Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 DUA BATU BERBICARA
Fajar di ibu kota Yin tidak pernah benar-benar cerah. Chen Long berdiri di halaman belakang penginapan, menatap sepuluh batu yang tersebar dalam pola spiral. Di cahaya pagi yang kelabu, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia sadari pola ini mengikuti jejak jaringan getaran di bawah tanah. Batu-batu itu bukan lagi alat latihan. Mereka adalah node. Titik kecil dalam sesuatu yang lebih besar.
Ia berlutuh, menempatkan telapak tangan di batu terdekat. Dingin. Stabil. Namun di balik permukaan, ada getaran yang sangat halus. Seolah jaringan di bawah mengakui kehadirannya, seolah mengatakan: Kau mulai mengerti.
"Pangeran."
Xiao Feng berdiri di ambang pintu, batu giok hitam di tangan, mata berkantung gelap. Anak itu tidak tidur nyenyak sejak malam di gua kolam. Namun yang Chen Long rasakan dari getarannya bukan ketakutan. Melainkan harap. Harap yang berbahaya.
"Hari ini," kata Chen Long, berdiri, "kau belajar sesuatu yang berbeda."
"Berdiri di batu lagi?"
"Bukan." Chen Long mengambil batu giok dari tangan anak itu, membiarkannya berdenyut sekali, lalu mengembalikannya. "Berjalan. Di antara batu. Dengan mata tertutup."
Xiao Feng membelalak. "Tertutup? Tapi aku akan..."
"Jatuh. Ya." Chen Long berdiri di tengah spiral. "Itu bagiannya."
Ia melangkah ke anak itu, berhenti satu langkah di depannya. "Tutup mata."
Xiao Feng menelan ludah. Tangannya gemetar saat mengangkat batu giok ke dada, seolah batu itu akan melindunginya. Lalu, perlahan, ia menutup mata.
"Langkah pertama. Batu di depanmu. Tiga langkah."
Xiao Feng melangkah. Satu. Dua. Tiga. Kakinya menapak tanah, bukan batu. Ia mengernyit. "Ini bukan..."
"Batu berikutnya. Lima langkah ke kiri. Melengkung."
Xiao Feng mencoba. Berputar, melangkah, dan terhuyung. Jatuh ke tanah, lutut terbentur. Rasa sakit tajam namun tidak melumpuhkan.
"Bangun."
Xiao Feng bangun. Debu di pakaian, goresan di lutut. Ia menutup mata lagi, lebih erat. "Lagi?"
"Lagi."
Satu jam berlalu. Xiao Feng terjatuh tujuh kali. Delapan. Lututnya memar, tangannya lecet. Namun sesuatu berubah. Caranya jatuh menjadi lebih terkontrol. Tubuhnya mulai belajar, tanpa perintah pikiran, cara menyalurkan dampak, cara bangun lebih cepat.
Di jatuh yang kesepuluh, sesuatu terjadi.
Xiao Feng berjalan empat langkah, lima, enam mencari batu yang Chen Long sebutkan. Namun ia tidak menemukannya. Karena batu itu tidak ada. Chen Long tidak meletakkannya di sana. Namun tangan Xiao Feng, yang terentang di depan, menyentuh sesuatu. Batu. Kecil. Abu-abu kusam, hampir menyatu dengan tanah. Batu yang seharusnya tidak ada.
Anak itu membuka mata. "Batu ini... ia tidak menolak ku. Tidak seperti yang lain."
Chen Long mendekat. Ia telah melihat batu ini berkali-kali, namun tidak pernah benar-benar melihat. Di matanya yang bisa membaca resonansi, batu ini berbeda. Bukan Yin murni. Bukan Yang liar. Melainkan kosong. Namun bukan hampa. Kekosongan yang penuh. Wadah yang telah menunggu untuk diisi.
"Karena kau tidak mencoba menaklukkannya," kata Chen Long, suaranya lebih lembut. "Kau hanya... berada di sana."
Xiao Feng menatap batu itu, lalu menatap Chen Long. Matanya berbinar bukan kekaguman buta, melainkan pengakuan. Bahwa orang di depannya bukan guru yang tahu segalanya, melainkan sesama yang sedang mencari.
Chen Long berlutut di samping anak itu. "Kau punya sesuatu yang berbeda dariku. Aku menahan. Aku menekan. Tapi kau..." Ia berhenti, mencari kata. "Kau menerima. Kau membiarkan. Dan batu ini serta jaringan ini kini mengenali itu."
