NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas Telah Usai

Suara percikan air dari kamar mandi yang berada di ujung ruangan berhenti begitu saja. Pintunya terbuka menampilkan seorang perempuan yang sedang mengusap rambut basahnya dengan sebuah handuk kecil. Bibirnya melengkungkan sebuah senyum yang selalu terpatri di sana.

"Ibu kok belum tidur?" tanya Alana.

Jarum jam telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Namun, wanita tua yang biasanya sudah terlelap sejak jarum jam berbentuk siku-siku itu malah masih membuka matanya. Dia bahkan membalas senyuman Alana dengan lengkungan yang sama persis, sepertinya dia menurunkan senyuman itu pada Alana.

Laksmi kembali mengalihkan pandangannya pada layar televisi yang menyala. Meski sudah melewati usia setengah abad, pendengarannya masih termasuk baik. Terbukti dari volume suara televisi yang masih cukup pelan, tanpa perlu menggema pada dinding ruangan.

"Acaranya lagi bagus." Laksmi tersenyum kecil pada tayangan drama di televisi. "Dulu waktu Ibu masih muda, Ibu suka banget nonton yang kayak gini," lanjutnya.

Entah mengapa Alana merasa bahwa ibunya kini sedang menjelajahi masa lalu. Masa di mana dia masih belum setua ini. Masa di mana Kulitnya masih cukup kencang. Masa di mana dia masih bisa tersenyum lebar tanpa beban. Masa di mana tubuhnya belum pernah merasakan hamil dan melahirkan.

Samar terlihat telinga wanita itu layu. Mungkin karena menyadari bahwa dirinya tak lagi dapat berada di masa yang tengah dia kenang. Meski begitu, senyumannya tak luntur sedikit pun.

Alana menarik kursi besi yang disediakan untuk pendamping pasien. Dia duduk di samping ranjang ibunya sembari memperhatikan tetesan cairan infus yang masih stabil.

"Kamu di sini itu nemenin Ibu, Lan. Bukan buat kerja," ucap Laksmi begitu menyadari gerak-gerik Alana.

Alana tertawa kecil, menyadari bahwa ibunya juga memperhatikannya lewat ekor mata. "Aku cuma lihat aja, Bu. Kita kan juga harus mantau kalau infus habis, biar bisa langsung minta ganti ke susternya."

Laksmi memejamkan mata sambil mengangguk sekilas. "Baik, Suster Alana," sahutnya menggoda anak perempuannya.

Tawa keduanya menguar renyah di antara dinding dingin yang mengelilingi mereka. Di antara sunyinya rumah sakit malam ini, mereka menemukan hangatnya sendiri. Begitulah keluarga yang seharusnya. Meski terkadang selalu saja ada kerikil yang memuat mereka berhenti dan merasa sakit sejenak.

Laksmi menarik nafasnya dalam-dalam. Embusannya menerpa ruang kosong di sekitarnya dengan kencang. Bersama dengan itu, matanya menatap lurus pada langit-langit kamar rawat tempatnya singgah beberapa hari terakhir.

Melihat itu, senyum lebar Alana luntur perlahan. Dia tentu mengerti apa yang sedang ada di dalam pikiran ibunya saat ini. Tatapan itu tak pernah berubah setiap memikirkan orang yang sama.

"Tadi gimana waktu sama Betari, Bu? Dia nyuapinnya pasti banyak-banyak, ya?" tanya Alana memecah hening yang kembali menyapa.

Laksmi terdiam sejenak. Lalu dari bibir pucat itu dia berkata, "Ibu kangen ayahmu, Lan."

Alana tak dapat membalas apapun begitu dugaannya benar. Dia hanya dapat terdiam sembari memandangi wajah ibunya. Dia yakin ada banyak kalimat yang tersusun dalam kepala yang ditumbuhi uban itu, namun hanya satu kata yang dapat keluar dari mulutnya. Rindu.

Begitulah Laksmi menjaga perasaan anak-anaknya. Bukannya tak ingin Alana ikut mengenang sang ayah dan membuat Alana lupa akan ayahnya, Laksmi hanya ingin menikmati kerinduannya sendiri. Perihal Alana, dia yakin rindu itu pasti akan selalu muncul dalam hati anaknya.

Jika saja Laksmi mau membuka suara perihal berbagai kenangan bersama suaminya yang berputar dalam kepalanya. Mungkin Alana juga akan semakin mengenal sosok ayahnya. Seorang pria yang bukan sekedar menjadi sosok ayah yang baik, tapi juga berhasil menjadi suami yang tepat untuk Laksmi.

"Nanti begitu Ibu udah keluar dari rumah sakit, kita ke makam ayah, ya," ucap Alana lembut.

Laksmi menoleh ke arah Alana. Dia tersenyum dan mengangguk.

"Ibu senang kamu sudah punya pasangan sekarang. Dipo juga sudah kembali, kan?" Laksmi masih tersenyum sembari melanjutkan, "Ibu lega, Nak. Kamu nggak akan sendirian lagi."

Matanya masih tertuju pada Alana. "Semoga kamu selalu bahagia setelah ini ya, Alana."

Namun, ada sesuatu yang mengganjal dari senyuman itu. Tarikannya terkesan berbeda dari yang biasanya. Ada ruang kosong yang tak sengaja terlihat oleh Alana. Seolah senyuman itu akan menjadi senyuman yang terus terpatri dalam ingatan Alana.

Bukan senyuman manis yang penuh kehangatan. Kali ini tampak begitu kosong dan dingin. Entah mengapa rasa aneh muncul di dada Alana. Bagai setetes tinta yang jatuh di atas kertas penuh kalimat cinta.

