Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-29
Setelah beberapa hari yang lalu kehebohan alarm palsu itu. Seminggu sebelum tanggal operasi yang telah dijadwalkan, Elisa menghabiskan sorenya dengan duduk di balkon kamar. Ia menatap taman luas mansion yang mulai diselimuti warna jingga. Dalam diamnya, pikiran Elisa berkelana jauh ke belakang, ke sebuah masa yang mengubah garis hidupnya selamanya.
Ia mengingat malam itu. Malam yang awalnya ia kutuk sebagai kesalahan. Saat itu, ia hanyalah seorang gadis kurir makanan yang sedang mengantarkan pesanan, harus terjebak dalam keadaan yang tidak ia mengerti di kamar hotel itu. Setetes air mata jatuh di pipinya saat ia mengingat ketakutannya kala menyadari setelah malam itu terjadi ternyata ada kehidupan yang tumbuh di rahimnya hasil dari ketidaksengajaan. Ia pernah merasa dunia hancur dalam semalam. Rasa takut, trauma akan kejadian malam itu benar-benar membuat dia merasa kotor. Ia juga pernah merasa kehadirannya di keluarga Mahendra hanyalah sebuah kewajiban moral yang dingin dan kaku.
Namun, ia menoleh ke arah sofa. Di sana, ada Kalandra, pria yang dulu ia anggap sebagai monster, pria Brengsek yang sudah membuat dunianya hancur, yang dijuluki gunung es yang tak tersentuh sekarang sedang serius membaca buku panduan menyusui dengan kacamata bertengger di hidungnya. Formalitas masih ada di antara keduanya. Kalimat Saya yang terkadang masih terselip, meski panggilan sayang mulai sering terlontar secara impulsif. Masih Ada jarak yang belum sepenuhnya runtuh, seolah-olah kata Cinta adalah sebuah hal tabu yang terlalu berat untuk diucapkan.
"Mas..." panggil Elisa lirih.
Kalandra mendongak, matanya langsung melembut. "Ya, Elisa? Perut Kamu tidak nyaman lagi?"
Elisa menggeleng. "Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini. Terima kasih karena Mas tidak membiarkan benih kesalahan itu tumbuh sendirian."
Kalandra menutup bukunya, mendekat dan menggenggam tangan Elisa. "Jangan sebut mereka kesalahan, Elisa. Sejak saat saya mendengar detak jantung mereka pertama kali, mereka adalah takdir saya. Begitu juga Kamu."
...----------------...
Malam harinya, semesta seolah memiliki rencana lain untuk keduanya. Rencana operasi sesar yang sudah dijadwalkan dua minggu lagi dan tinggal seminggu dari sekarang mendadak hancur berantakan ketika Elisa terbangun pada pukul tiga pagi dan merasakan basah di spreinya.
"Mas... Mas Landra..." Elisa mengguncang bahu Kalandra dengan napas yang mulai memburu.
Kalandra terjaga dalam sekejap. Saat ia melihat genangan air dan wajah Elisa yang menahan nyeri hebat, kepanikan yang paling murni terpancar dari wajahnya. "Ini Ketuban? Sekarang? Tapi jadwal kita seminggu lagi!"
"Awssss…Bayinya yang tidak mau menunggu, Mas..." Elisa merintih, tangannya meremas lengan Kalandra.
Kekacauan kembali pecah di mansion mahendra dini hari ini. Kalandra menggendong Elisa dengan tangan gemetar. Di dalam mobil menuju rumah sakit, Elisa merasakan dorongan yang sangat kuat. Tubuhnya seolah diambil alih oleh insting purba.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter Stella memeriksa dengan cepat. "Sudah Pembukaan delapan! Ini terlalu cepat, tidak ada waktu untuk persiapan operasi sesar. Kepalanya sudah di bawah, Elisa. Kamu harus melahirkan mereka secara normal."
Kalandra membeku di ambang pintu ruang persalinan. Wajahnya menjadi pucat pasi, lebih pucat dari saat ia menghadapi kerugian triliunan rupiah. Melahirkan tiga bayi sekaligus secara normal, itu adalah risiko besar yang belum pernah ia bayangkan apalagi umur Elisa yang juga masih dibilang terlalu mudah.
