Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.
Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.
Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Pagi hari pukul 8 pagi, di rumah Rudy. Rachel terbaring di atas kasur miliknya sendiri. Ia berhasil di selamatkan dari bencana racun yang mematikan.
Rachel pun membuka matanya, lalu ia merasakan seseorang sedang memegang tangannya.
"Hm? dimana ini.?"
Ia pun menoleh kesamping, dan melihat Rudy sedang tertidur dengan posisi duduk.
"Hmm." Rachel tersenyum lega.
"Untung saja aku berakhir disini, kalau tidak, mungkin aku sudah berada di bawah tanah."
Rachel pun mengenggam erat tangan Rudy, itu membuat Rudy terbangun.
"Ehm.? kau sudah bangun Rachel.?"
"Aku membangunkanmu ya.?"
"Hmm." Sahut Rudy tersenyum, lalu ia berdiri dan mendekati Rachel. Cum, ia mencium bibirnya sekali.
"Sedikit saja terlambat, mungkin aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi."
"Ah, semalam rasanya kepalaku pusing sekali, dadaku sesak dan terasa sangat sakit." kata Rachel sambil mencoba duduk disana.
Rudy pun membantu nya duduk.
"Apa yang terjadi semalam.?" tanya Rudy
"Entahlah, seingatku ada beberapa orang yang menyelinap masuk kedalam kamarku, Aku dibius dan tidak ingat apa-apa lagi. Lalu aku merasa tubuhku panas dan sakit, sakit sekali, dan berakhir disini."
"Axiom memberikan sinyal padaku, sensor cincin mendeteksi saraf ditubuhmu bereaksi tak wajar, dan itu terjadi dua kali. Aku melihat diagnosis tubuhmu terdapat zat berbahaya bernama Aconitum, itu jenis racun yang bisa membunuh seseorang dalam sekejap saja kalau tidak di berikan penawar tepat waktu. Aku menyuntikkan zat penenang untuk melindungi mu sementara saat kau terkena racun ini. Dan kapsul penyelamatan langsung memberikan penawarnya."
"Kenapa aku terkena Racun.?"
"Aku tidak tau, aku melihat ada dua orang di kamarmu sedang kualahan merawatmu. Kemungkinan besar kau di berikan racun saat kau tertidur."
"Apa bius itu juga beracun.?"
"Tidak, zat yang membius mu itu seperti zat penenang dengan kadar tinggi, tidak mengandung racun berbahaya, tapi efeknya bisa melumpuhkan tubuh untuk sementara."
"Kau tau banyak tentang ini, aku selamat berkatmu." kata Rachel tersenyum sambil memegang tangan Rudy.
"Hmm, yang penting kau selamat." kata Rudy sambil mengelus rambutnya.
"Sudah berapa kali kau menyelamatkan ku. Aku merasa kau seperti malaikat pelindung ku yang turun dari langit."
"Aku pasti akan melindungi mu. Untuk saat ini, aku masih mencari motif di balik kasus ini. Tapi dengan data yang aku miliki saat ini, sepertinya aku tidak bisa apa-apa."
"Mereka menyerang saat malam hari. Aku sendiri tidak tau alasannya apa. Yang aku tau, aku memang di incar banyak orang."
Rudy pun duduk di samping Rachel. Lalu ia memeluknya.
"Aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Meskipun sudah ada Axiom, tapi program perintahnya terbatas."
"Apa yang kau katakan kau sudah menjagaku dengan baik. Bahkan jauh lebih baik."
Rudy memeluknya semakin erat, ia mencium rambutnya.
"Setelah ini, aku pastikan tidak ada satu orang pun yang bisa menyakitimu lagi."
"Hmm? apa kau akan bersamaku terus.?"
Rudy pun mengangkat jari Rachel, sudah tidak ada cincin yang menempel di jarinya. Itu membuat Rachel terkejut.
"Rudy, kenapa kau mengambil cincin ku.?"
"Aku tidak mengambilnya, aku menggantinnya dengan gelang." sahut Rudy sambil menarik lengan baju.
"Ini seperti cincin, tapi lebih besar." kata Rachel.
Rudy pun menunjukkan gelangnya juga
"Kau lihat milikku, sama kan dengan punyamu."
"Ah, apalagi yang kau lakukan padaku.? Hmm, kau menempelkan ini tanpa persetujuan ku kan."
"Kenapa.? apa kau tidak suka.?"
"Aku suka cincin." sahutnya dengan sedih.
"Harusnya kau tanya fungsi gelang ini. Oke, nanti aku berikan cincin permata untukmu. Khusus untukmu, tidak ada control, tidak ada sistem, hanya sebuah perhiasan."
Rachel pun melihat Rudy.
"Serius.?"
"Ehm, serius." sahut Rudy tersenyum
Cum. Rachel menciumnya sekali.
"Aku akan menunggu moment itu."
"Oke, yang penting sekarang kau aman saat menjalankan tugas." Sahut Rudy sambil mencium keningnya.
Lalu ia berdiri. "Waktunya makan." sambil berjalan keluar kamar.
Rachel pun mencoba berdiri, "Auuh" katanya, seperti tubuhnya masih terasa sakit.
"Ada apa.? jangan manja, tubuhmu sudah sembuh total."
"Chik, harusnya kau menggendong ku."
Rudy hanya tersenyum.
....
Di meja makan, sudah tersedia beberapa makanan kaleng. Rachel pun duduk disana dan melihat makanan itu di atas meja.
