NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Malam Pertarungan Jiwa

Hujan deras belum berhenti sejak senja. Desa kini sunyi, kecuali suara tetesan air yang memantul di atap, tanah, dan jalanan berair. Kabut menebal, menutupi rumah-rumah dan jalanan. Warga masih trauma dari serangan malam sebelumnya. Beberapa orang menutup pintu dan jendela, tapi rasa takut mereka lebih besar daripada hujan yang deras.

Rina berdiri di depan rumah Pak Adi, seorang tetua desa, matanya menatap lurus ke dalam kabut yang menutupi halaman. Tubuhnya basah kuyup, tangannya lecet karena menulis simbol penyeimbang sebelumnya.

“Pak Adi… kau harus percaya padaku. Kalau kau keluar dan ikut menulis simbol, kita bisa menahan malam ini,” kata Rina, suaranya terdengar serak karena napas dan hujan.

Pak Adi menatapnya dengan mata gelisah. “Rina… aku… aku tidak bisa. Semalam aku hampir kehilangan kendali. Tanganku menulis sendiri simbol itu… aku… aku takut kalau aku ikut lagi, aku malah jadi alat makhluk itu,” jawabnya gemetar.

“Pak… kita tidak punya pilihan,” kata Rina, suaranya lebih tegas, mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Kalau kau tidak menulis, makhluk itu akan menguasai seluruh desa. Setiap orang yang kau cintai bisa menjadi perpanjangannya.”

Pak Adi menunduk, menekan dadanya, napasnya berat. “Aku… aku takut, Rina. Aku bukan seperti kau… kau bisa menulis simbol itu dengan… dengan… dengan naluri. Aku tidak bisa.”

Rina menatapnya, hati berdebar. “Pak, aku tidak bisa melakukannya sendirian. Jika aku sendirian, simbol yang aku buat tidak akan menetralkan semua energi tiruan. Aku butuh kau… aku butuh semua orang.”

Tiba-tiba, suara anak kecil terdengar dari balik kabut. “Rina… mereka memanggilku… aku… aku tidak bisa berhenti menulis,” suara itu terdengar panik, serak, diikuti tangisan.

Rina menoleh, melihat putri Pak Adi, kecil, basah kuyup, tangannya menulis simbol tiruan di tanah tanpa sadar. Matanya kosong, wajah pucat, napas tersengal. “Siska… lepaskan tanganmu… itu bukan kau… itu makhluknya yang mengendalikan ritme,” kata Rina sambil mendekat.

Siska menatap Rina sejenak, matanya berair, tetapi tangannya terus bergerak mengikuti ritme simbol tiruan. “Aku… aku tidak bisa berhenti… Rina… mereka memanggilku… membuatku menulis…”

Rina meraih tangan Siska dan menekannya ke tanah, mencoba menetralkan simbol itu dengan ritme penyeimbangnya sendiri. Tubuh Siska bergetar hebat, dan ia menjerit. “Aaaaaa…!”

“Tarik napas, Siska! Dengarkan aku! Aku di sini! Aku Rina! Kau tidak sendiri!” teriak Rina, sambil menulis simbol di sekeliling mereka. Arwah kecil muncul dari tanah, menari di antara simbol, membantu menetralkan energi tiruan yang mengendalikan anak itu.

Tangan Siska mulai tenang, napasnya kembali normal. Ia menatap Rina dengan mata penuh air. “Rina… kenapa aku bisa seperti itu… kenapa aku merasa… bukan diriku sendiri?”

Rina menepuk bahunya lembut. “Itu… itu karena makhluk itu mencoba menguasaimu, membuatmu menjadi alatnya. Kau tidak bersalah. Tapi kau harus tetap waspada malam ini. Aku tidak bisa menjamin semuanya aman jika kita tidak bekerja sama.”

Pak Adi menarik napas panjang, matanya menatap tanah basah yang penuh simbol tiruan. “Rina… aku ikut. Tapi aku takut aku gagal lagi…”

Rina menggenggam tangannya. “Pak… aku akan menolongmu. Kita lakukan bersama. Kau hanya perlu menulis simbol penyeimbang dengan ritme tubuhmu sendiri. Jangan pikirkan makhluk itu, jangan pikirkan apa yang terjadi semalam… hanya ikuti nalurimu.”

Pak Adi menunduk, menatap gulungan arsip yang dibawa Rina, lalu mengangguk perlahan. “Baiklah… aku ikut… tapi jika aku gagal…” Suaranya putus, matanya berkaca-kaca.

“Pak, kita tidak punya waktu untuk takut. Hanya keberanian yang bisa menyelamatkan desa malam ini,” kata Rina dengan tegas.

