"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori yang Terkubur
Rumah aman di pinggiran Helsinki itu tersembunyi di balik barisan pohon fir yang rimbun, tertutup salju tebal yang menyamarkan keberadaannya dari satelit maupun mata telanjang. Di dalamnya, suasana terasa jauh lebih hangat, tapi ketegangan di antara para penghuninya jauh dari kata mencair. Bau antiseptik dan aroma kayu bakar memenuhi ruangan saat tim medis faksi Liam bekerja cepat menjahit luka-luka di tubuh Eros.
Elena berdiri di ambang pintu kamar medis, tangannya masih gemetar saat ia meremas foto usang yang tadi ditemukannya. Matanya tidak lepas dari sosok Eros yang terbaring setengah sadar di atas ranjang. Pria itu tampak sangat rapuh tanpa topeng kekuasaannya—wajahnya pucat, napasnya dibantu masker oksigen kecil, dan tubuhnya dipenuhi bekas luka lama yang bercampur dengan luka baru dari pelarian tadi.
"Kamu seharusnya istirahat, El. Luka di lehermu perlu dibersihkan lagi," suara Liam memecah keheningan. Ia berdiri di belakang Elena, menatap adiknya dengan tatapan yang kini lebih lunak, tapi tetap waspada.
Elena berbalik, menyorongkan foto itu tepat ke depan wajah Liam. "Jelaskan padaku, Liam. Jika kau bilang kau mencariku selama sepuluh tahun, kenapa foto masa kecil kita ada di saku pria yang mengaku sebagai kekasih desaku ini? Kenapa dia memilikinya?"
Liam tertegun saat melihat foto itu. Ia mengambilnya dengan tangan gemetar, jarinya mengusap permukaan kertas yang mulai retak. "Ini ... ini foto yang dibawa Ibu saat kami melarikan diri dari Ayah. Aku mengira foto ini hilang saat rumah persembunyian kami di Siberia dibakar oleh orang-orang dewan lima belas tahun lalu."
"Jawab pertanyaanku, Liam! Siapa Eros sebenarnya?" desis Elena, air mata frustrasi mulai menggenang.
Liam menghela napas panjang, ia memberi isyarat agar Elena mengikutinya ke ruang tengah yang lebih pribadi. Di sana, Ayah Elena duduk di kursi dekat perapian, tampak lebih sadar, tapi sorot matanya masih penuh dengan penyesalan yang dalam.
"Eros Volkov bukan hanya sekadar keponakan dari ketua dewan," Liam memulai penjelasannya.
"Ayah Eros adalah satu-satunya anggota dewan yang memihak Ibu kita saat mereka mencoba melarikan diri. Dia menganggap tindakan Ayah kita mencuri aset dewan sebagai bentuk perlawanan yang benar, tapi karena keberpihakannya itu, ayah Eros dieksekusi oleh saudaranya sendiri—paman Eros yang kau lihat di The Fortress tadi."
Elena terdiam, mencoba mencerna informasi yang tumpang tindih ini.
"Eros dikirim ke panti asuhan militer di bawah pengawasan dewan sebagai hukuman atas dosa ayahnya. Di sana, dia dijadikan mesin pembunuh," lanjut Liam.
"Tapi sebelum ayahnya mati, beliau memberikan foto ini pada Eros kecil. Beliau berpesan agar suatu hari nanti, Eros harus menemukan kita—keluarga yang diperjuangkan ayahnya. Itulah misi hidup Eros sejak awal."
"Jadi..." suara Elena tercekat. "Kedatangannya ke desaku enam tahun lalu ... itu bukan kebetulan?"
Ayah Elena tiba-tiba bersuara, suaranya parau dan penuh luka. "Dia menemukanku lebih dulu, El. Di desa itu, enam tahun lalu, Eros datang bukan untuk membunuhku. Dia datang untuk memperingatkanku bahwa dewan mulai melacak posisiku. Dia melindungimu dari jauh tanpa kau tahu. Tapi kemudian ... kalian jatuh cinta. Itu adalah satu-satunya hal yang tidak ada dalam rencananya."
Elena merasa dunianya berputar. Jadi, selama setahun mereka menjalin kasih di desa sebelum Eros menghilang, Eros membawa beban bahwa dia adalah putra dari pria yang mati demi melindungi keluarga Elena. Pantas saja Eros selalu tampak menyimpan rahasia besar di balik tatapan matanya yang teduh saat itu.
