NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Setelah Tewas Bersama Istri

Terlahir Kembali Setelah Tewas Bersama Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.

Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Bab 16 Dipaksa Bercerai

Fiona tidak menyangka Denzel akan blak-blakan bertanya seperti itu. Dia sontak tertegun, dan saat tersadar, dirinya merasa seluruh wajahnya memerah.

Tampaknya ... Denzel memberikan perhatian khusus padanya hari ini?

Bahkan Fiona yang tidak berani tidur dengan Denzel pun terlihat sangat jelas...

Fiona sedikit menoleh ke samping, menatap pria yang sedang berada dekat dengannya. Dia tidak merasakan sifat pemarah seperti sebelumnya di balik wajah pria itu. Rona merah di wajahnya kembali terlihat, lalu berkata, "Sekarang ada bayi di perutku, kita harus berhati-

Hati, jangan melakukan 'itu'."

6

Tentu saja, sebenarnya dia juga takut pada Denzel.

Jika tidak, mana mungkin dia menjauhi Denzel sebelum tahu dirinya sedang hamil!

Dulu, saat mereka bertunangan, Fiona juga sempat beberapa kali membayangkan berciuman mesra dengan Denzel, meringkuk di dalam dekapan pelukan pria itu dan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya sebelum ini.

Namun siapa sangka, semenjak menikah, semuanya tampak berbeda dengan ekspektasi, bahkan sampai membuatnya ketakutan.

Di sisi lain, Denzel yang mendengar

Menebus sedikit demi sedikit.

6

Fiona tidak menyangka jika Denzel akan perhatian padanya dengan berinisiatif untuk tidur terpisah. Hal itu tentu saja membuatnya tertegun.

Namun, Fiona segera bereaksi. Dia melihat sekeliling rumah dan bertanya pada Denzel, "Di rumah hanya ada satu selimut dan ranjang, memangnya kamu bisa tidur di mana lagi?"

Denzel bangkit berdiri dan berkata tanpa rasa takut, "Tidak masalah, aku bisa tidur di mana pun. Berbeda denganmu, kamu sudah capek 'kan seharian ini, cepat tidur gih."

Waktu sudah hampir menunjukkan jam sebelas malam, Denzel tak lagi ingin berdebat dengan Fiona. Tanpa menunggu jawaban Fiona, Denzel

Sudah memberinya kehangatan yang belum pernah diaa rasakan selama dua tahun terakhir, tetap saja rasa sakit dan bayangan kelam yang mengganggu psikologisnya sudah sering terjadi. Hal itu mustahil bisa terobati hanya dalam waktu satu atau dua hari saja.

Denzel tentu tahu alasan kenapa Fiona bersikeras menolaknya. Hal itu juga yang menyebabkan suasana hatinya berubah suram.

Dia pun berpikir sejenak, lalu kembali menatap Fiona dan berkata dengan lembut, "Begini saja, mulai hari ini, kamu tidur di ranjang, aku tidur di luar."

Jika apa yang dia lakukan sebelumnya telah mengakibatkan luka dan trauma yang mendalam pada diri Fiona, sekarang sudah saatnya untuk

Berkata padanya dengan nada berisi ancaman, "Kalau kamu belum tidur juga, aku tidak peduli di perutmu ada bayi atau tidak. Sudah lama aku tidak melakukan 'itu' denganmu, pikiranku kacau!"

Begitu mendengar ucapan Denzel, Fiona langsung tertegun. Tubuhnya seolah membeku menatap Denzel.

Wajahnya yang mungil tampak memerah, entah itu amarah atau justru rasa malu, dia lantas berkata, "Kamu kamu... dasar bajingan."

Fiona bangkit berdiri dengan wajah yang memerah disertai umpatan pada Denzel. Dia berjalan dan segera memasuki kamar.

"Baguslah..." gumam Denzel pelan.

Dia awalnya berpikir cara itu akan ampuh saat menghadapi sifat keras

Kepala Fiona. Namun, siapa sangka jika akan seampuh itu

Apa dirinya semenakutkan itu ..

Namun, setidaknya dia bisa membuat wanita mungil itu tidur dengan nyaman di dalam kamar.

Setelah Fiona pergi, Denzel mengusap wajahnya. Dia berjalan ke bangku yang lain dan memindahkannya, kemudian menyambungkan dua bangku itu menjadi satu.

Dengan cara itu, terciptalah bangku sepanjang lebih dari dua meter. Malam ini, tidak masalah dia tidur di atas bangku. Tunggu setelah buah stroberi yang ditanamnya matang lalu memanennya sehingga dia mendapatkan uang lebih. Setelah itu, barulah dia membeli kasur atau semacamnya.

Namun, dengan lebar bangku yang hanya sebesar telapak tangan, apa dia bisa tidur dengan tenang di atasnya? Apa nantinya dia akan jatuh?