Sementara itu, dari arah kabut terdengar suara gaduh. Tubuh warga yang sebelumnya terpengaruh mulai muncul dari rumah-rumah. Mereka sebagian masih sadar, sebagian lain terpengaruh ritme tiruan. Seorang pemuda, Bayu, menatap Rina dengan wajah marah dan bingung. “Rina! Kenapa kau memaksa kita… ini gila! Aku… aku tidak mau ikut permainanmu ini!”

“Bayu… dengarkan aku! Kau bukan ikut permainan! Ini hidup-mati! Jika kau tidak ikut, makhluk itu akan membuatmu menulis simbol tiruan tanpa sadar, dan kau akan menjadi perpanjangan tubuhnya!” Rina mencoba menenangkan, tapi suaranya mulai bergetar karena tekanan energi di sekeliling.

Bayu menepuk dadanya, napas tersengal. “Aku… aku takut… dan aku… aku tidak percaya simbol itu bisa menolong kita!”

“Bayu… lihat Siska. Lihat Pak Adi. Kau melihat mereka bertahan karena simbol itu! Kau melihat aku bertahan! Percaya padaku… dan ikut menulis!” Rina berteriak, suaranya menembus hujan deras.

Warga lain mulai memperhatikan, beberapa mengangguk dengan enggan, beberapa tetap takut. Rina menarik gulungan arsip dan menulis simbol penyeimbang di tanah, menunjukkan ritme yang harus diikuti. “Ikuti aku… ikuti ritme ini… jangan pikirkan yang lain… hanya ikuti ritme…!”

Suara hujan, gemericik air, dan kabut yang berputar seperti menari menambah ketegangan. Beberapa warga mulai menulis di tanah, tangan gemetar, tubuh basah, tapi mereka mulai menetralkan sebagian simbol tiruan. Arwah kecil muncul, menari di sekitar mereka, membantu menyeimbangkan energi.

Tiba-tiba, dari kabut, muncul sosok tanpa wajah. Tingginya menutupi rumah, bayangannya panjang, kabut bergulung liar di sekitarnya. Setiap langkahnya meninggalkan simbol tiruan yang memancarkan energi gelap. Warga yang terpengaruh mulai bergerak tanpa kendali, menulis simbol tiruan baru di tanah, berteriak, menabrak satu sama lain.

Rina menulis simbol penyeimbang lebih cepat, mengikuti ritme nalurinya, menggabungkan ritme tubuh warga yang sadar, arwah, dan hujan yang deras. Setiap garis yang ia buat menyala terang, menetralkan simbol tiruan. Warga yang ikut menulis semakin banyak, energi desa mulai stabil sedikit demi sedikit, tetapi makhluk itu terus menyesuaikan ritme, meninggalkan simbol baru di setiap sudut desa.

Pak Adi menjerit, tangannya menulis simbol penyeimbang dengan ritme yang tidak stabil. “Rina… aku… aku takut aku gagal!”

Rina berlari ke arahnya, menepuk bahunya. “Pak… dengarkan aku! Ikuti naluri, ikuti ritme tubuhmu, jangan pikirkan makhluk itu! Kau bisa!”

Pak Adi mengangguk, menarik napas panjang, dan menulis dengan ritme nalurinya sendiri. Garis-garis yang ia buat menyala terang, menetralkan sebagian simbol tiruan. Warga lain yang ikut menulis menyesuaikan diri, menciptakan gelombang energi stabil.

Sosok tanpa wajah mulai mundur, frustrasi. Kabut bergulung liar, hujan beriak, arwah menjerit, tetapi ritme spontan yang diciptakan Rina dan warga mulai menetralkan simbol tiruan terakhir.

Rina jatuh terduduk, tubuh basah kuyup, lecet, napas tersengal. Warga berdiri, wajah pucat, tubuh gemetar, tapi mereka selamat. Arwah kecil menari di tanah, menyeimbangkan energi terakhir.

Rina menulis di buku catatan:

“Malam ini membuktikan satu hal: keberanian bukan tanpa rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meski ketakutan itu ada. Kita bertahan, tapi pertarungan belum selesai. Makhluk itu akan kembali…”

Di kejauhan, bayangan tanpa wajah menghilang ke kabut, menandai bahwa ancaman yang lebih mencekam akan datang. Desa selamat malam ini, tapi ketegangan dan trauma warga masih nyata. Rina menatap warga, menatap arwah, dan menatap hujan yang jatuh deras. Ia tahu, pertarungan jiwa baru saja dimulai.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!