NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Menunggu Tanpa Kepastian

Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun Samira belum juga menyentuh makanannya. Piring di depannya masih utuh, uap tipis dari nasi dan sayur yang tadi ia masak dengan penuh harap kini hampir menghilang. Sejak sore, ia menunggu suaminya yang tak kunjung pulang. Samira sudah mengirim banyak pesan menanyakan apakah Samudra akan segera pulang karena ia telah menyiapkan makan malam.

Pesan-pesan sudah ia kirim berkali-kali.

Mas, pulang jam berapa?

Makan malam sudah siap.

Binar nunggu Papa.

Mas, lagi lembur, ya?

Tak satu pun berbalas.

Panggilan yang ia lakukan hanya berakhir pada nada dering panjang, lalu terputus tanpa jawaban.

“Papa ke mana, Mah? Kenapa belum pulang?” tanya Binar polos.

Saat itu Samira dan putrinya sudah duduk berhadapan di meja makan. Kursi di samping Binar, kursi yang biasa ditempati Samudra tetap kosong. Diam. Seolah tak pernah benar-benar menjadi milik siapa pun.

Akhirnya, dengan hati yang terasa berat, Samira menyuruh Binar makan lebih dulu.

Tatapan Samira mengikuti setiap gerakan kecil putrinya. Ada sesuatu yang tak mampu ia sembunyikan dari sorot matanya, rasa bersalah yang telah lama menetap. Pernikahan yang berawal dari sebuah kesalahan, tanpa cinta, membuat Samira selalu merasa gagal sebagai seorang ibu.

Tangannya terulur, mengambilkan lauk untuk Binar. Jemarinya lalu mengusap puncak kepala anak itu dengan lembut.

“Eemm… Papa masih kerja, sayang,” ucapnya pelan. “Sekarang Binar makan sama Mama dulu ya, Nak.”

Binar mengangguk, meski matanya sempat melirik kursi kosong di sampingnya.

Maafin Mama, Nak, batin Samira.

Mama sering bohong sama kamu. Tapi Mama cuma nggak mau kamu sedih.

Maafin Mama juga karena belum bisa jadi ibu yang benar-benar baik buat kamu.

Kalau suatu hari Mama menyerah… maafin Mama ya. Mungkin perjuangan Mama cukup sampai di sini.

Sendok di tangan Samira terhenti di udara. Dadanya mendadak sesak. Lima tahun. Lima tahun menjalani pernikahan seperti ini menunggu, berharap, lalu kembali kecewa. Berulang kali. Tanpa jeda.

Di luar sana, Samira tak tahu apa yang sedang dilakukan suaminya. Ia hanya tahu, menunggu Samudra pulang setiap malam rasanya seperti menunggu hatinya sendiri berhenti berharap.

•••••

Binar sudah menghabiskan makanannya. Anak itu turun dari kursi, menatap Samira dengan wajah polos yang selalu berhasil membuatnya bertahan sedikit lebih lama.

“Mah, Papa nanti pulang kan?”

Pertanyaan sederhana. Tapi cukup untuk melukai.

Samira tersenyum. Senyum yang ia latih setiap hari.

“Iya, Nak. Nanti juga pulang. Sekarang Bibi masuk ke kamar dulu ya, Nak. Nanti Mama susul Bibi ke kamar."

Binar mengangguk, lalu beranjak ke kamarnya. Langkah kecil itu menghilang di balik pintu, meninggalkan Samira sendirian di meja makan yang kini terasa terlalu besar dan terlalu sepi.

Samira menatap piring di hadapannya. Makanan itu sudah dingin sama seperti perasaannya yang perlahan mati rasa. Ia menarik napas panjang, lalu berdiri dan mulai membereskan meja. Kursi Samudra ia sentuh sebentar, seolah masih berharap kehangatan yang tak pernah benar-benar ada.

Jam dinding berdetak pelan.

Pukul sembilan.

Pukul sepuluh.

Tak ada suara pintu dibuka.

Tak ada langkah kaki.

Samira duduk di sofa, memeluk lututnya sendiri. Air mata akhirnya jatuh, satu per satu, tanpa isak. Tangisnya sudah terlalu lelah untuk bersuara.

“Mas…” bisiknya lirih. “Aku capek.”

Ia menutup mata. Bukan rasa marah yang memenuhi dadanya, melainkan kelelahan yang dalam. Kelelahan karena terus menjadi kuat sendirian. Kelelahan karena bertahan di pernikahan yang hanya menyisakan status, tanpa kehadiran.

