Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11.
Rizky yang duduk di kursi tidak jauh dari Aurely. Tampak sedang sibuk mencatat pesanan yang datang secara on line..
Tanpa bicara Rizky menatap Aurely yang wajahnya pucat.. wajah yang takut bercampur rasa lelah.
“Mas, aku salah nulis order. Ini barang sudah jadi.” Suara lirih Aurely menahan tangis. Sangat lirih takut jika Bu Wiwid yang duduk di kursi pojok mendengar.
Rizky mengangkat alisnya, namun tatapannya tetap tenang.
“Ibu yang beli tidak mau terima.” Ucapnya lagi kedua matanya sudah memerah.
“Kamu pesankan lagi ke bagian produksi sesuai yang diminta pelanggan. “ ucap Rizky cepat. Dan ia kembali menunduk menulis order pelanggan on line.
Namun ternyata Bu Wiwid tetap mendengar kasus yang menimpa Aurely. Ia menepuk meja pelan. “Berhenti sebentar. Tarik napas.”
Aurely menunduk. “Maaf, Bu. Saya ceroboh.”
Bu Wiwid menatapnya tenang. “Kamu belajar. Bukan lomba sempurna.”
Kalimat itu membuat tenggorokan Aurely tercekat. Ia pun segera membuat pesanan sesuai permintaan pelanggan.
Setelah pesanan sudah jadi dan diberikan pada pelanggan.. Aurely memberanikan diri menghadap Bu Wiwid sambil membawa satu kotak kue salah order.
“Iya Bu, terus bagaimana dengan barang yang salah ini?” tanya Aurely, “Apa saya harus bayar kesalahan ini Bu?” tanya Aurely dengan bibir gemetar.
Bu Wiwid menatap dirinya..
“Saya akan bertanggung jawab Bu, tapi potong gaji ya..” ucapnya lirih sambil menunduk, “saya belum punya uang.” Ucapnya lagi.
Ia tahu kue yang dipegangnya itu mahal dan uang yang dia bawa hanya dua puluh ribu. Uang ojek pemberian Ayahnya kemarin. Ia pun tidak ingin meminta lagi uang dari Ayahnya.
Bu Wiwid tersenyum.. “Taruh kue itu di etalase.” Ucap Bu Wiwid selanjutnya sambil menoleh ke arah etalase.
“Baik Bu.” Ucap Aurely sedikit lega.
Saat istirahat, ia duduk di sudut, memijat tangannya sendiri. Bajunya sedikit berbau dapur dan kue. Rambutnya lembap oleh keringat.
Tapi… anehnya, ia tidak ingin lari. Tidak ingin pergi dari tempat kerja itu.
Elin duduk di sebelahnya, menyodorkan sepotong roti.
“Ini sisprod Mbak.. sisa produksi, bukan roti basi. Aman dimakan.”
Aurely menerimanya.
“Makasih, Lin.”
“Capek ya?” tanya Elin sambil mendongak menatap wajah lelah Aurely.
“Iya.” Jawab Aurely jujur.
Elin tersenyum lebar. “Tapi nanti kalau sudah biasa, capeknya jadi biasa juga.”
Aurely menatap anak kecil itu lama. Ia sadar… selama ini ia takut kehilangan kenyamanan. Padahal kenyamanan sejati justru muncul saat ia berhenti berpura-pura kuat.
“Mbak Aurely tadi salah order ya?” tanya Elin selanjutnya memecah keheningan.
“Iya Lin, kuenya masih di etalase.. kalau tidak ada yang beli, Apa aku harus bayar?” tanya Aurely sambil menatap wajah imut Elin, dengan serius.
“Emangnya, Mbak Aurely salah order apa?” ucap Elin malah ganti bertanya.
“Dia minta double keju, aku tulis triple keju..” jawab Aurely datar, ada rasa kesal pada dirinya sendiri .. “entahlah kenapa bisa begitu.”
“Mungkin karena capek dan gugup Mbak..” ucap Elin.. “Tapi tenang saja Mbak, Mbak tidak harus bayar kok. Pasti ada yang beli.” Ucap Elin dengan suara ringan.
“Pasti?” tanya Aurely sambil menunduk menatap Elin yang sedang mengunyah roti.
Elin mengangguk.. “Kalau sampai malam tidak ada yang beli, akan di posting pegawai atau Mas Rizky.. “ ucap Elin setelah menelan makanannya.
