Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Kedatangan Ibu Mertua
.
Keesokan paginya, sinar matahari mulai menerobos celah tirai kamar Almira. Ia sudah bangun sejak subuh, selesai shalat dan sudah siap mengantar barang-barangnya bersama Sifa yang sebentar lagi akan tiba. Tangan kirinya terus menyentuh perut yang masih kecil, berdoa agar semuanya berjalan lancar.
Tiba-tiba, bunyi dering pintu pagar membuat hatinya berdebar kencang. Ia bergegas ke lantai bawah, menyangka itu Sifa. Namun, ketika membuka pintu utama, kening wanita itu berkerut. Yang berdiri di depan pintu bukanlah Sifa, melainkan ibu mertuanya, Bu Rosidah, dan adik iparnya, Riana, yang berdiri di depan pintu dengan wajah tanpa ekspresi. Di tangan mereka ada koper besar dan kantong belanjaan.
"Ibu?" ucap Almira dengan nada bingung. "Ada apa Ibu datang pagi-pagi begini?"
Bu Rosidah tidak menjawab pertanyaan Almira. Ia hanya mendorong tubuh Almira ke samping dan masuk ke dalam rumah dengan angkuh. Riana mengikuti ibunya dari belakang, memasang wajah sinis ke arah Almira.
Almira benar-benar syok. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia menutup pintu dan mengikuti ibu mertuanya dan adik iparnya masuk ke ruang tamu.
"Ada apa ini, Ibu?" tanya Almira dengan nada gemetar. "Kenapa Ibu bersikap seperti ini padaku?"
Bu Rosidah berbalik dan menatap Almira dengan tatapan merendahkan. "Mana Gilang dan Lila?" Bukannya menjawab, Bu Rosidah malah bertanya. Pertanyaan yang menghantam dada Almira sedemikian rupa.
Jantung Almira serasa berhenti berdetak. Ia merasa seperti disambar petir di siang bolong. Jadi, selama ini ibu mertuanya dan adik iparnya sudah mengetahui perselingkuhan Gilang? Dan mereka membiarkan semua ini terjadi?
"Apa maksud Ibu?" tanya Almira dengan suara bergetar. "Ibu... Ibu menanyakan Lila? Ibu mengenal Lila? Ibu tahu ada Lila di sini?"
Bu Rosidah menatap Almira dengan mendengus kesal. "Dasar bodoh. Lila itu menantu Ibu. Tentu saja Ibu mengenalnya," jawab Bu Rosidah kasar.
Almira merasakan dadanya bagai di hantam batu besar. Sakit, sesak. Ternyata bukan pernikahan sembunyi-sembunyi. Ia merasa dikhianati.
"Kenapa kalian melakukan semua ini padaku? Apa salahku pada kalian? Apa kurangku dalam mengabdikan diri hingga kalian begitu tega?" Ditahan pun tak bisa. Air mata itu meluncur deras.
"Kamu bertanya apa kurangmu?" Riana bertanya sambil mencibir. Bahkan tanpa sopan santun sedikitpun. Memanggil Almira hanya dengan nama, padahal usianya lima tahun di bawah Almira.
"Kurangmu itu banyak. Yang pertama dan utama saja karena kamu hanya anak dari keluarga miskin yang tidak jelas. Itu yang membuat kami tidak pernah menyukaimu, Almira," jawab Riana dengan nada sinis. "Kamu tidak pantas untuk Mas Gilang. Kamu terlalu lemah, terlalu bodoh, dan yang paling parah, MANDUL."
Tubuh Almira terhuyung.
"Dan Lila adalah menantu pilihan kami." Bu Rosidah menyahut dengan suaranya yang angkuh. Dagunya terangkat ke atas layaknya dia adalah ibu suri yang berkuasa.
Almira terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah Riana dan Bu Rosidah. Kata "mandul" seperti pisau tajam yang menusuk kedalam hatinya. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa dirinya sedang mengandung, tapi suara tidak bisa keluar dari mulutnya yang terbuka lebar.
"Aku… aku bukan mandul," ucapnya dengan suara pelan seperti bisikan angin, namun penuh dengan perasaan tersakiti.
Riana tertawa terkekeh. "Dasar pembual! Sudah tiga tahun menikah tapi perut kamu tetap rata. Kalau bukan mandul apa namanya?"
Bu Rosidah berdiri dari tempat duduknya, mendekat dengan langkah yang kuat ke arah Almira. "Cukup sudah dengan omong kosongmu itu. Kita datang hari ini bukan untuk bicara denganmu!"
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Gilang dan Lila muncul dengan muka bantal mereka. Menunjukkan mereka baru saja bangun. Padahal matahari sudah tinggi.
"Ibu sudah datang ya? Lila kangen sama Ibu," ucap Lila dengan suara manis, sambil menatap Almira dengan pandangan penuh kemenangan.
Gilang hanya berdiri diam di belakang mereka, tidak berani melihat wajah Almira yang sedang menangis deras.
"Kalian semua mengkhianatiku!” Meskipun sudah berniat melepaskan Gilang, tetap saja sakitnya tak terkira. Ibu mertua yang selalu dilayani sepenuh hati, adik ipar yang selalu diutamakan kepentingan nya, ternyata mereka tak punya hati.