"Nanti kalau Ibu nggak ada, Ibu mau dimakamkan di sebelah ayahmu ya, Nak," ucap Laksmi sedikit parau.

Entah wanita itu sadar atau tidak akan ucapannya. Alana tidak dapat berkutik untuk sekedar memotong ucapan ibunya perihal kematian. Entah mengapa, kalimat itu terdengar hangat. Bukan seperti seseorang yang sedang berandai-andai.

Alana menghela nafasnya gusar. Tubuhnya kini duduk di ujung kursi besi. Tangannya meraih telapak ibunya yang terasa sedikit lebih dingin dari biasanya.

"Ibu bakal sembuh kok. Alana yakin!" tutur Alana dengan penuh penekanan.

Di saat seperti ini, Alana hanya bisa memberikan dukungan pada ibunya. Dia berusaha kembali menyalakan api semangat yang hampir padam di balik mata keabuan itu.

Alana menarik paksa senyumannya. "Sekarang Ibu tidur aja, ya. Jangan mikir yang aneh-aneh!"

...****************...

Seberkas sinar dari arah koridor rumah sakit melesak dari celah pintu yang perlahan terbuka. Laksmi yang memang belum tidur itu menyambut seseorang yang datang dengan senyuman khasnya.

Seorang pria dengan setelan kerja yang masih melekat di tubuhnya, masuk dengan hati-hati. Matanya tertuju pada perempuan yang meringkuk di samping tubuh ibunya. Mencari kehangatan di sela lipatan tangannya.

"Sendiri, Ki?" tanya Laksmi pelan.

Kinan mengangguk. "Iya, Bu. Tadi saya naik taksi ke sini," jawabnya.

Pria itu lalu melepas jas kerjanya di sana. Dengan gerakan perlahan dia letakkan jas besar itu pada punggung Alana yang tidur meringkuk. Memberikan hangat berserta kenyamanan di sela malam yang cukup melelahkan.

Laksmi tersenyum melihatnya. "Terima kasih sudah perhatian sama Alana."

"Sudah tugas saya sebagai suami Alana, Bu," ucapnya. Entah bohong atau tidak, namun nada bicaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.

Untuk sejenak, hening membatasi percakapan di antara mereka. Mungkin jika Alana belum terlelap saat ini, perempuan itu tak akan membiarkan sunyi menyergap mereka.

"Sejak remaja, Alana selalu ada dalam pelukan saya. Saya yang melindungi dia dari hal sekecil panas matahari hingga kebimbangan terbesar yang pernah dia alami."

Kinan terdiam, terus mendengarkan kalimat demi kalimat dari ibu mertuanya. Matanya juga selalu jatuh pada mata keabuan yang selalu mengajaknya berbicara dalam beberapa malam terakhir. Entah mengapa sorot yang membalas tatapannya itu tampak berbeda malam ini.

"Sekarang... giliranmu yang menjaganya, Ki. Ibu sudah tenang sekarang," lanjut Laksmi.

Mendengar penuturan yang janggal itu, Kinan mengernyit bingung. "Maksud Ibu?" tanyanya.

"Tugas saya sudah selesai, Ki," sahut Laksmi denga senyuman yang terus terpatri di wajahnya.

Perlahan namun pasti, mata wanita itu tampak semakin sayu. Rona keabuan dibalik kelopak mata itu perlahan menghilang seiring dengan nafasnya yang berembus dengan tenang. Bagi sebagian orang mungkin akan menyimpulkan bahwa Laksmi sedang tertidur saat ini.

Namun, Kinan dapat merasakan kekosongan yang tiba-tiba dalam ruangan itu. Seolah sesuatu baru saja pergi dari sana. Menyisakan dirinya bersama deru nafas halus dari Alana yang masih tertidur pulas.

Pompa nafas yang sebelumnya tampak jelas di dada dan perut Laksmi, kini tak lagi terlihat. Mata itu tak lagi terbuka. Hanya senyum kecil yang tersisa di wajahnya, seolah dia pergi dengan tenang.

"Bu Laksmi...," panggil Kinan pelan.

Pria itu mendekat pada ibu mertuanya. "Bu Laksmi," panggilnya sekali lagi sambil menepuk pundak wanita itu terus menerus.

Mungkin risih dengan goncangan yang tercipta oleh Kinan dan suara yang terus memanggil nama ibunya, Alana terbangun. Masih dengan mata yang sayu, Alana melihat ke arah ibunya.

Tubuh itu sudah tak lagi bergerak. Tangan yang berada dalam genggamannya terasa lebih dingin dari sebelumnya. Alana berharap semua ini hanya mimpi. Namun suara Kinan yang terus memanggil nama ibunya terus bergema dengan jelas.

"Ibu!" Alana ikut memanggil ibunya.

Jemarinya berusaha meraih bel dan memencetnya untuk memanggil perawat yang sedang berjaga. Air matanya sudah tergenang mengaburkan pandangannya. Dia hanya dapat pasrah ketika Kinan menarik tubuhnya menjauh dan membiarkan tubuh ibunya ditangani terlebih dahulu.

Lalu, penanganan itu terhenti setelah beberapa menit. Seorang dokter muda yang bertugas malam ini memundurkan tubuhnya. Lalu dengan berat hati dia berkata, "Sabtu, 20 November pukul 02:00, pasien dinyatakan meninggal dunia."

Di sanalah tubuh Alana luruh seketika. Dia tak dapat menangis, namun rasa sesak itu terasa jelas dalam dadanya. Tak ada yang memeluknya saat ini. Hanya sepasang kaki jenjang yang selalu berdiri di sampingnya di saat seperti ini. Alana akan selalu mengingatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!