"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari kiyai Yusuf!
Yusuf! Siapa sebenarnya Yusuf. namanya seringkali terdengar dari sana-sini, entah itu dari pihak Saga, ataupun pihak Gendis.
Niken masuk ke rumah besar itu, membantu Dewi berkemas. Dewi minta pulang, tapi Alang minta Niken pulang. Karena Niken tak mau, maka Alang dan Dewi memutuskan untuk mencari kontrakan untuk mereka. Itu keputusan yang terbaik sejauh ini.
"Mbak Kenapa?" tanya Niken, melihat Dewi meringis.
"Nyeri." memegangi perutnya.
"Apakah masih keluar darah Mbak?" tanya Niken.
Dewi mengangguk. Tentu saja kehamilannya akan tetap seperti itu, karena sesuatu yang mengincarnya sangat dekat. Setiap tarikan nafas Gendis selalu menghirup wanginya aroma si jabang bayi, maka seirama itu pula darah mengalir pelan keluar seperti di hisap.
Sebuah mobil asing tiba-tiba masuk ke halaman rumah itu.
Niken dan Dewi melihatnya dari balik tirai, tampaklah seseorang turun dari mobil. Laki-laki gagah berkopiah, bahkan lengkap dengan sarung yang rapi membawa kotak di tangannya.
"Ken! Itu laki-laki yang aku bilang ke kamu!" ucap Dewi, meminta Niken mengamati laki-laki itu.
"Ustadz Mbak?" tanya Niken, heran, suasana gelap membuat mata mereka tak melihat begitu jelas. Lampu teras depan tak dinyalakan semuanya.
"Iya, ustadz yang ingin kiyai-nya mati!" jawab Dewi.
Baik Niken maupun Dewi kini diam tanpa sepatah kata, bahkan gerakan mereka di buat hati-hati agar tak memunculkan suara.
Di luar sana, Gendis turun dengan langkah elegant. Pelan tapi pasti ia meniti anak tangga hingga turun di lantai yang mewah.
"Hanya ingin memastikan, Nyai Gendis masih ingat permintaan ku tempo hari." ucap Sang ustadz kepada Gendis.
"Tentu saja." jawab Gendis. Meraih kotak yang di bawa sang ustadz.
Tak lama kemudian, pria itu pergi. Pembicaraan mereka yang teramat pelan itu membuat keduanya tak mendapatkan info apa-apa.
"Mbak, aku mau keluar sebentar." ucap Niken.
"Mau kemana Ken? Malam begini, kamu jangan aneh-aneh!" Dewi menahan tangannya.
"Tidak Mbak, aku hanya lupa beli pembalut." jawab Niken mencari alasan.
"Mbak punya! Jangan keluar." cegah Dewi lagi.
"Di depan rame mbak, masih sore juga." Niken meyakinkannya.
"Niken!"
"Percaya sama aku Mbak, di depan juga ada Mas Didit." ucap Niken.
Akhirnya ia keluar meninggalkan Dewi yang cemas. Kalau bukan sekarang, kapan lagi mengikuti ustadz, bertemu kiyai yang hebat harus di usahakan malam ini juga.
"Niken! Mau kemana?" tanya Didit, melihat Niken mendekatinya.
"Mas, tolong antar Niken. Ada keperluan mendesak." ucap Niken.
Didit mengangguk, kedekatan Niken dan Saga tentu bukan rahasia bagi Didit. Kalau pujaan hati si bos sudah perintah, Didit pasti iya-iya saja.
"Kita mau kemana?" tanya Didit.
"Ikuti mobil yang tadi Mas. Tapi jangan terlalu dekat." titah Niken. Jalanan lurus masih menampakkan mobil sang ustadz, memudahkan keduanya mengikuti dalam keremangan jalan.
"Dia itu siapa, Ken?" tanya Didit.
"Dia tidak penting Mas, tapi tempat tinggalnya yang penting. Aku sedang mencari seseorang." kata Niken.
Didit mengangguk, fokus mereka tetap pada mobil yang lumayan jauh di depan. Cukup lama hingga lebih dari satu jam, mobil itu masih saja melaju. Ternyata tempat tinggalnya cukup jauh.
"Sepi Ken, apa mau lanjut?" tanya Didit.
"Lanjut Mas, sampai ke tempat tinggalnya." jawab Niken.
Jalanan mulai menyempit, kendaraan berlalu lalang juga telah sepi. Hanya ada kendaraan mereka, dan sebuah sepeda motor sebagai perantara jarak agar tak ketahuan.
"Ini, jalan menuju kemana?" tanya Niken.