Gilang menghela napas panjang, akhirnya menoleh ke arahnya. "Maafkan aku, Mira. Keluargaku butuh pewaris.”
"PEWARIS” Satu kata yang terdengar lucu di telinga Almira. Memangnya apa yang akan mereka wariskan? Sedangkan hidup saja mereka pas-pasan. Atau mungkin orang tua Gilang punya sesuatu yang tak ia ketahui?
Tiba-tiba, terdengar suara klakson mobil yang panjang dari luar rumah. Bunyinya cukup keras hingga terdengar jelas dari ruang tamu. Almira segera mengusap air matanya dan bergegas menuju pintu merasa senang Sifa datang.
"Fa! Kamu akhirnya datang!" ucap Almira dengan mata yang masih merah namun kini penuh keceriaan.
Sifa mengerutkan keningnya. "Kamu habis nangis?” tanyanya dengan mata menyipit tajam.
“Kita bicara di kamar saja," jawab Almira. “Oh iya, sekalian minta tolong sopirmu untuk ngangkat kardus-kardus, ya?" pinta Almira sebelum mereka masuk ke dalam rumah. Sifa pun mengajak sopirnya untuk ikut masuk.
Di ruang tamu, mereka berpapasan dengan Gilang dan keluarganya. Gilang kaget melihat Sifa yang datang. Ia tahu betul, Sifa sama sekali tak menyukai dirinya.
"Siapa dia? Dan ngapain dia ke sini?” Bu Rosidah menatap tajam ke arah Almira dan Sifa.
"Dia teman Mira, Ma,” sahut Gilang.
"Dan kedatangan saya ke sini adalah untuk mengambil barang-barang yang dipinjam oleh Almira," sahut Sifa tegas.
“Aku sudah siapkan semua kok, Fa. Maaf ya, aku keenakan makai barang kamu.” Almira bersikap seolah benar-benar merasa bersalah.
“Gak papa. Aku maklum kok. Ya memang gitu lah nasib punya suami miskin," ejek Sifa tanpa peduli dengan rahang Gilang dan yang lainnya mengeras.
“Ya sudah, ayo ke kamarku. Barangnya ada di sana." Almira segera menarik tangan Sifa diikuti oleh pak sopir.
*
"Itu ibu mertua sama ipar kamu, kan? Ngapain mereka di sini?” tanya Sifa setelah mereka berada di kamar.
Almira pun menceritakan semuanya. Wanita itu menangis tersedu-sedu di bahu Sifa, merasakan bahwa dunia yang pernah ia kenal telah benar-benar runtuh akibat pengkhianatan.
Sambil mendengar cerita Almira, Sifa memerintahkan pada sopirnya untuk mulai mengangkat barang-barang berharga yang sudah dikumpulkan oleh Almira.
"Dan ini membuat aku yakin untuk memiskinkan kembali Gilang," ucap Almira mengakhiri ceritanya.
"Hapus air matamu! Sudah cukup kamu menangis. Mereka tidak layak mendapatkan penghargaan sebesar itu darimu,” hibur Sifa. "Tenang aja, aku selalu siap membantu kamu!" Sifa menepuk-nepuk punggung Almira dengan lembut.
"Terima kasih, Fa. Aku benar-benar beruntung memiliki kamu. Jika tidak, entah siapa yang bisa aku andalkan,” ucap Almira yang sudah merasa tenang.
"Sudah pasti dong! Kita kan sahabat dari dulu," Syifa menggenggam erat tangan Almira. “Jadi, gimana? Itu semua biar aku bawa ke rumahku dulu?" tanyanya.
Almira mengangguk. "Iya. Sementara biar ada di rumahmu aja dulu. Nanti kalau aku sudah baikan, baru kamu antar aku ke bank untuk menyimpan perhiasan dan emas batangan. Sedangkan untuk koleksi tas dan sepatu, kalau kamu bisa, tolong kamu jual saja. Tidak mungkin aku menyimpan itu semua di bank."
"Baiklah. Aku akan lakukan apapun sesuai dengan keinginanmu. Sekarang kamu tenang, ya. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama bayi kamu.”
“Semua sudah saya masukkan mobil, Nona. Ini kardus terakhir," lapor pak sopir. Almira mengangguk lalu segera keluar kamar bersama Sifa. Sekarang ia tak kan khawatir apapun lagi meskipun ada Lila di rumah itu.
Saat mereka turun ke lantai bawah, Gilang, Bu Rosidah, Riana, dan Lila sudah berdiri di ruang tamu dengan berkacak pinggang.
"Kenapa semua barang-barang mewah itu dibawa pergi?" seru Riana dengan suara tinggi.
Almira menghela nafas lelah. "Kamu tidak dengar ya, temanku ngomong tadi? Semua barang itu punya dia. Dan sekarang dia mengambilnya!”
"Apa benar begitu?" Bu Rosidah menatap tak percaya. “Jangan-jangan kalian sekongkol untuk menipu kami. Sebenarnya itu punya Mira kan? Pasti karena dia takut kami minta!”
Sifa tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Bu Rosidah. "Serius Anda bertanya seperti itu? Memangnya sekaya apa sih suaminya, sampai Mira bisa beli barang branded gitu?”
Tangan Gilang terkepal, mata Bu Rosidah melotot rahang Riana mengeras, wajah Lila kusut. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing
semangat thor