NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Persembunyian — Pesan dari Masa Lalu

Malam kembali turun. Hujan rintik memukul atap seng bangunan tua itu dengan ritme lambat, nyaris seperti hitungan mundur. Di dalam, suasana jauh dari tenang.

Safira duduk bersandar ke dinding, lututnya ditarik ke dada. Matanya kosong, tapi pikirannya berisik. Clarissa berdiri di dekat jendela sempit, tirai sedikit terbuka, mengamati jalanan dengan kewaspadaan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Adrian membersihkan senjatanya dalam diam gerakan rapi, terlatih, dingin.

Adam memeriksa ponsel lamanya. Livia berdiri di belakangnya.

Tiba-tiba..

bunyi bip pendek.

Adam membeku.

Livia langsung menoleh. “Itu…?”

Adam menatap layar. Wajahnya berubah. Bukan panik melainkan tegang yang sangat dalam.

“Akhirnya,” gumamnya.

Adrian berdiri. “Apa itu?”

Adam mengangkat ponsel itu, memperlihatkan satu pesan terenkripsi. Hanya satu baris.

PERISAI AKTIF. PROTOKOL ANAK.

Ruangan seketika sunyi.

Safira berdiri perlahan. “Protokol… anak?”

Adam menghela napas panjang, seolah memikul beban bertahun-tahun. “Itu pesan terakhir yang Armand tinggalkan. Pesan yang hanya akan aktif… kalau kalian benar-benar terancam.”

Clarissa berbalik cepat. “Maksudmu… ayah sudah memperkirakan ini?”

“Armand selalu memperkirakan yang terburuk,” jawab Livia. “Dan berharap tidak pernah benar.”

Adam mengetik cepat. Sistem lama terbuka peta, koordinat, arsip terenkripsi. Beberapa titik menyala di layar.

“Ini,” kata Adam, “adalah jaringan aman Perisai Malam lama. Tidak semuanya pengkhianat. Masih ada yang setia. Tapi hanya sedikit.”

Adrian menatap layar. “Kenapa baru aktif sekarang?”

“Karena sebelumnya,” jawab Adam pelan, “kalian belum siap.”

Safira menelan ludah. “Dan sekarang?”

Adam menatapnya lurus. “Sekarang… kalian sudah menjadi target langsung.”

Nama yang Bangkit dari Bayangan

Livia menunjuk satu titik merah di layar. “Ini masalahnya.”

“Siapa?” tanya Clarissa.

Adam menjawab tanpa ragu. “Damar Virel.”

Adrian mengernyit. “Aku belum pernah dengar.”

“Karena namanya dihapus,” jawab Adam. “Ia mantan tangan kanan Armand. Salah satu pendiri Perisai Malam. Dan pengkhianat paling cerdas yang pernah ada.”

Safira merasakan dadanya mengencang. “Dia… yang menyerang rumah kita?”

“Tidak,” kata Adam. “Itu hanya anak buahnya.”

Clarissa terdiam. “Berarti… ini belum apa-apa.”

Adam mengangguk. “Benar.”

Livia menambahkan, “Damar ingin sesuatu. Bukan hanya catatan kejahatan.”

Safira berbisik, “Tapi juga… kami.”

Keheningan kembali turun.

Keputusan yang Mengubah Segalanya

Adam mematikan layar dan menatap mereka satu per satu.

“Mulai sekarang, tidak ada yang namanya kehidupan normal.”

Clarissa mengepalkan tangan. “Aku tidak peduli lagi soal normal.”

Adrian mengangkat kepalanya. “Apa rencana kita?”

Adam tersenyum tipis—senyum prajurit yang tahu jalan berdarah di depannya.

“Kita bergerak ke sel berikutnya. Tempat di mana Armand pertama kali melatih Perisai Malam.”

Safira terkejut. “Kembali ke sarang lama?”

“Justru karena itu,” jawab Livia. “Musuh tidak akan menduga.”

Safira mengangguk perlahan, lalu bertanya dengan suara yang hampir bergetar.

“Kalau… kalau kami gagal?”

Adam mendekat, suaranya rendah tapi mantap.

“Maka Perisai Malam benar-benar mati. Dan pengkhianat menang.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi kalau kalian bertahan..”

Tatapannya tajam.

“Kalian bukan hanya anak Armand. Kalian akan menjadi akhir dari mereka semua.”

Di luar, petir menyambar, menerangi jendela sempit sesaat. Bayangan mereka terpantul di dinding—bukan lagi tiga anak yang kebingungan, melainkan tiga sosok yang perlahan dibentuk oleh kebenaran, darah, dan pilihan.

Dan jauh di tempat lain, seseorang tersenyum di balik layar gelap.

“Jadi… anak-anak Armand akhirnya bangun,” gumamnya.

“Menarik.”

Malam masih panjang. Dan permainan baru saja dimulai.

...----------------...

Esok Hari — Mereka yang Kembali dari Bayangan

Pagi datang dengan bau besi, peluh, dan luka lama.

Kabut masih menggantung rendah ketika suara langkah kaki terdengar dari luar bangunan persembunyian. Berat. Tidak disembunyikan. Seperti orang-orang yang sudah terlalu lama hidup dalam bahaya untuk peduli pada suara.

Safira yang pertama kali menyadarinya.

“Ada yang datang,” bisiknya.

Adrian langsung berdiri, refleks tangannya menuju senjata. Clarissa bergerak ke sisi ruangan, matanya tajam siap kabur, siap bertahan.

Pintu besi tua itu terbuka perlahan.

Satu per satu mereka masuk.

Enam orang.

Tubuh mereka besar, keras, dibentuk oleh latihan dan pertempuran. Ada bekas sayatan lama di lengan, bekas tembakan di bahu, jahitan kasar di leher. Beberapa pincang ringan, tapi semua berdiri tegak. Mata mereka… mata orang-orang yang sudah terlalu sering menatap kematian dan tetap hidup.

Adam melangkah maju.

Wajahnya berubah.

Bukan tegang.

Bukan curiga.

Melainkan lega.

“Kalian cepat datang juga,” katanya pelan.

Livia mengangguk singkat. “Kupikir kalian sudah mati.”

Salah satu pria tertawa pendek, batuknya berat.

“Belum. Dunia masih belum selesai dengan kami.”

Ketegangan di tubuh Clarissa, Safira, dan Adrian sedikit mengendur meski tangan Adrian tetap dekat ke senjata.

“Teman lama,” kata Adam tanpa menoleh.

Safira memperhatikan mereka satu per satu… sampai pandangannya berhenti pada satu perempuan di antara mereka.

Rambutnya pendek. Tatonya hitam pekat, membentuk pola tajam dari leher hingga lengan simbol lama Perisai Malam. Posturnya santai, tapi berbahaya.

Perempuan itu melangkah maju.

Tatapannya menyapu Clarissa berhenti sejenak, seolah menimbang sesuatu.

Lalu ke Adrian lebih lama, seperti membaca disiplin dan beban yang sudah tertanam.

Dan akhirnya berhenti tepat di Safira.

“Jadi…” katanya, suaranya rendah dan mantap.

“Ini anak-anak Armand dan Elisabet?”

Adam mengangguk. “Iya.”

Beberapa dari mereka tersenyum tipis. Yang lain saling pandang sekilas pandangan singkat, penuh makna, seolah mengenali sesuatu yang tidak diucapkan.

Perempuan itu melangkah lebih dekat, berhenti tepat di depan Safira.

“Kau Safira Grace Bastian,” katanya. Bukan bertanya.

Safira menegakkan bahu. “Iya.”

Perempuan itu menatapnya beberapa detik, lebih lama dari yang seharusnya. Matanya turun ke tangan Safira, ke cara kakinya berpijak lalu ia tersenyum kecil.

“Matamu Armand,” katanya pelan. “Tapi cara kau berdiri… itu Elisabet.”

Safira terdiam. Clarissa dan Adrian saling pandang, bingung—namun juga merasakan sesuatu yang tidak mereka pahami.

Clarissa akhirnya bicara, “Sekarang… siapa kalian?”

Adam melangkah ke tengah, memecah suasana.

“Mereka adalah sebagian dari Perisai Malam yang masih hidup,” katanya.

“Dan masih setia.”

Ia menoleh ke keenam orang itu.

“Dan mulai hari ini… mereka yang akan memastikan kalian tidak mati.”

Salah satu pria besar maju selangkah. Saat ia berdiri di depan, matanya sempat melirik Adrian singkat, tajam, seolah menguji.

“Nama gue Raven,” katanya, suaranya berat.