"Normal? Dok, tapi bukannya itu sangat bahaya?" suara Kalandra bergetar hebat.
"Tidak ada pilihan lain, Pak! Tolong Bantu istri Anda!"
Di dalam ruang persalinan, suasana terasa sangat mencekam dan panas. Bau antiseptik bercampur dengan keringat. Di dalam ruangan persalinan itu Kalandra berdiri di samping kepala Elisa, membiarkan tangannya dicengkeram, bahkan kuku Elisa menusuk kulitnya hingga berdarah, namun ia tak merasakannya.
Rasa sakit yang dirasakan Elisa sudah mencapai puncaknya. Setiap kontraksi terasa seolah-olah tulang panggulnya sedang direnggangkan secara paksa. Ia berteriak, sebuah teriakan yang menyayat hati Kalandra.
"Saya tidak kuat, Mas...ini sakit sekali... saya tidak bisa," rintih Elisa di sela napasnya yang putus-putus. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya, rambutnya menempel di dahi.
Kalandra melihat pemandangan itu dengan perasaan yang luar biasa. Ia melihat wanita yang biasanya tenang dan tabah itu kini berjuang antara hidup dan mati. Ia merasa sangat berdosa karena dialah penyebab Elisa harus melewati neraka ini.
"Elisa, lihat saya! Lihat saya!" Kalandra menangkup wajah Elisa dengan kedua tangannya yang basah oleh air mata. Matanya merah, ia menangis tanpa suara. "Tolong jangan menyerah. Saya tidak bisa kehilangan Kamu. Saya tidak peduli dengan apa pun, saya hanya ingin Kamu selamat."
Elisa mencoba membuka matanya, menatap wajah pria yang selama ini selalu menjaga jarak lewat bahasa formalnya.
"Dorong, Nyonya Elisa! Sekali lagi dorongan kuat, kepala Dedek bayinya sudah kelihatan!" teriak Dokter Stella. Elisa yang mendengar instruksi dokter Stella pun mengejan dengan seluruh sisa tenaganya.
Oekkk….
Oekkk….
Oekkk…
Suara tangis pecah dari Bayi pertama, laki-laki, lahir dengan selamat.
“Selamat Tuan, Nyonya. Bayi pertamanya laki-laki, sehat dan tidak kekurangan apapun!”
Namun perjuangan Elisa belum usai. Karena masih ada dua bidadari yang menunggu. Rasa sakit itu kembali menghantam. Elisa merasa tenaganya sudah habis. Ia merasa kesadarannya juga mulai memudar. Di titik itulah, Kalandra kehilangan seluruh kontrol atas dirinya yang selama ini ia bangun. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Elisa, membisikkan kata-kata yang selama ini tersangkut di tenggorokannya.
"Elisa... Aku mohon bertahan lah, jagoan kita sudah lahir tinggal dua bidadari lagi, aku mohon bertahanlah..aku mencintaimu, El. Aku sangat mencintaimu,!" bisik Kalandra dengan suara serak yang penuh penderitaan. "Dengar, semua bukan sekedar karena anak-anak ini, tapi karena dirimu. Aku mencintaimu melampaui segala kesalahan malam itu. Tolong, tetaplah bersamaku. Bertahanlah, kamu kuat, tolong…Jangan tinggalkan aku sendiri."
Elisa tertegun di tengah rasa sakitnya. Aku mencintaimu. Kalandra menggunakan kata Aku bukan Saya. Kalandra mengucapkan kata Cinta, bukan sekadar tanggung jawab. Kalimat itu menembus kabut rasa sakit di kepala Elisa, memberikan sebuah dorongan energi yang tak masuk akal.
"Mas...maa mencintai saya?" bisik Elisa lemah. Ungkapan kalandra seolah menyuntikkannya tenaga, kalimat yang sangat-sangat ditunggu oleh Elisa selama ini.
"Sangat. Aku sangat mencintaimu, Elisa Mahendra. Tolong, berjuanglah untukku," Kalandra mencium kening Elisa berulang kali, air matanya jatuh membasahi pipi istrinya.
