Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Profesionalisme yang Berantakan
Jika ada kompetisi untuk orang yang paling jago berakting di dunia, Maya yakin dirinya akan pulang membawa piala emas hari ini.
Ia berdiri di depan cermin toilet kantor pusat Arlan, memperbaiki tatanan rambutnya untuk kelima kalinya. Ia memakai kemeja oversized berwarna krem dan celana kulot hitam—pakaian tempur yang ia harap bisa membuatnya terlihat seperti desainer profesional, bukan mantan kekasih yang hampir pingsan karena sentuhan di dapur kemarin.
"Fokus, May. Ini cuma kerjaan," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.
Begitu ia masuk ke ruang rapat, Arlan sudah di sana. Kali ini dia tidak sendiri. Ada tiga orang staf senior dan satu wanita cantik berambut sebahu yang duduk tepat di sebelah Arlan. Wanita itu tertawa kecil mendengar sesuatu yang dibisikkan Arlan.
Dada Maya berdenyut aneh. Oh, jadi ini alasannya dia begitu dingin kemarin? Sudah ada pengganti?
"Ah, ini dia desainer kita," Arlan mendongak. Suaranya datar, formal, seolah kejadian "kurungan dinding" di dapur tua itu hanyalah imajinasinya saja. "Silakan duduk, Maya. Perkenalkan, ini Sandra, manajer pemasaran proyek ini."
Sandra mengulurkan tangan dengan senyum manis yang membuat Maya merasa seperti remahan biskuit. "Halo, Maya. Arlan banyak cerita soal selera desainmu yang... unik."
Maya menyambut tangan itu. "Terima kasih, Bu Sandra."
"Panggil Sandra saja, kita bakal sering kerja bareng," sahut Sandra, lalu ia kembali menoleh pada Arlan dan menyentuh lengan pria itu dengan akrab. "Lan, aku rasa warna earth tone buat ruang tamu terlalu suram. Gimana kalau kita pakai palet yang lebih vibrant?"
Arlan tidak melepaskan tangan Sandra dari lengannya. Dia justru menatap Maya, menunggu reaksi. "Gimana menurutmu, Maya? Kamu yang lebih kenal rumah itu, kan?"
Maya membuka folder sketsanya dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari biasanya. "Rumah itu punya jiwa kolonial yang kuat, Pak Arlan. Kalau kita pakai warna yang terlalu 'cerah' hanya untuk mengikuti tren, kita bakal membunuh sejarahnya. Tapi kalau Ibu Sandra mau rumah itu kelihatan seperti toko permen, silakan saja."
Suasana ruangan mendadak senyap. Staf lain saling lirik. Maya tahu dia baru saja terdengar sangat kasar.
Arlan menyandarkan punggungnya, matanya menyipit. Ada kilatan kepuasan di sana—dia senang melihat Maya terganggu. "Toko permen? Kritik yang tajam. Bagaimana kalau kamu tunjukkan alternatifnya sekarang?"
Maya berdiri dan mulai mempresentasikan sketsa yang ia buat semalam. Ia menjelaskan tentang pencahayaan alami, penggunaan material kayu daur ulang, dan bagaimana ia ingin mempertahankan ubin kunci yang asli.
Saat ia menjelaskan, ia berjalan mengitari meja. Tanpa sengaja, ujung sepatunya tersangkut kabel proyektor.
Maya terhuyung.
"Hati-hati," Arlan dengan sigap menangkap lengan Maya sebelum ia terjatuh.
Sentuhan itu singkat, tapi di ruangan ber-AC yang dingin itu, telapak tangan Arlan terasa seperti api yang membakar kulit kemeja Maya. Maya segera menarik lengannya, namun matanya tak sengaja bertemu dengan mata Arlan.
Di sana, di balik tatapan bos yang angkuh, ada Arlan yang dulu. Arlan yang selalu menangkapnya setiap kali dia tersandung lubang di jalanan Bandung.
"Terima kasih, Pak," kata Maya cepat, suaranya hampir pecah.
"Sama-sama. Lain kali, perhatikan langkahmu, Maya. Jangan sampai kamu jatuh di tempat yang sama untuk kedua kalinya," Arlan berujar dengan nada ganda yang membuat Maya tahu bahwa pria itu sedang memperingatkannya soal perasaan.
Rapat berlanjut, tapi fokus Maya sudah hancur total. Ia bisa merasakan tatapan Sandra yang mulai berubah menyelidik. Wanita itu tidak bodoh. Dia bisa merasakan ada listrik yang menyambar di antara Arlan dan desainer barunya.
Setelah rapat selesai, Arlan meminta semua orang keluar, kecuali Maya.
"Ada apa lagi, Pak?" tanya Maya saat pintu tertutup.
Arlan bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap gedung-gedung tinggi. "Sketsamu bagus. Sangat bagus. Hampir membuatku lupa kalau desainer-nya adalah orang yang paling nggak bisa dipercaya di dunia."
"Kalau Bapak cuma mau menghina, saya permisi."
"Duduk, Maya!" bentak Arlan pelan namun penuh penekanan.
Maya kembali duduk dengan perasaan dongkol. Arlan berbalik, ia melemparkan sebuah kunci ke atas meja. Kunci dengan gantungan kayu berbentuk daun maple—gantungan kunci yang Maya belikan di pasar loak saat mereka pertama kali jadian.
"Itu kunci cadangan rumah Dago. Mulai besok, kamu harus ada di sana jam tujuh pagi. Saya nggak mau tahu, saya mau progresnya lebih cepat."
Maya menatap kunci itu, hatinya mencelos. "Kenapa kamu masih simpan gantungan kunci ini?"
Arlan terdiam sejenak. Dia berjalan mendekati Maya, membungkuk hingga wajah mereka sejajar. Bau kopi dan rokok tipis tercium dari napasnya.
"Aku nggak menyimpannya karena kenangan, Maya," bisik Arlan. "Aku menyimpannya supaya aku selalu ingat betapa murahannya janji yang pernah kamu ucapkan. Supaya setiap kali aku lihat benda ini, aku nggak akan pernah tergoda buat memaafkanmu."
Maya merasa dadanya sesak. Ia mengambil kunci itu dengan tangan gemetar. "Oke. Kalau itu yang kamu mau. Tapi jangan salahkan aku kalau suatu saat nanti, kamu sadar bahwa kebencianmu ini cuma cara buat menutupi fakta kalau kamu masih peduli."
Maya berbalik dan berjalan keluar dengan kepala tegak, meskipun air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya.
Di dalam ruangan, Arlan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia memukul meja rapat dengan frustrasi. Sandra benar; dia seharusnya memakai warna yang lebih cerah untuk rumah itu. Karena rumah itu, sama seperti hatinya, sudah terlalu lama gelap dan berdebu sejak Maya pergi.