yang menarik perhatianku. Kamu yang bikin aku nggak bisa berpaling lagi.”
Mataku berkaca-kaca. “Kak…”
“Kenapa?” tanyanya lembut.
“Kakak nggak suka sama Kak Ana?” tanyaku ragu.
Henry tersenyum hangat. “Nggak. Ana terlalu kaku dan ambisius. Aku menghargainya, tapi hatiku nggak pernah untuk dia.”
“Tapi Kak Ana cantik lho.” godaku.
“Kamu juga cantik.” jawab Henry, menatapku penuh arti.
“Ihh, apa sih… gombal.” gumamku sambil tersipu.
“Serius.” katanya, menekankan kata itu dengan mata yang tak berkedip.
Aku tertawa pelan, lalu membenamkan kepala di dadanya. “Udah ah, mending kita tidur aja.”
“Lili,” ucap Henry pelan, suaranya lebih hati-hati dari biasanya. “Kamu nggak nyesel udah ngelakuin itu tadi sama aku?”
Aku menggeleng. “Nggak. Aku nggak nyesel.”
Aku menatapnya lurus. “Aku memang pengin kamu jadi milikku. Jadi aku nggak merasa kehilangan apa pun.”
Henry terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Kamu tahu nggak,” katanya, “kamu karyawan pertamaku yang berani ngajak aku sejauh itu.”
Aku terkekeh kecil. “Itu karena kamu.”
Aku menyentuh lengannya pelan. “Kalau bosku bukan kamu, aku nggak mungkin ngelakuin itu. Rugi dong aku.”
Henry menaikkan alis. “Jadi kalau sama aku kamu nggak rugi?”
“Nggak,” jawabku mantap. “Karena kamu punya perasaan yang sama kayak aku.”
Tatapan Henry melembut. Ia menarik napas pelan sebelum berbicara lagi.
“Makasih ya… udah percaya sama aku. Aku tahu nggak gampang menyerahkan sesuatu yang selama ini kamu jaga.”
Aku tersenyum tipis. “Kalau buat kamu… rasanya jadi mudah.”
Henry tertawa kecil. “Kamu ini bener-bener.”
Ia menggeleng pelan. “Haruskah aku naikin gaji kamu?”
“Nggak usah.” Aku langsung menjawab. “Aku nggak butuh uang. Yang aku butuhkan cuma kamu.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Henry memelukku erat. Pelukannya hangat, menenangkan.
“Aku janji,” bisiknya. “Kamu nggak akan rugi sama aku. Aku akan selalu di sisimu, sampai kapan pun.”
“Iya.” jawabku pelan, sambil membalas pelukannya.
Malam itu, tanpa banyak janji berlebihan, kami saling memilih.
Henry menjadi milikku—dan aku pun menjadi miliknya.
Kami telah berbagi bukan hanya cinta dan perasaan, tapi juga kepercayaan yang paling dalam—sebuah pengakuan tanpa kata, yang hanya bisa dimengerti oleh dua hati yang akhirnya berhenti bersembunyi.
Dalam keheningan malam, aku merasa seluruh duniaku melebur bersamanya. Tak ada lagi jarak, tak ada lagi keraguan.
Hanya kami, dalam kehangatan yang membuat waktu seakan berhenti.