Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iqra dan knalpot yang bungkam
Setelah insiden "Turban Bajak Laut" di meja makan, Gus Arkan ternyata tidak main-main dengan ucapannya tentang orientasi medan. Namun, yang tidak disangka Syra adalah "medan" yang dimaksud bukan berkeliling melihat kebun pesantren, melainkan duduk di atas ubin musala kecil bersama sepuluh anak laki-laki berusia enam tahun.
"Gus! Lo bercanda, kan?" Syra melotot, menunjuk kerumunan anak-anak kecil yang sedang asyik berebut reog (penunjuk mengaji). "Gue disuruh duduk bareng bocah-bocah ini?"
Arkanza Farras Zavian berdiri di ambang pintu musala dengan melipat tangan di dada. Ia mengenakan sarung tenun hitam dan koko putih yang sangat rapi. "Mereka lebih hebat dari Anda, Syra. Mereka sudah sampai jilid lima, sedangkan Anda? Membedakan Alif dan Lam saja sepertinya masih tertukar."
"Gue ini sarjana desain, Arkan! Gue bisa baca diagram rumit!" Syra protes, suaranya naik satu oktav.
"Tapi di sini, Anda buta huruf," jawab Arkan telak. Ia kemudian menoleh ke arah seorang pengurus. "Omar, tolong bawakan Iqra jilid satu untuk Mbak Syra. Cari yang gambarnya paling besar kalau perlu."
Omar Rizky Hafiz muncul dengan wajah menahan tawa yang sangat kentara. Ia menyodorkan buku Iqra tipis bersampul hitam itu seolah-olah sedang menyerahkan piala kemenangan. "Sabar ya, Mbak Syra. Ini namanya jihad menuntut ilmu. Anggap aja lagi latihan vokal."
Syra terpaksa duduk bersila—sesuatu yang membuat otot jeans ketatnya hampir protes. Di samping kanannya, seorang anak kecil bernama Ali menatap Syra dengan polos. "Kakak, kok rambutnya kayak es mambo cokelat? Di pesantren nggak boleh lho."
Syra menghela napas panjang, menatap Ali dengan tatapan 'barbar'-nya. "Dek, mending kamu fokus sama buku kamu sebelum Kakak sulap kamu jadi peci."
Ali langsung terdiam, tapi sedetik kemudian anak-anak itu malah tertawa.
Selama satu jam, Syra berjuang keras. Suaranya yang serak-serak basah harus mengeja "A-Ba-Ta" berulang kali di bawah pengawasan Arkan yang memperhatikan dari pojok musala. Arkan tidak bicara, tapi kehadirannya membuat Syra merasa terintimidasi sekaligus... entahlah, ada rasa ingin pamer bahwa dia bisa.
Sore harinya, Syra merasa otaknya mendidih. Ia butuh pelarian. Ia berjalan menuju parkiran motor, tempat motor sport kesayangannya terparkir di bawah pohon kamboja. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seseorang sedang berdiri di dekat motornya.
Itu Fariz Haidar. Pria itu entah bagaimana bisa melewati penjagaan pesantren. Fariz mengenakan jaket kulit dan kacamata hitam, tampak sangat asing di lingkungan hijau itu.
"Syra, lo beneran mau tinggal di tempat kolot ini?" Fariz tertawa sinis. "Lihat lo, pake kain di kepala—meski gue tau itu cuma gaya-gayaan. Balik ke Jakarta, Syra. Balapan minggu depan, taruhannya gede. Lo butuh duitnya buat bayar hutang bokap lo ke gue, kan?"
Syra mengepalkan tangan. "Fariz, gue udah bilang jangan ke sini! Ini urusan keluarga gue."
"Keluarga? Menjual lo ke ustadz kampung ini maksud lo?" Fariz melangkah maju, hendak menyentuh bahu Syra.
BRAK!
Sebuah buku kitab tebal mendarat di atas tangki motor Syra, tepat di antara tangan Fariz dan tubuh Syra.
Arkanza muncul dari balik bayangan asrama. Wajahnya tidak lagi tenang. Ada garis rahang yang mengeras dan sorot mata yang dingin—sebuah sisi "Alpha" yang jarang ia perlihatkan.
"Saya tidak ingat mengundang tamu tanpa izin hari ini," ucap Arkan, suaranya berat dan penuh penekanan.
"Oh, lo ustadz yang itu?" Fariz meremehkan. "Gue mantan Syra. Dan gue punya urusan yang nggak bakal bisa lo selesaiin pake doa."
Arkan melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Syra, melindunginya secara total. "Apapun urusan Syra di luar sana, sekarang dia ada di bawah perlindungan Al-Fathan. Dan di bawah perlindungan saya. Silakan keluar lewat gerbang depan secara baik-baik, atau saya panggil santri keamanan untuk mengawal Anda keluar... secara tidak baik-baik."
Fariz menatap Arkan dengan dendam, lalu beralih ke Syra. "Gue tunggu di Jakarta, Syra. Lo nggak bisa selamanya sembunyi di balik sarung dia."
Setelah Fariz pergi, suasana menjadi sunyi. Syra menunduk, memainkan kunci motornya. "Lo nggak perlu sok jadi pahlawan, Arkan. Dia bener, gue punya banyak masalah di Jakarta."
Arkan berbalik, menatap Syra. Ia mengambil kitabnya yang tadi dilempar. "Saya tidak sedang sok pahlawan. Saya sedang melakukan kewajiban saya. Dan soal hutang Ayahmu... itu juga bagian dari alasan kenapa kamu ada di sini."
Syra tertegun. "Maksud lo?"
"Nanti Anda akan tahu," Arkan mulai berjalan pergi, namun ia berhenti sejenak. "Dan satu lagi... tadi Ali bilang suara Anda saat baca Iqra lumayan bagus. Besok tingkatkan lagi. Jangan kalah sama anak TK."
Syra yang tadinya terharu langsung mendengus. "GUS ARKANZA! DASAR TUKANG EJEK!"
Di kejauhan, Nabila Khairina merekam kejadian itu dari balik jemuran santriwati. "Gila! Gus Arkan kalau lagi marah ternyata manly banget! Syra, lo dapet jackpot!"
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...