NovelToon NovelToon
Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Ketos / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.


Tokoh Utama:

Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.

Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase Laboratorium dan Rahasia yang Terbongkar

​Di dalam Laboratorium Pusat yang steril, cahaya lampu neon memantul di dinding putih, menciptakan suasana dingin yang mencekam. Arlan duduk di sebuah kursi khusus yang dikelilingi oleh layar monitor raksasa. Profesor Hans sedang sibuk mengatur frekuensi pada sebuah mesin pemindai otak, sementara Elena berdiri di sampingnya dengan tablet di tangan, matanya menatap Arlan seolah melihat sebuah mahakarya, bukan seorang teman.

​"Arlan, jangan tegang. Ini hanya pemindaian sinkronisasi terakhir. Kami hanya ingin melihat sejauh mana algoritma tahun '95 itu telah menyatu dengan jaringan saraf biologismu," ucap Profesor Hans dengan suara yang tenang namun mengerikan.

​Arlan menatap mereka datar. "Kalian menyebutnya riset, tapi bagi gue, ini adalah pencurian masa kecil. Ayah gue... apa dia bangga melakukan ini?"

​"Ayahmu adalah pionir, Arlan! Tanpa dia, kamu hanya akan jadi remaja rata-rata yang sibuk main gim atau galau soal cinta," sahut Elena sinis.

​Arlan mengepalkan tangannya. Di balik jas labnya, dia merasakan getaran kecil di pergelangan tangannya. Itu adalah kode dari jam tangan pintar yang terhubung dengan ponsel Ghea. Dua getaran: Tim Sabotase sudah di posisi.

​Sementara itu, di saluran ventilasi tepat di atas ruang kendali utama...

​"Ghe... gue nggak tahan lagi... debunya masuk ke hidung gue... hatchii—," Juna buru-buru menutup hidungnya sendiri dengan tangan gemetar.

​"Tahan, Jun! Kalau lo bersin sekarang, kita bakal dideportasi jadi kurir lele beneran!" bisik Ghea yang sedang sibuk menyambungkan kabel dari kamera kecil ke ponselnya. "Oke, gambar masuk. Gue lagi rekam muka si Hans. Jelas banget, Arlan lagi dipasangin kabel-kabel."

​Ghea melihat ke layar ponselnya. Hatinya perih melihat Arlan dijadikan kelinci percobaan. Dia lalu meraba tas pinggangnya, mengeluarkan benda-benda "persenjataan" mereka: sebotol cairan pembersih lantai yang baunya sangat tajam, satu gulung aluminium foil, dan senjata pamungkas... Petasan Naga Juna.

​"Jun, dengerin instruksi gue. Begitu gue kasih kode 'Sambal Ulek', lo lempar petasan itu ke arah pipa pembuangan gas di ujung sana. Bau asapnya bakal bikin sistem alarm gedung ini gila, dan aluminium foil ini bakal gue lempar ke panel listrik buat bikin short circuit."

​"Ghe, kita bisa dipenjara nggak ya?" tanya Juna cemas.

​"Kalau kita diem aja, Arlan yang dipenjara di dalam otaknya sendiri selamanya! Siap?"

​Kembali di bawah, Profesor Hans sudah siap menekan tombol 'Execute'.

​"Mari kita lihat hasil akhir dari sembilan belas tahun penantian ini," kata Hans.

​Tepat saat jarinya mau menyentuh layar, suara Ghea bergema lewat sistem intercom laboratorium yang berhasil dia retas (berkat tutorial YouTube yang dia tonton semalam suntuk di apartemen).

​"WOI, PROFESOR KERIPUT! BERHENTI SEKARANG ATAU GUE VIRALIN VIDEO KONSPIRASI INI KE SELURUH DUNIA!" teriak suara Ghea dengan lantang, bergema di seluruh ruangan.

​Elena dan Hans tersentak kaget. "Siapa itu?! Keamanan!"

​Arlan tiba-tiba menarik kabel-kabel dari kepalanya. Dia berdiri dengan tatapan tajam. "Itu asisten gue, Prof. Orang yang menurut kalian 'tidak efisien' dalam riset ini. Tapi dia lebih pintar daripada algoritma kalian."

​"Ghe, sekarang!" teriak Arlan.

​"SAMBAL ULEEEEKKKK!!!" teriak Ghea dari ventilasi.

​DARRRR! BLARRRR!

​Petasan Naga Juna meledak di dalam pipa pembuangan. Suaranya menggelegar seperti bom, diikuti oleh asap warna-warni (karena Juna salah bawa petasan, malah bawa petasan tahun baru) yang memenuhi ruangan. Asap merah, kuning, dan hijau mengepul di mana-mana.

​Ghea langsung melemparkan aluminium foil ke celah panel listrik terbuka yang sudah dia incar sejak tadi.

​SPARK! BZZZZTTT!

​Percikan api muncul, lampu laboratorium berkedip-kedip, dan seketika seluruh sistem komputer di sana mengalami crash. Layar-layar monitor menampilkan pesan error merah yang besar.

​"SABOTASE! TANGKAP MEREKA!" teriak Profesor Hans panik sambil mencoba menutupi hidungnya dari asap warna-warni.

​Ghea dan Juna merosot keluar dari ventilasi seperti adegan film aksi yang gagal, mendarat di atas meja kerja yang penuh dengan tabung reaksi.

​"ADUH! Pantat gue kena mikroskop!" teriak Juna.

​Ghea tidak peduli. Dia langsung lari ke arah Arlan, menarik tangan cowok itu. "Ar! Cepet lari! Juna udah buka pintu darurat di belakang!"