Malam itu, Samira sadar.

Menunggu Samudra pulang bukan lagi soal cinta melainkan soal keberanian untuk mengakui bahwa ia sudah hampir menyerah.

Pikiran tentang pergi tidak lagi terasa menakutkan… melainkan terasa seperti satu-satunya cara untuk bernapas.

•••••

Samira pernah berpikir, seiring berjalannya waktu, keluarganya akan tumbuh menjadi keluarga yang hangat. Keluarga kecil yang sederhana, seperti keluarga Cemara yang sering ia lihat pada orang lain penuh tawa, penuh cerita, penuh kasih sayang.

Namun ternyata harapan itu keliru sejak awal.

Lima tahun pernikahan berlalu, dan yang Samira rasakan hanyalah sebuah keluarga kecil yang tampak bahagia di mata orang lain. Senyum yang ia pasang rapi setiap hari berhasil menipu banyak mata. Tak ada yang tahu bahwa di balik dinding rumah itu, dingin lebih sering hadir daripada hangat.

Tak ada tawa yang tumbuh dari cinta.

Tak ada kehangatan yang lahir dari kebersamaan.

Jika saja tidak ada Binar di antara mereka, mungkin Samira sudah lama menyerah. Bertahan bersama seseorang yang tak pernah benar-benar mencintainya adalah luka yang terus ia peluk sendirian tanpa saksi, tanpa pelukan balasan.

Namun di sisi lain, Samira sangat bersyukur. Kehadiran Binar adalah satu-satunya cahaya dalam keluarga kecil itu. Wajah polos putrinya, tawa kecil yang sesekali memenuhi rumah, selalu menjadi alasan Samira untuk kembali bertahan. Setidaknya… sampai hari ini.

Binar bukan hanya anak baginya.

Ia adalah penguat.

Penghibur.

Dan alasan Samira masih memilih bangun setiap pagi, meski hatinya rapuh dan lelah.

Samira menarik napas panjang, menatap wajah putrinya yang tertidur pulas. Jemarinya mengusap pipi kecil itu dengan penuh kasih.

Mungkin aku lemah karena bertahan terlalu lama, batinnya.

Tapi aku juga seorang ibu. Dan seorang ibu akan melakukan apa pun demi anaknya.

Aku tak mau anakku tumbuh tanpa perhatian dari kedua orang tuanya.

Namun pikiran itu tak lagi sekuat dulu.

Samira berdiri, melangkah ke ruang tamu untuk menunggu suaminya pulang. Lampu disana masih menyala, ia duduk disofa menatap seisi rumah yang terasa dingin.

“Mas…” bisiknya lirih. “Apa aku terlalu banyak berharap?”

Tak ada jawaban. Seperti biasa.

Ponselnya bergetar pelan. Bukan pesan dari Samudra. Hanya notifikasi.

Samira menatap layar itu lama. Ia tidak merasa ingin menangis yang ada hanya keheningan yang menekan dada, keheningan yang membuatnya bertanya pada dirinya sendiri, sampai kapan?

Ia mengangkat kakinya, memeluk bantal sofa. Dalam gelap, air mata jatuh tanpa suara.

Mungkin menjadi ibu bukan berarti harus selalu mengorbankan diri sampai hilang, pikirnya.

Mungkin anakku juga butuh ibu yang utuh… bukan ibu yang terus hancur pelan-pelan.

Samira tidak lagi berdoa agar suaminya cepat pulang. Ia justru berdoa agar diberi kekuatan apa pun bentuknya. Bertahan, atau melepaskan.

Dan jauh di lubuk hatinya, sebuah keputusan kecil mulai tumbuh. Belum berani ia ucapkan, belum berani ia akui. Tapi ia tahu, hari itu akan datang.

•••••

Tengah malam. Saat Samira masih setia menunggu suaminya, tepat pukul setengah dua belas malam, pintu rumah akhirnya terbuka. Samudra baru saja pulang.

Samira mendengar langkah kaki suaminya memasuki rumah. Wajah pria itu selalu terlihat dingin setiap hari. Namun Samira tahu, di balik raut datarnya, tersimpan kelelahan. Ia mencoba memahami. Mungkin Samudra baru saja menyelesaikan pekerjaan. Mungkin hari ini lembur lagi.

“Lembur ya, Mas?” tanya Samira lembut sambil menghampiri, tangannya terulur mengambil tas yang dibawa Samudra.