"Pondok pesantren Mbak. Sama perguruan silat." jawab Didit.
"Mas tahu, pernah ke sini?" tanya Niken.
"Pernah ngantar penumpang waktu jadi supir taksi. Anaknya belajar silat di sini." kata Didit.
"Kalau begitu, aku bisa masuk."
"Jangan Ken! gerbangnya di jaga ketat, lagian kamu masuk buat apa?" tanya Didit.
"Mau bertemu kiyai Yusuf."
Brak!
Tiba-tiba mobil mereka menabrak seseorang.
"Mas." gumam Niken, dadanya berdegup kencang, mobil mereka menabrak sesuatu.
"Ken, sepertinya kita bakal dapat masalah." ucap Didit pula.
Belum juga beranjak dari tempat duduknya, kaca jendela di gedor seseorang. Mau tak mau, Didit keluar dari mobilnya.
"Kamu di sini saja." ucap Didit.
Seorang laki-laki yang wajahnya di tutup dengan kain itu langsung menarik kerah baju Didit, mengunci lengannya dan mengarahkan pisau ke lehernya.
"Maaf! Maafkan kami. Kami tidak sengaja." ucap Didit, tak melawan sama sekali, matanya melirik seorang gadis yang terduduk meringis. Entah kapan gadis itu lewat, sehingga tiba-tiba sudah tertabrak tak sengaja.
"Apa tujuan mu datang kemari?" tanya pria itu, menekan pisaunya semakin dekat, sampai terasa perih.
"Kami hanya mengikuti mobil yang tadi." jawab Didit.
Niken keluar, melihat Didit terdesak tentu dia tak akan diam saja. Sampai di sini, semua atas kemauannya.
"Maaf! Kami tidak bermaksud apa-apa. Kami akan bertanggung jawab, membawa dia ke rumah sakit." Niken menjelaskan, ia mendekati dua gadis yang duduk di rerumputan.
Tapi, bukan jawaban yang dia dapatkan melainkan serangan secepat kilat, pisau kecil berkilap sudah berada di lehernya.
"Katakan! Jika masih ingin pulang hidup-hidup."
"Ba-baiklah." Niken mengangkat tangannya, meminta gadis itu melonggarkan pisaunya sedikit. "Aku dari pusat kota, aku datang mengikuti ustadz yang baru saja kembali itu." ucap Niken.
"Untuk apa?" tanya gadis itu, terdengar bengis dan kejam.
"Aku ingin bertemu dengan kiyai Yusuf, karena aku benar-benar membutuhkan pertolongan darinya." jawab Niken.
Seketika mereka terdiam, saling pandang tanpa kata. Pisau yang tadi siap memutuskan leher Didit dan Niken, kini agak berjarak.
Niken merogoh saku jaketnya, ia mengeluarkan selembar foto dan memberikan kepada gadis berkerudung itu.
Gadis itu meraihnya, lalu menyorot dengan senter yang ia bawa.
"Dia?" tanya gadis itu, senter yang di pegangnya pun berpindah arah ke wajah Niken.
Niken mengernyit silau, menghalau cahaya dengan telapak tangan. "Tolong berikan itu kepada kiyai Yusuf, aku benar-benar membutuhkan bantuannya." ucap Niken.
Senter yang tadi menyorot pun jatuh dari tangan gadis yang tadi amat bengis, mereka semua terdiam.
Niken dan Didit pun saling pandang dibuatnya. Apa yang membuat mereka terdiam seperti itu, apakah mereka mengenal Gendis?
"Pulanglah, bawa ini bersamamu." gadis itu melepaskan kalung di lehernya, memberikan kepada Niken.
Niken mengambilnya pelan, aneh tapi merasa mereka bukanlah orang jahat.
"Niken! Ayo!" ajak Didit, ia takut terjadi hal yang lain lagi jika terlalu lama berada di sana.
"Apakah, aku bisa bertemu dengan kiyai Yusuf?" tanya Niken.
"Ayo!" Didit menyeret tangan Niken, tatapan mereka terhadap Niken terasa janggal.
Mau tak mau Niken pulang, Didit pun tak mau ambil resiko.
"Tunggu!"
Laki-laki yang sejak tadi diam kini mengejar Niken.
Niken menoleh, sebelum masuk ke dalam mobil.
"Siapa namamu?" tanyanya.
Ragu, tapi akhirnya Niken menjawab. "Niken."
Mobil segera mundur dan berputar kilat, meninggalkan tiga orang yang berdiri mengamati mereka.
"Lain kali, mungkin kita tidak selamat." ucap Didit.
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis