“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 26
“Kenapa kau bertindak sejauh ini? Kau benar-benar menempatkan aku di tempat yang sulit, Dafrina. Aku tidak mau apa yang telah aku jaga bersama istriku hancur,” hardik Albiru saat melihat apa isi dalam video yang diberikan oleh Dafrina.
Dafrina duduk di tepi ranjang lalu mengelus pelan pipi Albiru, tapi pria itu memilih untuk membuang wajah dari Dafrina dan menyingkirkan tangan genit itu dari tubuhnya.
“Aku sudah katakan kalau aku sangat mencintaimu, Albi. Aku meninggalkanmu karena terpaksa dan hari ini, aku ingin kembali bersamamu dan kita sudah melakukan hal yang sangat jauh.”
“Aku tidak akan pernah mau bersama wanita ular sepertimu.”
“Oh ya? Kalau kamu menolak untuk bersamaku lagi, itu artinya, kamu siap untuk melihat Alisha kecewa jika video ini dia terima.”
Albiru mengusap kasar wajahnya, sangat kesal dia dengan tingkah dan perilaku Dafrina ini. Albiru segera memunguti pakaiannya dan mengenakan dengan baik. Dia hendak pulang karena mungkin Alisha sudah begitu mengkhawatirkan dirinya saat ini.
Albiru pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun pada Dafrina yang membuat wanita itu tidak terima.
“Kamu mau kalau video ini aku sebar hah?” ancam Dafrina yang saat ini menahan Albiru agar tidak pergi.
“Sebarkan saja, ada kau juga kan dalam video itu. Aku tinggal bilang pada orang-orang kalau aku membayarmu untuk melayaniku. Simple.” Dafrina melotot dan menganga, tidak menyangka kalau Albiru semudah itu menyelesaikan masalah ini.
“Aku akan mengirimkan video ini pada Alisha.”
“Kirimkan saja. Aku tidak akan melepaskan istriku sekalipun dia marah atau meminta cerai, aku akan mempertahankan dia semampuku. Ingat itu!” Albiru meninggalkan apartemen Dafrina begitu saja, sebenarnya hatinya sangat sakit dan sangat ingin berteriak, tapi menunjukkan kelemahan pada Dafrina bukanlah hal yang tepat. Semakin dia takut, maka Dafrina akan semakin merasa di atas angin.
Albiru mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sesampainya di rumah. Dia tidak mendapati istri dan mertuanya hingga bertanya pada pelayan.
“Nyonya Alisha dan Nyonya Dhevi pergi jalan-jalan, Tuan. Semalam Nyonya Alisha tidak enak badan karena memikirkan Tuan.” Albiru mengangguk lalu memasuki kamarnya, dia menghubungi Alisha untuk meminta istrinya pulang tapi ponsel Alisha ternyata tinggal di kamar.
Albiru memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, sedangkan di taman, Alisha yang duduk ditemani oleh Dhevi kini dihampiri oleh Dafrina.
“Hai Alisha, gimana kabar kamu?” sapa Dafrina yang membuat Alisha sangat muak.
“Tidak perlu basa-basi, mau ngapain kamu?”
“Gak ada, cuma mau nyapa kamu aja sih. Oh iya, suami kamu udah nyampe rumah? Semalam dia gak mau pulang, katanya rindu sama aku.” Alisha menyembunyikan keterkejutannya dari Dafrina sehingga Dafrina sedikit heran.
“Aku udah tau kok, gak perlu sesumbar juga.”
“Memangnya kamu gak punya kerjaan lain ya selain gangguin anak saya?” ujar Dhevi.
“Aku ke sini hanya ingin menunjukkan video ini sama kamu, Alisha.” Dafrina memberikan video panasnya bersama Albiru semalam pada Alisha.
Masih dengan ekspresi biasa, Alisha terlihat santai dan tidak mempermasalahkan. Dia bahkan tertawa setelah melihat video itu.
“Berapa suami aku kasih kamu uang? Jangan bilang free ya.” Alisha meledek yang membuat Dhevi tersenyum juga.
Dafrina yang kesal langsung merebut ponselnya dari Alisha dan pergi begitu saja. Harga dirinya benar-benar diinjak oleh Alisha dan Dhevi. Di dalam mobil, Dafrina memukul setir berkali-kali karena emosi.
“Apa secepat itu Albiru mengatakan kebenaran ini sama dia? Dan kenapa Alisha gak marah atau sedih sih? Aaakkhhh sial.” Dafrina terlihat sangat frustasi.
