罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Sakazukigoto part III
...**...
...処刑人の円卓 ...
...-Shokeinin no entaku-...
...'Meja para algojo'...
...⛩️🏮⛩️...
Kuroda mengangkat tangannya sedikit, menatap jari yang hilang dua ruas ujungnya seperti menatap kenangan yang tidak bisa dihapus.
"Yubitsume," katanya lirih. "Tradisi bodoh, kata sebagian orang. Tapi bagi kami, ini bukan soal tradisi. Ini... penebusan."
Noa mengernyit. "Penebusan untuk apa?"
Kuroda menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak masuk, senyumnya menghilang.
"Untuk sesuatu yang tak bisa kau perbaiki dengan kata maaf. Untuk kesalahan yang bahkan tak bisa kau ceritakan pada kematian."
Diam.
"Aku tidak menyesalinya," lanjut Kuroda, suaranya tetap lembut, tapi getir. "Tapi aku juga tidak akan mengulanginya."
Ia meminum sisa sake dalam satu tegukan. "Dan tiap kali aku melihat jari ini, aku ingat satu hal: pengampunan tidak selalu datang dari orang lain. Kadang, yang paling kejam... adalah diri sendiri."
Noa menelan ludah. Hatinya terasa aneh... campuran antara simpati, kagum, dan rasa takut.
Kuroda menoleh cepat, lalu menatap Noa lama.
"Kau jangan sampai melakukannya," ucapnya rendah. "Karena kalau itu terjadi... artinya kau sudah menjadi bagian dari permainan ini lebih dalam daripada yang kau kira."
Keheningan menggantung lagi. Kali ini lebih berat. Lebih dalam.
Dan ketika ketukan pintu datang—cepat, tegas, tanpa sopan—mereka berdua tahu malam baru saja akan dimulai.
Akiro muncul begitu pintu dibuka. Dingin. Tegas.
"Ada jamuan makan malam. Penyambutan untukmu, Nakamura," katanya datar. "Jam tujuh. Kenakan pakaian yang... layak."
"Aku tidak lapar," balas Noa, pelan tapi jelas.
Akiro memiringkan kepala, tak tersenyum.
"Itu bukan undangan. Itu perintah. Kau tinggal pilih: datang dengan langkahmu sendiri... atau dengan langkah orang lain."
Ia menatap Kuroda, mengangguk singkat, lalu pergi begitu saja.
Noa menatap pintu yang baru saja tertutup.
Dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari sel karantina, ia merasa kedinginan lagi.
...⛩️🏮⛩️...
Ruang makan itu seperti perut kuil kuno yang dibangun untuk menyimpan dosa. Dinding kayu hitam menyerap cahaya. Asap tipis dari kemenyan bercampur dengan aroma ikan panggang dan sake tua, menciptakan kabut tipis yang menggantung di udara.
Noa duduk terakhir. Bukan karena terlambat, tapi karena ia tidak yakin apakah ia memang mau untuk datang.
Semua tokoh penting telah berkumpul.
Akiro, Reiji, Kaede, Sakaki Jin, Mikami Torao, Kuroda, Pendeta Yagami, Kurosawa Tadashi, Daigo Kagemaru, Arakawa Kaito dan Hane.
Di ujung meja, tempat kehormatan masih kosong.
Di sekeliling mereka, hadir pula seluruh anggota Gokaishu, duduk berjajar. Tapi malam ini, bukan hanya mereka yang hadir.
Perwakilan dari klan sekutu juga hadir: Kobayashi, Fushimi, dan Takarabe—duduk seperti pengamat tak diundang, tapi terlalu penting untuk dibiarkan pergi.
Mereka tidak diperkenalkan. Hanya duduk. Mengamati.
Dan kemudian, hening.
Lama.
Sampai gesekan halus kaus kaki di lantai kayu terdengar dari lorong di luar ruangan.
Yamaguchi Raizen.
...⛩️🏮⛩️...
Saat suara pintu geser itu terbuka, semua orang berdiri lalu membungkuk hampir serempak seperti laut yang tiba-tiba surut untuk menghormati datangnya badai.
Semua... kecuali Noa.
Ia tetap duduk. Tangannya di pangkuan. Tatapannya datar. Bukan karena tak tahu harus berdiri, tapi karena ia tidak ingin melakukannya. Belum.
Keheningan berubah jadi ketegangan listrik.
Raizen tidak memedulikan sikap Noa. Ia berjalan perlahan ke tempat duduknya di ujung meja. Seolah waktu harus berhenti sampai ia duduk.
Begitu ia duduk, barulah semua yang lain mengikutinya.
Ia tidak membuka percakapan. Ia hanya menyapu ruangan dengan tatapan mata yang dingin dan tajam, seolah bisa mengukur kadar kepatuhan dan pengkhianatan dari satu lirikan.
"Besok pagi, kalian semua akan menyaksikan ujian yang tidak biasa," ucapnya akhirnya, suara rendahnya seperti sungai bawah tanah. "Bukan untuk melihat siapa yang paling kuat. Tapi untuk melihat... siapa yang akan bertahan dan apa yang akan bangkit."
Tidak ada yang menyela.
Reiji adalah yang pertama membuka suara. Ringan, nyaris seperti bercanda:
"Apa ini disebut jamuan akhir, atau gladi resik pemakaman?"
Tawa kecil. Beberapa tersenyum, sebagian besar tetap diam.