“Kalau masih tidak ada yang beli?” tanya Aurely lagi.
“Hhhhmmm kalau sampai tiga hari tidak ada yang beli, dijual dengan diskon Mbak.. Pasti laris... “ ucap Elin sambil tertawa lebar.
Saat pulang sore itu, kakinya gemetar, bahunya pegal, tangannya lengket oleh sisa minyak. Tapi hatinya… tenang. Di tangannya membawa satu kantong makanan.. oleh oleh buat Ayah dan Bunda nya.. Bukan kue yang salah order. Tapi sayur, lauk dan kue sisa produksi, yang ia dapat secara cuma cuma.
Ayahnya yang menunggu, duduk di bangku depan kios Bu Ridwan.. menatapnya. “Capek?”
Aurely mengangguk sambil tersenyum kecil. “Iya, Yah.”
“Nyaman?” tanya Ayahnya lagi
Aurely terdiam sesaat.. lalu mengangguk lagi.
“Aneh… tapi iya.” Ucapnya sambil tersenyum, “Mereka sangat baik Yah. Aku tadi salah order, tapi Bu Wiwid tidak marah.” Ucap Aurely lagi.. lalu mengangkat tangannya menunjukkan kantong makanan.
“Dan lihat Yah, aku dapat makanan enak gratis.”
Ayahnya bangkit berdiri menatap Aurely dan mengusap rambut kusut Aurely karena keringat, “Tapi jangan diulang lagi ya.. meskipun kamu tidak mendapat hukuman.”
Malam itu, saat ia berbaring, satu hal ia sadari dengan jujur: Hari ini, untuk pertama kalinya… ia merasa berguna... Dan tidak ditinggalkan..
☀️☀️☀️
Keesokan paginya Aurely datang lebih awal ke kios. Untuk menebus kesalahan yang dia buat kemarin.
Apron sudah terpasang rapi, rambut diikat sederhana. Lututnya masih terasa ngilu, tapi tidak separah kemarin. Ia melihat Bu Wiwid baru saja melangkah masuk dan langsung menuju ke show room toko roti.
Namun ia hanya datang seorang diri. Tidak ada Elin. Tidak ada Elang.
Dan… tidak ada Rizky.
Entah kenapa hati Aurely merasa sepi. Dadanya terasa kosong.
Hanya suara rolling door yang baru dibuka oleh karyawan. Dan kursi kursi yang diatur oleh karyawan.di rumah makan.
Biasanya Elin dan Elang sudah berlarian sambil bertanya macam-macam. Suara Elang yang sibuk menghitung kotak. Rizky yang mengangguk dan tersenyum menyapa dirinya.
Aurely menoleh ke jam dinding. "Masih pagi." gumamnya.. Ia memberanikan diri melangkah mendekati Bu Widowati..
“Mereka belum datang ya, Bu?” tanyanya pelan pada Bu Widowati
Bu Wiwid tersenyum sambil menatap Aurely, “Siapa?”
“Elin dan Elang.” Jawab Aurely sambil tersenyum.. pipi nya sedikit merona.. ia tidak menyebut nama Rizky, meskipun sebenarnya ia juga mencari Rizky.
“Hari ini mereka sekolah.” Ucap Bu Wiwid sambil membuka laci meja, “Kalau Rizky ada kuliah pagi.”
“Oh…” gumam Aurely..
Jawaban sederhana itu justru membuat Aurely terdiam lama. Sekolah. Kuliah. Tentu saja. Namun ada sesuatu yang hilang di hati Aurely.
Ia lalu membalikkan tubuhnya, akan kembali melangkah menuju ke ruang packing. Namun sebelumnya ia melirik ke etalase.. melihat deretan kue kue. Hatinya lega. Kue yang salah order sudah tidak ada.
“Semoga sudah ada yang membeli.” Gumamnya di dalam hati.
Ia kembali ke ruang packing , membungkus pesanan, dengan karyawan lainnya. Tangannya bergerak lebih rapi dari kemarin, tapi suasana terasa sunyi.
Tanpa suara tawa anak-anak. Tanpa celetukan polos. Tanpa tatapan tenang Rizky.
Ia baru sadar… kehadiran mereka kemarin bukan sekadar kebetulan. Mereka membuat kios itu terasa hidup.
“Kamu kelihatan kosong,” ujar seorang karyawan di dekatnya.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting