Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Bukti menghilang
Malam belum benar-benar berlalu ketika rumah keluarga Wijaya kembali sunyi.
Lampu biru mobil polisi yang tadi berkedip di halaman kini sudah padam. Beberapa petugas masih berjaga di luar, tetapi suasana di dalam rumah terasa jauh lebih sepi dari sebelumnya.
Bima berdiri di ruang kerja ayahnya, menatap laptop yang kini tertutup di atas meja kayu tua itu.
Beberapa jam lalu, ruangan ini menjadi tempat konfrontasi paling berbahaya dalam hidupnya. Orang yang selama ini mereka cari akhirnya berdiri langsung di hadapan mereka.
Namun ia datang bukan untuk menyerah.
Ia datang untuk memperingatkan.
Dan meninggalkan ancaman yang jauh lebih besar.
Raka berdiri di dekat jendela, memperhatikan halaman rumah dengan ekspresi serius. Dari luar terdengar suara mesin mobil patroli yang sesekali lewat di jalan.
“Aku tidak suka ini,” katanya akhirnya.
Bima menoleh.
“Yang mana?”
“Semuanya.”
Raka menghela napas.
“Dia datang ke sini dengan tenang. Tanpa takut polisi. Tanpa takut kita.”
Ia menatap laptop di meja.
“Itu berarti satu hal.”
Bima tahu apa maksudnya.
“Dia yakin kita tidak punya sesuatu yang benar-benar bisa menjatuhkannya.”
Ruangan itu kembali hening.
Beberapa menit kemudian, Sinta dan Kirana juga tiba di rumah itu setelah mendengar kabar konfrontasi tadi malam. Wajah Kirana terlihat tegang saat ia duduk di kursi ruang kerja.
“Jadi dia benar-benar datang ke sini?” tanya Kirana.
Bima mengangguk.
“Dan dia ingin kita datang ke pelabuhan lama.”
Sinta menyilangkan tangan.
“Itu jelas jebakan.”
“Ya,” kata Raka.
“Dan justru karena itu kita harus berhati-hati.”
Kirana menatap laptop.
“Setidaknya kita masih punya rekaman video itu.”
Bima menarik napas panjang.
“Ya… kita punya.”
Ia membuka laptop.
Layar menyala.
Desktop muncul seperti biasa.
Bima memasukkan flashdisk hitam yang ditemukan di kotak gula.
Beberapa detik kemudian, folder itu muncul kembali.
Kebenaran
Bima mengkliknya.
Folder terbuka.
Namun dalam sekejap, wajahnya berubah.
Kosong.
Tidak ada satu pun file di dalamnya.
“...Apa?”
Raka langsung mendekat.
“Kenapa?”
Bima menunjuk layar.
“File-nya… hilang.”
Kirana berdiri dari kursinya.
“Tidak mungkin.”
Raka segera mengambil alih laptop, memeriksa satu per satu folder di dalam flashdisk.
Tidak ada apa pun.
Semua file yang semalam mereka lihat....
dokumen.
foto.
dan rekaman video...
lenyap tanpa jejak.
Sinta memucat.
“Dia sudah menghapusnya.”
Raka menggeleng.
“Tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena tadi malam dia bahkan tidak menyentuh flashdisk ini.”
Bima merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungnya.
“Kalau begitu… bagaimana?”
Raka membuka menu sistem, mencoba melihat riwayat file.
Beberapa detik kemudian, ia berhenti.
Matanya menyipit.
“Ini aneh.”
“Apa?” tanya Kirana.
“File-file ini tidak dihapus.”
“Lalu?”
“Seolah… mereka tidak pernah ada.”
Ruangan itu terasa membeku.
Bima memandang layar laptop dengan perasaan tidak percaya.
“Tidak mungkin,” gumamnya.
“Kita semua melihatnya.”
Rekaman itu jelas.
Percakapan para pria di ruangan mewah.
Pengakuan mereka tentang fitnah terhadap toko manisan keluarga Bima.
Itu bukan mimpi.
Kirana berkata pelan, “Apakah mungkin… flashdisk ini rusak?”
Raka menggeleng lagi.
“Tidak.”
Ia membuka software pemulihan data.
Proses pemindaian berjalan beberapa menit.
Semua orang menunggu dengan napas tertahan.
Namun ketika hasilnya muncul...
layar tetap kosong.
Tidak ada file yang bisa dipulihkan.
Sinta menghela napas panjang.
“Berarti satu hal.”
Semua mata menatapnya.
“Mereka sudah selangkah lebih dulu.”
Bima mengepalkan tangan.
Kemarahan yang tadi malam sempat mereda kini kembali menyala.
“Mereka tahu.”
Raka mengangguk pelan.
“Ya.”
“Mereka tahu kita memiliki bukti.”
“Dan mereka memastikan bukti itu tidak bisa digunakan.”
Bima menatap meja kerja ayahnya.
Selama ini mereka berpikir telah menemukan senjata yang bisa menjatuhkan orang-orang itu.
Namun dalam satu malam...
senjata itu menghilang.
Seolah kebenaran yang hampir muncul kembali dipaksa tenggelam lagi ke dalam kegelapan.
Kirana memecah keheningan.
“Masih ada satu kemungkinan.”
“Apa?”
“Salinan.”
Bima menoleh cepat.
“Salinan?”
Kirana mengangguk.
“Orang seperti ayahmu tidak mungkin hanya menyimpan satu copy.”
Raka berpikir sejenak.
“Benar.”
Ia menatap Bima.
“Ayahmu pasti tahu betapa berbahayanya data itu.”
“Dia pasti menyiapkan cadangan.”
Bima terdiam.
Pikirannya berusaha mengingat setiap kebiasaan ayahnya.
Tempat-tempat yang mungkin.
Hal-hal yang mungkin ia lakukan.
Namun sebelum ia sempat berkata sesuatu....
ponsel Raka tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Raka membukanya.
Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.
“Ini tidak bagus.”
“Apa?” tanya Bima.
Raka menunjukkan layar ponselnya.
Sebuah foto.
Foto seorang pria yang duduk di kursi, tangannya terikat.
Wajahnya pucat.
Namun masih jelas dikenali.
Ayah Bima.
Di bawah foto itu ada satu kalimat.
“Bukti sudah hilang. Sekarang giliran nyawanya.”
Darah Bima terasa berhenti mengalir.
Dan untuk pertama kalinya sejak perjuangan ini dimulai....
mereka sadar bahwa waktu mereka hampir habis.
Ruangan itu terasa semakin sempit, seolah dinding-dinding rumah keluarga Wijaya perlahan mendekat. Bima masih menatap layar ponsel Raka yang menampilkan foto ayahnya, duduk di kursi dengan tangan terikat, wajahnya pucat namun masih menunjukkan keteguhan yang sama seperti yang selalu Bima kenal.
Di bawah foto itu hanya ada satu kalimat singkat:
“Bukti sudah hilang. Sekarang giliran nyawanya.”
Bima menelan ludah.
“Ini… bukan ancaman kosong,” katanya pelan.
Kirana berdiri di belakangnya, matanya terpaku pada foto itu. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat tegang.
“Tidak,” jawabnya. “Ini pesan.”
“Pesan?”
Raka mengangguk.
“Dia ingin kita panik.”
“Dan?” tanya Bima.
“Dan membuat kesalahan.”
Ruangan kembali hening.
Sinta berjalan mondar-mandir di dekat meja kerja ayah Bima, mencoba berpikir cepat. “Kalau mereka sudah menghapus bukti dari flashdisk… berarti mereka tahu kita menemukannya.”
“Ya,” kata Raka. “Dan mereka juga tahu kita masih mencarinya.”
Bima mengepalkan tangannya.
“Tapi mereka tidak tahu satu hal.”
Semua menatapnya.
“Apa?” tanya Kirana.
Bima menarik napas panjang.
“Mereka tidak tahu bahwa kita tidak akan berhenti.”
Namun tekad saja tidak cukup.
Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar keberanian.
Mereka membutuhkan arah.
Raka kembali melihat pesan di ponselnya.
“Nomor pengirimnya tidak dikenal,” katanya. “Nomor prabayar. Kemungkinan besar dibuang setelah ini.”
Kirana mencondongkan tubuhnya ke layar.
“Tunggu.”
“Apa?”
“Foto itu.”
Ia memperbesar gambar ayah Bima.
“Perhatikan latarnya.”
Bima dan Raka ikut melihat.
Di belakang kursi tempat ayahnya duduk tampak dinding beton kasar. Tidak ada jendela. Hanya sebuah lampu kuning redup menggantung dari langit-langit.