​"Ghea! You little brat!" Elena mencoba mengejar, tapi kakinya tersangkut kabel yang berserakan di lantai akibat sabotase Ghea. Dia jatuh terjungkal di tengah kepulan asap warna-warni.

​"Bye bye, Noni Pirang! Selamat menikmati pesta kembang api!" teriak Ghea sambil menarik Arlan keluar.

​Mereka bertiga berlari menyusuri lorong laboratorium yang sekarang dipenuhi bunyi sirine kebakaran. Juna memimpin di depan, berlari paling kencang seolah-olah sedang dikejar juragan lele paling galak di dunia.

​Mereka berhasil keluar dari gedung dan langsung menghilang di tengah keramaian stasiun kereta bawah tanah U-Bahn di dekat kampus. Mereka baru berhenti setelah sampai di sebuah taman kota yang sepi, napas mereka terengah-engah, wajah penuh debu ventilasi.

​Arlan terduduk di bangku taman, masih mengenakan jas lab yang sudah kotor. Dia menatap tangannya yang sedikit gemetar.

​"Kita... kita berhasil?" tanya Arlan pelan.

​"Berhasil, Ar! Gue dapet rekamannya! Semuanya! Omongan si Hans soal 'Subject A-1' dan eksperimen '95 itu ada di sini!" Ghea menunjukkan ponselnya dengan bangga.

​Juna duduk di rumput sambil memegang perutnya. "Aduh... jantung gue rasanya mau copot. Tapi serius, petasan gue tadi keren banget kan? Warnanya pink, pas banget buat hancurin lab rahasia."

​Arlan tiba-tiba tertawa. Awalnya pelan, lalu makin keras. Ini adalah tawa paling lepas yang pernah Ghea dengar dari Arlan. Bukan tawa robot, tapi tawa manusia.

​"Kenapa, Ar?" tanya Ghea heran.

​"Gue cuma mikir... sembilan belas tahun mereka berusaha bikin gue jadi manusia paling cerdas dan terkendali. Tapi hari ini, sebuah petasan warna pink dan aluminium foil hancurin semua riset mereka," Arlan menatap Ghea dengan mata yang berkaca-kaca. "Makasih, Ghe. Makasih udah nyelamatin gue dari jadi mesin."

​Ghea duduk di samping Arlan, menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu. "Ar, lo itu bukan mesin. Lo itu Arlan Hendra. Ketua OSIS kaku yang suka ngomelin gue, tapi selalu jagain gue. Gue nggak butuh algoritma buat tahu kalau lo itu istimewa."

​Tiba-tiba, ponsel Arlan bergetar. Sebuah panggilan video dari Jakarta.

​Itu dari Papa Arlan.

​Wajah Papa Arlan di layar terlihat sangat kuyu dan penuh penyesalan. Dia sepertinya sudah tahu apa yang terjadi di Munich.

​"Arlan... Ayah minta maaf," ucap Papa Arlan pelan. "Ayah pikir Ayah memberikan yang terbaik untukmu. Ayah ingin kamu sukses, tidak seperti Ayah yang dulu gagal dengan band Ayah. Tapi Ayah sadar, Ayah justru mencuri kebebasanmu."

​Arlan menatap layar ponselnya. "Ayah tahu kan apa yang Hans lakukan tadi?"

​"Ayah tahu. Ayah baru saja memutus semua dana untuk yayasan Hans. Ayah juga sudah menyiapkan pengacara untuk menuntut mereka atas malpraktik riset. Arlan... pulanglah. Atau tetaplah di sana, tapi sebagai dirimu sendiri. Bukan sebagai subjek riset siapapun."

​Arlan terdiam sejenak, lalu dia melihat ke arah Ghea dan Juna. "Ayah, Arlan bakal tetep di sini sampai masa belajar Arlan selesai. Tapi bukan untuk mereka. Untuk Arlan sendiri. Dan untuk orang-orang yang udah berjuang bareng Arlan di sini."

​Papa Arlan tersenyum tipis, ada rasa bangga yang tulus di matanya. "Bagus. Itu baru anak Ayah. Oh, dan Ghea... tolong jagain 'Robot' itu ya. Jangan sampai dia lupa cara makan gara-gara mikirin rumus."

​"Beres, Om! Saya udah stok sambal ulek banyak kok buat nyetrum otaknya!" balas Ghea semangat.

​Malam itu, di Munich yang bersalju, mereka bertiga berjalan pulang menuju apartemen. Juna di depan sambil bersiul lagu dangdut, sementara Arlan dan Ghea berjalan beriringan di belakang.

​"Ghe," panggil Arlan.

​"Ya?"

​"Gue baru sadar, algoritma '95 itu emang bikin gue pinter. Tapi ada satu hal yang nggak bisa dihitung sama rumus itu."

​"Apa?"

​Arlan berhenti berjalan, lalu dia menarik Ghea ke dalam pelukan hangat di tengah dinginnya malam Munich. "Gimana caranya gue bisa jatuh cinta sama asisten yang lebih suka bawa petasan daripada bawa buku jurnal."

​Ghea tertawa, membalas pelukan Arlan. "Itu namanya variabel cinta, Ar. Nggak perlu dihitung, cuma perlu dirasain."

​Di kejauhan, lampu kota Munich berkelap-kelip. Rahasia sudah terbongkar, beban sudah terangkat. Masa depan mereka mungkin masih penuh tanda tanya, tapi setidaknya, Arlan kini bukan lagi seorang robot. Dia adalah seorang cowok yang sedang jatuh cinta, ditemani asistennya yang luar biasa dan seorang sahabat yang terobsesi dengan siomay.

1
Esti 523
aq vote 1 ya ka ug syemangad
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!