Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petualangan Ke Dusun 5 Bagian II
Hari itu dimulai dengan pagi yang hangat, cahaya matahari bersinar menerangi posko, udara sejuk menghantam kami yang sudah memakai rompi dan siap untuk pergi berkebun. Sebelumnya kami sudah diberitahu oleh kepala desa akan pergi kedusun lima hari ini untuk membantu program menanam jagung. Untuk beberapa orang yang berasal dari kota hal seperti ini pasti baru baginya sehingga ini akan jadi pengalaman luar biasa yang tidak akan pernah dilupakan dan benar, kejadian dihari itu akan selalu teringat dalam diri kami karena—sesuatu yang berkesan dan penuh emosional dan menjadi kenangan yang berharga.
Pagi itu kami berangkat bersama-sama menggunakan motor, semuanya baik-baik saja hingga sampai kami melewati perbatasan menuju dusun 5. Disitu perasaan ku mulai tidak enak, seperti ada sesuatu dalam diriku yang melarang ku untuk pergi melanjutkan perjalanan—dia menyuruh ku untuk berhenti dan pulang namun aku mengabaikanya dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Ketika memasuki dusun 5, suasananya itu jadi berubah. Kami semua menyadari hal tersebut namun tetap melanjutkan perjalanan hingga akhirnya berhenti disebuah tempat yaitu tempat yang sama dengan kami pergi kemarin.
“Diam saja, liat-liat saja” kata Putra memperingatkan kami kalau melihat hal-hal aneh maka jangan banyak bicara. Kami semua pun mendengarkan hal tersebut, namun tidak dengan beberapa orang. Mereka adalah Eni, Nadin dan juga Ikon yang datang terlambat.
Aku jadi ingat dengan apa yang dilakukan oleh Putra sebelum kami datang kesini. Aku melihatnya berbicara dengan kepala desa seperti sedang diberikan sesuatu, namun aku tidak terlalu memperhatikanya. Saat itu juga aku melihat sesuatu yang dipakai oleh Putra.
“Apa itu yang kamu pakai” tanya ku
“Jangan banyak tanya” celetuk Tian
“Ini jimat” jawab Putra
“Jimat? Untuk apa” tanya ku kembali namun Putra tak menjawabnya karena sudah pergi sambil mengangkat barang-barang dari mobil untuk dibawa didalam kebun.
“Briann” sapa Ruka melihat Brian yang juga ikut lalu Sulis yang melihatnya pun bingung tapi tiba-tiba Brian berlarii menghampirinya
“Kak Sulis” sapanya
“Kak Dila” sapanya juga melihat Dila disampingnya
“Halo Brian” sapa Sri namun Brian mengacuhkanya
“Hahah” Dani menertawainya sehingga membuat Sri kesal dan mengejar Dani
“Brian cuman mau sama beberapa orang saja”
“Dia tau mana yang cantik” kata Putra
“Semuanya cantik lah” celetuk ku sehingga membuat teman-teman ku bersorak
“Gombal lagi kamu” ucap Putra
“Sejak kapan kamu bisa ngomong manis gini” tanya Ruka
“Dari dulu lah, aku itu aslinya emang gini” jawab ku
“Berarti selama ini palsu yah”
“Ohh begitu yah kamu Enal” Putra mengompori
“Nggak, sebelum-sebelumnya itu juga asli” balas ku
“Aku aslinya dua orang” celetuk Anwar
“Kazen dan Enal” bicara Zee
“Namamu yang sebenarnya apa sih” tanya Ruka
“Dua-duanya” jawab ku
“Terserah kalian mau panggil apa, senyaman kalian aja”
“Kamu lah harusnya, nyamannya itu dipanggil apa” kata. Aku pun berpikir sejenak lalu menjawab “ Untuk sekarang Kazen aja”
“Oke Kazen” balas Ruka
...Aku pun tersenyum lalu setelah itu datanglah dua orang berseragam yang merupakan tokoh adat. Kepala desa dan yang lainnya pun menyambutnya. Saat itu kami sama sekali tidak memikirkan apapun tentang apa alasan mereka datang dan yang akan terjadi nantinya. Dua orang itu pun melakukan semacam ritual sebelum kami akan menanam. Kami pun menontonya dengan seksama sampai selesai tapi tiba-tiba saja sebuah ledakan terjadi. Wadah yang berisi makanan untuk perembahan terbang sehingga membuat semua orang terkejut.
“A-apa yang terjadi?” ujar Tian lalu wajah dua orang tokoh adat itu panik
“Kenapa mba” tanya pak Noman
“Perembahanya gagal, kita harus segera pergi dari sini” jawab tokoh adat
“Maksudnya bagaimana?” bicara Anwar
“Semuanya segera tinggalkan kebun ini—keluar dari dusunu lima ini segera” bicara seorang kepala dusun 5 lalu saat itu tiba-tiba tanah bergatar dan terjadi gempa bumi. Sebagian dari kami pun mencoba untuk saling berpegangan dan panik.
