Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Jalan Menjadi Mereka Bersama
Sinar matahari pagi menerpa lembut melalui tirai kamar tidur ketika Alya terbangun dengan rasa kantuk yang masih menyertai. Perutnya yang semakin membesar membuatnya sedikit kesulitan untuk bergerak, namun dia merasa bahagia setiap kali merasakan gerakan bayi di dalamnya. Dia melihat ke arah sisi tempat tidur yang sudah kosong – Sultan sudah bangun lebih awal seperti biasa dan sedang beraktivitas di luar kamar.
Dengan hati-hati, Alya bangun dari tempat tidur dan mengenakan baju tidur yang longgar. Ketika dia keluar ke koridor, aroma kopi yang harum dan roti panggang yang garing segera menyambutnya. Sultan sedang berdiri di depan kompor dapur, mengenakan baju tidur lengan panjang warna biru muda, sambil mengaduk telur yang sedang matang di atas wajan.
“Hai sayang, kamu sudah bangun?” ujar Sultan dengan senyum hangat ketika melihat istri nya masuk ke dapur. Dia segera mematikan kompor dan mendekati Alya untuk membantu dia duduk di kursi makan yang sudah dilengkapi dengan bantal tambahan untuk kenyamanannya. “Saya sudah membuat sarapanmu seperti yang kamu suka – telur mata sapi dengan roti panggang dan jus jeruk segar.”
Alya tersenyum dan menyandarkan wajahnya pada bahu suaminya sebentar. “Terima kasih sayang,” ujarnya dengan suara lembut. “Kamu selalu begitu baik padaku. Aku merasa sangat bersyukur memiliki suami seperti kamu.”
Sultan mencium dahi istri nya dengan penuh kasih sebelum kembali ke kompor untuk mengambil hidangan yang sudah siap. Selama mereka makan sarapan bersama, Sultan menceritakan tentang rencana kerja sama dengan PT. Citra Kreatif Indonesia yang akan dia mulai minggu depan. Dia sudah menerima panggilan dari Rina yang mengkonfirmasi jadwal pertemuan resmi di kantornya.
“Kita akan mengundang beberapa perwakilan dari kelompok kerajinan tangan lokal untuk ikut dalam pertemuan tersebut,” ujar Sultan sambil menambahkan madu pada roti panggang Alya. “Saya ingin mereka bisa langsung menyampaikan kebutuhan dan harapan mereka kepada tim dari perusahaan tersebut. Sehingga program yang kita buat benar-benar sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.”
Alya mengangguk dengan penuh minat. “Itu adalah ide yang sangat baik, sayang,” jawabnya. “Kamu tahu kan, beberapa ibu-ibu dari kelompok arisan kita juga memiliki keterampilan membuat kerajinan tangan yang luar biasa. Mereka sering mengeluhkan bahwa produk mereka sulit untuk mencapai pasar yang lebih luas karena tidak punya akses pemasaran yang memadai.”
Sultan mengangguk dan mencatat beberapa poin penting di buku catatan kecil yang selalu dia bawa. “Saya sudah mencatat nama mereka, sayang,” ujarnya dengan senyum. “Kita bisa mengajak mereka untuk bergabung dalam program ini. PT. Citra Kreatif Indonesia juga menyediakan pelatihan manajemen bisnis dan pembuatan produk yang lebih menarik secara visual. Saya yakin mereka akan sangat terbantu.”
Setelah selesai sarapan, Sultan membantu Alya membersihkan meja makan sebelum mulai bersiap untuk pergi ke kantor. Sementara itu, Alya masuk ke kamar untuk merapikan tempat tidur dan menyusun pakaian yang akan dia pakai hari itu. Dia berencana untuk mengunjungi kedai kerajinan tangan yang dikelola oleh ibu-ibu dari kelompok arisan untuk berbagi kabar tentang program baru tersebut.
Saat Sultan sedang mengenakan jas hitamnya, pintu depan rumah tiba-tiba diketuk. Alya segera keluar dari kamar dan berjalan ke arah pintu, sementara Sultan mengikuti dari belakang. Ketika Alya membuka pintu, dia terkejut melihat Haji Mansur berdiri di luar bersama dengan seorang wanita yang dikenalnya – Bu Siti, seorang pengusaha kerajinan tangan yang sudah lama dikenal oleh keluarga mereka.