Salah satu anggota Gokaishu—lelaki pirang dengan bekas luka di wajah—menatap Noa tanpa senyum.
"Kalau dia gagal, lalu apa?"
Torao menimpali, "Kalau dia gagal bertahan dan Kuraokami tidak bangkit, maka dia bukan siapa-siapa. Kalau dia berhasil, dia mungkin juga jadi masalah."
Raizen mengangkat cangkirnya. Satu tangan. Ringan. Tapi semua tahu itu adalah panggilan tak bisa ditolak.
"Nakamura."
Ia menyebut nama itu. Dengan nada yang tidak berarti apa-apa... dan karenanya, sangat berbahaya.
"Selamat datang di keluarga. Dan... selamat untuk ujian besok."
Cangkir-cangkir sake terangkat.
|Kanpai. (Bersulang)
Setelah suara "Kanpai" berakhir dan semua menyesap sake mereka, Noa sempat melirik pria di kursi seberangnya. Kipas besi di tangannya belum bergerak. Tapi matanya menatap Noa... tidak dengan benci. Lebih seperti rasa penasaran.
Sebelum Noa sempat berpaling, suara Sakaki Jin terdengar, tenang tapi tegas, cukup untuk memotong udara tanpa meninggikan nada.
"Nakamura Noa," katanya singkat. "Kirishima Hayato. Pemimpin Gokaishu."
Nada suaranya seperti pengantar, sekaligus peringatan.
Hayato mengangguk sambil memainkan kipas besinya pelan. "Hai, Noa-chan," ucapnya lirih.
Noa hanya menatap, tidak menjawab.
Walaupun tidak ditanggapi, senyumnya yang terlanjur lebar masih melekat di wajahnya.
"Tato itu bukan sekadar tinta, bukan?" Ucap Hayato buru-buru sebelum merasa canggung.
Kurosawa Tadashi menimpali, nadanya seperti cambuk yang dibungkus kain, "Roh sebesar itu... kalau tidak bisa dikendalikan, bisa memusnahkan seluruh klan."
Daigo Kagemaru tertawa pelan. "Atau mungkin... bisa kita jual dengan pertarungan bawah tanah antar klan."
Arakawa Kaito tidak ikut bicara. Tapi ketika matanya bertemu mata Noa, gadis itu merasa seperti dicekik tanpa disentuh.
Mikami Torao menanggapi dengan senyum lebar, "Sejujurnya itu ide yang brilian, Kagemaru-kun."
Tak ada kehangatan. Tak ada tawa. Bahkan tak ada rasa percaya. Hanya percakapan dengan penuh sindirian dan Noa menjadi objek pusatnya.
Hanya rusa kecil di tengah hutan gelap, dikelilingi binatang predator yang belum memutuskan: menyelamatkan atau menerkam.
Noa tahu bahwa esok hari... bukan tentang menang atau kalah. Tapi tentang apa yang akan bangkit dari tubuhnya, dan siapa yang akan berusaha membunuhnya lebih dulu.
Dan saat suara gelas, tawa tipis, dan obrolan penuh kepalsuan itu terus bergulir di sekelilingnya, Noa menyadari satu hal lagi:
Hari ini adalah hari paling jujur dihidupnya. Seakan tabir kebenaran mulai menampakkan wujudnya.
Pagi tadi, ia dipaksa tunduk.
Sore tadi, ia dipaksa menerima kebenaran dirinya.
Malam ini, ia dipaksa duduk bersama orang-orang yang ingin melihatnya mati... atau memanfaatkannya.
Ia lalu teringat ibunya.
Dan tatapan Kuroda ketika mengatakan 'Ibumu tidak pernah mengkhianatimu. Dunia ini yang mengkhianatinya.'
Semua kepingan itu mulai tersusun.
Tapi Noa tahu sekarang — ibu dipaksa tunduk.
Lalu, ibu melarikan diri demi dirinya. Dan ibunya mati karena itu.
Noa menarik napas pelan.
Bukan untuk menenangkan diri.
Tapi untuk mencatat semuanya.
Ia tidak perlu membalas hari ini.
Tidak perlu melawan sekarang.
Tidak perlu menunjukkan taring sebelum waktunya.
Karena balas dendam yang gegabah sama saja bunuh diri.
Dan kematian yang sia-sia tidak pernah membuktikan apa pun.
Jadi ia menunduk. Diam. Patuh.
Dan perlahan—untuk pertama kalinya sejak digiring masuk klan ini—Noa tersenyum kecil.
Senyum orang yang sudah memilih:
Ia akan tinggal untuk menghafal nama-nama mereka.
Ia akan menunggu pintu itu terbuka sendiri...
lalu ia akan keluar dengan membawa sesuatu yang tidak bisa mereka ambil kembali.
Dan tidak ada seorang pun di ruangan itu yang tahu apa arti senyum itu.
Setidaknya, itu yang Noa pikirkan.
Ia tidak sadar bahwa dari sisi meja yang lebih gelap, Akiro—yang sejak awal tidak banyak bicara—telah memperhatikannya tanpa berkedip. Tatapannya bukan tatapan bingung, bukan tatapan meremehkan.
Akiro justru memicingkan mata pelan.
Seolah ia baru saja melihat sesuatu yang orang lain lewatkan.
Bukan sekadar senyum...
tapi niat.
...—つづく—...
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