"Dia pergi lima tahun lalu karena dia tertangkap oleh dewan saat mencoba menghapus jejak digital kita," tambah Liam. "Dia mendekam di penjara bawah tanah Rusia selama empat tahun, disiksa setiap hari agar membuka mulut tentang keberadaanmu dan aset itu. Tapi dia diam. Dia bertahan hanya untuk bisa kembali padamu."
Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam Elena. Selama lima tahun ia membenci Eros karena pergi tanpa kabar, ternyata pria itu sedang menjalani neraka demi melindunginya. Dan saat Eros akhirnya keluar, ia menemukan Elena sudah dalam cengkeraman Arkan—sebuah tragedi yang pastinya menghancurkan hati pria itu lebih dari siksaan penjara mana pun.
Tiba-tiba, suara erangan terdengar dari kamar medis. Elena berlari masuk, mengabaikan peringatan Liam.
Eros sudah membuka matanya. Ia mencoba mencabut selang infus, tapi tangannya terlalu lemah. Saat ia melihat Elena masuk, tatapannya langsung tertuju pada foto di tangan wanita itu. Eros memejamkan mata, seolah tahu rahasianya telah terbongkar.
"El ... maafkan aku," bisik Eros. Masker oksigennya berembun. "Aku ingin memberitahumu ... tapi aku tidak ingin kau melihatku sebagai bagian dari masa lalu yang berdarah itu. Aku hanya ingin menjadi Eros-mu yang di desa ... pria yang hanya tahu cara mencintaimu."
Elena jatuh berlutut di samping ranjang Eros, menggenggam tangan pria itu dan menempelkannya ke pipinya yang basah. "Bodoh ... kamu bodoh, Eros. Kenapa kamu menanggung semuanya sendiri?"
"Karena kau ... adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupku, Elena," Eros tersenyum lemah, sebuah senyuman yang begitu tulus hingga membuat hati siapa pun yang melihatnya akan teriris.
"Arkan sudah mati ... hukumnya sudah patah. Tapi dewan ... mereka tidak akan berhenti."
"Kita akan melawannya bersama," tegas Elena. Ia menoleh ke arah Liam yang berdiri di pintu.
"Liam, kau bilang kau punya faksi pemberontak. Dan Eros punya data dari flashdisk itu. Jika kita ingin hidup tenang, kita tidak bisa terus lari ke perbatasan. Kita harus menghancurkan sarang iblis itu sampai ke akar-akarnya."
Liam menatap adiknya dengan rasa bangga yang tidak bisa disembunyikan. "Itulah adikku. Tapi kita butuh rencana. Vanya sudah mengirim pesan; dewan sedang terpecah karena kematian beberapa petinggi di The Fortress. Ini waktu yang tepat."
Namun, di tengah rencana itu, Ayah Elena masuk ke kamar dengan wajah pucat. Ia memegang sebuah ponsel tua yang bergetar. "Telepon dari Vanya ... dia bilang Arkan mungkin sudah mati, tapi dia tidak sendirian di atas danau itu."
"Maksudnya?" tanya Eros, insting tempurnya kembali bangkit meskipun tubuhnya lemah.
"Arkan sempat mengaktifkan protokol 'Dead Man's Switch' pada sistem keamanan dewan sebelum dia mati," suara Vanya terdengar dari pengeras suara ponsel. "Seluruh aset yang dicuri ayahmu ... lokasi rahasianya baru saja disiarkan secara otomatis ke seluruh kartel dunia. Sekarang, bukan cuma dewan Rusia yang mengejar kalian. Seluruh pembunuh bayaran di Eropa sedang menuju Finlandia."
Suara deru mesin mobil-mobil hitam yang mengepung rumah aman itu mulai terdengar dari kejauhan. Lampu sorot mereka membelah kabut salju Finlandia. Liam segera menarik senjatanya.
"Mereka sudah di sini," desis Liam.
Eros memaksa dirinya untuk duduk, meski luka jahitannya mulai merembeskan darah kembali. Ia menatap Elena, kemudian menatap Liam. "Berikan aku senjata. Jika kita harus mati di sini, pastikan kita membawa sebanyak mungkin dari mereka ke neraka bersama kita."
Elena mengambil sebuah pistol dari meja medis, menggenggamnya dengan mantap. Ia bukan lagi gadis desa yang malang, bukan lagi istri yang tertindas. Ia adalah Elena Volkova—nama yang kini ia klaim sendiri sebagai pejuang.
mafia mana ngerti minta maaf😅😅😅😅