Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: YANG TIDAK TERLIHAT
Chen Long berdiri di tengah kolam.
Bukan di tepi. Melainkan di tengah. Air perak mencapai lutut. Dingin. Namun dingin yang tidak menusuk. Dingin yang... menyambut.
Empat batu berbaris di tangannya. Hitam. Putih. Abu. Abu tua. Mereka tidak berdenyut lagi. Tidak gelisah. Hanya... ada. Seolah menunggu sesuatu. Sesuatu dari Chen Long.
"Kau belum memberi nama," suara perempuan berjubab hijau datang dari tepi. Ia tidak pernah masuk ke kolam. Seolah air itu menolaknya. Atau ia menolak air.
"Nama untuk apa?" tanya Chen Long.
"Untuk mereka. Untuk batu." Perempuan itu duduk di tanah. Jubahnya menyebar. Menyatu dengan daun-daun kering. "Sesuatu yang kau kenal dengan nama, kau bisa panggil. Sesuatu yang kau panggil, kau bisa minta tolong."
Chen Long menatap empat batu di tangannya. Ia belum pernah memikirkan nama. Bagi mereka adalah giok hitam. Giok putih. Batu abu. Batu abu tua. Benda. Alat. Kunci.
Namun kini, setelah berhari-hari bersama, setelah merasakan denyut mereka, setelah hampir menjadi mereka ia tahu. Mereka bukan benda.
"Mereka bukan milikku," kata Chen Long. "Aku tidak bisa memberi nama pada sesuatu yang bukan milikku."
Perempuan itu tersenyum. Bukan gembira. Melainkan... setuju. "Benar. Mereka bukan milikmu. Namun kau bisa meminta. Memohon. Menunggu mereka memberi."
Chen Long diam. Menatap giok hitam. Yang paling dingin. Yang paling tua. Yang paling... menarik.
"Kau," bisiknya. Bukan memerintah. Melainkan bertanya. "Siapa kau?"
Giok hitam berdenyut. Sekali. Lembut. Seolah tertawa. Atau seolah menangis. Chen Long tidak tahu. Namun ia merasakan. Sesuatu yang sangat tua. Sangat dalam. Sesuatu yang datang dari tempat di mana cahaya tidak pernah menyentuh.
"(Yin,)" bisik Chen Long. Bukan nama yang ia beri. Melainkan nama yang ia dengar. "Kau adalah Yin. Bukan Yin murni. Bukan Yin sempurna. Hanya... Yin yang menunggu. Yang mengingat."
Giok hitam berdenyut lagi. Kali ini, lebih lama. Lebih hangat. Seolah... mengakui.
Chen Long menatap giok putih. Yang paling tenang. Yang paling stabil. Yang paling... mengenalnya.
"Dan kau," katanya. "Kau adalah Yang. Bukan Yang murni. Bukan Yang liar. Hanya... Yang yang menahan. Yang melindungi."
Giok putih tidak berdenyut. Hanya... bersinar. Sangat lemah. Sangat samar. Seolah cahaya bulan di siang hari.
Batu abu berdenyut sendiri. Sebelum Chen Long bertanya. Seolah tidak sabar. Seolah ingin dikenal. Seolah ingin... menjadi bagian.
"Kau," Chen Long menatapnya. "Kau adalah Jembatan. Yang menghubungkan. Yang mencari. Yang belum tahu ke mana pergi, namun tahu harus pergi."
Batu abu bergetar. Bukan berdenyut. Bergetar. Seolah gembira. Seolah akhirnya. Akhirnya ada yang mengerti.
Dan batu abu tua. Yang paling tua. Yang paling padat. Yang paling... diam.
Chen Long menatapnya lama. Sangat lama. Seolah menatap ke dalam waktu. Ke masa lalu yang tidak pernah ia alami. Ke masa depan yang belum pasti.
"Kau," bisiknya. Sangat lemah. Sangat takut. "Kau adalah... yang dulu. Yang pernah menjadi sesuatu yang lain. Yang memilih menjadi batu. Untuk menunggu. Untuk mengingat. Untuk... menjadi contoh."
Batu abu tua tidak bergerak. Tidak berdenyut. Tidak bersinar.
Namun Chen Long merasakannya. Pengakuan. Bukan dari batu. Melainkan dari sesuatu yang masih ada di dalam batu. Sesuatu yang menunggu. Sesuatu yang mengingat. Sesuatu yang... berharap.
Malam itu, sesuatu berubah.
Chen Long duduk di tepi kolam. Empat batu di depannya. Bukan berbaris. Melainkan berputar. Lambat. Sangat lambat. Seolah empat planet dengan orbit masing-masing.
Yin. Yang. Jembatan. Yang Dulu.
Mereka tidak bertemu. Tidak menyentuh. Hanya... berputar. Di sekitar pusat yang kosong. Di sekitar Chen Long yang duduk di tengah. Menatap. Merasakan. Menjadi...
Tidak ada kata untuknya.
Bukan kunci. Bukan pintu. Bukan domain. Hanya... kehadiran. Kehadiran yang tidak mengganggu. Yang tidak memaksa. Yang hanya... ada.