“Bapak? Bu Siti? Sudah lama tidak bertemu,” ujar Alya dengan senyum terkejut namun senang. Dia segera mengundang mereka masuk dan meminta mereka duduk di ruang tamu. “Saya akan membuatkan teh hangat untuk kalian. Silakan duduk saja.”
Haji Mansur tersenyum dan melihat ke arah putranya yang baru saja keluar dari kamar dengan jas sudah terpasang rapi. “Saya bertemu dengan Bu Siti di pasar pagi tadi, nak,” ujarnya dengan suara penuh semangat. “Ketika saya bilang tentang program kerja sama yang akan kamu lakukan dengan perusahaan besar, dia langsung ingin bertemu denganmu untuk berbicara tentang kemungkinan bergabung dalam program tersebut.”
Bu Siti yang mengenakan baju batik warna merah tua dengan rok panjang hitam segera berdiri ketika Sultan mendekatinya. “Pak Sultan, saya sudah lama mendengar tentang program-program yang Anda kelola untuk membantu pelaku usaha kecil seperti kami,” ujarnya dengan suara penuh penghargaan. “Saya memiliki kelompok kerajinan tangan dengan sekitar dua puluh anggota yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga yang ingin menambah penghasilan keluarga. Namun kami selalu mengalami kesulitan dalam hal pemasaran dan akses bahan baku yang berkualitas.”
Sultan segera meminta Bu Siti untuk duduk kembali dan duduk di hadapannya. “Silakan ceritakan lebih lanjut tentang kelompok Anda, Bu Siti,” ujarnya dengan penuh perhatian. “Saya sangat senang bisa bertemu dengan Anda dan saya berharap program yang akan kami luncurkan bisa memberikan manfaat bagi kelompok Anda.”
Bu Siti mulai menceritakan tentang perjuangan kelompok kerajinan tangan yang dia kelola selama lima tahun terakhir. Mereka membuat berbagai produk seperti tas anyaman bambu, boneka kain batik, dan pernak-pernik dari bahan alam lainnya. Meskipun kualitas produk mereka sangat baik, namun mereka hanya bisa menjualnya di pasar lokal atau melalui pesanan dari teman dan keluarga.
“Kami pernah mencoba untuk memasarkan produk kami di pasar yang lebih besar, namun biayanya terlalu mahal dan kami tidak punya pengetahuan tentang cara membuat kemasan yang menarik,” ujar Bu Siti dengan sedikit kesedihan. “Banyak dari anggota kelompok yang hampir menyerah dan ingin berhenti membuat kerajinan tangan karena tidak ada hasil yang memadai.”
Sultan mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap poin penting yang disampaikan Bu Siti. “Saya mengerti perjuangan Anda, Bu Siti,” ujarnya dengan suara penuh empati. “Itulah mengapa kami bekerja sama dengan PT. Citra Kreatif Indonesia – untuk membantu pelaku usaha kecil seperti Anda mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan pelatihan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas produk serta kemampuan bisnis Anda.”
Dia kemudian menjelaskan secara rinci tentang program kerja sama tersebut – mulai dari pelatihan yang akan diberikan, bantuan pemasaran melalui platform daring perusahaan, hingga kemungkinan akses bahan baku dengan harga yang lebih terjangkau melalui kemitraan dengan supplier yang sudah bekerja sama dengan PT. Citra Kreatif Indonesia.
Bu Siti mendengarkan dengan mata yang semakin bersinar harap. “Itu adalah kabar yang sangat menggembirakan, Pak Sultan,” ujarnya dengan suara yang penuh emosi. “Jika program ini benar-benar bisa terlaksana, banyak keluarga akan terbantu. Kami tidak hanya mendapatkan penghasilan yang lebih baik, tetapi juga bisa melestarikan keterampilan tradisional yang sudah ada sejak lama di daerah kita.”
Alya yang baru saja datang dengan membawa teh hangat dan kue kering segera menyampaikan bahwa dia juga akan membantu dalam program tersebut. “Saya bisa mengajar mereka cara membuat desain yang lebih menarik dan cara menjahit produk dengan teknik yang lebih baik,” ujarnya dengan senyum. “Saya juga pernah mengambil kursus manajemen usaha kecil, jadi saya bisa berbagi pengetahuan tentang cara mengelola keuangan dan mencatat transaksi dengan benar.”
Haji Mansur tersenyum bangga melihat putranya dan menantunya bekerja sama untuk membantu masyarakat. “Ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana kita bisa membantu sesama dengan menggunakan kemampuan yang kita miliki,” ujarnya dengan suara penuh kebanggaan. “Saya juga akan memberikan bantuan dalam hal modal awal untuk kelompok Anda, Bu Siti. Sehingga Anda bisa membeli bahan baku yang lebih banyak dan meningkatkan produksi produk Anda.”
Bu Siti merasa sangat terharu dan hampir menangis karena emosi. “Terima kasih banyak, Pak Sultan, Bu Alya, dan Bapak Haji Mansur,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Kalian adalah anugerah bagi kami. Saya akan segera memberitahu semua anggota kelompok tentang kabar baik ini. Saya yakin mereka akan sangat senang dan bersemangat untuk bergabung dalam program ini.”
Setelah Bu Siti pergi, Sultan melihat ke arah ayahnya dengan rasa syukur yang mendalam. “Terima kasih banyak, Bapak,” ujarnya dengan suara penuh penghargaan. “Bantuan Anda akan sangat berarti bagi kelompok mereka. Tanpa modal awal yang cukup, mereka akan kesulitan untuk meningkatkan produksi mereka.”
Haji Mansur mengangguk dan membelai bahu putranya. “Kita harus saling membantu satu sama lain, nak,” jawabnya dengan suara hangat. “Saya sudah mendapatkan banyak berkah dalam hidup saya, dan sekarang saatnya bagi saya untuk berbagi berkah tersebut dengan orang lain. Selain itu, ini juga merupakan investasi untuk masa depan industri kreatif daerah kita.”
Dia kemudian melihat ke arah Alya yang sedang duduk di kursi dengan tangan yang menyentuh perutnya. “Dan untuk bayi kita yang akan lahir segera,” ujarnya dengan senyum lembut. “Saya ingin dia tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kebaikan dan semangat untuk membantu sesama. Itu adalah nilai yang paling berharga yang bisa kita wariskan padanya.”
Setelah ayahnya pulang, Sultan dan Alya berdiskusi tentang langkah-langkah selanjutnya yang akan mereka lakukan. Sultan akan segera menghubungi tim dari PT. Citra Kreatif Indonesia untuk menginformasikan tentang kelompok kerajinan tangan Bu Siti dan meminta agar mereka bisa ikut dalam pertemuan yang akan datang. Sementara itu, Alya akan mengunjungi beberapa kelompok kerajinan tangan lainnya di daerah sekitar untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang kebutuhan mereka.
“Saya juga akan membuat daftar lengkap tentang pelatihan yang mungkin dibutuhkan oleh mereka,” ujar Alya dengan semangat. “Selain pelatihan teknis, mereka juga membutuhkan pelatihan tentang cara berbicara dengan baik kepada calon pembeli, cara membuat kontrak kerja yang jelas, dan cara melindungi hak cipta produk mereka. Itu semua sangat penting untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka.”
Sultan merasa sangat bangga dengan istri nya yang selalu berpikir jauh ke depan. Dia mendekati Alya dan memberikan pelukan lembut. “Kamu adalah sosok yang luar biasa, sayang,” ujarnya dengan suara penuh cinta. “Tanpa dukungan dan ide-ide kamu, program ini tidak akan bisa berjalan dengan baik. Saya sangat bersyukur memiliki pasangan hidup yang tidak hanya cantik namun juga cerdas dan penuh dengan rasa kepedulian terhadap orang lain.”
Alya tersenyum dan menyandarkan wajahnya pada bahu suaminya. “Kita adalah pasangan, sayang,” jawabnya dengan lembut. “Kita harus saling mendukung dan bekerja sama untuk mewujudkan impian kita. Baik itu untuk keluarga kita sendiri maupun untuk masyarakat sekitar kita.”
Pada sore hari, Sultan pergi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dan menghubungi tim dari PT. Citra Kreatif Indonesia. Ketika dia sampai di kantor, sekretarisnya memberitahu bahwa ada tamu yang sudah menunggunya di ruang tamu kantor. Sultan merasa sedikit heran karena tidak ada janji temu yang diatur untuk hari itu, namun dia segera pergi ke ruang tamu dengan rasa penasaran.
