NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fan Meeting

Sinar matahari pagi yang menembus jendela apartemen baru Takara seolah membawa energi baru. Meskipun kejadian malam tadi dengan Jake sempat menguras emosi, Takara tidak ingin hal itu merusak fokusnya. Hari ini adalah hari pertama eksekusi lapangan yang sesungguhnya. Ia harus membuktikan pada firma di Brisbane bahwa kepercayaan mereka tidak salah alamat.

Sambil menyiapkan berkas dan mengenakan sepatu bot kerjanya, ponsel Takara bergetar. Nama "Jake" muncul di layar.

📞 Takara: "Halo, Jake," ucap Takara sambil menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya, tangannya sibuk mengikat tali sepatu.

📞 Jake: "Dua hari lagi ada fan meeting sebelum konser di Seoul," suara Jake terdengar antusias, jauh lebih segar daripada semalam. Sepertinya dia baru saja selesai latihan pagi.

📞 Takara: "Lo mau gue datang, kan?" tanya Takara langsung, sudah bisa menebak arah pembicaraan sahabatnya itu.

📞 Jake: "Yes, of course! Gue udah pesenin slot khusus buat lo. Gue pengen lo ada di sana, liat gue di elemen gue yang sebenarnya."

Takara terdiam sejenak. Datang ke fan meeting sebagai "teman" adalah hal yang mustahil. Jika ia masuk lewat pintu belakang, risiko rumor akan kembali mencuat. Tapi jika ia tidak datang, ia tahu Jake akan kecewa berat.

📞 Takara: "Oke, gue bakal datang. Tapi... gue bakal datang sebagai penggemar juga. Gue bakal antre, pakai masker, dan duduk di barisan penonton. Nggak ada perlakuan khusus, Jake. Gue nggak mau manajer lo atau fans lo curiga."

📞 Jake: "Serius? Lo mau panas-panasan antre?" Jake tertawa kecil. "Tapi ya udah, asalkan lo ada di sana. Gue bakal cari sosok lo di antara ribuan orang. Deal?"

📞 Takara: "Deal. Sekarang gue harus kerja. Bye, Jake!"

Takara sampai di lokasi konstruksi agensi tepat waktu. Di sana, Arlo sudah berdiri dengan rompi kuningnya, sedang berdiskusi serius dengan mandor bangunan.

"Selamat pagi, Takara. Kamu kelihatan jauh lebih baik sekarang. Sakit perutnya sudah hilang?" tanya Arlo dengan nada perhatian saat melihat Takara mendekat.

"Pagi, Arlo. Iya, sudah jauh lebih baik. Makasih ya buat semalam," jawab Takara sedikit merasa bersalah karena telah membohongi Arlo.

Mereka pun mulai bekerja. Hari itu sangat produktif. Arlo terbukti sebagai mitra yang luar biasa. Ia mampu menerjemahkan visi artistik Takara ke dalam perhitungan teknis yang sangat akurat. Beberapa kali mereka harus berdebat soal kedalaman fondasi untuk kolam air, namun perdebatan itu selalu berakhir dengan solusi yang lebih baik.

"Aku suka cara kerjamu, Takara. Kamu tegas tapi tetap mau mendengar," puji Arlo di sela-sela istirahat makan siang mereka di lokasi.

"Dan aku butuh otakmu untuk memastikan gedung ini nggak roboh, Arlo," balas Takara sambil tertawa.

———

Dua hari berlalu dengan cepat. Hari fan meeting pun tiba. Takara tidak bercerita pada Arlo ke mana ia akan pergi. Ia memilih mengenakan pakaian yang sangat kasual: oversized hoodie, celana jeans, dan topi yang ditarik rendah. Tak lupa, masker medis menutupi sebagian besar wajahnya.