Dan di tempat kedua, di kekosongan yang masih ia akses saat meditasi dalam, sesosok itu merasakan sesuatu. Bukan Chen Long. Bukan getarannya. Melainkan... kekosongan. Kekosongan di tempat di mana seharusnya ada target.
"Menyembunyikan?" bisik sesosok itu. Bukan marah. Melainkan... tertarik. "Bukan. Bukan menyembunyikan. Melainkan... menjadi tidak terlihat. Dengan cara yang berbeda."
Ia tersenyum. Di tempat yang tidak punya wajah, senyum itu adalah getaran. Getaran yang menyenangkan. "Bagus. Aku bosan mengejar yang mudah. Aku bosan memakan yang tidak melawan. Kau, anak Utara... kau membuat ini menarik."
Chen Long membuka mata.
Bukan karena merasa sesosok itu. Melainkan karena empat batu di depannya berhenti berputar. Berhenti di posisi yang salah.
Yin di utara. Yang di selatan. Jembatan di timur. Yang Dulu di barat.
Bukan posisi yang ia atur. Melainkan posisi yang mereka pilih. Posisi yang... benar.
Dan di tengah, di tempat kosong di mana seharusnya tidak ada apa-apa, Chen Long merasakan sesuatu. Sebuah titik. Sangat kecil. Sangat padat. Seolah ada sesuatu yang baru lahir. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.
Bukan Yin. Bukan Yang. Bukan keduanya. Bukan bukan keduanya.
Hanya... titik.
Titik di mana empat arah bertemu. Di mana empat batu berbicara. Di mana Chen Long, untuk pertama kalinya, bukan lagi yang menahan. Bukan lagi yang menunggu.
Melainkan yang... menjadi.
Perempuan berjubab hijau berdiri di tepi hutan. Menatap. Tidak terkejut. Hanya... mengakui. "Kau menemukan. Pusat. Mata badai."
Chen Long tidak menjawab. Ia masih menatap titik itu. Titik yang hanya ia rasakan. Yang tidak bisa dilihat, tidak bisa disentuh, tidak bisa... dijelaskan.
"Apa ini?" tanyanya akhirnya.
"Kau," kata perempuan itu. "Yang sebenarnya. Yang bukan Yin. Yang bukan Yang. Yang bukan keduanya. Yang bukan bukan keduanya." Ia berhenti. Mencari kata. "Yang hanya... bisa menjadi. Ketika kau berhenti memilih. Ketika kau berhenti menahan. Ketika kau berhenti... menjadi Chen Long."
Chen Long menatapnya. Bingung. Namun tidak takut. "Lalu siapa aku?"
Perempuan itu tersenyum. Kali ini, ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang sangat tua. Sangat lelah. Sangat... iri. "Kau adalah Yang tidak pernah kucapai. Yang tidak pernah kupilih. Yang kutakutkan."
Ia berbalik. Menghilang ke hutan. Sebelum Chen Long bisa bertanya lebih.
Namun suaranya masih terbawa angin. Lemah. Samar. Namun jelas.
"Jaga titik itu, anak Utara. Jaga dengan hidupmu. Karena sesosok di langit yang kau takuti, yang kau hindari ia juga mencari titik itu. Di dalam dirimu. Dan jika ia menemukan sebelum kau siap..."
Ia berhenti. Atau angin berhenti membawa.
Chen Long duduk sendiri di tepi kolam. Empat batu di depannya. Satu titik di dalamnya.
Di atas, bulan merah masih ada. Masih menunggu. Masih... lapar.
Namun di sini, di bawah kanopi hutan, di tempat di mana langit buta Chen Long memiliki sesuatu yang tidak bisa dilihat. Sesuatu yang tidak bisa diambil. Sesuatu yang hanya bisa... menjadi.
Dan untuk pertama kalinya sejak lahir, sejak mengetahui ia berbeda, sejak berlari dari satu tempat ke tempat lain ia merasa...
Tidak sendiri.
Empat batu di depannya. Satu titik di dalamnya. Dan sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum bernama. Sesuatu yang bergetar di frekuensi yang sama dengannya.
Bukan teman. Bukan musuh. Bukan guru. Bukan murid.
Hanya... Yang juga menjadi.
Di kejauhan, di arah yang tidak ia tahu, di tempat yang tidak ia kenal sesosok lain membuka mata. Bukan sesosok di langit. Melainkan sesosok di tanah. Di Wilayah Barat. Di tempat yang lebih dalam dari hutan ini.
Sesosok yang juga mencari. Juga menunggu. Juga... mengingat.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang terlalu panjang untuk dihitung, sesosok itu merasakan sesuatu. Bukan getaran Chen Long. Bukan empat batu. Melainkan... titik.
Titik yang baru lahir. Titik yang belum sempurna. Titik yang... berbahaya.
"Akhirnya," bisik sesosok itu. Suaranya seperti batu yang bergesek. Seperti akar yang tumbuh. Seperti... sesuatu yang sangat tua, sangat padat, sangat... hidup. "Yang keempat mulai bergerak."
...BERSAMBUNG ...
...****************...