“B-bagaimana ini pak desa” ujar Pak Noman namun Kepala Desa hanya diam saja lalu melihat kearah kami mahasiswa KKN.
“Kalian nggak usah khawatir, kami akan melindungi kalian semua” ucap kepala desa lalu kami yang mendengarnya malah jadi khawatir dan bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi sebenarnya. Tak lama setelah itu awan gelap pun datang lalu angin bertiup kencang dan bersamaan dengan itu dari dalam tanah keluar makhluk aneh menyerupai tumbuhan jagung namun bisa bergerak sendiri seperti manusia dan hewan
“A-apa itu” tanya Anwar
“I-itu yang seperti ku lihat kemarin” bicara Dani
“Kamu liat dimana?” tanya Putra
“Disini juga, kan kemarin kami datang disini” balas Eni lalu kami melihat dua tokoh adat menancapkan kayu ditanah.
“Aku tidak menyangka kalau para Hybrida akan muncul secepat ini” kata salah satu tokoh adat lalu memberitahu kami agar tidak kemana-mana dan tetap berdiri dibelakang mereka lalu tak lama munculah sebuah tembok transparan seperti perisai yang mengelilingi kami.
“Hybrida?Apa itu, tadi mereka mengatakan sesuatu” bicara Anwar
“Putra, apa kamu tau sesuatu?” tanya ku namun Putra menggelengkan kepalanya.
“Apa ini bahaya yang dimaksud kepala desa” pikirnya sambil memegang gelangnya yang bercahaya.
“Putra, bawa teman-teman mu pergi dari sini” suruh kepala desa
“I-iyah pak” jawab Putra
“Kalian semua ikut Putra, ambil jalan yang berbeda dengan jalan ketika datang kesini” kata kepala desa lagi
“Tunggu—tunggu” celetuk Anwar
“Aku masih nggak paham, jelaskan semua ini dulu”
“Apa yang sebenarnya terjadi dan makhluk apa itu” tanya nya sambil menunjuk kearah para hybrida yang semakin mendekat.
“Jangan banyak tanya, udah ikuti aja kata pak desa” balas Putra lalu Anwar pun diam dan kami pun pergi mengikuti Putra.
“Semuanya bersiap” ucap pak Noman dengan lantang. Aku mendengar suara itu dan penasaran dengan apa yang terjadi, namun Putra melarang untuk berhenti. Namun kami baru mau keluar kebun tiba-tiba hybrida muncul didepan sehingga membuat kami terkejut.
“W-oaah” Putra terjatuh lalu salah satu Hybrida berjalan mendekatinya tapi malah terpental. Saat itu Putra menyadari kalau gelangnya lah yang sudah melindunginya.
“Putra bagaimana ini?” tanya Fatin lalu Putra teringat pada ucapan Kepala Desa
“Kalau misalnya terjadi sesuatu yang bahaya, maka lemparkanlah gelang ini keatas” kata Kepala Desa. Setelah itu tanpa berpikir panjang Putra pun melepaskan gelang ditanganya lalu melemparkannya keatas. Saat itu lah muncul sebuah lingkarang pelindung yang menutupi kami. Pelindung itu membuat para hybrida jadi terpetal setiap kali mendekat. Namun itu belum mengatasi masalahnya, meskipun tidak bisa mendekat tapi Hybrida makin banyak diluar sehingga membuat kami yang melihanya jadi ketakutan.
“Sudah, nggak usah takut. Kita aman berada dalam sini” ucap Putra
“Tau darimana kamu?” ujar Anwar namun Putra tak membalasnya. Pemuda itu melihat teman-temannya yang dengan khawatir.
“Disaat seperti ini, apa yang harus ku lakukan” pikirnya. Putra merasa bertanggung jawab atas teman-temanya karena Kepala Desa mempercayakanya padanya.
“Lagian makhluk apa mereka ini sebenarnya” gumanya melihat kearah Hybrida.
“Zee” Fatin dan yang lainnya memeluk Zee dengan erat
Sementara itu ditempat yang lain, kepala desa dan yang lainya sedang bertarung melawan pasukan hybrida yang gak ada habisnya. Ketika itu beliau menyadari bahawa pelindung yang diberikan kepada Putra sudah lepas, sehingga menyuruh Rio untuk menyusul mahasiswa KKN.
“T-tapi bagaimana dengan disini pak” ujar Rio
“Tenang saja, kamu pikir siapa kami ini” balas kepala desa lalu Rio melihat warga desa yang lain juga ikut bertarung bahkan Brian. Mereka seperti biasa saja dan tidak menunjukan tanda-tanda kekalahan. Akhirnya Rio pun pergi untuk menyusul mahasiswa KKN.