Saat ia sampai di lokasi acara, lautan penggemar sudah memenuhi area stadion. Spanduk bergambar wajah Jake dan member ENHYPEN lainnya bertebaran di mana-mana. Takara merasa aneh; di satu sisi ia sangat mengenal pria di spanduk itu sebagai anak Brisbane yang manja, namun di sisi lain ia tersadar betapa besarnya pengaruh Jake di Korea.

Ia mengikuti alur antrean, memegang tiketnya dengan erat. Jantungnya berdebar bukan karena ia merasa sebagai fans, tapi karena ia takut penyamarannya terbongkar atau ia akan melihat sisi Jake yang belum pernah ia lihat secara langsung di atas panggung sebesar ini.

Takara kini berada di tengah ribuan penggemar, siap menyaksikan Jake sebagai seorang bintang global.

Antrean bergerak perlahan, seiring dengan detak jantung Takara yang semakin kencang. Di atas panggung kecil yang didekorasi dengan lampu-lampu terang, ketujuh member ENHYPEN duduk berderet, memberikan senyum terbaik dan jabat tangan kepada para penggemar yang beruntung.

Kini giliran Takara.

Ia melangkah naik ke panggung dengan kepala sedikit tertunduk, merapatkan masker medis di wajahnya. Saat ia sampai di depan meja Jake, suasana mendadak terasa hening bagi mereka berdua, meski suara riuh penggemar dan musik latar tetap memenuhi ruangan.

Jake mendongak, bersiap memberikan sapaan standar untuk fans. Namun, saat matanya bertemu dengan sorot mata di balik topi itu, gerakan tangannya terhenti sejenak. Sorot mata yang tajam, familiar, dan selalu punya binar keras kepala yang sama, itu adalah Takara.

Jake tersenyum lebar, jenis senyum yang sedikit berbeda dari senyum formalnya tadi. Senyum yang mencapai matanya.

"Halo... terima kasih sudah datang," ucap Jake dengan nada suara yang lebih berat dan hangat. Ia menerima album yang disodorkan Takara untuk ditandatangani.

"Semangat ya buat konsernya," jawab Takara pendek, berusaha mengubah sedikit suaranya agar tidak terdengar terlalu mencolok oleh staf yang berdiri tepat di belakang mereka.

Tangan mereka bersentuhan sesaat saat Jake mengembalikan album itu. Jake sedikit menekan jemari Takara, sebuah kode kecil yang hanya mereka yang tahu. Ia ingin mengatakan banyak hal tentang betapa cantiknya Takara hari ini meski tertutup masker, atau betapa senangnya dia melihat Takara di sana, namun bibirnya hanya boleh mengucapkan kata-kata formal.

"Waktunya habis, silakan lanjut ke member berikutnya," tegur staf dengan tegas.

Takara mengangguk patuh dan bergeser ke member di sebelah Jake. Ia berinteraksi dengan Heeseung dan member lainnya dengan sopan, melakukan perannya sebagai "penggemar anonim" dengan sempurna.

Setelah menuruni anak tangga panggung, Takara tidak langsung keluar. Ia berhenti sejenak di area transisi dan menoleh ke belakang sekali lagi.

Dari kejauhan, ia melihat Jake kembali sibuk menyapa penggemar lain. Jake tertawa, memberikan heart sign, dan tenggelam dalam lautan cinta dari ribuan orang yang memuja sosoknya. Di atas panggung itu, di bawah sorot lampu spotlight yang menyilaukan, Jake terlihat sangat berkilau, namun juga sangat jauh.

Sebuah kenyataan pahit menghantam dada Takara. Memang benar, Jake sekarang sudah sangat mustahil digapai. Dulu, ia hanya perlu berjalan ke rumah sebelah untuk menemui Jake. Sekarang, ada barisan staf, ribuan fans, kontrak jutaan dolar, dan tembok industri yang sangat tebal di antara mereka. Baik sebagai sahabat lama maupun sebagai seseorang yang mulai memiliki perasaan lebih, Takara merasa posisinya sangat rapuh.

Ia adalah bagian dari masa lalu Jake, sementara dunia Jake sekarang adalah masa depan yang tidak menyisakan banyak ruang untuk kehidupan normal.

Takara keluar dari stadion dengan perasaan melankolis yang sulit dijelaskan. Ia berjalan menuju halte bus, memandangi album di tangannya yang sudah ditandatangani. Saat ia membuka halaman yang ditandatangani Jake, ia menemukan sesuatu.

Bukan hanya tanda tangan, tapi ada tulisan kecil di pojok bawah dalam bahasa Inggris yang nyaris tidak terbaca:

"Don't look at me like I'm a stranger, Ra. I'm still the same boy from Brisbane. Wait for my call tonight."

———

Lampu-lampu stadion mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan kesunyian yang kontras dengan keriuhan beberapa jam lalu. Di dalam ruang tunggu artis, Jake duduk terdiam di depan cermin rias yang lampunya masih menyala terang. Ia baru saja menghapus sisa make-up panggungnya, namun pikirannya masih tertinggal pada sorot mata Takara di barisan antrean tadi.

Ia meraih ponselnya dengan gerakan cepat, jemarinya lincah mengetik pesan.

📲 Jake: Ra, lo udah sampai rumah? Maaf ya tadi gue nggak bisa ngomong banyak. Gue beneran seneng lo dateng.

Satu menit. Lima menit. Tidak ada balasan.

Jake mencoba memanggil lewat jalur pribadi, namun hanya nada sambung yang terdengar hingga akhirnya beralih ke pesan suara. Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi empuk. Ia melihat jam di dinding, sudah hampir pukul satu pagi.

"Pasti dia udah tidur," gumam Jake lirih. Ia membayangkan Takara yang kelelahan setelah berdiri berjam-jam di bawah terik matahari Seoul hanya untuk melihatnya selama beberapa detik di panggung. Ada rasa bersalah yang menyesakkan dadanya. Takara adalah seorang arsitek sukses dengan jadwal padat, namun dia rela melakukan hal melelahkan itu demi dirinya.

Di sisi lain kota, di apartemen barunya, Takara memang sudah terlelap. Ia bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya dengan piama; ia hanya melepas jaket dan langsung terkapar di atas tempat tidur. Album bertanda tangan Jake masih tergeletak di samping bantalnya, terbuka pada halaman yang berisi tulisan tangan kecil itu.

Rasa lelah fisik karena mengantre memang nyata, namun kelelahan batinnya jauh lebih besar. Menyadari jarak antara dirinya dan Jake di atas panggung tadi membuat Takara merasa energinya terkuras habis.

Keesokan paginya, sinar matahari membangunkan Takara dengan paksa. Hal pertama yang ia cari adalah ponselnya. Ada tiga panggilan tak terjawab dan satu pesan dari Jake.

Takara menggosok matanya, membaca pesan itu dengan senyum tipis yang pahit. Ia baru saja hendak membalas saat sebuah pesan lain masuk, tapi bukan dari Jake.

📲 Arlo: Pagi, Takara. Aku sudah di lokasi proyek. Ada bagian fondasi yang sepertinya harus kita tinjau ulang sebelum semennya mengeras. Kamu bisa ke sini jam 8? Aku bawakan kopi favoritmu.

Takara menghela napas. Realita kembali memanggilnya. Ia harus meletakkan mimpinya tentang Jake di laci meja dan kembali menjadi arsitek profesional yang bertanggung jawab.

Ia mengetik balasan singkat untuk Jake sebelum beranjak mandi.

📲 Takara: Sorry Jake, semalam langsung pingsan. Gue udah liat pesannya. Gue berangkat kerja dulu ya, hari ini jadwalnya padat banget. Semangat latihan buat konsernya!

Takara mencoba menjaga jarak emosionalnya agar tetap bisa bekerja profesional, sementara Arlo mulai menunjukkan perhatian yang lebih dari sekadar rekan kerja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!