Meski sedikit khawatir, kondisi ini yang terbaik untuknya sekarang.

Denzel menghela napas panjang dan berjalan ke sudut ruangan untuk mematikan lampu. Dia kembali menuju bangku yang sudah ditata sedemikian rupa dengan ditemani cahaya rembulan yang masuk dari jendela. Dia duduk di atas bangku itu dan kemudian berbaring.

Tak lupa, dia meletakkan dua tangannya untuk dijadikan bantal dan bersiap untuk tidur.

Besok akan menjadi hari yang menyibukkan baginya, untuk itu dia harus memiliki energi dan jiwa yang

Positif.

Pada saat yang sama.

Di dalam kamar.

6

Fiona juga sudah terbaring di tempat tidur. Hanya saja, dia masih belum bisa tertidur. Dia tampak berbalik dan menatap bantal kosong di sebelahnya.

Saat ini sudah masuk ke musim penghujan, perbedaan suhu antara siang dan malam di Desa Floria sangatlah besar.

Jika tengah malam tidak memakai selimut, besok pasti akan langsung flu dan masuk angin ...

Hal ini membuatnya sedikit khawatir. Bagaimana jika Denzel terkena flu dan masuk angin karena dirinya?

Namun, bukankah Denzel mengancam dirinya dengan mengatakan akan langsung berbuat macam-macam jika tidak tidur!

Dalam hati, dia tahu apa yang diucapkan Denzel hanyalah untuk menakutinya saja. Namun, bagaimana jika itu benar?

Fiona tampak membolak-balikkan badannya di atas tempat tidur selama beberapa saat. Kemudian, rasa kantuk pun melanda hingga membuatnya tertidur pulas.

Bulan ini adalah masa kehamilan yang membuat ibu hamil sangat ingin tidur. Ditambah dengan intensitas pekerjaan yang tinggi di siang hari, tubuh yang lelah tentu saja membutuhkan waktu istirahat yang lebih.

Pada saat yang sama.

Kota Samara.

Di sebuah vila dengan gaya oriental, tampak seorang pria dan wanita paruh baya sedang duduk di sofa ruang tamu.

Meski sudah larut malam, keduanya masih belum berniat untuk beristirahat tidur di kamar.

Di sofa, pria paruh baya terlihat menundukkan kepala dengan mengepalkan tinjunya, wajahnya sangat suram.

Setelah beberapa saat, barulah dia mengangkat kepalanya dengan mata yang dipenuhi amarah tak terkendali.

Dia bangkit berdiri dan menggertakkan giginya sembari berkata, "Fiona tidak

Boleh terus hidup menderita dengan Denzel, bocah bajingan itu. Aku akan pergi untuk menjemputnya!"

Saat putrinya ingin menikah dengan Denzel, sebenarnya ada rasa tidak suka di dalam hatinya.

Namun, sifat Fiona begitu keras, belum lagi hubungannya dengan Wisnu, ayah Denzel, cukup baik, di mana kepribadian Wisnu sangat baik dan sempat membantu Keluarga Glory, jadi terpaksa dia menyetujuinya.

Hingga kemudian Keluarga Bastian bangkrut dan bocah bajingan Denzel itu kehilangan kekayaan keluarganya. Revan merasa telah ditipu dan menyuruh putrinya putus dengan Denzel.

Namun, karena sifatnya yang keras kepala, Fiona tetap bersikeras mengikuti

Denzel untuk tinggal di desa.

6

Meski sangat marah dan kecewa, tetap saja Fiona adalah darah dagingnya.

Revan dihantui rasa khawatir yang berlebihan, dia pun meminta seseorang untuk mencari informasi tentang putrinya.

Setelah mendapatkan informasi, dia sangat marah, emosinya meledak-ledak ingin sekali mencabik-cabik si Denzel sialan itu!

Di usia kandungan yang sudah menginjak tiga bulan, Fiona masih bekerja di pabrik untuk menghidupi Denzel dan membayar semua hutangnya!

Namun, Denzel justru hanya menganggur sepanjang hari, minum-minum dan berjudi!

Apa semua itu manusiawi?!

6

Kali ini, apa pun yang terjadi, Revan harus membawa putrinya kembali dan menceraikan Denzel!

Mata wanita di samping Revan juga memerah. Saat mendengar ucapan Revan, wanita itu juga bangkit berdiri, dengan emosi yang meledak-ledak, lalu berkata, "Apa pun yang terjadi, kita harus membawanya pulang! Aku tidak akan membiarkan putri yang kusayang hidup menderita dan diperlakukan buruk oleh Denzel..."

Saat mengatakannya, wanita itu membayangkan kondisi putrinya saat ini. Dia menutupi wajahnya dan menangis tersedu-sedu.

Seharusnya, saat itu dia tidak boleh menyetujui Fiona menikah dengan

Denzel si bajingan itu!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!