***
Alisha pulang ke rumah dengan wajah memerah, dia baru saja menangis di dalam mobil bersama sang bunda. Sungguh perih hatinya ketika melihat video tadi, tapi Dhevi mengatakan kalau Dafrina menjebak Albiru, karena tidak mungkin Dafrina selantang itu memperlihatkan video yang merupakan aib pada Alisha kalau memang Albiru selingkuh.
“Temui suami kamu dengan baik-baik, dengarkan penjelasan dia dan jangan biarkan pengganggu menghancurkan hubungan rumah tangga kalian,” nasehat Dhevi yang didengar dengan baik oleh Alisha.
“Iya Bun, makasih udah nenangin aku ya Bun. Kalau aku sendiri yang hadapi, mungkin aku udah kalut banget.” Dhevi menghapus air mata putrinya.
“Sana temui suami kamu.” Alisha mengangguk dan melangkah masuk ke dalam rumah, dia langsung ke kamar menemui Albiru karena tadi pelayan mengatakan Albiru sudah pulang dan ada di kamar.
“Sha.” Albiru segera menghampiri istrinya yang terlihat dengan mata sembab.
“Kamu udah makan?” tanya Alisha lembut yang membuat jantung Albiru berdetak lebih cepat.
“Kamu kenapa menangis?” Bukannya menjawab, Albiru malah bertanya balik. Alisha menceritakan pertemuannya dengan Dafrina tadi sampai video yang Dafrina tunjukkan, Albiru bernapas lega saat Alisha mengerti kondisinya dan paham kalau dia dijebak.
“Aku tidak menginginkan ini terjadi, Sha.”
“Aku tau, Bi. Dalam video itu aku dengar kalau kamu nyebut nama aku.”
“Kamu boleh marah kok, kamu boleh melampiaskan amarah kamu sama aku, Sha.” Alisha menggeleng lalu tersenyum.
“Sekarang lebih baik kita pikirkan apa yang akan dilakukan sama Dafrina. Soalnya dia udah bertindak sangat jauh, video itu bisa dia salah gunakan nantinya, Bi.”
“Aku tau itu, Sha. Aku yakin kalau dia akan memanfaatkan video itu untuk menekan aku.”
“Jadi gimana selanjutnya?”
“Aku akan pikirkan nanti, yang terpenting buat aku, kamu percaya dan tidak mempermasalahkannya.” Albiru mencium tangan istrinya yang baik hati itu.
Alisha mengelus pelan rambut Albiru dan mencium kepala suaminya. Sebenarnya dia merasa amat cemburu tapi tidak ingin menambah beban Albiru.
***
Albiru mendatangi apartemen Dafrina seorang diri namun kali ini, Alisha sudah tahu. Dafrina sangat senang dengan kedatangan Albiru itu, dia tersenyum dan mempersilakan Albiru masuk.
“Kamu mau minum apa, Bi?” tanya Dafrina dengan ceria.
“Terserah, tapi jangan campuri dengan apapun karena aku ingin bicara denganmu.” Dafrina menghela napas lalu beranjak ke dapur membuatkan minuman untuk Albiru.
Mereka berdua duduk di ruang tamu tapi Albiru sama sekali tidak menyentuh minuman buatan Dafrina.
“Kau sudah bertindak sangat jauh dan kau juga sudah memberitahu istriku mengenai video itu. Aku dan Alisha tidak semudah itu untuk kamu runtuhkan, Dafrina. Istriku sangat cerdas dan penuh wibawa, sangat berbeda denganmu.” Dafrina memicingkan matanya menatap Albiru.
“Jangan bandingkan aku dengan istrimu itu.”
“Kenapa jangan? Kau sudah mengusik kami dan ingin merebut aku dari Alisha. Kau pikir kau lebih baik dari dia? Haha tidak Dafrina. Kau bahkan jauh lebih rendah, bagaimana bisa aku mau denganmu.”
“Lalu kenapa kau datang ke sini?” bentak Dafrina lalu beberapa pria memasuki apartemen itu dan Albiru tersenyum lembut.
“Apa-apaan ini?” tanya Dafrina yang mulai takut.
“Mereka semua akan menyelesaikan masalah kita berdua, sebelum kamu bertindak lebih jauh, Dafrina. Kita lihat, apa yang akan kamu dapatkan dari mereka hari ini.” Albiru memberikan seringainya yang membuat Dafrina cukup merinding dan takut.