Namun ada satu detail kecil.
Sebuah papan kayu tua di sudut ruangan.
Dan di atas papan itu terdapat tulisan yang hampir pudar.
Raka menyipitkan mata.
“Apa itu?”
Kirana memperbesar lagi.
Huruf-hurufnya perlahan terlihat lebih jelas.
“Gudang 12.”
Raka menghela napas pelan.
“Pelabuhan lama.”
Bima merasakan jantungnya berdegup lebih keras.
Tempat yang disebut pria itu tadi malam.
Tempat di mana semuanya dimulai.
“Dia benar-benar ingin kita datang,” kata Sinta.
Raka mengangguk.
“Ya. Tapi sekarang kita tahu di mana.”
Bima menatap foto ayahnya sekali lagi.
Ada sesuatu di mata ayahnya dalam foto itu.
Bukan ketakutan.
Melainkan sesuatu yang lain.
Seperti pesan diam.
Seolah ayahnya berkata: jangan menyerah.
Bima menutup mata sejenak.
Ketika ia membukanya kembali, tekad di wajahnya sudah jelas.
“Kita pergi ke sana.”
Kirana langsung menggeleng.
“Tidak bisa sembarangan.”
“Kenapa?”
“Karena ini jelas jebakan.”
Raka menambahkan, “Dan kemungkinan besar mereka menunggu kita.”
“Lalu kita harus bagaimana?” tanya Bima.
Tak ada yang langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum Sinta akhirnya berkata pelan.
“Kita tidak datang sendirian.”
Raka menatapnya.
“Maksudmu?”
“Polisi.”
Kirana menggeleng.
“Polisi belum tentu netral.”
“Tidak semua,” kata Sinta.
Ia mengeluarkan ponselnya.
“Aku masih punya satu kontak.”
“Siapa?”
Sinta menatap Bima.
“Orang yang dulu membantu membuka kembali kasus lama tentang fitnah terhadap keluargamu.”
Raka langsung mengerti.
“Inspektur Arman?”
Sinta mengangguk.
“Dia salah satu dari sedikit polisi yang masih berani berdiri di sisi yang benar.”
Bima terdiam sejenak.
Ia tahu nama itu.
Seorang polisi yang reputasinya sering dianggap “terlalu jujur” oleh rekan-rekannya.
Namun justru karena itulah ia bisa dipercaya.
“Hubungi dia,” kata Bima akhirnya.
Sinta langsung mengetik pesan.
Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering.
Ia menjawab singkat, lalu menutup telepon.
“Dia akan datang.”
“Ke sini?” tanya Raka.
“Ya.”
Ruangan kembali hening.
Semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Di luar, langit Kota Sagara mulai berubah warna. Garis tipis cahaya pagi mulai muncul di balik bangunan-bangunan tua.
Namun pagi itu tidak membawa rasa tenang.
Justru membawa kesadaran baru.
Bahwa mereka telah mencapai titik di mana tidak ada lagi jalan mundur.
Sekitar dua puluh menit kemudian, suara mobil berhenti di depan rumah.
Pintu terbuka.
Seorang pria tinggi dengan jaket kulit gelap masuk ke ruang tamu.
Tatapannya tajam namun tenang.
Inspektur Arman.
Ia melihat Bima, lalu berkata tanpa basa-basi.
“Saya sudah melihat pesan yang kalian kirim.”
Bima mengangguk.
“Dia di pelabuhan lama.”
Arman menatap foto di ponsel.
“Gudang 12.”
Ia menghela napas panjang.
“Tempat yang bagus untuk menyembunyikan seseorang.”
Raka menyilangkan tangan.
“Kita harus bergerak cepat.”
Arman menatap mereka satu per satu.
“Kalau kita masuk ke sana, tidak ada jaminan semuanya berjalan mulus.”
Bima menjawab tanpa ragu.
“Ayah saya ada di sana.”
Arman terdiam beberapa detik.
Lalu akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Ia menatap mereka dengan serius.
“Kalau begitu kita lakukan ini dengan benar.”
Di luar, matahari mulai naik perlahan di atas Kota Sagara.
Dan untuk pertama kalinya sejak bukti itu menghilang—
mereka memiliki tujuan yang jelas.
Menuju pelabuhan lama.
Menuju Gudang 12.
Menuju tempat di mana hidup atau mati seseorang akan ditentukan.