Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Pagi ini Senja sudah berdiri di dekat pintu dengan tas ransel di punggung. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya bersih tanpa rias berlebih. Ia terlihat seperti mahasiswa baru pada umumnya, sedikit tegang, sedikit gugup, tapi menyimpan semangat yang hati-hati.
Sagara masih berdiri di ruang tengah, kancing kemejanya sudah rapi, jam tangan melingkar di pergelangan tangan. Dari sudut matanya, ia memperhatikan Senja yang mondar-mandir kecil, jelas sedang menimbang sesuatu.
“Om…,” Senja membuka suara lebih dulu, ragu tapi sudah memantapkan niat. “Aku mau berangkat sendiri.”
Sagara langsung mengangkat alis. “Tidak," jawabnya cepat.
Senja menoleh. “Kenapa tidak?”
“Kampus itu ramai. Kamu belum terbiasa. Kamu hamil.”
“Aku berani,” bantah Senja pelan, tapi kali ini ada nada baru di suaranya. Bukan membela diri, lebih seperti menyatakan.
Sagara diam sejenak. “Aku tahu.”
“Kalau Om terus mengantar, orang-orang akan curiga,” lanjut Senja. “Aku ingin… dikenal sebagai mahasiswa. Bukan sebagai seseora yang lain.”
Sagara menyilangkan tangan. Rahangnya mengeras sedikit. “Aku hanya ingin memastikan kamu sampai dengan aman.”
“Aku bisa naik taxi online.”
“Tidak.”
Senja menghela napas kecil. Lalu, untuk pertama kalinya, ia menatap Sagara tanpa menunduk. “Om Sagara, aku butuh belajar pergi sendiri.”
Kalimat yang tercetus dari bibirnya membuat Sagara terdiam lebih lama.
“Setidaknya,” Senja melunak, “Om mengantar sampai depan gang saja. Jangan sampai kampus.”
Ada jeda panjang sebelum akhirnya Sagara mengangguk satu kali. “Baik. Tapi kamu kirim pesan saat sampai.”
Senja tersenyum kecil. “Iya.”
Sagara menatapnya. “Dan jangan memaksakan diri.”
“Iya.”
“Jangan lupa makan siang,” katanya.
Iya.”
“Kalau pulang—”
“Aku kirim pesan," potong Senja cepat, lalu menutup mulutnya sendiri, malu.
Sudut bibir Sagara bergerak tipis. Hampir tidak terlihat.
Sagara mengangguk. “Hati-hati.”
Senja diam, tampak ragu sejenak. “Om Sagara…”
“Ya?”
“Makasih… sudah percaya aku.”
Sagara menatapnya. “Aku tidak percaya pada kemampuanmu,” katanya tenang. “Aku percaya pada keteguhanmu.”
*
*
*
Senja berdiri sendiri di trotoar kampus. Untuk pertama kalinya setelah bertemu Sagara, benar-benar sendiri. Ia menarik napas panjang.
Aku di sini, sebagai Senja, dengan pilihanku.
Gumamnya di dalam hati.
Langkahnya menyatu dengan arus mahasiswa lain. Suara tawa, langkah kaki, obrolan ringan, semuanya terasa asing sekaligus akrab.
Namun, ketika ia berbelok ke lorong gedung fakultas, langkahnya mendadak melambat. Di ujung lorong, berdiri dua sosok yang terlalu ia kenal.
Deka...
Dan Jelita.
Deka berdiri bersandar di dinding, mengenakan jaket almamater. Rambutnya sedikit lebih pendek dari terakhir kali Senja melihatnya. Wajahnya… masih sama. Terlalu familiar.
Jelita berdiri di sampingnya, tersenyum lebar, terlalu cerah untuk pagi yang biasa.
“Senja?” suara Jelita lebih dulu terdengar.
“Ya ampun, kamu kuliah di sini juga?” imbuhnya.
Senja berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi wajahnya tetap tenang. “Iya,” jawabnya singkat.
Deka menatapnya lama, terlalu dalam, seolah mencari sesuatu di wajah Senja. Sorot matanya ada luka, mungkin. Atau penyesalan.
“Kamu… kelihatan baik,” kata Deka akhirnya.
“Terima kasih.” Jawaban Senja dingin, sopan, dan berjarak. Terkesan jelas bahwa dia tidak memberi ruang nostalgia.
Jelita tertawa kecil. “Aku bilang juga apa ke Deka. Dunia ini sempit, ya.”
Senja menatapnya sekilas. Senyum Jelita masih sama seperti dulu, manis di luar, pahit di dalam.
“Kita satu fakultas,” lanjut Jelita antusias. “Seru ya, bisa bareng lagi.”
Bareng.
Kata itu membuat Senja ingin tertawa kecil, tapi ia menahannya. “Aku ke kelas dulu,” kata Senja. “Selamat kuliah.”
Ia melangkah pergi, tapi suara Deka menghentikannya.
“Senja.”
Ia menoleh.