“Frontliner. Senjata berat. Kalau ada yang harus berdiri paling depan—itu gue.”

VISUAL REVAN

Ia menepuk dadanya yang penuh bekas luka, lalu menambahkan sambil menatap Adrian,

“Kau punya bahu prajurit. Tapi masih terlalu sering berpikir sebelum bergerak.”

Adrian mengeraskan rahangnya, tidak membalas.

Pria lain menyusul, tubuhnya lebih ramping, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Saat ia bicara, pandangannya justru tertuju pada Clarissa.

“Aku Varga,” katanya singkat.

“Jarak jauh. Sniper. Satu target, satu peluru.”

VISUAL VARGA

Ia menyipitkan mata.

“Kau yang mengambil keputusan, ya? Terlihat dari caramu berdiri kau sudah memikirkan jalan keluar bahkan sebelum pintu ditutup.”

Clarissa tidak menyangkal. Hanya mengangguk pelan.

Yang ketiga maju sambil tersenyum miring. Tangannya penuh bekas luka bakar. Matanya berkilat saat menatap Safira sekilas lalu Adrian.

“Kael,” katanya.

“Bahan peledak. Sabotase. Kalau jalannya buntu… aku yang buat

VISUAL KAEL

Ia terkekeh kecil.

“Dan kadang, aku yang menutupnya.”

Sosok keempat hampir tidak terdengar saat maju. Tubuhnya ramping, gerakannya nyaris tanpa suara. Ia tidak langsung bicara—hanya menatap mereka bertiga satu per satu, terlalu lama.

Visual Nox

“Aku Nox,” katanya akhirnya, pelan.

“Infiltrasi. Intel.”

Matanya berhenti pada Safira.

“Kau sering merasa diawasi, kan? Bahkan saat sendirian.”

Safira membeku sesaat. “Iya…”

Nox mengangguk kecil. “Bagus. Itu berarti nalurimu hidup.”

Yang kelima maju dengan langkah tenang. Tubuhnya tinggi, wajahnya keras tapi terkendali. Ia memandang Clarissa dan Adrian, lalu menunduk sedikit ke arah Safira bukan hormat, tapi pengakuan.

“Atlas,” ucapnya.

“Taktik lapangan. Evakuasi.”

Ia berkata datar,

“Dan tugasku memastikan siapa pun yang bernama Bastian… pulang hidup.”

Terakhir, perempuan bertato itu melangkah maju lagi.

“Nara,” katanya.

“Ahli jarak dekat. Katana.”

VISUAL NARA

Ia berdiri sangat dekat dengan Safira sekarang cukup dekat hingga Safira bisa merasakan tekanan kehadirannya.

“Aku yang mengakhiri pertarungan,” lanjutnya.

“Terutama yang melibatkan orang seperti kamu.”

Safira menelan ludah. “Orang seperti apa?”

Nara tersenyum tipis.

“Yang kelihatannya ragu… tapi begitu memilih, tidak pernah berhenti.”

Adam mengangguk puas. “Mulai hari ini, mereka akan melatih kalian.”

“Melatih bagaimana?” tanya Clarissa.

Livia menjawab datar, “Cara bertahan. Cara menyerang. Cara hidup ketika tidak ada yang datang menolong.”

Adrian mengepalkan tangan. “Dan kalau kami gagal?”

Nara menjawab tanpa ragu, “Maka kalian mati. Atau orang yang kalian lindungi mati.”

Ia berhenti sejenak.

“Di Perisai Malam, tidak ada pilihan ketiga.”

Hening.

Safira menarik napas panjang, lalu melangkah setengah langkah ke depan.

“Ajari kami,” katanya pelan tapi tegas.

Adam tersenyum kecil.

“Kalau begitu,” katanya,

“selamat datang di warisan yang tidak pernah ayah kalian ingin tinggalkan… tapi terpaksa ia persiapkan.”

Di luar, matahari mulai menembus kabut.

Dan tanpa mereka sadari, keenam anggota Perisai Malam itu kembali saling pandang

tatapan singkat, penuh pengertian.

Seolah satu pikiran terucap tanpa suara:

Anak-anak ini… membawa lebih dari sekadar nama.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam penyerangan itu, udara tidak hanya dipenuhi ketakutan.

melainkan persiapan menuju perang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

menurut kalian visual nya bagus ngak??

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!