"Apa roti nya sudah habis.? bukankah makanan kaleng ini sangat penting buatku."
"Tak masalah." sahutnya sambil mendekati Rachel. "Bukankah pacarku seorang kaisar, tidak mungkin membiarkan pacarnya mati kelaparan."
"Pacar.? apa itu.?"
"Ehm, itu seperti hubungan antara laki-laki dan perempuan, mirip seperti kekasih. Di tempatku dulu, sebelum bertunangan, biasanya mereka berpacaran dulu. Itu bentuk komitmen sebelum menjalin hubungan yang serius."
"Ha.? kekasih.?" sahut Rachel, wajahnya memerah.
"Apa kau tidak suka menjadi pacarku.?"
"A, apa yang kau katakan." Tek, Rachel salah tingkah dan mengambil kaleng disana.
"Hmm, aku melihat kau tidak suka dengan status itu. Sudahlah."
Brak. "Siapa yang bilang, a aku suka. Aku suka." katanya terbata-bata.
"Jadi apa kau mau jadi pacarku.?"
Rachel pun melihat Rudy dengan gugup. "Uhm" katanya dengan malu sambil menganggukkan kepala.
Cum. Rudy pun menciumnya.
"Mulai saat ini, kau adalah tanggung jawab ku. Aku tidak akan membiarkan siapapun yang menyakitimu lagi."
"Kau sudah bilang itu berkali-kali, aku rasa kita sudah menjadi sepasang kekasih saat pertama kali kau menciumku."
Rudy pun terdiam seketika, dia mulai gugup.
"Aah, itu. Aku memang sudah menganggapmu sebagai kekasih. Dan status pacaran ini sebagai penguat. Apa kau tidak keberatan.?"
"Tentu saja tidak, aku juga tidak tau Pacar itu apa. Aku ikuti saja apa maumu." kata Rachel sambil makan.
Rudy pun mengelus rambutnya. Lalu ia duduk di depan meja.
"Setelah makan, aku akan mengajarimu untuk menggunakan gelang itu."
"Oke."
.....
Beberapa saat kemudian. Di belakang rumah, Rudy dan Rachel berdiri di sebuah lahan tandus, lalu di depannya ada sebuah hutan dan bebatuan.
"Gelang ini namanya Jam tangan, secara resmi gelang ini bernama Commander. Kau bisa menyebutnya apa saja, yang terpenting gelang ini memiliki kekuatan setara dengan seorang dewa. Kau bahkan bisa menguasai satu dunia dengan gelang ini. Tapi aku sudah memberikan batasan yang cocok untukmu."
"Wah, kekuatan setara dewa.? apa kau tidak salah memberikanku kekuatan ini.?"
"Tenang saja, ada batasan untuk penggunaan nya. Seperti, kau bisa mengendalikan Axiom sesukamu. Kau hanya perlu belajar kata perintah untuk membuat Axiom bergerak."
"Mengendalikan Axiom.? apa maksudmu aku bisa menghancurkan batu itu dari sini.?"
"Yup, bukan hanya itu, kau juga bisa menargetkan musuhmu. Dengan satu kata, kau bisa melumpuhkan musuh itu."
"Aku paham cara kerjanya."
"Oke, kau harus ingat, kode untuk mengendalikan Axiom adalah, Axiom 01."
"Maksudnya.?"
"Kau tinggal bilang namanya, lalu perintahkan dia. Cobalah."
"Ah, Axiom 01 hancurkan batu itu."
SOT, BREDEMM.
"Aaaah," teriak Rachel terkejut. Bahkan ia memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Hahaha, benar seperti itu. Tapi ingat, jangan gunakan kata penghancur, Axiom benar-benar bisa menghancurkan apapun. Lebih baik kau menganti kata seperti melumpuhkan, lalu tambahkan titik target seperti kaki atau tangan. Contohnya, Lumpuhkan kakinya atau tangannya."
"Begitu ya."
"Tergantung situasimu nanti, yang jelas kau harus bisa mengendalikan emosi. Lalu, kalau kau bertemu dengan puluhan musuh, atau bahkan ratusan orang, kau harus menargetkannya dulu sebelum menyerang, kode perintah nya adalah Lock, lalu siapa targetmu."
"Ha.? aku gak ngerti."
"Cobalah lihat pohon disana. lalu cobalah kode perintahnya."
"Ah oke. Axiom 01, Lock poh.... Tiba-tiba sebuah layar hologram muncul di depan matanya. itu membuat Rachel benar-benar sangat terkejut.
"Aaahh." teriaknya sambil menutup matanya.
"Apa kau lihat sesuatu.?" tanya Rudy.
"Ah, tiba-tiba ada lingkaran dan beberapa tulisan yang muncul."
"Hahaha, itu sistem lock Axiom yang hanya bisa kau lihat."
"Kenapa bisa begitu.?"
"Tentu ada sofline dimatamu, itu menghubungkan perintah Axiom saat kau menargetkan sesuatu. Kau bisa memastikan dulu, benar atau tidak targetmu itu. Setiap target memiliki nomor masing-masing. Kau bisa menghapus target dengan menyebutkan nomor yang tertera, atau langsung menyerangnya."
"Kau merubah mataku juga ya.?"
"Hmm, bukan merubah, tapi memberikan lapisan di retina mata."
"Apa bisa begitu.?" sahutnya terkejut.
"Cobalah dulu, biar kau terbiasa."
....