“Aku… aku minta maaf,” kata Deka, suaranya lebih rendah. “Tentang dulu.”
Jelita menegang sepersekian detik.
Senja menatap Deka. Ia tidak marah, tapi bukan berarti lunak. Hanya… selesai.
“Aku sudah memaafkan,” katanya jujur. “Tapi itu tidak berarti aku ingin kembali ke tempat yang sama.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari amarah.
Deka terdiam.
Jelita tersenyum kaku. “Senja selalu dewasa ya,” katanya, nada sedikit tajam. “Cepat sekali bangkit.”
Senja menatapnya lurus. “Karena aku tidak punya pilihan lain," ucapnya, lalu pergi.
Langkahnya terasa lebih ringan setelah melewati lorong itu. Dadanya masih berdenyut, tapi bukan sakit. Lebih seperti bekas memar yang akhirnya sembuh.
"Kamu masih ada rasa ya sama Senja?" tanya Jelita setelah tubuh Senja menjauh dari pandangan.
Deka menghela napas berat. "Sepertinya."
Hati Jelita meremang. Deka terlalu terang-terangan melukainya. Ingin menangis dan berteriak, tapi ditahannya kuat-kuat.
"Bukannya kamu masih kecewa karena dia hamil anak cowok lain?"
Deka reflek menoleh saat aib itu terlontar keras dari mulut Jelita. "Pelanin suaramu. Nggak enak terdengar orang."
"Aku cuma ingin ngingetin, kalau sekarang pacarmu itu 'kan aku," lirih Jelita tertunduk.
"Itu karena kamu yang terus nempel ke aku." Deka menatap Jelita lebih intens. "Kalau berita kehamilannya sampai jadi bahan gosip, aku pastikan kamu orang pertama yang aku curigai," kecamnya halus, tidak ada bentakan, tapi menusuk.
Kelas mulai terisi penuh. Senja memilih bangku pinggir dekat jendela, cukup aman untuk mengamati, cukup jauh untuk tidak mencolok. Ia mengeluarkan buku catatan, menata pulpen, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia hanya mahasiswa biasa di ruang ini.
Di tempat baru, suasana baru, Senja merasa tegang sekaligus bersemangat. Dan entah kenapa, di tengah hiruk-pikuk kelas, ia teringat satu sosok yang berdiri kaku tapi setia menjaga dari kejauhan.
Sagara.
Bukan sebagai bayangan, tapi sebagai batas aman. Dan senyum kecil menghiasi bibirnya tanpa permisi.
Beberapa menit kemudian, terdengar langkah kaki seseorang yang berhenti di sebelahnya.
“Boleh?” suara itu terdengar rendah. Senja menegang sebelum menoleh.
Deka.
Ia berdiri di sana, ransel menggantung di satu bahu, ekspresinya ragu tapi mantap. Seolah bangku itu memang miliknya sejak awal.
Bangku di sebelah Senja memang kosong. Ia ingin sekali menolak, tapi ini masih pagi, malas untuk mendrama.
“Silakan,” jawab Senja singkat.
Deka duduk.
Gerakan pria itu biasa, tidak ada yang berlebihan, tapi bagi Senja, rasanya seperti masa lalu ikut duduk bersamanya.
Beberapa detik mereka terdiam. Senja fokus dengan bukunya, sementara Deka tampak ragu ingin memulai obrolan. Terliha jelas bahwa Senja sedang memasang dinding pembatas.
Di barisan depan, Jelita menoleh sebentar. Tatapan matanya sempat bertemu Senja. Senyum kecil muncul, tipis, penuh makna yang tidak ramah.
Senja berpaling. Ia memilih fokus ke bukunya.
Deka mencondongkan tubuh sedikit. “Aku nggak nyangka kita bakal satu kelas.”
“Aku juga,” jawab Senja, tanpa menoleh.
“Aku pikir kamu bakal pindah kota.”
“Aku tidak lari,” kata Senja pelan, tapi tegas.
Deka terdiam. Ia mengangguk kecil, seolah menerima sesuatu yang seharusnya ia sadari sejak lama.
Suasana kelas kian riuh. Mahasiswa saling bercakap, beberapa tertawa. Senja menarik napas, berusaha menenangkan degup jantungnya.
Lalu tiba-tiba... sunyi. Pintu kelas terbuka.
Langkah sepatu terdengar mantap, terukur. Tidak tergesa, tidak ragu.
Aura yang masuk bersama langkah itu membuat obrolan langsung meredup tanpa perlu teguran. Senja refleks mengangkat wajah. Dan seluruh tubuhnya seketika membeku.
Bersambung~~
kayak aku bermimpi, karyaku banyak dibaca, banyak disukai, bukan karena aku merasa pantas, tapi aku mau kayak itu. ya walau faktanya sepi. seperti mengulang sepinya LL..yang sepi, rapi, presisi. tak pernah bertambah hingga ke ujung cerita..
yuk lanjut. aku pantau 😎😎😎..