Di sana, dia melihat Rina Wijaya sedang duduk dengan tenang sambil membaca majalah tentang industri kreatif. Wanita itu mengenakan blazer warna abu-abu muda dengan celana panjang hitam, rambutnya diatur rapi dalam ponytail, dan wajahnya terpancar kesopanan yang jelas. Ketika melihat Sultan masuk, dia segera berdiri dengan sopan.
“Maafkan saya jika datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, Pak Sultan,” ujarnya dengan suara ramah namun profesional. “Saya ingin mengkonfirmasi jadwal pertemuan resmi yang akan kita lakukan minggu depan. Selain itu, saya juga ingin memberikan informasi lebih lanjut tentang program kerja sama yang akan kita jalankan.”
Sultan mengangguk dan meminta Rina untuk duduk kembali. “Tidak apa-apa, Bu Rina,” jawabnya dengan senyum. “Saya juga baru saja mendapatkan informasi tentang kelompok kerajinan tangan lokal yang ingin bergabung dalam program kita. Mereka memiliki potensi yang besar dan saya yakin mereka akan menjadi aset berharga bagi program ini.”
Rina menunjukkan ekspresi tertarik ketika Sultan mulai menjelaskan tentang kelompok kerajinan tangan Bu Siti dan perjuangan mereka selama ini. “Itu adalah berita yang sangat baik, Pak Sultan,” ujarnya dengan semangat. “Kami di PT. Citra Kreatif Indonesia selalu mencari pelaku usaha kreatif lokal yang memiliki keterampilan yang baik namun membutuhkan dukungan untuk mengembangkan usahanya. Kelompok ini sepertinya sangat cocok untuk bergabung dalam program kita.”
Mereka kemudian mendiskusikan detail pertemuan yang akan datang, termasuk siapa saja yang akan diundang, materi apa saja yang akan dibahas, dan bagaimana cara memastikan bahwa semua peserta mendapatkan manfaat maksimal dari pertemuan tersebut. Rina juga memberikan beberapa materi tambahan tentang program serupa yang sudah berhasil dijalankan oleh perusahaan mereka di daerah lain di Indonesia.
“Saya percaya bahwa dengan kerja sama kita, kita bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa bagi industri kreatif Jawa Timur,” ujar Rina dengan suara penuh keyakinan. “Kita tidak hanya akan membantu pelaku usaha kecil untuk meningkatkan penghasilannya, tetapi juga akan melestarikan budaya dan keterampilan tradisional yang menjadi kebanggaan daerah kita.”
Sultan mengangguk dengan penuh persetujuan. “Itulah tujuan utama dari program ini, Bu Rina,” jawabnya. “Kita harus memastikan bahwa kemajuan yang kita capai tidak membuat kita melupakan akar dan budaya kita. Sebaliknya, kita harus menggunakan budaya dan keterampilan tradisional sebagai dasar untuk mengembangkan produk yang unik dan memiliki nilai jual yang tinggi di pasar global.”
Setelah diskusi selesai, Rina berdiri untuk pergi. Sebelum keluar dari kantor, dia melihat langsung ke mata Sultan dengan ekspresi yang penuh penghargaan. “Saya benar-benar menghargai kerja sama yang akan kita jalankan, Pak Sultan,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Dan saya juga menghargai profesionalisme dan integritas yang Anda tunjukkan. Saya berjanji bahwa saya akan selalu menjaga batasan yang telah Anda tetapkan dan fokus pada tujuan kita untuk membantu masyarakat.”
Sultan memberikan jabat tangan yang erat dan senyum hangat. “Saya juga sangat menghargai kerja sama ini, Bu Rina,” jawabnya. “Saya yakin bahwa dengan kerja sama kita yang baik dan penuh rasa saling menghargai, kita akan bisa mencapai hal-hal besar yang bermanfaat bagi banyak orang.”
Ketika Rina pergi, Sultan merasa lega dan penuh semangat tentang masa depan program tersebut. Dia tahu bahwa dengan dukungan dari PT. Citra Kreatif Indonesia, dari ayahnya, dari istri nya, dan dari seluruh pelaku usaha kreatif lokal, mereka akan bisa menciptakan perubahan yang nyata dan membawa harapan baru bagi banyak keluarga di daerah ini. Di dalam hatinya, dia berjanji untuk selalu menjalankan tugasnya dengan penuh integritas dan rasa tanggung jawab, karena dia tahu bahwa banyak orang yang mengandalkan dia dan pada harapan yang mereka bangun bersama-sama.