NovelToon NovelToon
My Dangerous Kenzo

My Dangerous Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama / Playboy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Dinan

Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - My Dangerous Kenzo

...----------------...

...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...

...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...

...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...

...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...

...Cerita ini fiksi yaa ✨...

...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...

...No plagiarism allowed ❌📝...

...----------------...

Di dalam kamarnya, Naya berdiri di depan cermin.

Rambutnya masih terurai, mata sedikit sembab—bukan karena nangis, tapi karena kurang tidur.

Bayangan kejadian semalam muncul lagi.

Hujan. Mobil. Jarak yang terlalu dekat.

Kalimat terakhir Kenzo yang masih terngiang jelas.

Lain kali… gue nggak bakal ngerem.

Naya menghela napas panjang.

Ia melirik jam di ponsel.

02.00 dia akhirnya tertidur.

“Pantes aja gue ngantuk begini,” gumamnya pelan.

‐--

“Gara-gara nggak bisa tidur.”

Ia merapikan diri seadanya, lalu turun ke bawah untuk sarapan.

Meja makan sudah terisi.

Aroma roti panggang dan kopi memenuhi ruangan.

“Pagi,” ucap Naya sambil duduk.

“Pagi, sayang,” jawab Pappy hangat

.

“Pagi,” Mommy menyahut singkat tanpa menoleh dari ponselnya.

“Jangan lupa hari ini ada bimbel,” kata Mommy kemudian.

“Iya, Mommy,” jawab Naya patuh.

Pappy meliriknya sambil tersenyum.

“Gimana nontonnya? Seru?”

“Seru, Ppy,” kata Naya cepat.

“Kapan-kapan boleh lagi ya, Ppy.”

Pappy tertawa kecil.

“Iya, sayang. Nanti kalau lagi luang boleh.”

Naya mengangguk, senyum tipis tersungging di bibirnya.

Tak lama, Reno datang dan langsung duduk di sebelah Naya.

“Pagi,” katanya.

“Pagi, Kak,” balas Naya.

Mommy meletakkan dua gelas susu di meja.

“Jangan lupa minum susu. Ini adek, ini punya kakak.”

Reno mengangguk.

“Iya, Mom.”

“Makasih, Mommy,” kata Naya sambil menarik gelasnya.

Pappy menoleh ke Reno.

“Kemarin malam bawa mobil siapa?”

“Mobil Citra, Ppy,” jawab Reno sambil mengoles roti dengan selai.

“Nanti balikin di sekolah,” lanjutnya santai.

Mommy akhirnya ikut menyimak.

“Oh… Citra yang anaknya Om Hendra itu, ya?”

“Heemm,” sahut Reno singkat sambil mengunyah.

Naya diam.

Tangannya memegang gelas susu, tapi pikirannya melayang jauh.

Ke mobil lain.

Ke hujan semalam.

Ke seseorang yang jelas-jelas bukan topik sarapan—

tapi entah kenapa, masih tinggal di kepalanya.

“Udah belum sarapannya?” tanya Reno sambil berdiri dan meraih tasnya.

“Udah,” jawab Naya singkat.

“Yaudah, ayo.”

Reno melangkah mendekati Mommy lebih dulu, lalu mengecup pipi ibunya dengan cepat.

“Berangkat dulu, Ppy, Mmy.”

Mommy mengangguk kecil.

“Hati-hati.”

Naya berdiri menyusul. Ia mendekati Pappy dan langsung memeluknya erat.

“Pappy,” ucapnya pelan.

Pappy tersenyum, membalas pelukan itu dan mengusap punggung Naya lembut.

“Hati-hati di jalan, sayang.”

Naya mengangguk, lalu melepaskan pelukan dan berjalan mengikuti Reno ke arah pintu.

Saat langkahnya keluar dari rumah, pikirannya masih sempat melayang—

pada semalam yang belum benar-benar selesai di kepalanya.

Di dalam mobil, suasana langsung berubah tegang.

“Dari kapan?” tanya Naya, menatap Reno dari spion tengah.

“Dua mingguan,” jawab Reno santai, mata tetap ke jalan.

“What??” Naya langsung menegakkan badan.

“Lo pacaran sama Citra?”

“Nggak,” Reno cepat menjawab.

“Belum,” tambahnya, seolah ralat.

“Kok gue nggak tau lo deket sama dia?” suara Naya naik setingkat.

“Emang kenapa?” Reno melirik sekilas.

“Kenapa???” Naya terkekeh sinis.

“Lo deket sama cewek, gue juga mau deket sama cowok.”

“Lo nggak boleh pacaran!” Reno refleks.

“Mommy marah nanti.”

Naya mendengus.

“Gue udah nolak berapa cowok gara-gara elo.”

Reno terdiam sesaat.

Flashback.

Kalimat itu memicu ingatan yang langsung muncul di kepala Naya.

“Nay.”

“Iya, Dim?”

“Gue suka sama lo.”

“Mau nggak jadi pacar gue?”

“Gue—”

“Nggak.”

“Naya nggak boleh pacaran dulu.”

Reno berdiri di sampingnya waktu itu, suaranya tegas.

Di sebelah Reno, Kenzo malah tertawa kecil, seolah itu hal lucu.

Flashback off.

“Dimas kurang ganteng gimana coba?” Naya menggerutu

“Lo tiba-tiba datang terus bilang bla bla bla.”

Reno menarik napas panjang.

“Gue cuma—”

“Gue sebel sama lo,” potong Naya.

“Lo sama aja kayak Mommy.”

Mobil melambat sedikit. Reno menggenggam setir lebih kuat.

“Sorry,” ucapnya akhirnya.

“Ini demi kebaikan lo.”

Naya menoleh ke jendela, menatap jalanan yang mulai ramai.

“Kadang,” katanya pelan,

“gue pengen punya hidup gue sendiri.”

Reno tak langsung menjawab.

Mesin mobil terus berjalan, membawa mereka ke sekolah—

dengan jarak yang terasa lebih jauh dari biasanya.

Naya turun dari mobil dengan wajah cemberut. Langkahnya cepat, tas diselempangkan asal.

Papasan dengan Kenzo pun ia pura-pura nggak lihat.

“Nay—” Kenzo sempat buka suara, tapi Naya sudah keburu lewat.

Kenzo mengernyit menaikan sebelah alis nya, menoleh ke Reno.

“Kenapa dia?”

Reno mengangkat bahu. “Pengen pacaran.”

“Hahaaaa,” Kenzo ngakak singkat.

“Adek lo.”

“Gue juga nggak tau lagi lah,” Reno mendesah.

“Biarin aja ngambek.”

Kenzo menyeringai, nadanya santai tapi nyeletuk.

“Dia pacaran, abis cowoknya sama nyokap lo.”

Reno melirik tajam.

"Gak ngerti lagilah gue, ribet banget punya adek"

Kenzo cuma senyum tipis, lalu melangkah masuk sekolah.

Di kelas, Naya duduk di bangkunya dengan wajah datar. Citra datang beberapa menit kemudian, langsung sadar ada yang beda.

“Nay, lo kenapa?” tanya Citra pelan.

Naya menghela napas, berdiri sambil meraih tas kecilnya.

“Gue ke UKS. Lagi halangan.”

“Eh—” Citra belum sempat lanjut bicara, Naya sudah keburu pergi.

Koridor terasa panjang pagi itu.

Kepalanya penuh.

Masih kesel sama Reno.

Kesel karena selalu dilarang.

Kesel karena merasa hidupnya diatur.

Dan entah kenapa…

ia juga kesel sama Citra, yang diam-diam dekat sama kakaknya tapi nggak bilang apa-apa.

Naya masuk UKS, duduk di ranjang kosong, menatap langit-langit putih.

Dadanya terasa sesak.

“Kenapa semua orang kayak ngerasa berhak ngatur hidup gue sih…” gumamnya pelan.

Di luar, bel pelajaran berbunyi.

Tapi di kepala Naya, suaranya kalah keras dibanding perasaan yang belum juga reda.

Naya meringkuk menghadap tembok, lutut ditarik ke dada. Jarinya sibuk menekan layar ponsel, game berjalan tanpa benar-benar ia perhatikan. Lebih ke pelarian daripada hiburan.

Beberapa menit kemudian, pintu UKS terbuka pelan.

Tirai disibakkan.

Seseorang masuk.

Tangan hangat menyentuh bahu Naya.

“Nay.”

Naya tersentak, langsung bangun dan duduk di sisi ranjang.

“Kok tau?” tanyanya refleks.

Kenzo berdiri di depannya, wajahnya tenang.

“Tadi gue liat lo ke sini.”

Naya menunduk. “Kenapa?” tanya Kenzo.

“Nggak,” jawab Naya singkat, jelas bohong.

Kenzo mendekat, berdiri di antara kaki Naya, lalu tanpa banyak kata memeluknya. Pelukannya nggak keras, tapi cukup bikin dada Naya menghangat.

“Nanti gue anter bimbel,” ujar Kenzo pelan, “terus jalan bentar.”

Naya langsung menegang sedikit.

“Nanti mommy marah.”

“Nggak akan,” jawab Kenzo yakin.

Naya mendongak. “Beneran?”

Kenzo tersenyum kecil, ibu jarinya mengusap punggung tangan Naya.

“Iya, sayang.”

Satu kata itu.

Cuma satu.

Mood Naya langsung jungkir balik.

“Ke kelas dulu ya, my princess,” lanjut Kenzo lembut.

Gimana nggak meleleh?

Kenzo selalu bisa begitu—tenang, pelan, dan bikin Naya lupa sama semua kekesalan barusan. Dipanggil sayang aja sudah cukup buat meruntuhkan pertahanannya.

Kenzo mengecup kening Naya sebentar, lalu mundur selangkah.

Naya menatap punggungnya saat Kenzo keluar UKS.

Jantungnya berdetak cepat, nggak karuan.

“Bahaya banget ini cowok…” gumam Naya pelan,

tapi sudut bibirnya malah terangkat tanpa sadar.

Naya menghela napas panjang, lalu menjatuhkan punggungnya ke kasur UKS.

‘Kok bisa-bisanya gue nurut aja sama ni cowok,’ batinnya kesal sendiri.

‘Apa otak gue mulai geser, sih?’

Ia menutup wajah dengan bantal tipis, berusaha menenangkan detak jantung yang masih belum mau normal. Padahal dari tadi niatnya ngambek, niatnya cuek, niatnya nggak mau kalah.

Tapi sekali Kenzo muncul…

Semua niat itu langsung ambyar.

Naya mendengus kecil, lalu bangkit duduk.

“Bahaya,” gumamnya lirih, setengah kesal, setengah pasrah.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, game di ponselnya benar-benar ia tutup.

Naya melangkah menuju kelas dengan wajah yang sudah jauh lebih tenang. Langkahnya ringan, bahkan sudut bibirnya sempat terangkat tanpa sadar. Di belakangnya, Kenzo berjalan santai, tangannya masuk ke saku celana, ekspresinya puas.

Dari seberang koridor, Reno memperhatikan. Alisnya mengernyit. Beberapa menit lalu adiknya ngambek setengah mati, sekarang malah kelihatan… baik-baik saja.

Reno mendekat sambil memantulkan bola basket pelan.

“Kok lo bisa bikin mood-nya berubah?” tanya Reno curiga.

Kenzo melirik sekilas. “Dia adek lo, nanya ke gue,” jawabnya santai.

“Barusan dia jutek. Sekarang malah keliatan happy,” Reno menatap Kenzo tajam.

Kenzo menyeringai. “Jurus jitu.”

Reno menghentikan pantulan bolanya. “Jangan lo apa-apain.”

Kenzo tertawa kecil. “Nggak. Paling… apa-apa an.”

“Awas lo!” Reno menunjuknya.

Kenzo mengangkat dua tangan pura-pura pasrah. “Gak ngapa-ngapain gue.”

Di depan sana, Naya sudah masuk kelas—tanpa tahu dua cowok di belakangnya saling adu tatap, satu protektif, satu terlalu percaya diri.

...----------------...

...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...

...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...

...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...

...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...

...----------------...

1
tamara this there!
jangan lupa mampir yaa, kita saling dukung😍💪
Dinaneka: Makasih banyak kakaku🙏🙏
total 1 replies
tamara this there!
Cerita yanh baguss
Dinaneka: makasih banyak kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!