Samira memilih diam soal pesan-pesan yang tak pernah dibalas, juga panggilan yang hanya berakhir dengan nada dering. Bukan karena ia tak ingin bertanya, melainkan karena ia takut pada respons Samudra yang hampir selalu berujung luka.

Dulu, Samira pernah mencoba. Bertanya tentang kegiatannya, tentang makanan kesukaannya, tentang hal-hal kecil yang seharusnya sederhana dalam sebuah pernikahan. Namun yang ia dapatkan hanyalah jawaban singkat, nada dingin, atau bahkan keheningan yang menyakitkan.

“Iya,” jawab Samudra singkat.

“Udah makan belum? Kalau belum, aku tadi masak. Biar aku angetin lagi,” ucap Samira, masih dengan nada yang sama lembut, berhati-hati.

“Bisa diem nggak sih?” Samudra membalas kesal. “Aku baru pulang.”

Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung melangkah ke lantai atas.

Samira tertinggal di ruang tamu. Berdiri sendiri. Mematung.

Ia sudah terbiasa dengan sikap seperti itu. Terlalu sering, bahkan. Namun entah mengapa, setiap kali kejadian itu terulang, hatinya tetap saja terasa perih seolah luka lama disayat kembali.

Pandangan Samira jatuh ke meja makan. Hidangan yang sejak sore ia siapkan masih banyak tersisa. Hanya berkurang sedikit bagian Binar tadi. Makanan itu dingin. Tak tersentuh. Seperti pernikahannya: dingin, dan tak pernah benar-benar dinikmati.

Samira menghela napas. Berjalan ke arah meja makan. Tangannya gemetar saat mulai membereskan piring-piring.

Seberapa lama lagi aku harus begini? batinnya.

Mencintai seseorang yang bahkan tak ingin mendengarku bicara.

Langkahnya terhenti. Matanya berkaca-kaca. Samira menutup mulutnya, mencoba menahan suara. Namun air mata tetap jatuh, lalu tak terbendung.

Ia merosot duduk di kursi. Tubuhnya gemetar oleh isak yang terlalu lama ia pendam.

“Capek, Mas…” bisiknya lirih, entah pada siapa. “Aku capek mencintai kamu sendirian.”

Tangisnya semakin pecah. Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk mencintai dan berharap. Lima tahun juga bukan waktu yang singkat untuk bertahan pada keyakinan palsu bahwa suatu hari semuanya akan berubah.

Ia mengusap wajahnya kasar. Dadanya terasa sesak, seakan ada beban yang tak pernah benar-benar diletakkan.

Pikirannya melayang pada Binar.

Samira segera berdiri, melangkah ke kamar kecil putrinya kembali. Ia membuka pintu perlahan. Binar terlelap. Napasnya teratur. Wajah kecil itu begitu damai tak tahu apa-apa tentang luka orang tuanya.

Samira berjongkok di samping ranjang, menatap putrinya dengan mata basah. Tangisnya kali ini lebih pelan, lebih tertahan.

“Kalau bukan karena kamu…” suaranya bergetar. “Mama mungkin sudah menyerah dari dulu.”

Ia mengecup kening Binar dengan hati-hati. Lalu menekan telapak tangannya ke dada sendiri, seolah mencoba menenangkan jantungnya yang berdenyut terlalu cepat.

Mama bertahan karena kamu, batinnya.

Tapi Mama juga manusia, Nak.

Malam itu, Samira duduk lama di samping ranjang putrinya. Ia tidak hanya bertanya sampai kapan, tapi juga sampai di sini saja?

Di lantai atas, Samudra sedang membersihkan diri tanpa tahu atau mungkin tak pernah benar-benar ingin tahu bahwa di bawah atap yang sama, istrinya sedang runtuh pelan-pelan.

Dan di dalam hati Samira, sesuatu akhirnya bergeser.

Bukan kemarahan.

Bukan kebencian.

Melainkan kelelahan yang matang.

Kelelahan yang suatu hari akan berubah menjadi keputusan.

*****

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Fina Silaban Tio II
cerita luar biasa
Favmatcha_girl
akhirnya ya🥺
Favmatcha_girl
Betul itu😍
Favmatcha_girl
Biarin😝
Favmatcha_girl
Gak jadi kayaknya mah, anaknya lagi kecintaan🤭
Favmatcha_girl
Tumben amat🤭
Favmatcha_girl
Gampang ya nyuruh² orang😅
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!