“Ayo Nyonya Dorong dengan kuat!“
Dengan sisa kekuatan yang seolah-olah turun dari langit, Elisa menarik napas sedalam-dalamnya. Ia mengejan dengan teriakan yang memenuhi ruangan. Tak lama kemudian, tangisan bayi kedua pun pecah
Oek…
Oek…
Bayi kedua pun lahir dengan selamat tanpa kekurangan apapun, tiba-tiba Elisa merasakan sakit yang lebih kuat, “Auww…Hufft..Dok..” Rintih Elisa semakin Erat mencekam tangan suaminya. “Dok…Istri saya kesakitan lagi ini…Kamu Bisa El…bertahanlah untuk kamu..!”
”Bentar Nyonya, tarik nafas dan dorong dengan kuat nyonya, kepala bayinya sudah keluar sedikit!”
Mendengar instruksi dari Dokter, Elisa pun mengejan lebih kuat untuk ketiga kalinya, Tak lama kemudian bayi ketiga pun terlahir dengan selamat, dua tangisan bayi perempuan yang hanya berbeda lima menit itu saling bersahutan, mengisi ruangan itu dengan simfoni kehidupan yang luar biasa
Hening sejenak. Dokter Stella tersenyum haru sambil membersihkan ketiga bayi tersebut. "Syukurlah…Ketiganya sangat sehat. Untuk Ibunya juga sangat hebat sekali."
Elisa terkulai lemas, napasnya perlahan mulai teratur. Ia merasa sangat ringan sekarang seolah beban segunung baru saja diangkat dari dadanya. Ia menoleh ke arah Kalandra. Pria itu masih menangis, bahunya terguncang hebat. Ia masih menggenggam tangan Elisa, tidak mau melepasnya seolah takut Elisa akan menghilang.
"Tadi... Mas bilang apa?" tanya Elisa dengan suara hampir hilang.
Kalandra menghapus air matanya dengan lengan baju, ia menatap Elisa dengan pandangan yang paling jujur yang pernah ada. "Aku bilang, aku mencintaimu. Dan maaf aku baru bisa berani untuk mengatakannya, aku sangat takut tadi, Terimah kasih sayang. Aku tidak akan pernah membiarkanmu kesakitan seperti ini lagi."
Elisa tersenyum lemah, sebuah senyuman paling tulus yang pernah ia berikan. "Terima kasih, Mas... saya…Em maksudnya aku juga mencintai Mas."
Kalandra mendekat, mencium bibir Elisa dengan lembut, sebuah ciuman yang tidak lagi didasari oleh nafsu atau kecelakaan malam itu, melainkan oleh rasa syukur yang mendalam atas nyawa yang baru saja dipertaruhkan.
Batas yang masih ia bangun karena belum ada keberanian itu runtuh total di ruang persalinan yang berdarah dan penuh perjuangan karena rasa takut kehilangan itu muncul. Benih kesalahan malam itu kini telah lahir sebagai tiga malaikat kecil yang akan mereka cintai seumur hidup. Dan di antara suara tangis bayi yang mulai tenang, sebuah cinta yang tumbuh dari luka dan tanggung jawab akhirnya menemukan muaranya.
Kalandra memeluk kepala Elisa, sementara perawat mulai mendekatkan ketiga bayi itu untuk inisiasi menyusui dini. Di pagi buta itu, di sebuah rumah sakit yang menjadi saksi bisu perjuangan hidup, sebuah keluarga yang sesungguhnya baru saja dilahirkan. Bukan hanya bayi-bayinya, tapi juga cinta di antara dua insan yang tadinya masih ada jarak.
"Kita pulang setelah ini, Elisa. Kita mulai semuanya dari awal. Tanpa bayang-bayang kesalahan," bisik Kalandra.
Elisa mengangguk, ia melihat tiga wajah mungil yang kini berada di pelukannya. Ia menyadari satu hal. Terkadang kesalahan yang paling fatal sekalipun bisa menjadi keindahan yang paling abadi jika dihadapi dengan keberanian dan cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat membaca guysss☺️🥰🥳...