NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resep cinta yang masih percobaan

Pagi itu,dapur belum ramai Hanya ada Kirana ,Siska ,dan gio ,dapur tidak ramai seperti kemarin ,hanya suara gemericik air hujan di atap seng dan celoteh Gio yang sedang mengajari boneka ayamnya cara mencuci tangan sebelum masak. Siska masih duduk di bangku kayu, menyesap kopi susunya dengan senyum penuh kemenangan,seolah baru saja memenangkan pertandingan catur melawan takdir.

“Jadi… kamu bakal izinin Arka datang lagi?” tanyanya sambil mengangkat alis.

Kirana mengelap meja dengan gerakan berlebihan, pura-pura sibuk. “Aku nggak ngelarang dia datang. Tapi aku juga nggak ngundang. Itu namanya netral.”

“Netral? Kirana, kamu udah bikin ayam kecap spesial buat dia dua kali berturut-turut! Bahkan pake daun jeruk dari pot di teras—yang biasanya cuma buat hari ulang tahun Gio!”

Kirana mendengus. “Itu karena stok daun salam habis. Bukan karena… romantis."

Tapi jantungnya berdebar sedikit lebih cepat saat teringat ekspresi Arka kemarin,saat melihat matanya yang menyipit pelan, senyum kecil di ujung bibir, dan cara dia diam-diam menyisakan sedikit kuah ayam kecap di mangkuk, lalu menjilat sendoknya perlahan. (Seperti lagi menikmati puisi) pikir Kirana waktu itu. Dan langsung merasa bodoh karena berpikir begitu.

Sebelum Siska sempat menyerang dengan argumen lain, suara klakson mobil terdengar dari depan warung. Keduanya menoleh dan di sanalah Arka, turun dari mobil hitamnya yang selalu kelihatan bersih meski jalanan Jakarta sedang banjir genangan.

Dia memakai kemeja putih lengan pendek, celana chino, dan membawa tas kanvas bergambar wajan. Di tangannya, sebungkus pisang raja.

“Pagi,” sapanya santai, seolah sudah jadi bagian dari rutinitas harian mereka.

Gio langsung melempar boneka ayamnya dan berlari. “Om Raka! Aku udah siap jadi guru masak hari ini! Bawa telur belum?”

Arka tertawa, lalu mengangkat tas kanvas. “Bawa. Plus wajan mini, spatula lucu, dan… resep rahasia dari nenekku.”

Siska menyikut Kirana pelan. “Resep rahasia? Ini bukan tamu biasa, ini calon mertua masa depan.”

Kirana nyaris tersedak teh tawarnya.

Arka masuk ke dapur kecil, meletakkan pisang di atas meja. “Ini buat camilan sore Gio. Nenekku bilang, anak yang sering dikasih pisang jadi pintar dan nggak gampang marah.”

“Wah, berarti Papa Aris nggak pernah kasih pisang ya?” celetuk Gio polos.

Suasana langsung beku.

Kirana buru-buru mengalihkan perhatian. “Gio! Ayo kita cuci tangan dulu. Hari ini kita mau belajar bikin telur mata sapi bentuk hati, oke?”

Arka hanya tersenyum lembut, tak berkomentar. Tapi matanya sempat menatap Kirana,singkat, hangat, dan penuh pengertian. Seperti dia tahu. Seperti dia mengerti.

***

Di sudut dapur, Siska berbisik ke Kirana sambil menata gelas. “Dia tahu soal Aris, kan?”

Kirana mengangguk pelan. “Kayaknya. Tapi dia nggak nanya. Nggak usil. Nggak sok jadi pahlawan. Aku… suka itu.”

“Ya iyalah suka! Dia kayak versi manusia dari air hangat di pagi hari, nggak ribet, tapi bikin tenang.”

Sementara itu, di meja kecil dekat jendela, Gio dan Arka sedang “berlatih memasak”. Arka duduk di lantai, membiarkan Gio memegang spatulanya, sambil memberi instruksi pelan.

“Nah, pelan-pelan… jangan takut. Telurnya nggak bakal marah kalau kamu sentuh.”

Gio tertawa cekikikan. “Telur marah? Emang bisa?”

“Kalau dimarahin terus, bisa jadi telur dendam. Nanti rasanya asin terus.”

“Hah?!” Gio terbelalak. “Aku nggak mau telur dendam! Aku mau telur bahagia kayak Mama pas masak ayam kecap!”

Kirana tersenyum, tapi dadanya tiba-tiba sesak. *Bahagia?* Apakah dia benar-benar terlihat bahagia?