Sebelum Xiao Feng bisa menjawab, getaran berubah di udara. Sangat familiar. Sangat dingin. Sangat Yin. Chen Long berdiri, menoleh ke gerbang. Di sana, berdiri dengan pakaian latihan putih pucat, adalah Yin Sunxin.
Putri itu tidak langsung bicara. Ia melihat Xiao Feng yang berlutut di tanah, batu aneh di tangan. Ia melihat Chen Long yang berdiri di samping anak itu, posisi seperti sesama yang sedang belajar. Dan ia mengerti. Tanpa penjelasan, Sunxin mengerti.
"Kau mengajarkan ia sesuatu," kata Sunxin, suaranya tajam. "Sesuatu yang bahkan istana tidak punya nama."
Chen Long mengangguk. "Aku mengajarkan ia sesuatu yang bahkan aku tidak punya nama."
Sunxin melangkah mendekat, berhenti tiga langkah dari mereka. "Pria itu bergerak. Malam ini. Bukan besok."
Chen Long menegang. Dua arus di tubuhnya bergerak sedikit lebih cepat. Bukan ketakutan. Melainkan kesiapan. "Kau yakin?"
"Aku merasakannya." Sunxin mengangkat tangan kirinya. Untuk pertama kalinya, Chen Long melihat batu giok putih di telapaknya. "Ini berdenyut sejak subuh. Tidak stabil. Seolah menolak sesuatu yang mendekat."
Ia mengulurkan tangan, menawarkan batu giok putih. "Ambil. Untuk sementara. Kau punya waktu sampai matahari terbenam untuk mempersiapkan sesuatu."
Chen Long tidak langsung mengambil. "Mengapa kau membantu?"
"Bukan membantu." Sunxin tersenyum tipis. "Mengamati. Jika kau gagal, aku ingin tahu bagaimana caranya. Jika kau berhasil..." Ia berhenti, menatap Xiao Feng. "Mungkin aku akan belajar sesuatu yang istana tidak bisa ajarkan."
Chen Long mengambil batu giok putih. Dingin. Namun tidak menusuk. Melainkan menyatu. Di telapak tangannya, batu putih dan batu hitam yang Xiao Feng pegang berdenyut satu kali, bersamaan. Sinkron. Bukan karena Chen Long memaksa. Melainkan karena mereka mengenali satu sama lain. Yin dan Yang.
Sunxin berbalik, berjalan ke gerbang. Namun sebelum hilang, suaranya terdengar lagi, lebih lemah. "Tiga malam, Chen Long. Wanita itu memberimu tiga malam. Tapi dunia di atas ini... tidak akan menunggu sampai malam ketiga."
Chen Long berdiri di halaman, memegang dua batu giok putih di tangan kanan, hitam di tangan kiri Xiao Feng. Dua arus di tubuhnya berputar. Dan untuk pertama kalinya, batu-batu itu berdenyut bersama. Bukan respons terhadapnya. Melainkan dialog antara keduanya. Seolah mereka telah menunggu ratusan tahun untuk bertemu.
Xiao Feng berdiri perlahan, batu abu-abu aneh masih di tangannya. "Apa yang akan kau lakukan?"
Chen Long menatap langit yang mulai berawan. "Bukan mempersenjatai diri. Bukan belajar teknik baru. Melainkan..." Ia berhenti, merasakan getaran dari tanah, dari batu-batu, dari dua batu giok. "Memahami. Memahami jaringan. Memahami mu. Memahami diriku."
Di kejauhan, di balik dinding istana, sesosok berjubah putih melihat ke arah penginapan. Pria Yang murni memegang alat aneh di tangan batu roh yang dipadatkan, formasi kuno dari Raja Zhong, cukup kuat untuk memaksa jaringan terbuka meski setengah kunci. Ia tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya yang gelap.
"(Akhirnya)," bisiknya. "(Setengah lainnya mulai bergerak. Dan kali ini, ia tidak akan bisa mundur.)"
Di halaman, Chen Long menutup mata sejenak. Bukan untuk berlatih. Melainkan untuk merasakan. Dan di kegelapan di balik kelopak mata, ia melihat sesuatu kilasan dari jaringan, dari wanita di kolam, dari batu-batu yang bergetar. Seolah semuanya terhubung. Seolah semuanya menunggu. Seolah semuanya bertaruh pada keputusan yang akan ia buat dalam tiga malam yang tersisa.
Ia membuka mata. Fajar telah berlalu. Siang mendekat. Dan waktu, seperti biasa, tidak pernah berpihak pada mereka yang menunggu terlalu lama.
...BERSAMBUNG...
...****************...