"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."
Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.
Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Malam itu, Danesha sedang berada di balkon kamarnya, menatap kosong ke arah jalanan dari lantai dua. Dia masih kesal, namun ada rasa hampa karena hubungannya dengan Evangeline terancam di hari-hari awal.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat. Sebuah pesan panjang masuk dari Evangeline. Tak lama kemudian, gadis itu menelepon. Danesha menjawabnya dengan suara dingin.
"Halo?"
"Dan... aku minta maaf," suara Evangeline terdengar bergetar di seberang sana, seolah dia baru saja menangis.
"Aku benar-benar minta maaf soal tadi di kantin. Aku cuma... aku cuma terlalu takut kehilangan kamu. Teman-temanku menakut-nakutiku, dan aku jadi bodoh karena terbawa suasana."
Danesha menghela napas panjang, bahunya sedikit mengendur. "Vang, gue udah bilang, Pricillia itu nggak bisa diganggu gugat."
"Aku tahu, aku paham sekarang," potong Evangeline cepat.
"Aku janji nggak akan mempermasalahkan itu lagi. Aku nggak akan minta kamu menjauh dari dia. Aku akan coba mengerti hubungan kalian. Tolong... jangan marah lagi ya? Aku sayang banget sama kamu, Dan."
Mendengar nada suara Evangeline yang memohon, pertahanan Danesha runtuh.
Dia memang sangat menyukai gadis itu. "Ya udah. Jangan diulangin lagi. Gue nggak suka kalau lo bikin Pris merasa tersisih."
"Iya, Dan. Aku janji. Besok kita berangkat bareng ya?"
Beberapa menit kemudian, Danesha menyerbu masuk ke kamar Pricillia yang pintunya memang tidak pernah dikunci untuknya. Dia langsung melompat ke atas tempat tidur dan memeluk guling milik Pricillia dengan wajah berseri-seri.
"Pris! Evangeline minta maaf!" serunya penuh semangat.
Pricillia, yang sedang memakai skincare di depan cermin, tertegun. Ada rasa pahit yang tiba-tiba muncul di lidahnya.
"Oh ya? Baguslah kalau gitu."
"Dia janji nggak bakal rese lagi soal lo. Katanya dia cuma cemburu buta," Danesha bercerita sambil berguling ke arah Pricillia. "Sumpah, gue lega banget. Gue nggak mau kehilangan dia, tapi gue lebih nggak mau kehilangan lo. Sekarang semuanya beres, kan?"
Danesha bangkit, menghampiri Pricillia, dan dengan santainya melingkarkan lengannya di leher Pricillia dari belakang, menatap pantulan mereka di cermin.
Dia menyandarkan dagunya di bahu Pricillia, persis seperti biasanya.
"Lo emang jimat keberuntungan gue, Pris. Gara-gara gue bela lo tadi, dia malah makin takut kehilangan gue, kayaknya," canda Danesha sambil tertawa kecil, mencium pucuk kepala Pricillia dengan sayang sebuah kecupan persahabatan yang bagi Pricillia terasa seperti luka bakar.
Pricillia hanya bisa tersenyum getir di depan cermin. Evangeline menyerah terlalu cepat, pikirnya. Itu berarti, drama ini belum berakhir. Evangeline hanya sedang mengganti taktik, sementara Danesha yang terlalu polos tetap tidak menyadari bahwa di antara dua wanita ini, sedang terjadi perang dingin yang memperebutkan satu hati yang sama.
"Iya, Dan. Semuanya beres," bisik Pricillia, sambil tangannya mengusap lengan Danesha yang melingkar di lehernya.
Pagi itu, aroma kopi dan roti bakar baru saja memenuhi ruang makan keluarga Hutapea ketika pintu depan diketuk dengan irama yang sangat dikenal. Tanpa menunggu lama, seorang wanita paruh baya dengan gaya elegan namun ceria melangkah masuk.
"Pris! Sayang! Mama Danes datang membawa martabak telur kesukaanmu!" seru Mama Danesha, yang sudah menganggap rumah Pricillia sebagai rumah keduanya.
Pricillia yang masih mengenakan piyama satin tipis segera turun dari tangga, wajahnya langsung cerah. Kedatangan Mama Danesha selalu menjadi penawar luka bagi hatinya yang sedang lebam.
Mama Danesha langsung memeluk Pricillia erat, lalu duduk di meja makan seolah ia adalah pemilik rumah. Tak lama, Danesha turun dari lantai dua, karena semalam ia memang menginap setelah sesi curhat tentang Evangeline.
"Ma? Kok sepagi ini udah di sini?" Danesha menguap, langsung duduk di samping Pricillia dan tanpa canggung menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu, mencari posisi nyaman sementara nyawanya belum terkumpul penuh.
Mama Danesha memperhatikan pemandangan itu dengan senyum penuh arti. "Mama kangen Pris. Lagian, Mama mau nanya, Dan... gimana hubungan kamu sama pacar baru itu? Siapa namanya? Eva-sesuatu?"
"Evangeline, Ma," jawab Danesha sambil tangannya sibuk mengambil potongan martabak dan menyuapkannya ke mulut Pricillia, rutinitas yang sudah terjadi selama belasan tahun.
Pricillia menerima suapan itu dengan canggung. "Enak, Tan," gumamnya pelan.
Mama Danesha menyesap tehnya, matanya yang tajam menatap putranya dengan selidik. "Mama sudah lihat fotonya di Instagram kamu. Cantik, sih. Tapi, Dan... kamu tahu kan, dari dulu Mama itu selalu berharap kalau menantu Mama itu orang yang sudah paham luar dalam tentang kamu? Yang sudah tahu busuk-busuknya kamu tapi tetap bertahan?"
Danesha tertawa, tidak menangkap sindiran mamanya.
"Yah, Ma, semua orang juga tahu kalau soal itu ya cuma Pricillia pemenangnya. Tapi kan kita sahabatan, Ma. Pris itu sudah kayak belahan jiwa versi lain."
Mama Danesha menghela napas, lalu menatap Pricillia dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang seolah berkata, Tante tahu kamu menderita, Sayang.
"Pris," panggil Mama Danesha lembut, menggenggam tangan Pricillia di atas meja. "Kalau Danesha ini terlalu bego buat sadar siapa yang paling berharga di hidupnya, kamu bilang ke Tante ya? Nanti Tante jewer telinganya."
Pricillia hanya bisa tertawa kecil, meski matanya berkaca-kaca.
"Danesha bahagia kok Tan sama Evangeline. Danesha banyak cerita tentang dia."
"Cerita apa?" tanya Mama Danesha ketus.
"Cerita kalau Evangeline itu... hebat," jawab Pricillia singkat, teringat detail ciuman yang diceritakan Danesha semalam. Dadanya kembali terasa sesak.
Danesha yang masih bersandar di bahu Pricillia malah menimpali, "Iya Ma, dia asyik banget. Tapi tetep, Pris yang paling ngerti. Tadi pagi aja, sebelum gue bangun, Pris udah nyiapin air hangat buat gue mandi. Mana ada pacar yang se-perhatian itu?"
Mama Danesha menggelengkan kepala, menatap putranya dengan kesal.
"Kamu itu benar-benar laki-laki paling beruntung, tapi juga paling buta yang pernah Mama kenal, Danesha Vallois."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰😍
masih nyimak 🤣