Arka menoleh, menangkap pandangannya. “Kamu masak dengan hati, Kirana. Itu yang bikin rasanya beda.”

Kirana buru-buru berpaling, pura-pura sibuk mengecek stok bumbu. “Ah, kamu kebanyakan nonton drama Korea.”

“Nggak juga. Aku cuma… jujur.”

Siska, yang sedang mengintip dari balik tirai, hampir tumpah kopi susunya karena menahan tawa.

***

Siang itu, Arka tak buru-buru pulang. Dia malah membantu Kirana mengangkat galon air, membersihkan meja, dan bahkan mengantar pesanan ke warung sebelah karena tukang ojek langganan sedang sakit.

“Kamu nggak capek?” tanya Kirana, heran.

“Biasa aja. Dulu waktu kuliah, aku kerja part-time jadi tukang antar mie. Jadi angkat galon itu kayak latihan ringan.”

Kirana terkejut. “Kamu pernah jadi tukang antar mie?”

“Yup. Bahkan pernah salah antar ke rumah kos yang ternyata kos cewek. Pas pulang, ketemu mantan pacar. Awkward level maksimal.”

Kirana tertawa—tertawa lepas, tanpa beban. Dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan, dia merasa seperti… *dirinya sendiri*.

Siska, yang sedang menghitung uang di kasir, berbisik pada dirinya sendiri: “Kalau ini bukan awal cinta, aku rela ganti nama jadi Siska Ayam Goreng.”

***

Malam harinya, setelah Gio tidur dan warung sudah ditutup, Kirana duduk di teras sambil menatap langit Jakarta yang jarang menunjukkan bintang. Tapi malam ini, ada satu bintang kecil yang bersinar redup di balik awan.

Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor yang belum disimpan.

(Arka):

# Terima kasih hari ini. Gio bikin telur hati-ku meleleh—secara harfiah dan kiasan.

# Oh ya, besok aku mau coba bikin ayam kecap versiku. Boleh minta resep dasarnya? Aku janji nggak akan ganti kecap manis sama saus tomat.

Kirana tersenyum, jari-jarinya mengetik pelan.

(Kirana)

# Kalau sampai pake saus tomat, aku larang Gio jadi muridmu seumur hidup.

#Tapi… boleh. Aku kirim resepnya. Tapi jangan bilang ini rahasia keluarga—soalnya rahasia keluargaku cuma satu: jangan masak pas lagi marah. Rasanya jadi pahit.

Beberapa detik kemudian…

(Arka)

#Catat. Dan… aku nggak pernah masak pas marah. Aku cuma masak pas kangen.

Kirana menatap layar, jantungnya berdetak kencang. Dia ingin membalas, tapi takut kata-katanya terlalu jujur. Akhirnya, dia hanya mengetik:

(Kirana)

# …Selamat tidur, Mas Arka.

Lalu meletakkan ponsel, menarik napas dalam, dan menatap bintang itu lagi.

Mungkin hidup memang seperti masak. Kadang gagal. Kadang gosong. Tapi kadang… justru dari bahan sederhana dan api yang tepat, lahir sesuatu yang hangat, enak, dan bikin orang betah pulang.

Dan mungkin,hanya mungkin,Arka bukan sekadar pelanggan.

Mungkin dia adalah resep baru yang layak dicoba.

***

Esok pagi, Gio bangun lebih awal. Di meja makan, ada secarik kertas bergambar telur hati dan ayam kecap, dengan tulisan coretan tangan Arka:

#Untuk Chef Gio & Mama Kirana —

# Besok, aku bawa beras sendiri. Biar nasi-nya juga jadi bagian dari cerita kita.

Gio berlari ke kamar Kirana, melompat ke kasur. “Mama! Om Raka mau bikin cerita sama kita!”

Kirana memeluknya erat, lalu berbisik, “Iya, sayang. Tapi kita pelan-pelan, ya? Cerita yang bagus nggak perlu buru-buru.”

Tapi di hatinya, dia sudah mulai menulis bab berikutnya.

Dengan sedikit garam, banyak gula, dan secangkir harapan yang masih

1
N Wage
lah!gak tidur mereka?
MayAyunda: tidur kak 😄
total 1 replies
N Wage
lah tadi di kantong punya uang 800.000rb hasil nguli di pasar.sebelumnya punya uang 3 JT hasil nabung dr uang ngasih les.
MayAyunda: nguli sama ngeles kak 😁
total 1 replies
Luwi Utami
nha... gitu dong.. kluar dr rumah yg terasa kaya nerak itu
MayAyunda: iya kak ,terimkasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!