NovelToon NovelToon
Sisi Tergelap Senja

Sisi Tergelap Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Trauma masa lalu / Healing
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setelah Hujan Tetap Basah

Hari-hari setelah pertemuan di kafe terasa aneh bagi Senja.

Tidak ada pertengkaran besar.

Tidak ada tangisan dramatis.

Tidak ada kata putus yang jelas.

Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.

Raka tidak lagi mengirim pesan panjang. Tidak ada lagi “kamu lagi apa?” atau “udah makan belum?”. Pesan-pesannya berubah jadi singkat, seperlunya. Sopan. Dingin. Seperti orang yang sedang menjaga jarak, tapi belum benar-benar pergi.

Dan Senja… membiarkannya.

Bukan karena tidak peduli.

Tapi karena ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Ia beberapa kali membuka chat Raka, membaca ulang pesan lama. Pesan-pesan yang dulu terasa biasa, sekarang justru terasa penting. Ada tawa di sana, ada perhatian kecil, ada rasa aman yang dulu tidak pernah ia sadari nilainya.

Sekarang, semua itu hanya jejak.

Pagi itu, Senja duduk di bangku taman kampus, menatap orang-orang yang lalu-lalang. Mahasiswa berjalan cepat menuju kelas, beberapa tertawa, beberapa sibuk dengan ponsel masing-masing. Dunia tetap berjalan, seolah tidak ada yang berubah.

Terlalu normal.

Ia merasa seperti penonton di hidupnya sendiri. Ada di sana, tapi tidak benar-benar terlibat. Tubuhnya hadir, tapi pikirannya entah tertinggal di mana.

Ponselnya bergetar.

Bukan dari Raka.

Entah kenapa, dadanya justru terasa kosong, bukan lega. Ia sempat berharap—meski kecil—nama itu muncul lagi di layar.

“Harusnya aku sedih atau biasa aja sih?” gumamnya pelan.

Ia membuka galeri ponsel. Foto-foto lama muncul—dirinya dan Raka. Di kafe yang sama. Di pinggir jalan. Di tempat-tempat sederhana yang dulu terasa istimewa hanya karena mereka ada bersama.

Senyum di foto itu terlihat tulus.

Terlalu tulus.

Sekarang?

Terasa seperti milik orang lain.

“Apa aku yang berubah… atau aku cuma baru sadar?” bisiknya.

Ia menutup galeri, meletakkan ponsel di sampingnya, lalu menatap langit yang cerah. Ironis. Di saat hidupnya terasa redup, cuaca justru terlalu terang.

Di sisi lain kota, Raka duduk di kamar dengan lampu mati. Tirai jendela tertutup setengah, membiarkan cahaya sore masuk samar. Ia menatap layar laptop yang kosong, tidak tahu harus mengerjakan apa.

Biasanya, di jam-jam seperti ini, ia akan menghubungi Senja. Sekadar cerita hal bodoh, atau mengeluh soal hari yang melelahkan.

Sekarang, jarinya berhenti di atas keyboard.

Ia teringat jawaban Senja di kafe.

“Aku nggak tahu.”

Dua kata itu terus terngiang.

Lebih menyakitkan dari “tidak”.

Karena “tidak” itu jelas.

Sedangkan “nggak tahu” berarti menggantung.

“Gue masih nunggu, atau sebenarnya udah ditinggal?” gumamnya sendiri.

Ia membuka chat Senja, menatap kolom ketik yang kosong. Ingin mengetik sesuatu, tapi takut jawabannya tidak berubah.

Ia tidak marah pada Senja.

Ia hanya lelah merasa tidak dibutuhkan.

Malamnya, Senja berbaring di kasur, menatap langit-langit gelap. Lampu kamar dimatikan, hanya cahaya dari luar jendela yang masuk tipis. Tidak ada air mata. Tidak ada amarah. Hanya rasa sepi yang aneh—sepi yang tidak berasal dari kesendirian, tapi dari kehilangan sesuatu yang belum benar-benar pergi.

Ia memikirkan hari-harinya ke depan. Bangun, kuliah, pulang, tidur. Semua terasa mekanis, seperti hidup yang dijalani tanpa benar-benar dirasakan.

Ia menyadari sesuatu yang pahit:

Kejujuran memang membuatnya lebih lega.

Tapi juga membuat dunianya lebih kosong.

Karena sekarang, ia tidak lagi bisa bersembunyi.

Tidak bisa menyalahkan siapa pun.

Tidak bisa berpura-pura tidak tahu.

Ia sendirian dengan pikirannya sendiri.

Dan kali ini, tidak ada Raka yang mencoba masuk ke dalamnya. Tidak ada orang yang memaksa ia bercerita. Tidak ada yang menanyakan keadaannya lebih dari sekadar formalitas.

Senja memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan arti kesepian yang dewasa:

bukan karena tidak punya siapa-siapa,

tapi karena tidak tahu lagi harus menjadi siapa.

Dan mungkin, yang paling menakutkan bukan kehilangan orang lain.

Tapi kehilangan versi diri sendiri yang dulu pernah merasa hidup.

1
Samuel sifatori
btw kalian lebih suka yang puitis atau normal aja? dan menurut kalian sehari berapa eps? kasih masukan nya yaa👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!